Rabu, 30 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 8




        11 tahun yang lalu...
        Sherin dan Sheryl kecil sedang asyik bermain di sebuah taman bersama kedua orang tuanya merayakan ulang tahun Rafa yang kebetulan orang tuanya tak dapat merayakannya. Disana mereka bermain dengan seorang anak laki-laki yang mereka panggil Kak Rafa. Selayaknya anak kecil umur 7 dan 9 tahun mereka bermain keluarga-keluargaan. Sherin yang feminim berlaku seperti seorang ibu dan Rafa ayahnya sedangkan Sheryl menjadi anaknya. Terkadang mereka juga iseng-iseng mencoba merangkai bunga. Untuk soal ini, Sherin paling jago, apalagi saat itu dia paling suka membuat mahkota bunga. Karena Sheryl ogah memakai benda seperti itu jadilah Rafa yang selalu mengalah dijadikan sasaran. hehehe... ^_^
       "Kak Rafa, liat deh mahkota bunga buatan Sherin udah jadi" ujar Sherin kecil memperlihatkan rangkaian mahkota bunganya.
        "Wah...hebat, bagus banget" puji Rafa yang selalu baik pada si kembar seperti adiknya sendiri.
        "Sherin pake'in ke Kak Rafa ya, soalnya Sheryl ga mau, Kak" pinta Sherin manja.
        "Ya udah deh sini" ucap Rafa
        "Waah....Kak Rafa keren deh kayak pangeran" ujar Sherin bahagia saat emasangkan mahkota bunga ke kepala Rafa..
        Sheryl  yang tadinya duduk disamping mereka tiba-tiba berdiri dan menghampiri seorang anak laki-laki seusianya yang sedang duduk sendiri sambil membawa kotak makan. Sheryl menghampirinya dan melihat isi di kotak bekal makanan anak laki-laki itu.
        "Wah...enak banget...bikinan Mama kamu ya?" tanya Sheryl kecil SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat.
        Anak laki-laki itu diam saja dan berkata sepatah katapun, hanya menunduk terdiam.
        "Nama kamu siapa?" tanya Sheryl.
        Ketika anak laki-laki itu hendak bicara, suara Sherin menggema tepat di telinga Sheryl membangunkannya dari mimpi.
         "Aaaaahhhh.....Sherin kebiasaan deh teriak-teriak di telinga gue, ganggu mimpi gue aja loe" protes Sheryl.
        "Emangnya loe mimpi apaan sih sampai jam tujuh lewat gini loe ga bangun-bangun?" tanya Sherin
        "Mimpi msa kecil kita. Loe inget ga waktu kita dulu main di taman sama Papa-Mama juga Kak Rafa waktu ulang tahunnya Kak Rafa?" tanya Sheryl.
        "Hmmm..." sambil berpikir, Sherin mengingat-ingat. "Yah gue inget, trus kenapa?" tanya balik Sherin.
        "Kayaknya waktu itu gue ketemu sama anak kecil seumuran kita, cowok. Gue kira itu Satya, tapi gue ga yakin" ujar Sheryl.
        "Kayaknya emang ada sih...tapi gue nggak seberapa tau juga. Emangnya waktu itu kita udah kenal Satya?" tanya Sherin lagi.
        "Udahlah, ngomong sama loe malah banyak nanyanya. Gue mau mandi" ujar Sheryl kesal karena Sherin ditanya malah nanya balik.
       Melihat saudara klembarnya itu kesal dan buru-buru mandi bikin Sherin tersenyum kecil lalu kembali mengingat masa lalu, "Kayaknya waktu itu belum kenal Satya deh" gumam Sherin lalu pergi meninggalkan kamar Sheryl.

                                              

       


          Sherin merasa ada yang berbeda dari Eza, kekasihnya sejak pagi tadi menjemputnya di rumah. Cowok itu jadi lebih banyak diam meski sesekali ia tersenyum lembut pada Sherin. Sherin ingin bertanya tapi ia urungkan, ia takut menyinggung Eza, dikiranya mencampuri privacynya.
        "Kak Eza baik-baik aja?" tanya Sherin mencoba mencairkan suasana.
        "Ah iya baik kok" jawab Eza.
        "Kak Eza yakin, soalnya Sherin perhatikan Kak Eza nggak seperti biasanya" ucap Sherin meyakinkan.
        Eza berhenti dan menatap kedua bola mata gadis itu. Hatinya terasa bergejolak tak keruan sampai akhirnya ia berucap, "Boleh aku peluk kamu sebentar?" tanya Eza.
       Muka Sherin langsung memerah. Baru akan mengatakan "iya", Eza sudah memeluknya.
       Eza memeluk Sherin erat sekali, seakan-akan tak ingin melepaskan gadis itu. Sherin sendiri antara senang, malu dan bingung bercampur menjadi satu.
        Setelah beberapa menit mereka dalam pose seperti itu akhirnya Eza melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada Sherin.
        "Aq senang Kak Eza tersenyum seperti ini" ujar Sherin
        "Iya, Sayang. Maafin Kak Eza ya kalo udah bikin Sherin jadi mikirin Kak Eza" ujar Eza sambil membelai rambut indah Sherin yang panjang.
       Perjalanan mereka pun berlanjut menuju kampus, dimana telah menunggu kejutan besar untuk mereka berdua.
       Setelah keduanya sampai do pelataran fakultas kedokteran, Riana, dan Noura telah menunggu di parkiran dengan wajah panik. Baru setelah Sherin turun dari mobil Eza, mereka langsung menghampiri Sherin dan langsung memeluknya.
        "Kalian ini kenapa sih, ada apa?" tanya Sherin heran plus bingung.
        "Sherin, my honey, loe yang sabar ya" ucap Noura dennagn suara cemprengnya.
        "Hah?! Sabar kenapa?" tanya Sherin makin biertanya-tanya ada apa gerangan sahabat-sahabatnya itu.
        "Sebentar lagi Kak Eza bakal ninggalin loe, kan. Dia mau sekolah di LN" ucap Riana bagaikan petir di siang bolong di telinga Sherin.. (Woo Lebay yach...!!! xixixixi)
         "Sherin langsung terdiam menatap ke arah Eza yang ada disampingnya mencoba mencari penjelasan. Tapi pemuda itu memandang Sherin dengan wajah sendu, dan Sherin sadar dan mulai mengerti maksud dari sikap Eza akhir-akhir ini.
         Seperti tau bahwa shabtanya ini sama sekali tak mengerti dan buth penjelasan langsung dari sang kekasih sendiri, Riana pun mengajak Noura pergi dan meninggalkan Sherin serta Eza berdua saja.
        Setelah kedua sahabat Sherin pergi, Sherin dan Eza sama-sama membisu. Mulut mereka seolah terkunci, tapi akhirnya Eza memberanikan diri untuk berterus terang ke Sherin.
        "Maafin aku, harusnya aku cerita ini ke kamu sejak awal" ucap Eza sambil memandang sedih ke gadisnya.
        "Selama ini Kak Eza selalu termenung, karena masalah ini, kenapa Kak Eza tutupi hal ini dari aku, Kak. Apa Sherin nggak pantas untuk dipercaya sama Kak Eza?" tanya Sherin, gadis itu begitu sedih. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
       "Sungguh bukan maksud aku untuk ga percaya sama kamu. Kak Eza hanya takut Sherin bakal sedih, dan Kak Eza juga masih memikirkan soal beasiswa itu" ujar Eza berusaha meyakinkan. Ia memeluk gadis itu dan menenangkan tangisnya.
        Tanpa mereka sadari seseorang tersenyum licik tak jauh dari sepasang kekasih itu.

                                                   

        Di tempat lain Sheryl sedang duduk di taman kampusnya seorang diri sambil membaca novel yang baru dibelinya kemarin bersama Satya. Seseorang menghampirinya dan duduk disebelahnya.
       "Hai, Ryl, sendirian aja?" tanya orang itu.
       "Eh loe, Sa, iya nih sendiri aja soalnya Satya ga masuk" ujar Sheryl.
       "Emangnya Satya kenapa kok ga masuk, apa dia sakit?" tanya Elsa kelihatan khawatir.
       Sheryl menangkap ekspresi Elsa yang terlihat cemas, sebenarnya Sheryl tau perasaan Elsa ke Satya hanya saja Sheryl belum berani bertanya langsung ke Elsa.
      "Oh ga kok, tenang aja. Satya baik-baik aja, cuma hari ini dia ada urusan keluarga aja." jelas Sheryl.
      "Syukur deh kalo gitu" ucap Elsa.
      Sheryl tersenyum melihat Elsa dan bikin Elsa jadi salting seketika.
      "Loe kok senyum-senyum gitu liatin gue?" tanya Elsa.
      "Hehehe...loe suka ya sama Satya?" tanya Sheryl yang seketika bikin muka Elsa memerah.
      "Apaan sih ga kok" elak Elsa malu-malu.
      "Halah....iya juga ga pa-pa kok, Sa. Gue dukung kok kalo loe suka ma Satya" ujar Sheryl bikin muka Elsa makin memerah.
     "Tapi sepertinya Satya suka sama cewek lain, Ryl" ucap Elsa langsung bikin Sheryl terdiam.
      "Ah nggak kok, Sa. Apa loe mau gue bantuin deket sama Satya?" tawar Sheryl berusaha tersenyum menutupi yang sebenarnya.
      "Makasih ya, Ryl" ucap Elsa tersenyum senang.
      "Ya Tuhan, ampuni aku...aku ga bermaksud membohongi Elsa. Aku hanya ingin bantu dia, agar dia dan Satya bisa bahagia. Biarlah Satya hanya menjadi sahabatku aja, Tuhan" ucap Sheryl dalam hati.
                                                
       Sheryl hendak pulang karena baru saja mendapat telepon dari Sherin yang menangis. saat tiba di depan mobilnya, ia baru tau kalo ban mobilnya bocor, parahnya disitu udah sepi orang. Sheryl ingin menghubungi Satya tapi ia teringat Elsa yang begitu menyukai cowok itu, jadi dia urungkan niatnya.
      "Ya udahlah, gue jalan ke depan aja cari taksi" gumamnya.
      Baru beberapa langkah Sheryl keluar dari pelataran parkir, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti tepat di depannya.
      "Loe mau pulang?" tanya pengendara motor itu.
      "Iya" jawab Sheryl singkat.
      "Mobil loe mana?" tanya cowok itu.
      "Ban mobil gue bocor dan gue ga bawa ban cadangan" jawab Sheryl.
      Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu melemparkan helm ke Sheryl, "Ayo naik" suruh cowok itu.
     "Tapi, Ar, gue bisa pulang sendiri kok" ujar Sheryl setelah menangkap helm yang diberikan Arya.
      "Ga usah ge-er, gue nganterin loe soalnya searah ke rumah Rafa"  Ujar Arya.
     Sheryl memandang Arya heran, "Nih cowok aneh banget sih" ucap Sheryl dalam hati. Dan akhirnya Sheryl pun naik ke motor Arya.
     Baru juga naik, Arya sudah langsung tancap gas, sontak Sheryl kaget dan langsung berpegangan pada Arya.
     "Arya, loe gila ya, mau bikin gue cepet mati" omel Sheryl tapi Arya tetap diam ketika laju motor mulai stabil.
    Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Dan diam-diam Sheryl jadi makin penasaran pada sosok yang ada di depannya saat ini. Sheryl memang baru mengenal cowok yang ga banyak bicara ini tapi Sheryl merasa udah ga asing lagi padanya. Arya memang tampan dan Sheryl tak menampik perasaannya kalo ia diam-diam tertarik pada cowok itu hanya saja Arya terlalu dingin.
     Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Sheryl. Sheryl pun turun dan segera memberikan helmnya ke Arya.
     "Makasih ya" ucap Sheryl.
     Tanpa berkata apa-apa Arya pergi meninggalkan Sheryl di depan rumah. Sheryl terus memandangi Arya dan motornya yang makin menjauh. Sheryl tersenyum simpul seolah baru saja mengalami hari yang menyenangkan. Dan seseorang melihat itu dari jauh.

                                                  

bersambung.....

Jumat, 18 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 7



       Satya (Riski) sedang duduk sendirian di kantin sambil melihat ke arah Sheryl yang sedang bercanda dengan teman-teman perempuannya. Kadang ia tersenyum mengikuti senyuman gadis itu. Yah, hatinya memang sedikit sakit  saat tahu sahabat yang dicintainya sejak kecil itu tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Setidaknya sampai saat ini, dia masih bisa berada disamping gadis itu dan melindunginya.
      "Loe sendirian aja, Sat?" sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya.
      "Ah elo, Sa. Loe sendiri juga sendirian aja?" tanya Satya balik pada Elsa (Nina).
      Elsa hanya menjawab dengan senyuman, "Boleh gue duduk disini?" tanya Elsa.
      "Ya silahkan" jawab Satya.
      Elsa pun mengambil tempat duduk disamping Satya.
      Satya masih terus memandang ke arah Sheryl meski Elsa ada disampingnya.
      "Tumben loe sendiri aja, kok ga sama Sheryl?" tanya Elsa.
      "Nggak...tuh dia lagi sama temen-temennya. Loe sendiri ga gabung sama mereka?" ujar Satya menunjuk ke arah Sheryl yang bercanda dengan teman-teman yang lainnya.
      Elsa menggeleng perlahan, "Gue nggak terlalu kenal sama mereka, kan beda kelas mata kuliah" ujar Elsa.
      Mereka pun saling terdiam. Satya lebih menikmati memandangi Sheryl dari jauh, sedangkan Elsa berusaha menguasai hatinya.
      "Mmm....Sat, boleh gue minta tolong?" ujar Elsa.
      "Minta tolong apa ya?" tanya Satya.
      "Minggu depan ulang tahun gue. Gue pengen loe dateng...sama Sheryl juga" ucap Elsa.
      "Gue kira minta tolong apaan...iya gue sama Sheryl bakal dateng kok" ujar Satya seraya tersenyum.
      "Thanks ya, Sat....gue berharap loe...eh maksud gue kalian bisa dateng. Ya udah. gue balik dulu ya" ujar Elsa kemudian segera berlari meninggalkan Satya.


 
Sheryl

      Sheryl melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Satya, sedang cowok itu hanya balas tersenyum. Sheryl hendak menghampiri Saty tapi di pertengahan jalan ia bertabrakan dengan Arya.
     "Ah maaf" ucap Sheryl yang memang salah karena terburu-buru.
     "Ya" sahut Arya datar.
     Sheryl melihat ada sesuatu yang terjatuh saat mereka bertabrakan. Sheryl mengambil benda itu. Seuntai gelang berbandul bintang. Entah mengapa Sheryl merasa tak asing dengan gelang itu, tapi baru juga mau berpikir, Arya dengan cepat merebut benda itu dari tangan Sheryl.
      "Sorry, itu punya gue" ujar Arya yang kemudian segera pergi meninggalkan Sheryl yang masih kelihatan bingung.
      Sheryl kembali meneruskan langkahnya menuju ke arah Satya. Sheryl kini tak terlalu gugup lagi pada Satya meskipun ada sedikit rasa segan terhadap Satya, namun Sheryl berusaha bersikap seperti biasanya,
      "Hai Sat" sapa Sheryl.
      "Hai....kenapa loe tadi?" tanya Satya mengenai peristiwa tadi.
      "Ah tadi....gue  gak sengaja nabrak Arya trus gue ngambil barangnya yang jatuh" jawab Sheryl seraya duduk menghadap Satya.
      "Tadi Elsa ungang kita ke ultahnya minggu depan" ujar Satya.
      "Oh ya?! Hmm...oke deh" ucap Sheryl
      Sheryl tiba-tiba kehilangan kata-kata. Ia bingung ingin bicara apa.
      "Sat"..."Ryl" ucap satya dan Sheryl bersamaan.
      "Loe duluan deh, Sat" ujar Sheryl
      "Ga usah, loe dulu aja" ucap satya.
      "Sat, ntar malem bisa anter gue ke toko buku nggak?" ajak Sheryl.
      Satya tertawa lalu mengusap-usap kepala Sheryl. "Hahaha...ngomong gitu aja kok susah banget sih" ujar Satya.
      Sheryl ikut tersenyum seperti Satya. Ia mencoba bersikap seperti biasa, seperti permintaan Satya.
      "Oke kalo gitu ntar malem gue jemput elo" ujar Satya.
      "Siiip....ppp gue tunggu" ujar Sheryl.
      Di kejauhan beberapa pasang mata memperhatikan mereka berdua.


 
Sherin

      Sherin menunggu Eza di taman belakang kampus seperti yang dibisikkan Eza padanya tadi pagi. Sudah pukul 2 siang tapi kekasihnya itu belum datang juga. Sherin duduk diayunan dan memaju mundurkannya layaknya anak kecil. Lalu tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuket bunga mawar merah untuknya dari arah belakang.
      "Maaf ya udah bikin kamu nunggu lama" ucap orang itu
      Sherin berbalik dan mendapati Eza, kekasihnya dengan sebukrt mawar merah. Sherin benar-benar senang menerima bunga itu apalagi Eza langsung memeluknya.
     "Kak Eza, kan malu peluk di tempat umum" ucap Sherin malu.
     "Biarin...lagian jarang orang lewat tempat ini" ujar Eza masih memeluk Sherin. Sherin hanya tersenyum diballik punggung Eza.
      Setelah puas berpelukan layaknya teletubbies (hehehe), mereka berdua saling bercanda bermain ayunan dan juga layang-layang, tanpa mereka sadari seseorang menatap kebahagiaan mereka dengan tatapn sinis.
      Dan setelah puas bermain-main, Eza mengantarkan Sherin pulang. Eza meminta Sherin menunggu sebentar di mobil karena ada sesuatu yang harus ia ambil di ruang senat. Sherin pun menunggu di dalam mobil dan melihat-lihat isi mobil Eza. Di tempat duduk belakang dia melihat sebuah amplop cokelat besar. Dia melihat ada beberapa lembar kertas didalamnya. Sherin penasaran lalu mencoba mengambilnya. Baru sedikit dia mencoba mengeluarkan selembar kertas, Eza datang dan langsung mengambil amplop itu.
      "Maaf ya, Sayang, ini proposal kegiatan senat" ujar Eza kembali meletakkan amplop itu di bangku belakang.
      Tanpa curiga sedikitpun Sherin tak bertanya apapun lagi. Eza juga tak menceritakan apapun soal kegiatan senatnya. Bagi Sherin, tak ingin mempersoalkan apapun kegiatan Eza karena semua orang punya privacy yang tak ingin orang lain tau meskipun itu kekasih, sahabat ataupun keluarga sekalipun. Sherin menghormati itu semua.
       Eza mengantarkan Sherin sampai di depan rumahnya. Sherin menawarkan Eza masuk ke dalam tapi Eza menolak dengan alasan ada sesuatu yang harus ia urus. Sherin mencoba mengerti dan tersenyum menyembunyikan kekecewaannya. Tapi lagi-lagi seolah tau perasaan gadis itu, Eza memegang tangan gadis itu dan berjanji akan secepatnya menghubunginya lalu mencium kening gadis itu.
      "Sebenarnya apa sih yang Kak Eza urus?" tanya Sherin dalam hati sambil memandang mobil Eza yang makin menjauh.


 
Eza

        Sebuah mobil berhenti di depan sebuah cafe. Eza keluar dari mobil sambil membawa sebuah amplop cokelat. Ia menghampiri seseorang yang telah menunggunya di salah satu meja.
        "Sorry Raf, lama nunggu" ujar Eza pada orang itu.
        "Ada apaan Za, loe manggil gue kesini?" tanya Rafa, orang yang ditemui Eza.
        "Ada yang mau gue tunjukin ke loe" ujar Eza menyerahkan amplop cokelat itu pada Rafa.
       Rafa membuka amplop itu dan membaca isi di dalamnya. Di raut wajahnya terlihat sebuah kebahagiaan, "Loe diterima?" ucap Rafa gembira.
       "Iya, Raf" ucap Eza tersenyum lalu kemudian senyumnya memudar.
       "Muka loe kok kayaknya  ga seneng gitu?" tanya Rafa.
       "Gue bingung, Raf" ucap Eza.
       "Bingung kenapa, bukannya ini impian loe?" tanya Rafa.
       Eza menggeleng perlahan, "Bukan, Raf. Ini bukan impian gue, gue terpaksa melakukan ini. Loe tau kan bokap gue gimana" ujar Eza.
        "Tapi selama ini gue pikir loe sama sekali nggak ada masalah dengan bokap loe" ujar Rafa.
        "Gue diem bukan berarti gue mggak punya keinginan gue sendiri, Raf. Apalagi untuk saat ini gue udah punya Sherin" ujar Eza
       "Oke gue ngerti sekarang. Trys rencana loe sendiri apa?" tanya Rafa lagi
       "Gue bingung, Raf, gue butuh waktu untuk  mikir semuanya" jawan Eza.
       "Oke, Bro, apapun keputusan loe nantinya, gue bakal dukung dan bantu loe" ujar Rafa.


 
Rafa

        Malam itu seorang pemuda sedang berbincang dengan seorang gadis berambut panjang. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
       "Ar, aku mohon maafin aku. Aku tau aku salah selama ini, aku bener-bener khilaf" ucap gadis itu tapi pemuda itu tetap memasang tampang dingin.
       "Udah selesai loe ngomongnya?" tanya Arya dingin hendak beranjak dari tempat duduknya namun ditahan oleh gadis itu.
       "Ar....please, dengerin aku. Sampai kapan kamu mau terus dingin seperti ini sama aku" ujar gadis itu memelas.
       "Udahlah, Van, udah ga ada lagi yang perlu dibahas" ucap Arya melepaskan tangannya dengan kasar dari Vania (Ariel) lalu berlalu meninggalkan gadis itu.
       Arya berjalan menuju pintu keluar yang kebetulan melewati etalase toko buku. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya. Arya memandangi sosok yang bersama seseorang itu. Tangannya menggenggam sesuatu dibalik saku celananya.
       "Maafin gue...." gumamnya pelan

 
Arya

bersambung...

Rabu, 16 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 6


 
Sheryl & Sherin

         Di dalam kamarnya, Sherin (Yuki) masih sering senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Hatinya berbunga-bunga dan sangat tersanjung dengan kejutan yang diberikan oleh Eza (Esa). Apalagi disaksikan oleh saudari kembar dan juga sahabat-sahabatnya. Malam yang tak akan pernah dilupakan olehnya seumur hidup.
         "Terima kasih Tuhan, ini malam terindah untukku" ucap Sherin dalam hati
         Berbeda dengan Sheryl (Yuki) yang terlihat galau setelah pengakuan Satya (Riski). Dia tak mampu berucap apapun, bahkan ia belum memberi jawaban pada Satya.  Satya memberi waktu pada Sheryl untuk mempertimbangkan perasaannya.
         "Ya Tuhan, jawaban apa yang harus kuberikan???" ucap Sheryl dalam hati.


         Esok paginya, Sherin dan Sheryl segera turun dan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Wajah Sherin berbunga-bunga sedangkan Sherin seperti orang linglung.
        "Ryl, mau dong selai strawberry" pinta Sherin.
        Sheryl tanpa melihat menyerahkan sebotol selai ke Sherin.
        "Ryl, ini kan kacang. Gue minta Strawberry" ucap Sherin.
        Lagi-lagi tanpa melihat Sheryl memberikan sebotol selai yang lain ke Sherin.
        "Ryl, loe nggak lagi demam kan, loe masih ngantuk ya?" tanya Sherin menyadarkan Sheryl dari lamunannya.
       "Hah..?! Loe ngomong apa?" tanya Sheryl yang baru sadar.
       "Dari tadi gue minta selai Strawberry, loe malah kasih gue selai kacang sama cokelat" ucap Sherin menatap saudarinya heran.
        "Sorry, Rin, nih" ucap Sheryl yang akhirnya memberikan selai yang benar.
        "Loe kenapa sih, Loe lagi bingung ya?" tanya Sherin yang seperti tau isi hati saudara kembarnya itu.
        Sherin mengangguk pelan.
        "Bingung apaan sih, nggak biasanya loe kayak gini?" tanya Sherin.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue" jawab Sheryl dengan muka depresi. Sherin yang saat itu sedang makan roti langsung tersedak mendengar jawaban Sheryl.
        "Hhhuukkk...Hhhhuuukkk...loe bilang apa tadi?" tanya Sherin lagi.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue...dan sekarang gue bingung" sahut Sheryl kesal.
        Sherin kontan tertawa mendengar pengakuan Sheryl.
        "Loe kok malah ketawa sih" ujar Sheryl cemberut.
        "Trus kalo nggak ketawa, gue mau apalagi, coba?" ujar Sherin.
        "Bantu gue mikir kek" ucap Sheryl
        "Emangnya gue bantu mikir apaan, itu kan masalah hati dan perasaan loe. Nah, sekarang perasaan loe sendiri gimana ma Satya?" tanya Sherin.
        "Gue juga bingung, Rin, gue juga sayang sama Satya tapi gue nggak yakin apakah perasaan ini hanya untuk sahabat atau lebih dari itu" jawab Sheryl.
        "Jadi loe belum kasih jawaban ke Satya?" tanya Sherin yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Sheryl.
        "Kalo bisa gue saranin, loe pikir dulu baik-baik sebelum loe ambil keputusan. Tapi menurut pendapat gue, Satya sayang banget sama loe, buktinya dia sabar banget ngadepin tingkah loe selama ini" ujar Sherin
         Sheryl terdiam memikirkan kata-kata Sherin. Memang benar selama ini hanya Satya satu-satunya cowok yang dekat dengannya selama ini, yang selalu ada untuk Sheryl, yang selalu sabar menghadapi tingkah Sheryl yang kekanak-kanakan dan sering membuat Satya susah tapi cowok itu sama sekali ga pernah meninggalkannya. Tapi...masalahnya selama ini Sheryl hanya menganggap Satya sekadar sahabat, tak pernah terpikir di benak Sheryl memiliki rasa lebih dari sahabat ke Satya.
         "Loe pikir dengan baik-baik, jangan sampai loe salah ambil keputusan yang nantinya malah akan menghancurkan persahabatan kalian" nasihat Sherin sebelum dia pergi berangkat duluan ke kampus dengan Eza yang menjemputnya.

 
picture to Eza & Sherin

         Di mobil, perjalanan menuju kampus, Sherin tak henti-hentinya tersenyum mengingat tingkah saudari kembarnya. Tentu saja, Eza yang berada disampingnya jadi penasaran.
         "Kok senyum-senyum aja dari tadi, Sayang?" tanya Eza.
         "Ga pa-pa kok, Kak" jawab Sherin yang masih terlihat kaku dihadapan Eza yang sekarang udah resmi jadi kekasihnya. Tapi Eza hanya tersenyum dan tak protes sama sekali.
         "Bener ga ada apa-apa, kok dari tadi seyum-senyum sendiri?" tanya Eza sekali lagi.
         "Sherin cuma inget Sheryl aja kok, Kak. soalnya dia lagi galau gara-gara dapat pernyataan cinta dari sahabatnya" ucap Sherin.
        "lalu apanya yang lucu, Sayang?" tanya Eza
        "Ga ada sih, Kak, hanya baru pertama kali Sherin liat dia sebingung itu. Biasanya dia orang yang paling santai dan cuek pada hal-hal seperti itu" jawab Sherin.
        Eza tersenyum  pada Sherin hingga gadis itu tersipu dan tertunduk malu.
        "Hari ini kamu ada kuliah sampai jam berapa?" tanya Eza.
        "Hari ini Sherin kuliah sampai jam 12, Kak" jawabnya.
        "Kalo gitu nanti aku jemput ya" ucap Eza.
        "Lho, memangnya Kak Eza ga ada kuliah?" tanya Sherin
        "Hari ini aku ada urusan di luar kampus. Kebetulan juga hari ini aku nggak ada kuliah. Jadi maaf ya kalo hari ini aku nggak bisa nemenin kamu di kampus" ucap Eza
       "Ah ya nggak pa-pa kok, Kak" ucap Sherin sambil tersenyum simpul berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
       Seperti tau apa yang dipikirkan kekasihnya, Eza pun menggenggam tangan Sherin seraya tersenyum lembut.
       "Aku janji, secepatnya aku bakal balik untuk nemenin kamu" ujar Eza.
       "Iya, Kak" balas Sherin tersenyum.
       Sesampainya di kampus, Eza membukakan pintu untuk Sherin, membuat gadis itu tersanjung. Dan sebelum pergi, Eza sempat berbisik sesuatu ke Sherin lalu mencium kening gadis itu.
      Sherin memandangi kepergian Eza, kekasihnya hingga mobil yang membawa kekasihnya itu tak nampak lagi dari pandangannya, sampai-sampai tak menyadari seseorang telah berdiri disampingnya.
      "Kak Rafa" teriak Sherin kaget ketika hendak berbalik.
      "Aduh, Sherin teriak kenceng banget kayak liat hantu aja" ujar Rafa (Maxime) tersenyum jahil.
      "Abisnya Kak Rafa tiba-tiba ada disamping Sherin, kan Sherin jadi kaget kirain ada hantu di siang bolong" canda Sherin.
      "Ya udah yuk masuk" ajak Rafa sambil merangkul pundak gadis itu.
      "Kak Rafa kalo kuliah biasanya sekelas sama Kak Eza ya?" tanya Sherin.
      "Hu-um, kenapa? Mau cari tau tentang Eza ya?" goda Rafa
      "Iiikkhhh...Kak Rafa apaan sih" ucap Sherin malu-malu sambil menggelitik pinggang Rafa hingga cowok itu geli.
      "Hahaha...muka kamu udah merah aja tuh kayak kepiting rebus" goda Rafa bikin Sherin cemberut.
      "Males ah ngomong sama Kak Rafa godain Sherin mulu" ucap Sherin pura-pura ngambek.
      "Ngambek nih ceritanya...hehehe"
      "Tau ah, Kak Rafa nyebelin"
      "Iya iya deh maaf" ujar Rafa akhirnya sambil mengusap-usap kepala Sherin.
       Sherin segera tersenyum kembali ke Rafa. Mereka berdua saling menautkan kelingking tanda baikan seperti kebiasaan mereka dulu.
       "Kak Rafa ga kuliah?" tanya Sherin.
       "Hari ini aku nggak ada kuliah tapi ada kerjaan yang harus aku beresin" jawab Rafa.
       "Ada yang bisa Sherin bantuin, Kak?" tanya Sherin.
       "Ada sih...temenin aku sarapan yuk" ajak Rafa langsung menyeret Sherin ke kantin.


       Di kantin, Sherin dan Rafa mendapati Noura sedang mengintip seseorang dari balik tembok. Iseng Sherin mengagetkan Noura.
       "Dooorrr.....!!!" seru Sherin
       "Eh kodok keong cumi belalang kupu-kupu" ucap Noura (Veby) latah.
       "Hahahaha.....ga sekalian seisi kebun binatang loe sebutin semua" canda Sherin.
       "Sheriiinn...apaan sih ngagetin gue aja deh" protes Noura.
       "Abisnya loe ngapain ngumpet disini, ngintipin apaan sih?" tanya Sherin celingak-celinguk mencari tau apa yang dilihat Noura. Rafa yang berdiri disampingnya hanya tersenyum geli melihat tingkah dua gadis itu.
       "Itu tuh Riana ma Kak Niko" tunjuk Noura ke arah dua orang yang sedang duduk di pojokan kantin.
        "Wah, sejak kapan mereka berdua...." ucap Sherin heran hingga tak dapat meneruskan kata-katanya.
        "Yaelah...loe mah akhir-akhir ini yang dipikirin Kak Eza mulu sih, jadi ketinggalan berita kan loe" ujar Noura membuat Sherin nyengir kuda.
       "Apaan sih loe" ucap Sherin seraya meleletkan lidah.


       Di tempat tak jauh dari mereka bertiga Riana memasang muka cemberut ke Niko, pasalnya cowok itu tiba-tiba menariknya ke kantin.
       "Ada apaan sih, Kak, pake acara narik-narik aku ke kantin?" tanya Riana agak kesal.
       "Sebenarnya sejak aku liat kamu, aku tertarik sama kepribadian kamu. Makanya aku tertarik ngajak kamu gabung di senat, gimana?" ajak Niko.
       "Owh...cuma itu yang mau Kak Niko bicarain? aku pikir-pikir dulu deh" ujar Riana asal.
       "Tolong pikirin ini baik-baik. Sebentar lagi kita ada event bakti sosial ke rumah sakit dan mungkin ini bisa jadi wawasan lebih buat kamu" ujar Niko.
        "Oke deh, Kak. Ya udah aku mau ke kelas dulu, bentar lagi dosen dateng nih" Riana hendak beranjak dari tempatnya tapi lengannya ditahan oleh Niko.
        "Ada apalagi, Kak?" tanya Riana.
        "Nih kemarin malam kalung kamu jatuh, aku temuin di taman semalem" ucap Niko seraya menyerahkan seuntai kalung ke tangan Riana.
         Riana memegang lehernya, benar saja, ternyata kalung pemberian almarhumah Mamanya tak ada di lehernya.
        "Makasih, Kak, ini kalung berharga banget buat aku, tapi kok Kakak tau ini punya aku?" tanya Riana mulai melunak.
        "Karena tiap aku ketemu kamu, aku selalu liat kalung itu" jawab Niko.
        "Makasih ya, Kak" ucap Riana tersenyum senang berbeda dengan senyum yang tadi karena terpaksa.
        "Oh ya, satu lagi yang ingin aku bilang, kamu lebih cantik kalo tersenyum seperti itu. Ya udah, bentar lagi dosen kamu datang, kan. Buruan ke kelas" suruh Niko
         "Sekali lagi makasih, Kak" ujar Riana sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Niko yang masih melihat gadis itu semakin menjauh.

 
picture to Satya & Sheryl

         Sheryl baru saja sampai di parkiran kampus, di pintu masuk ia melihat Satya sedang bersama si Cumi Kembar, Deka dan Deki. Sheryl masih bingung dengan jawaban apa yang harus diberikan ke Satya hingga membuatnya enggan untuk keluar dari mobil. Sampai akhirnya seseorang mengetuk jendela mobilnya.
         "Elsa" gumam Sheryl.
         Sheryl pun membuka kaca mobilnya.
         "Ryl, kok nggak turun sih, bentar lagi waktunya mata kuliah dosen yang killer loh" ucap Elsa (Nina).
         "Mmm...iya nih gue udah mau turun kok" ujar Sheryl berbohong.
         Dengan terpaksa Sheryl pun turun dari mobilnya, Ia berharap Satya tak melihatnya. Tapi mana mungkin, jelas-jelas Satya ada di depan pintu masuk. Mendekati pintu masuk, kegugupan Sheryl makin memuncak, membuat Elsa merasa Sheryl tak seperti biasanya.
         "Loe kenapa, Ryl?" tanya Elsa.
         "Ah nggak....nggak pa-pa kok" elak Sheryl gugup.
         Aaarrrrggghhhh.....jerit hati Sheryl ingin segera pergi dari tempat itu tanpa terlihat Satya. Dan satu lagi, Arya, cowok yang tau masalah penembakan itu sekarang juga ada disana. Sheryl benar-benar merasa malu sekali.
          Sampai di pintu masuk, benar saja Satya menghampirinya.
         "Hai, Ryl" sapa Satya seraya tersenyum seperti biasa, senyum lembut tapi terasa sedikit menakutkan bagi Sheryl, pasalnya sampai saat ini dia belum bisa menemukan jawaban untuk Satya.
         "Hai Sat" balas Sheryl gugup.
         Satya juga tersenyum ke Elsa hingga gadis itu tersipu malu.
        "Boleh gue ngomong berdua sama Sheryl, Sa?" tanya Satya.
        "Ya tentu aja. Ryl, gue ke kelas dulu deh" ujar Elsa yang akhirnya meninggalkan Satya dan Sheryl berdua.
        "Mmm-mau ngomong apa, Sat?" tanya Sheryl berusaha menutupi kegugupannya yang tak seperti biasanya dia seperti ini dihadapan Satya.
         "Soal kemarin, maaf kalo pernyataan gue bikin loe jadi berubah sikap sama gue. Loe lupain aja, gue nggak mau itu jadi beban buat loe" ucap Satya.
          Duuuhh....Sheryl jadi merasa makin tak enak hati pada Satya.
         "Sat, maafin gue yah. Gue bener-bener ga tau harus jawab apa. Selama ini gue terbiasa dengan elo disamping gue dan gue nyaman di deket loe karena kita sahabat dari dulu. Jadi waktu loe nyatain perasaan loe, gue ga tau perasaan gue sendiri ke loe seperti apa" ucap Sheryl jujur dari hatinya sambil menundukkan kepalanya, takut Satya akan marah padanya.
          Tak disangka-sangka, Satya malah mengusap-usap rambut Sheryl seperti biasa, ambil tersenyum ia berkata, "Gue nggak akan memaksa loe untuk bales perasaan gue, Gue udah cukup bahagia loe anggap gue sahabat, seenggaknya gue berarti buat loe" ucap Satya.
          "Makasih ya, Sat" ucap Sheryl dengan mata berkaca-kaca.
          "Ikh....jelek banget loe mau nangis segala. Nggak biasanya loe jadi cengeng gini, jelek" goda Satya seperti biasa.
          "Satyaaaa...." teriak Sheryl sambil memukul-mukul dada Satya yang menertawakannya.
         Di tempat yang tak jauh dari mereka berdua, seseorang memperhatikan mereka. Orang itu membawa seuntai gelang berbandul bintang.

         "Udah 10 tahun lebih akhirnya aku menemukannya kembali, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang" ucap orang itu.

 
Arya

bersambung...

Selasa, 01 November 2011

Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3

Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/uPNSaFiQ/Puisi_-_Maafkan_Aku_Ibu.html" target="_blank">Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3</a>