Rabu, 14 Desember 2011

TWIN'S LOVE STORY 9

                                        


         Sheryl memasuki kamar Sherin yang rapi, tak seperti kamarnya yang berantakan. Ia kemudian menghampiri saudari kembarnya yang sedang terlungkup sambil menangis.
         "Loe kenapa, Rin?" tanya Sheryl.
         Sherin langsung beranjak dan memeluk Sherin dan menagis di pelukan saudarinya itu. Sheryl pun mengusap-usap pelan punggung Sherin untuk menenangkannya.
        "Kenapa loe nangis sampai kayak gini, apa ada yang nyakitin loe?" tanya Sheryl ikut sedih.
        Sherin mengangkat wajahnya yang berlinang air mata dan menggeleng perlahan.
        "Trus kenapa loe nangis? tanya Sheryl lagi.
        "Kak Eza, Ryl" ucap Sherin.
        "Jadi Kak Eza yang nyakitin loe?" tanya Sheryl hampir emosi.
        Lagi-lagi Sherin menggeleng, "Nggak. Bukan begitu" jawab Sherin.
        "Trus gimana, Kak Eza kenapa?" tanya Sheryl mulai khawatir.
        "Kak Eza mau pergi...dia mau lanjutin kuliah di LN" jawab Sherin kembali menangis menjadi-jadi.
         Sheryl yang tadinya tegang jadi lemas seketika, dia pikir ada masalah yang serius banget ( bagi Sheryl sih ga serius tapi bagi Sherin tentu beda donk....hehe :D ).
         Sheryl mencoba menenangkan tangis Sherin layaknya seorang kakak. Dia memeluk saudari kembarnya itu hingga ia tenang.
         Beberapa saat kemudian tangis Sherin mulai berhenti, dan kini mereka duduk saling berhadapan di atas tempat tidur Sherin. Mata Sherin terlihat sembab sehabis menangis dan Sheryl merelakan bajunya basah oleh airmata Sherin...hehe :p
        "Loe udah tenang sekarang?" tanya Sheryl dijawab anggukan oleh Sherin.
        "Makasih, Ryl, loe selalu ada buat gue. Abisnya gue bingung, Ryl, tiba-tiba aja gue dapet kabar Kak Eza bakalan pergi lanjutin kuliah ke LN. Gue ga mau kehilangan dia, Ryl" curhat Sherin.
        "Rin, kalo Kak Eza benar-benar sayang sama loe, sejauh apapun dia pergi, dia nggak akan ninggalin loe. Suatu saat dia pasti bakal kembali" ujar Sheryl.
        Sherin mengangguk,"Iya gue tau semua demi kebaikan dia, tapi jujur gue belum siap kalo dia harus pergi secepat ini" ujar Sherin sesenggukan. Sheryl menatap saudarinya sedih.

                                                   

        Di tempat lain, Eza duduk berhadapan dengan Papa dan Mamanya. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat. Papanya terlihat mengambil amplop itu dan segera membuka lalu membaca isinya. Seketika terlihat aura bahagia terpancar dari wajah Papanya.
        "Ini baru anak Papa, akhirnya impian Papa agar kamu kuliah di LN dan meneruskan bisnis Papa akan segera terwujud" ujar Papa Eza gembira
         Eza terdiam dan raut wajahnya terlihat sedih dan ia mengepalkan tangannya menahan sesuatu yang terpendam selama ini. Papanya terlalu senang hingga tak memperhatikan ekspresi Eza, hanya Mamanya yang menyadari perubahan raut wajah anaknya.
         "Kenapa wajah kamu sedih, Nak, apa kamu ga senang?" tanya Mama Eza.
Eza yang tadinya menunduk langsung melihat wajah Mamanya dan berusaha untuk tersenyum di depan Mamanya.
         "Nggak kok, Ma" jawab Eza.
         "Eza, kamu ini bener-bener anak Papa yang paling membanggakan. Papa akan membuat pesta untuk merayakan ini semua juga sekaligus rencana perjodohan kamu dengan anak rekan bisnis Papa" ujar Papa Eza yang seketika bagai petir di siang bolong di telinga Eza.
         "Tapi, Pa, Eza nggak pernah tau soal ini dan Eza nggak pernah bilang setuju" protes Eza.
         "Lho bukankah selama ini kamu selalu setuju dan menuruti semua permintaan Papa" ujar papa Eza dengan nada tinggi.
         "Memang benar Eza selalu menuruti dan setuju apapun yang Papa pilihkan untuk Eza tapi nggak untuk masalah perjodohan ini, Pa" ujar Eza tak kalah tinggi.
         "Sejak kapan kamu mulai belajar membangkang pada Papa" ujar Papa Eza marah.
         "Pa, Eza minta maaf, bukan maksud Eza untuk membantah kata-kata Papa tapi untuk masalah perjodohan itu, Eza tidak bisa menerimanya. Eza udah punya pilihan Eza sendiri, Pa" ujar Eza dan seketika pula sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Eza.
         PLAAKKKK
        "Beraninya kamu menentang kata-kata Papa, Papa nggak mau tau pokoknya kamu harus ikuti kata-kata Papa" ucap Papa Eza marah lalu pergi meninggalkan Eza.
        Eza berusaha menahan emosinya karena melihat Mamanya hampir saja menangis melihat pertikaian itu. Mama memeluknya dan berusaha menenangkan perasaan anaknya.
        "Sabar ya, Nak, Mama akan coba bilang baik-baik sama Papa kamu" ucap Mama sabar.
        Eza masih terdiam .
        "Kamu tadi bilang kamu udah punya pilihan sendiri, siapa dia?" tanya Mama Eza.
       "Junior Eza di kampus, Ma" jawab Eza
       "Coba kamu bawa dia kesini, nak, siapa tau Papa kamu bisa berubah pikiran" ujar Mama langsung membuat Eza tersenyum karena dukungan sang Mama.
       "Makasih, Ma" ujar Eza lalu memeluk Mamanya.

                            

        Arya termenung di sebuah beranda sambil memandangi seuntai gelang berbandul bintang. Pikirannya melayang sambil melihat ke arah langit yang dipenuhi ribuan bintang.
       "Loe udah di depan gue, tapi gue nggak bisa berkata apa-apa" gumamnya pelan.
       Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya.
       "Mikirin apalagi sih, Bro, kenapa gak loe bilang aja ke dia, jelas-jelas dia udah ada di depan loe?" tanya seseorang.
       Arya menggeleng, "Gue nggak bisa, Raf, gue perlu nyari seseorang dulu" ujar Arya pada Rafa sepupunya.
       "Masih aja loe mikirin penolong loe itu. Kan loe nggak tau siapa orang itu, dan ga ada petunjuk apapun dari dia, jadi gimana loe mau nyari si Mr. X itu?" tanya Rafa.
       "Sebenernya waktu itu gue samar-samar liat orang itu antara sadar dan nggak. Waktu gue sadar, tau-tau gue udah di rumah sakit dan tangan gue genggam benda ini" ujar Arya sambil mengeluarkan sebuah kancing baju berwarna ungu dari saku celananya.
        "Hanya sebutir kancing gini, gimana loe mau cari orang itu, sedangkan orang di kota ini ribuan bahkan puluhan ribu" ujar Rafa realistis.
        "Gue tau kemungkinannya bakal 1 : 1000.000 orang tapi gue yakin bisa nemuin orang itu. Gue udah coba tanya ke pihak rumah sakit tentang orang itu tapi mereka bilang orang itu minta agar merahasiakan identitasnya"  ujar Arya.
       "Rumah sakit mana sih?" tanya Rafa.
       "RS. Bina Harapan" jawab Arya.
       "RS. Bina Harapan itu kan Rumah Sakit bokap gue, coba nanti gue minta tolong sama salah satu staffnya" ujar Rafa.
        "Serius loe, Raf?" tanya Arya hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dari sepupunya.
        Rafa mengangguk mantap, "Thanks Bro, loe emang sepupu gue yang paling baik" ujar Arya seraya menepuk pundak Rafa.

                                               

        Malam itu, perasaan Satya benar-benar tak menentu saat ia melihat Sheryl pulang bersama Arya. Ia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi hingga tanpa sadar ia sampai di tempat kenangannya dengan Sheryl.
        Dia menghentikan motornya kemudian berjalan menuju salah satu bangku di tempat itu. Dia teringat saat-saat bersama dengan sahabat yang dicintainya, Sheryl, "Harusnya gue sadar, perasaan ini nggak seharusnya gue miliki karena loe sahabat gue. Dan harusnya gue mengerti dari awal sejak loe pertama kali liat dia" gumamnya tanpa sadar setitik air mata jatuh  seiring air hujan yang turun begitu deras menutupi air mata itu.
       Tanpa ia sadari seseorang mengulurkan tangannya memayungi tubuhnya. Satya mendongak melihat orang itu.
       "Elsa" ucap Satya lirih
       "Loe ngapain ujan-ujanan di tempat kayak gini?" tanya Elsa yang ikut kehujanan karena memayungi Satya.
       "Gue..., loe sendiri kenapa ada disini?" Satya balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Elsa.
       "Gue tinggal di deket sini, kebetulan gue lagi keluar dan liat loe di tempat ini" jawab Elsa yang mulai kedinginan karena hujan.
       "Oh...loe kedinginan ya, loe pulang aja, Sa, nanti loe sakit. Gue juga udah mau balik" ujar Satya beranjak dari duduknya hendak pergi seraya menyodorkan payung yang tadi dipakai untuk memayunginya.
      "Satya" panggil Elsa saat Satya hendak beranjak pergi.
      Satya berhenti dan menatap Elsa yang kini juga hujan-hujanan tanpa payung.
      "Ada yang ingin gue bilang ke loe" ucap Elsa.
      "Apa?" tanya Satya
      "Gue...suka sama loe" ujar Elsa.
       Satya terdiam sejenak sambil menatap Elsa yang kedinginan karena kehujanan.
       "Gue minta maaf, Sa, tapi gue udah mencintai orang lain" ujar Satya.
       "Sheryl, kan" tebak Elsa membuat Satya diam seketika. "Gue tau dari cara loe mandang Sheryl tiap gue liat loe. Tatapan mata loe nggak bisa bohong kalo perasaan loe ke Sheryl bukan hanya sekedar sahabat" ujar Elsa.
       "Gue..." Satya tak dapat meneruskan kata-katanya.
       "Gue ini bodoh banget ya, harusnya gue tau perasaan gue nggak mungkin bersambut. Tapi gue lega karena akhirnya gue bisa ungkapin perasaan gue ke loe" ucap Elsa menahan tangisnya di tengah guyuran hujan, namun Satya tau perasaan Elsa. Ia pun mendekati gadis itu dan memeluknya.
        "Loe nggak bodoh, Sa. Nggak seorangpun bisa menentukan cinta, kapan cinta itu datang dan pada siapa cinta itu berlabuh. Entah itu sahabat ataupun orang yang baru kita kenal. Tapi cinta itu nggak harus saling memiliki. Gue minta maaf kalo gue nggak bisa menerima perasaan loe ke gue tapi gue berterima kasih atas perasaan loe ke gue" ucap Satya pada Elsa dan juga dirinya sendiri, membuat Elsa menangis di pelukan Satya.

                                 

bersambung.....