Rabu, 16 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 6


 
Sheryl & Sherin

         Di dalam kamarnya, Sherin (Yuki) masih sering senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Hatinya berbunga-bunga dan sangat tersanjung dengan kejutan yang diberikan oleh Eza (Esa). Apalagi disaksikan oleh saudari kembar dan juga sahabat-sahabatnya. Malam yang tak akan pernah dilupakan olehnya seumur hidup.
         "Terima kasih Tuhan, ini malam terindah untukku" ucap Sherin dalam hati
         Berbeda dengan Sheryl (Yuki) yang terlihat galau setelah pengakuan Satya (Riski). Dia tak mampu berucap apapun, bahkan ia belum memberi jawaban pada Satya.  Satya memberi waktu pada Sheryl untuk mempertimbangkan perasaannya.
         "Ya Tuhan, jawaban apa yang harus kuberikan???" ucap Sheryl dalam hati.


         Esok paginya, Sherin dan Sheryl segera turun dan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Wajah Sherin berbunga-bunga sedangkan Sherin seperti orang linglung.
        "Ryl, mau dong selai strawberry" pinta Sherin.
        Sheryl tanpa melihat menyerahkan sebotol selai ke Sherin.
        "Ryl, ini kan kacang. Gue minta Strawberry" ucap Sherin.
        Lagi-lagi tanpa melihat Sheryl memberikan sebotol selai yang lain ke Sherin.
        "Ryl, loe nggak lagi demam kan, loe masih ngantuk ya?" tanya Sherin menyadarkan Sheryl dari lamunannya.
       "Hah..?! Loe ngomong apa?" tanya Sheryl yang baru sadar.
       "Dari tadi gue minta selai Strawberry, loe malah kasih gue selai kacang sama cokelat" ucap Sherin menatap saudarinya heran.
        "Sorry, Rin, nih" ucap Sheryl yang akhirnya memberikan selai yang benar.
        "Loe kenapa sih, Loe lagi bingung ya?" tanya Sherin yang seperti tau isi hati saudara kembarnya itu.
        Sherin mengangguk pelan.
        "Bingung apaan sih, nggak biasanya loe kayak gini?" tanya Sherin.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue" jawab Sheryl dengan muka depresi. Sherin yang saat itu sedang makan roti langsung tersedak mendengar jawaban Sheryl.
        "Hhhuukkk...Hhhhuuukkk...loe bilang apa tadi?" tanya Sherin lagi.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue...dan sekarang gue bingung" sahut Sheryl kesal.
        Sherin kontan tertawa mendengar pengakuan Sheryl.
        "Loe kok malah ketawa sih" ujar Sheryl cemberut.
        "Trus kalo nggak ketawa, gue mau apalagi, coba?" ujar Sherin.
        "Bantu gue mikir kek" ucap Sheryl
        "Emangnya gue bantu mikir apaan, itu kan masalah hati dan perasaan loe. Nah, sekarang perasaan loe sendiri gimana ma Satya?" tanya Sherin.
        "Gue juga bingung, Rin, gue juga sayang sama Satya tapi gue nggak yakin apakah perasaan ini hanya untuk sahabat atau lebih dari itu" jawab Sheryl.
        "Jadi loe belum kasih jawaban ke Satya?" tanya Sherin yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Sheryl.
        "Kalo bisa gue saranin, loe pikir dulu baik-baik sebelum loe ambil keputusan. Tapi menurut pendapat gue, Satya sayang banget sama loe, buktinya dia sabar banget ngadepin tingkah loe selama ini" ujar Sherin
         Sheryl terdiam memikirkan kata-kata Sherin. Memang benar selama ini hanya Satya satu-satunya cowok yang dekat dengannya selama ini, yang selalu ada untuk Sheryl, yang selalu sabar menghadapi tingkah Sheryl yang kekanak-kanakan dan sering membuat Satya susah tapi cowok itu sama sekali ga pernah meninggalkannya. Tapi...masalahnya selama ini Sheryl hanya menganggap Satya sekadar sahabat, tak pernah terpikir di benak Sheryl memiliki rasa lebih dari sahabat ke Satya.
         "Loe pikir dengan baik-baik, jangan sampai loe salah ambil keputusan yang nantinya malah akan menghancurkan persahabatan kalian" nasihat Sherin sebelum dia pergi berangkat duluan ke kampus dengan Eza yang menjemputnya.

 
picture to Eza & Sherin

         Di mobil, perjalanan menuju kampus, Sherin tak henti-hentinya tersenyum mengingat tingkah saudari kembarnya. Tentu saja, Eza yang berada disampingnya jadi penasaran.
         "Kok senyum-senyum aja dari tadi, Sayang?" tanya Eza.
         "Ga pa-pa kok, Kak" jawab Sherin yang masih terlihat kaku dihadapan Eza yang sekarang udah resmi jadi kekasihnya. Tapi Eza hanya tersenyum dan tak protes sama sekali.
         "Bener ga ada apa-apa, kok dari tadi seyum-senyum sendiri?" tanya Eza sekali lagi.
         "Sherin cuma inget Sheryl aja kok, Kak. soalnya dia lagi galau gara-gara dapat pernyataan cinta dari sahabatnya" ucap Sherin.
        "lalu apanya yang lucu, Sayang?" tanya Eza
        "Ga ada sih, Kak, hanya baru pertama kali Sherin liat dia sebingung itu. Biasanya dia orang yang paling santai dan cuek pada hal-hal seperti itu" jawab Sherin.
        Eza tersenyum  pada Sherin hingga gadis itu tersipu dan tertunduk malu.
        "Hari ini kamu ada kuliah sampai jam berapa?" tanya Eza.
        "Hari ini Sherin kuliah sampai jam 12, Kak" jawabnya.
        "Kalo gitu nanti aku jemput ya" ucap Eza.
        "Lho, memangnya Kak Eza ga ada kuliah?" tanya Sherin
        "Hari ini aku ada urusan di luar kampus. Kebetulan juga hari ini aku nggak ada kuliah. Jadi maaf ya kalo hari ini aku nggak bisa nemenin kamu di kampus" ucap Eza
       "Ah ya nggak pa-pa kok, Kak" ucap Sherin sambil tersenyum simpul berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
       Seperti tau apa yang dipikirkan kekasihnya, Eza pun menggenggam tangan Sherin seraya tersenyum lembut.
       "Aku janji, secepatnya aku bakal balik untuk nemenin kamu" ujar Eza.
       "Iya, Kak" balas Sherin tersenyum.
       Sesampainya di kampus, Eza membukakan pintu untuk Sherin, membuat gadis itu tersanjung. Dan sebelum pergi, Eza sempat berbisik sesuatu ke Sherin lalu mencium kening gadis itu.
      Sherin memandangi kepergian Eza, kekasihnya hingga mobil yang membawa kekasihnya itu tak nampak lagi dari pandangannya, sampai-sampai tak menyadari seseorang telah berdiri disampingnya.
      "Kak Rafa" teriak Sherin kaget ketika hendak berbalik.
      "Aduh, Sherin teriak kenceng banget kayak liat hantu aja" ujar Rafa (Maxime) tersenyum jahil.
      "Abisnya Kak Rafa tiba-tiba ada disamping Sherin, kan Sherin jadi kaget kirain ada hantu di siang bolong" canda Sherin.
      "Ya udah yuk masuk" ajak Rafa sambil merangkul pundak gadis itu.
      "Kak Rafa kalo kuliah biasanya sekelas sama Kak Eza ya?" tanya Sherin.
      "Hu-um, kenapa? Mau cari tau tentang Eza ya?" goda Rafa
      "Iiikkhhh...Kak Rafa apaan sih" ucap Sherin malu-malu sambil menggelitik pinggang Rafa hingga cowok itu geli.
      "Hahaha...muka kamu udah merah aja tuh kayak kepiting rebus" goda Rafa bikin Sherin cemberut.
      "Males ah ngomong sama Kak Rafa godain Sherin mulu" ucap Sherin pura-pura ngambek.
      "Ngambek nih ceritanya...hehehe"
      "Tau ah, Kak Rafa nyebelin"
      "Iya iya deh maaf" ujar Rafa akhirnya sambil mengusap-usap kepala Sherin.
       Sherin segera tersenyum kembali ke Rafa. Mereka berdua saling menautkan kelingking tanda baikan seperti kebiasaan mereka dulu.
       "Kak Rafa ga kuliah?" tanya Sherin.
       "Hari ini aku nggak ada kuliah tapi ada kerjaan yang harus aku beresin" jawab Rafa.
       "Ada yang bisa Sherin bantuin, Kak?" tanya Sherin.
       "Ada sih...temenin aku sarapan yuk" ajak Rafa langsung menyeret Sherin ke kantin.


       Di kantin, Sherin dan Rafa mendapati Noura sedang mengintip seseorang dari balik tembok. Iseng Sherin mengagetkan Noura.
       "Dooorrr.....!!!" seru Sherin
       "Eh kodok keong cumi belalang kupu-kupu" ucap Noura (Veby) latah.
       "Hahahaha.....ga sekalian seisi kebun binatang loe sebutin semua" canda Sherin.
       "Sheriiinn...apaan sih ngagetin gue aja deh" protes Noura.
       "Abisnya loe ngapain ngumpet disini, ngintipin apaan sih?" tanya Sherin celingak-celinguk mencari tau apa yang dilihat Noura. Rafa yang berdiri disampingnya hanya tersenyum geli melihat tingkah dua gadis itu.
       "Itu tuh Riana ma Kak Niko" tunjuk Noura ke arah dua orang yang sedang duduk di pojokan kantin.
        "Wah, sejak kapan mereka berdua...." ucap Sherin heran hingga tak dapat meneruskan kata-katanya.
        "Yaelah...loe mah akhir-akhir ini yang dipikirin Kak Eza mulu sih, jadi ketinggalan berita kan loe" ujar Noura membuat Sherin nyengir kuda.
       "Apaan sih loe" ucap Sherin seraya meleletkan lidah.


       Di tempat tak jauh dari mereka bertiga Riana memasang muka cemberut ke Niko, pasalnya cowok itu tiba-tiba menariknya ke kantin.
       "Ada apaan sih, Kak, pake acara narik-narik aku ke kantin?" tanya Riana agak kesal.
       "Sebenarnya sejak aku liat kamu, aku tertarik sama kepribadian kamu. Makanya aku tertarik ngajak kamu gabung di senat, gimana?" ajak Niko.
       "Owh...cuma itu yang mau Kak Niko bicarain? aku pikir-pikir dulu deh" ujar Riana asal.
       "Tolong pikirin ini baik-baik. Sebentar lagi kita ada event bakti sosial ke rumah sakit dan mungkin ini bisa jadi wawasan lebih buat kamu" ujar Niko.
        "Oke deh, Kak. Ya udah aku mau ke kelas dulu, bentar lagi dosen dateng nih" Riana hendak beranjak dari tempatnya tapi lengannya ditahan oleh Niko.
        "Ada apalagi, Kak?" tanya Riana.
        "Nih kemarin malam kalung kamu jatuh, aku temuin di taman semalem" ucap Niko seraya menyerahkan seuntai kalung ke tangan Riana.
         Riana memegang lehernya, benar saja, ternyata kalung pemberian almarhumah Mamanya tak ada di lehernya.
        "Makasih, Kak, ini kalung berharga banget buat aku, tapi kok Kakak tau ini punya aku?" tanya Riana mulai melunak.
        "Karena tiap aku ketemu kamu, aku selalu liat kalung itu" jawab Niko.
        "Makasih ya, Kak" ucap Riana tersenyum senang berbeda dengan senyum yang tadi karena terpaksa.
        "Oh ya, satu lagi yang ingin aku bilang, kamu lebih cantik kalo tersenyum seperti itu. Ya udah, bentar lagi dosen kamu datang, kan. Buruan ke kelas" suruh Niko
         "Sekali lagi makasih, Kak" ujar Riana sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Niko yang masih melihat gadis itu semakin menjauh.

 
picture to Satya & Sheryl

         Sheryl baru saja sampai di parkiran kampus, di pintu masuk ia melihat Satya sedang bersama si Cumi Kembar, Deka dan Deki. Sheryl masih bingung dengan jawaban apa yang harus diberikan ke Satya hingga membuatnya enggan untuk keluar dari mobil. Sampai akhirnya seseorang mengetuk jendela mobilnya.
         "Elsa" gumam Sheryl.
         Sheryl pun membuka kaca mobilnya.
         "Ryl, kok nggak turun sih, bentar lagi waktunya mata kuliah dosen yang killer loh" ucap Elsa (Nina).
         "Mmm...iya nih gue udah mau turun kok" ujar Sheryl berbohong.
         Dengan terpaksa Sheryl pun turun dari mobilnya, Ia berharap Satya tak melihatnya. Tapi mana mungkin, jelas-jelas Satya ada di depan pintu masuk. Mendekati pintu masuk, kegugupan Sheryl makin memuncak, membuat Elsa merasa Sheryl tak seperti biasanya.
         "Loe kenapa, Ryl?" tanya Elsa.
         "Ah nggak....nggak pa-pa kok" elak Sheryl gugup.
         Aaarrrrggghhhh.....jerit hati Sheryl ingin segera pergi dari tempat itu tanpa terlihat Satya. Dan satu lagi, Arya, cowok yang tau masalah penembakan itu sekarang juga ada disana. Sheryl benar-benar merasa malu sekali.
          Sampai di pintu masuk, benar saja Satya menghampirinya.
         "Hai, Ryl" sapa Satya seraya tersenyum seperti biasa, senyum lembut tapi terasa sedikit menakutkan bagi Sheryl, pasalnya sampai saat ini dia belum bisa menemukan jawaban untuk Satya.
         "Hai Sat" balas Sheryl gugup.
         Satya juga tersenyum ke Elsa hingga gadis itu tersipu malu.
        "Boleh gue ngomong berdua sama Sheryl, Sa?" tanya Satya.
        "Ya tentu aja. Ryl, gue ke kelas dulu deh" ujar Elsa yang akhirnya meninggalkan Satya dan Sheryl berdua.
        "Mmm-mau ngomong apa, Sat?" tanya Sheryl berusaha menutupi kegugupannya yang tak seperti biasanya dia seperti ini dihadapan Satya.
         "Soal kemarin, maaf kalo pernyataan gue bikin loe jadi berubah sikap sama gue. Loe lupain aja, gue nggak mau itu jadi beban buat loe" ucap Satya.
          Duuuhh....Sheryl jadi merasa makin tak enak hati pada Satya.
         "Sat, maafin gue yah. Gue bener-bener ga tau harus jawab apa. Selama ini gue terbiasa dengan elo disamping gue dan gue nyaman di deket loe karena kita sahabat dari dulu. Jadi waktu loe nyatain perasaan loe, gue ga tau perasaan gue sendiri ke loe seperti apa" ucap Sheryl jujur dari hatinya sambil menundukkan kepalanya, takut Satya akan marah padanya.
          Tak disangka-sangka, Satya malah mengusap-usap rambut Sheryl seperti biasa, ambil tersenyum ia berkata, "Gue nggak akan memaksa loe untuk bales perasaan gue, Gue udah cukup bahagia loe anggap gue sahabat, seenggaknya gue berarti buat loe" ucap Satya.
          "Makasih ya, Sat" ucap Sheryl dengan mata berkaca-kaca.
          "Ikh....jelek banget loe mau nangis segala. Nggak biasanya loe jadi cengeng gini, jelek" goda Satya seperti biasa.
          "Satyaaaa...." teriak Sheryl sambil memukul-mukul dada Satya yang menertawakannya.
         Di tempat yang tak jauh dari mereka berdua, seseorang memperhatikan mereka. Orang itu membawa seuntai gelang berbandul bintang.

         "Udah 10 tahun lebih akhirnya aku menemukannya kembali, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang" ucap orang itu.

 
Arya

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar