11 tahun yang lalu...
Sherin dan Sheryl kecil sedang asyik bermain di sebuah taman bersama kedua orang tuanya merayakan ulang tahun Rafa yang kebetulan orang tuanya tak dapat merayakannya. Disana mereka bermain dengan seorang anak laki-laki yang mereka panggil Kak Rafa. Selayaknya anak kecil umur 7 dan 9 tahun mereka bermain keluarga-keluargaan. Sherin yang feminim berlaku seperti seorang ibu dan Rafa ayahnya sedangkan Sheryl menjadi anaknya. Terkadang mereka juga iseng-iseng mencoba merangkai bunga. Untuk soal ini, Sherin paling jago, apalagi saat itu dia paling suka membuat mahkota bunga. Karena Sheryl ogah memakai benda seperti itu jadilah Rafa yang selalu mengalah dijadikan sasaran. hehehe... ^_^
"Kak Rafa, liat deh mahkota bunga buatan Sherin udah jadi" ujar Sherin kecil memperlihatkan rangkaian mahkota bunganya.
"Wah...hebat, bagus banget" puji Rafa yang selalu baik pada si kembar seperti adiknya sendiri.
"Sherin pake'in ke Kak Rafa ya, soalnya Sheryl ga mau, Kak" pinta Sherin manja.
"Ya udah deh sini" ucap Rafa
"Waah....Kak Rafa keren deh kayak pangeran" ujar Sherin bahagia saat emasangkan mahkota bunga ke kepala Rafa..
Sheryl yang tadinya duduk disamping mereka tiba-tiba berdiri dan menghampiri seorang anak laki-laki seusianya yang sedang duduk sendiri sambil membawa kotak makan. Sheryl menghampirinya dan melihat isi di kotak bekal makanan anak laki-laki itu.
"Wah...enak banget...bikinan Mama kamu ya?" tanya Sheryl kecil SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat.
Anak laki-laki itu diam saja dan berkata sepatah katapun, hanya menunduk terdiam.
"Nama kamu siapa?" tanya Sheryl.
Ketika anak laki-laki itu hendak bicara, suara Sherin menggema tepat di telinga Sheryl membangunkannya dari mimpi.
"Aaaaahhhh.....Sherin kebiasaan deh teriak-teriak di telinga gue, ganggu mimpi gue aja loe" protes Sheryl.
"Emangnya loe mimpi apaan sih sampai jam tujuh lewat gini loe ga bangun-bangun?" tanya Sherin
"Mimpi msa kecil kita. Loe inget ga waktu kita dulu main di taman sama Papa-Mama juga Kak Rafa waktu ulang tahunnya Kak Rafa?" tanya Sheryl.
"Hmmm..." sambil berpikir, Sherin mengingat-ingat. "Yah gue inget, trus kenapa?" tanya balik Sherin.
"Kayaknya waktu itu gue ketemu sama anak kecil seumuran kita, cowok. Gue kira itu Satya, tapi gue ga yakin" ujar Sheryl.
"Kayaknya emang ada sih...tapi gue nggak seberapa tau juga. Emangnya waktu itu kita udah kenal Satya?" tanya Sherin lagi.
"Udahlah, ngomong sama loe malah banyak nanyanya. Gue mau mandi" ujar Sheryl kesal karena Sherin ditanya malah nanya balik.
Melihat saudara klembarnya itu kesal dan buru-buru mandi bikin Sherin tersenyum kecil lalu kembali mengingat masa lalu, "Kayaknya waktu itu belum kenal Satya deh" gumam Sherin lalu pergi meninggalkan kamar Sheryl.
Sherin merasa ada yang berbeda dari Eza, kekasihnya sejak pagi tadi menjemputnya di rumah. Cowok itu jadi lebih banyak diam meski sesekali ia tersenyum lembut pada Sherin. Sherin ingin bertanya tapi ia urungkan, ia takut menyinggung Eza, dikiranya mencampuri privacynya.
"Kak Eza baik-baik aja?" tanya Sherin mencoba mencairkan suasana.
"Ah iya baik kok" jawab Eza.
"Kak Eza yakin, soalnya Sherin perhatikan Kak Eza nggak seperti biasanya" ucap Sherin meyakinkan.
Eza berhenti dan menatap kedua bola mata gadis itu. Hatinya terasa bergejolak tak keruan sampai akhirnya ia berucap, "Boleh aku peluk kamu sebentar?" tanya Eza.
Muka Sherin langsung memerah. Baru akan mengatakan "iya", Eza sudah memeluknya.
Eza memeluk Sherin erat sekali, seakan-akan tak ingin melepaskan gadis itu. Sherin sendiri antara senang, malu dan bingung bercampur menjadi satu.
Setelah beberapa menit mereka dalam pose seperti itu akhirnya Eza melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada Sherin.
"Aq senang Kak Eza tersenyum seperti ini" ujar Sherin
"Iya, Sayang. Maafin Kak Eza ya kalo udah bikin Sherin jadi mikirin Kak Eza" ujar Eza sambil membelai rambut indah Sherin yang panjang.
Perjalanan mereka pun berlanjut menuju kampus, dimana telah menunggu kejutan besar untuk mereka berdua.
Setelah keduanya sampai do pelataran fakultas kedokteran, Riana, dan Noura telah menunggu di parkiran dengan wajah panik. Baru setelah Sherin turun dari mobil Eza, mereka langsung menghampiri Sherin dan langsung memeluknya.
"Kalian ini kenapa sih, ada apa?" tanya Sherin heran plus bingung.
"Sherin, my honey, loe yang sabar ya" ucap Noura dennagn suara cemprengnya.
"Hah?! Sabar kenapa?" tanya Sherin makin biertanya-tanya ada apa gerangan sahabat-sahabatnya itu.
"Sebentar lagi Kak Eza bakal ninggalin loe, kan. Dia mau sekolah di LN" ucap Riana bagaikan petir di siang bolong di telinga Sherin.. (Woo Lebay yach...!!! xixixixi)
"Sherin langsung terdiam menatap ke arah Eza yang ada disampingnya mencoba mencari penjelasan. Tapi pemuda itu memandang Sherin dengan wajah sendu, dan Sherin sadar dan mulai mengerti maksud dari sikap Eza akhir-akhir ini.
Seperti tau bahwa shabtanya ini sama sekali tak mengerti dan buth penjelasan langsung dari sang kekasih sendiri, Riana pun mengajak Noura pergi dan meninggalkan Sherin serta Eza berdua saja.
Setelah kedua sahabat Sherin pergi, Sherin dan Eza sama-sama membisu. Mulut mereka seolah terkunci, tapi akhirnya Eza memberanikan diri untuk berterus terang ke Sherin.
"Maafin aku, harusnya aku cerita ini ke kamu sejak awal" ucap Eza sambil memandang sedih ke gadisnya.
"Selama ini Kak Eza selalu termenung, karena masalah ini, kenapa Kak Eza tutupi hal ini dari aku, Kak. Apa Sherin nggak pantas untuk dipercaya sama Kak Eza?" tanya Sherin, gadis itu begitu sedih. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Sungguh bukan maksud aku untuk ga percaya sama kamu. Kak Eza hanya takut Sherin bakal sedih, dan Kak Eza juga masih memikirkan soal beasiswa itu" ujar Eza berusaha meyakinkan. Ia memeluk gadis itu dan menenangkan tangisnya.
Tanpa mereka sadari seseorang tersenyum licik tak jauh dari sepasang kekasih itu.
Di tempat lain Sheryl sedang duduk di taman kampusnya seorang diri sambil membaca novel yang baru dibelinya kemarin bersama Satya. Seseorang menghampirinya dan duduk disebelahnya.
"Hai, Ryl, sendirian aja?" tanya orang itu.
"Eh loe, Sa, iya nih sendiri aja soalnya Satya ga masuk" ujar Sheryl.
"Emangnya Satya kenapa kok ga masuk, apa dia sakit?" tanya Elsa kelihatan khawatir.
Sheryl menangkap ekspresi Elsa yang terlihat cemas, sebenarnya Sheryl tau perasaan Elsa ke Satya hanya saja Sheryl belum berani bertanya langsung ke Elsa.
"Oh ga kok, tenang aja. Satya baik-baik aja, cuma hari ini dia ada urusan keluarga aja." jelas Sheryl.
"Syukur deh kalo gitu" ucap Elsa.
Sheryl tersenyum melihat Elsa dan bikin Elsa jadi salting seketika.
"Loe kok senyum-senyum gitu liatin gue?" tanya Elsa.
"Hehehe...loe suka ya sama Satya?" tanya Sheryl yang seketika bikin muka Elsa memerah.
"Apaan sih ga kok" elak Elsa malu-malu.
"Halah....iya juga ga pa-pa kok, Sa. Gue dukung kok kalo loe suka ma Satya" ujar Sheryl bikin muka Elsa makin memerah.
"Tapi sepertinya Satya suka sama cewek lain, Ryl" ucap Elsa langsung bikin Sheryl terdiam.
"Ah nggak kok, Sa. Apa loe mau gue bantuin deket sama Satya?" tawar Sheryl berusaha tersenyum menutupi yang sebenarnya.
"Makasih ya, Ryl" ucap Elsa tersenyum senang.
"Ya Tuhan, ampuni aku...aku ga bermaksud membohongi Elsa. Aku hanya ingin bantu dia, agar dia dan Satya bisa bahagia. Biarlah Satya hanya menjadi sahabatku aja, Tuhan" ucap Sheryl dalam hati.
Sheryl hendak pulang karena baru saja mendapat telepon dari Sherin yang menangis. saat tiba di depan mobilnya, ia baru tau kalo ban mobilnya bocor, parahnya disitu udah sepi orang. Sheryl ingin menghubungi Satya tapi ia teringat Elsa yang begitu menyukai cowok itu, jadi dia urungkan niatnya.
"Ya udahlah, gue jalan ke depan aja cari taksi" gumamnya.
Baru beberapa langkah Sheryl keluar dari pelataran parkir, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti tepat di depannya.
"Loe mau pulang?" tanya pengendara motor itu.
"Iya" jawab Sheryl singkat.
"Mobil loe mana?" tanya cowok itu.
"Ban mobil gue bocor dan gue ga bawa ban cadangan" jawab Sheryl.
Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu melemparkan helm ke Sheryl, "Ayo naik" suruh cowok itu.
"Tapi, Ar, gue bisa pulang sendiri kok" ujar Sheryl setelah menangkap helm yang diberikan Arya.
"Ga usah ge-er, gue nganterin loe soalnya searah ke rumah Rafa" Ujar Arya.
Sheryl memandang Arya heran, "Nih cowok aneh banget sih" ucap Sheryl dalam hati. Dan akhirnya Sheryl pun naik ke motor Arya.
Baru juga naik, Arya sudah langsung tancap gas, sontak Sheryl kaget dan langsung berpegangan pada Arya.
"Arya, loe gila ya, mau bikin gue cepet mati" omel Sheryl tapi Arya tetap diam ketika laju motor mulai stabil.
Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Dan diam-diam Sheryl jadi makin penasaran pada sosok yang ada di depannya saat ini. Sheryl memang baru mengenal cowok yang ga banyak bicara ini tapi Sheryl merasa udah ga asing lagi padanya. Arya memang tampan dan Sheryl tak menampik perasaannya kalo ia diam-diam tertarik pada cowok itu hanya saja Arya terlalu dingin.
Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Sheryl. Sheryl pun turun dan segera memberikan helmnya ke Arya.
"Makasih ya" ucap Sheryl.
Tanpa berkata apa-apa Arya pergi meninggalkan Sheryl di depan rumah. Sheryl terus memandangi Arya dan motornya yang makin menjauh. Sheryl tersenyum simpul seolah baru saja mengalami hari yang menyenangkan. Dan seseorang melihat itu dari jauh.
bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar