Satya (Riski) sedang duduk sendirian di kantin sambil melihat ke arah Sheryl yang sedang bercanda dengan teman-teman perempuannya. Kadang ia tersenyum mengikuti senyuman gadis itu. Yah, hatinya memang sedikit sakit saat tahu sahabat yang dicintainya sejak kecil itu tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Setidaknya sampai saat ini, dia masih bisa berada disamping gadis itu dan melindunginya.
"Loe sendirian aja, Sat?" sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya.
"Ah elo, Sa. Loe sendiri juga sendirian aja?" tanya Satya balik pada Elsa (Nina).
Elsa hanya menjawab dengan senyuman, "Boleh gue duduk disini?" tanya Elsa.
"Ya silahkan" jawab Satya.
Elsa pun mengambil tempat duduk disamping Satya.
Satya masih terus memandang ke arah Sheryl meski Elsa ada disampingnya.
"Tumben loe sendiri aja, kok ga sama Sheryl?" tanya Elsa.
"Nggak...tuh dia lagi sama temen-temennya. Loe sendiri ga gabung sama mereka?" ujar Satya menunjuk ke arah Sheryl yang bercanda dengan teman-teman yang lainnya.
Elsa menggeleng perlahan, "Gue nggak terlalu kenal sama mereka, kan beda kelas mata kuliah" ujar Elsa.
Mereka pun saling terdiam. Satya lebih menikmati memandangi Sheryl dari jauh, sedangkan Elsa berusaha menguasai hatinya.
"Mmm....Sat, boleh gue minta tolong?" ujar Elsa.
"Minta tolong apa ya?" tanya Satya.
"Minggu depan ulang tahun gue. Gue pengen loe dateng...sama Sheryl juga" ucap Elsa.
"Gue kira minta tolong apaan...iya gue sama Sheryl bakal dateng kok" ujar Satya seraya tersenyum.
"Thanks ya, Sat....gue berharap loe...eh maksud gue kalian bisa dateng. Ya udah. gue balik dulu ya" ujar Elsa kemudian segera berlari meninggalkan Satya.
Sheryl
Sheryl melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Satya, sedang cowok itu hanya balas tersenyum. Sheryl hendak menghampiri Saty tapi di pertengahan jalan ia bertabrakan dengan Arya.
"Ah maaf" ucap Sheryl yang memang salah karena terburu-buru.
"Ya" sahut Arya datar.
Sheryl melihat ada sesuatu yang terjatuh saat mereka bertabrakan. Sheryl mengambil benda itu. Seuntai gelang berbandul bintang. Entah mengapa Sheryl merasa tak asing dengan gelang itu, tapi baru juga mau berpikir, Arya dengan cepat merebut benda itu dari tangan Sheryl.
"Sorry, itu punya gue" ujar Arya yang kemudian segera pergi meninggalkan Sheryl yang masih kelihatan bingung.
Sheryl kembali meneruskan langkahnya menuju ke arah Satya. Sheryl kini tak terlalu gugup lagi pada Satya meskipun ada sedikit rasa segan terhadap Satya, namun Sheryl berusaha bersikap seperti biasanya,
"Hai Sat" sapa Sheryl.
"Hai....kenapa loe tadi?" tanya Satya mengenai peristiwa tadi.
"Ah tadi....gue gak sengaja nabrak Arya trus gue ngambil barangnya yang jatuh" jawab Sheryl seraya duduk menghadap Satya.
"Tadi Elsa ungang kita ke ultahnya minggu depan" ujar Satya.
"Oh ya?! Hmm...oke deh" ucap Sheryl
Sheryl tiba-tiba kehilangan kata-kata. Ia bingung ingin bicara apa.
"Sat"..."Ryl" ucap satya dan Sheryl bersamaan.
"Loe duluan deh, Sat" ujar Sheryl
"Ga usah, loe dulu aja" ucap satya.
"Sat, ntar malem bisa anter gue ke toko buku nggak?" ajak Sheryl.
Satya tertawa lalu mengusap-usap kepala Sheryl. "Hahaha...ngomong gitu aja kok susah banget sih" ujar Satya.
Sheryl ikut tersenyum seperti Satya. Ia mencoba bersikap seperti biasa, seperti permintaan Satya.
"Oke kalo gitu ntar malem gue jemput elo" ujar Satya.
"Siiip....ppp gue tunggu" ujar Sheryl.
Di kejauhan beberapa pasang mata memperhatikan mereka berdua.
Sherin
Sherin menunggu Eza di taman belakang kampus seperti yang dibisikkan Eza padanya tadi pagi. Sudah pukul 2 siang tapi kekasihnya itu belum datang juga. Sherin duduk diayunan dan memaju mundurkannya layaknya anak kecil. Lalu tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuket bunga mawar merah untuknya dari arah belakang.
"Maaf ya udah bikin kamu nunggu lama" ucap orang itu
Sherin berbalik dan mendapati Eza, kekasihnya dengan sebukrt mawar merah. Sherin benar-benar senang menerima bunga itu apalagi Eza langsung memeluknya.
"Kak Eza, kan malu peluk di tempat umum" ucap Sherin malu.
"Biarin...lagian jarang orang lewat tempat ini" ujar Eza masih memeluk Sherin. Sherin hanya tersenyum diballik punggung Eza.
Setelah puas berpelukan layaknya teletubbies (hehehe), mereka berdua saling bercanda bermain ayunan dan juga layang-layang, tanpa mereka sadari seseorang menatap kebahagiaan mereka dengan tatapn sinis.
Dan setelah puas bermain-main, Eza mengantarkan Sherin pulang. Eza meminta Sherin menunggu sebentar di mobil karena ada sesuatu yang harus ia ambil di ruang senat. Sherin pun menunggu di dalam mobil dan melihat-lihat isi mobil Eza. Di tempat duduk belakang dia melihat sebuah amplop cokelat besar. Dia melihat ada beberapa lembar kertas didalamnya. Sherin penasaran lalu mencoba mengambilnya. Baru sedikit dia mencoba mengeluarkan selembar kertas, Eza datang dan langsung mengambil amplop itu.
"Maaf ya, Sayang, ini proposal kegiatan senat" ujar Eza kembali meletakkan amplop itu di bangku belakang.
Tanpa curiga sedikitpun Sherin tak bertanya apapun lagi. Eza juga tak menceritakan apapun soal kegiatan senatnya. Bagi Sherin, tak ingin mempersoalkan apapun kegiatan Eza karena semua orang punya privacy yang tak ingin orang lain tau meskipun itu kekasih, sahabat ataupun keluarga sekalipun. Sherin menghormati itu semua.
Eza mengantarkan Sherin sampai di depan rumahnya. Sherin menawarkan Eza masuk ke dalam tapi Eza menolak dengan alasan ada sesuatu yang harus ia urus. Sherin mencoba mengerti dan tersenyum menyembunyikan kekecewaannya. Tapi lagi-lagi seolah tau perasaan gadis itu, Eza memegang tangan gadis itu dan berjanji akan secepatnya menghubunginya lalu mencium kening gadis itu.
"Sebenarnya apa sih yang Kak Eza urus?" tanya Sherin dalam hati sambil memandang mobil Eza yang makin menjauh.
Eza
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah cafe. Eza keluar dari mobil sambil membawa sebuah amplop cokelat. Ia menghampiri seseorang yang telah menunggunya di salah satu meja.
"Sorry Raf, lama nunggu" ujar Eza pada orang itu.
"Ada apaan Za, loe manggil gue kesini?" tanya Rafa, orang yang ditemui Eza.
"Ada yang mau gue tunjukin ke loe" ujar Eza menyerahkan amplop cokelat itu pada Rafa.
Rafa membuka amplop itu dan membaca isi di dalamnya. Di raut wajahnya terlihat sebuah kebahagiaan, "Loe diterima?" ucap Rafa gembira.
"Iya, Raf" ucap Eza tersenyum lalu kemudian senyumnya memudar.
"Muka loe kok kayaknya ga seneng gitu?" tanya Rafa.
"Gue bingung, Raf" ucap Eza.
"Bingung kenapa, bukannya ini impian loe?" tanya Rafa.
Eza menggeleng perlahan, "Bukan, Raf. Ini bukan impian gue, gue terpaksa melakukan ini. Loe tau kan bokap gue gimana" ujar Eza.
"Tapi selama ini gue pikir loe sama sekali nggak ada masalah dengan bokap loe" ujar Rafa.
"Gue diem bukan berarti gue mggak punya keinginan gue sendiri, Raf. Apalagi untuk saat ini gue udah punya Sherin" ujar Eza
"Oke gue ngerti sekarang. Trys rencana loe sendiri apa?" tanya Rafa lagi
"Gue bingung, Raf, gue butuh waktu untuk mikir semuanya" jawan Eza.
"Oke, Bro, apapun keputusan loe nantinya, gue bakal dukung dan bantu loe" ujar Rafa.
Rafa
Malam itu seorang pemuda sedang berbincang dengan seorang gadis berambut panjang. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
"Ar, aku mohon maafin aku. Aku tau aku salah selama ini, aku bener-bener khilaf" ucap gadis itu tapi pemuda itu tetap memasang tampang dingin.
"Udah selesai loe ngomongnya?" tanya Arya dingin hendak beranjak dari tempat duduknya namun ditahan oleh gadis itu.
"Ar....please, dengerin aku. Sampai kapan kamu mau terus dingin seperti ini sama aku" ujar gadis itu memelas.
"Udahlah, Van, udah ga ada lagi yang perlu dibahas" ucap Arya melepaskan tangannya dengan kasar dari Vania (Ariel) lalu berlalu meninggalkan gadis itu.
Arya berjalan menuju pintu keluar yang kebetulan melewati etalase toko buku. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya. Arya memandangi sosok yang bersama seseorang itu. Tangannya menggenggam sesuatu dibalik saku celananya.
"Maafin gue...." gumamnya pelan
Arya
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar