Rabu, 14 Desember 2011

TWIN'S LOVE STORY 9

                                        


         Sheryl memasuki kamar Sherin yang rapi, tak seperti kamarnya yang berantakan. Ia kemudian menghampiri saudari kembarnya yang sedang terlungkup sambil menangis.
         "Loe kenapa, Rin?" tanya Sheryl.
         Sherin langsung beranjak dan memeluk Sherin dan menagis di pelukan saudarinya itu. Sheryl pun mengusap-usap pelan punggung Sherin untuk menenangkannya.
        "Kenapa loe nangis sampai kayak gini, apa ada yang nyakitin loe?" tanya Sheryl ikut sedih.
        Sherin mengangkat wajahnya yang berlinang air mata dan menggeleng perlahan.
        "Trus kenapa loe nangis? tanya Sheryl lagi.
        "Kak Eza, Ryl" ucap Sherin.
        "Jadi Kak Eza yang nyakitin loe?" tanya Sheryl hampir emosi.
        Lagi-lagi Sherin menggeleng, "Nggak. Bukan begitu" jawab Sherin.
        "Trus gimana, Kak Eza kenapa?" tanya Sheryl mulai khawatir.
        "Kak Eza mau pergi...dia mau lanjutin kuliah di LN" jawab Sherin kembali menangis menjadi-jadi.
         Sheryl yang tadinya tegang jadi lemas seketika, dia pikir ada masalah yang serius banget ( bagi Sheryl sih ga serius tapi bagi Sherin tentu beda donk....hehe :D ).
         Sheryl mencoba menenangkan tangis Sherin layaknya seorang kakak. Dia memeluk saudari kembarnya itu hingga ia tenang.
         Beberapa saat kemudian tangis Sherin mulai berhenti, dan kini mereka duduk saling berhadapan di atas tempat tidur Sherin. Mata Sherin terlihat sembab sehabis menangis dan Sheryl merelakan bajunya basah oleh airmata Sherin...hehe :p
        "Loe udah tenang sekarang?" tanya Sheryl dijawab anggukan oleh Sherin.
        "Makasih, Ryl, loe selalu ada buat gue. Abisnya gue bingung, Ryl, tiba-tiba aja gue dapet kabar Kak Eza bakalan pergi lanjutin kuliah ke LN. Gue ga mau kehilangan dia, Ryl" curhat Sherin.
        "Rin, kalo Kak Eza benar-benar sayang sama loe, sejauh apapun dia pergi, dia nggak akan ninggalin loe. Suatu saat dia pasti bakal kembali" ujar Sheryl.
        Sherin mengangguk,"Iya gue tau semua demi kebaikan dia, tapi jujur gue belum siap kalo dia harus pergi secepat ini" ujar Sherin sesenggukan. Sheryl menatap saudarinya sedih.

                                                   

        Di tempat lain, Eza duduk berhadapan dengan Papa dan Mamanya. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat. Papanya terlihat mengambil amplop itu dan segera membuka lalu membaca isinya. Seketika terlihat aura bahagia terpancar dari wajah Papanya.
        "Ini baru anak Papa, akhirnya impian Papa agar kamu kuliah di LN dan meneruskan bisnis Papa akan segera terwujud" ujar Papa Eza gembira
         Eza terdiam dan raut wajahnya terlihat sedih dan ia mengepalkan tangannya menahan sesuatu yang terpendam selama ini. Papanya terlalu senang hingga tak memperhatikan ekspresi Eza, hanya Mamanya yang menyadari perubahan raut wajah anaknya.
         "Kenapa wajah kamu sedih, Nak, apa kamu ga senang?" tanya Mama Eza.
Eza yang tadinya menunduk langsung melihat wajah Mamanya dan berusaha untuk tersenyum di depan Mamanya.
         "Nggak kok, Ma" jawab Eza.
         "Eza, kamu ini bener-bener anak Papa yang paling membanggakan. Papa akan membuat pesta untuk merayakan ini semua juga sekaligus rencana perjodohan kamu dengan anak rekan bisnis Papa" ujar Papa Eza yang seketika bagai petir di siang bolong di telinga Eza.
         "Tapi, Pa, Eza nggak pernah tau soal ini dan Eza nggak pernah bilang setuju" protes Eza.
         "Lho bukankah selama ini kamu selalu setuju dan menuruti semua permintaan Papa" ujar papa Eza dengan nada tinggi.
         "Memang benar Eza selalu menuruti dan setuju apapun yang Papa pilihkan untuk Eza tapi nggak untuk masalah perjodohan ini, Pa" ujar Eza tak kalah tinggi.
         "Sejak kapan kamu mulai belajar membangkang pada Papa" ujar Papa Eza marah.
         "Pa, Eza minta maaf, bukan maksud Eza untuk membantah kata-kata Papa tapi untuk masalah perjodohan itu, Eza tidak bisa menerimanya. Eza udah punya pilihan Eza sendiri, Pa" ujar Eza dan seketika pula sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Eza.
         PLAAKKKK
        "Beraninya kamu menentang kata-kata Papa, Papa nggak mau tau pokoknya kamu harus ikuti kata-kata Papa" ucap Papa Eza marah lalu pergi meninggalkan Eza.
        Eza berusaha menahan emosinya karena melihat Mamanya hampir saja menangis melihat pertikaian itu. Mama memeluknya dan berusaha menenangkan perasaan anaknya.
        "Sabar ya, Nak, Mama akan coba bilang baik-baik sama Papa kamu" ucap Mama sabar.
        Eza masih terdiam .
        "Kamu tadi bilang kamu udah punya pilihan sendiri, siapa dia?" tanya Mama Eza.
       "Junior Eza di kampus, Ma" jawab Eza
       "Coba kamu bawa dia kesini, nak, siapa tau Papa kamu bisa berubah pikiran" ujar Mama langsung membuat Eza tersenyum karena dukungan sang Mama.
       "Makasih, Ma" ujar Eza lalu memeluk Mamanya.

                            

        Arya termenung di sebuah beranda sambil memandangi seuntai gelang berbandul bintang. Pikirannya melayang sambil melihat ke arah langit yang dipenuhi ribuan bintang.
       "Loe udah di depan gue, tapi gue nggak bisa berkata apa-apa" gumamnya pelan.
       Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya.
       "Mikirin apalagi sih, Bro, kenapa gak loe bilang aja ke dia, jelas-jelas dia udah ada di depan loe?" tanya seseorang.
       Arya menggeleng, "Gue nggak bisa, Raf, gue perlu nyari seseorang dulu" ujar Arya pada Rafa sepupunya.
       "Masih aja loe mikirin penolong loe itu. Kan loe nggak tau siapa orang itu, dan ga ada petunjuk apapun dari dia, jadi gimana loe mau nyari si Mr. X itu?" tanya Rafa.
       "Sebenernya waktu itu gue samar-samar liat orang itu antara sadar dan nggak. Waktu gue sadar, tau-tau gue udah di rumah sakit dan tangan gue genggam benda ini" ujar Arya sambil mengeluarkan sebuah kancing baju berwarna ungu dari saku celananya.
        "Hanya sebutir kancing gini, gimana loe mau cari orang itu, sedangkan orang di kota ini ribuan bahkan puluhan ribu" ujar Rafa realistis.
        "Gue tau kemungkinannya bakal 1 : 1000.000 orang tapi gue yakin bisa nemuin orang itu. Gue udah coba tanya ke pihak rumah sakit tentang orang itu tapi mereka bilang orang itu minta agar merahasiakan identitasnya"  ujar Arya.
       "Rumah sakit mana sih?" tanya Rafa.
       "RS. Bina Harapan" jawab Arya.
       "RS. Bina Harapan itu kan Rumah Sakit bokap gue, coba nanti gue minta tolong sama salah satu staffnya" ujar Rafa.
        "Serius loe, Raf?" tanya Arya hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dari sepupunya.
        Rafa mengangguk mantap, "Thanks Bro, loe emang sepupu gue yang paling baik" ujar Arya seraya menepuk pundak Rafa.

                                               

        Malam itu, perasaan Satya benar-benar tak menentu saat ia melihat Sheryl pulang bersama Arya. Ia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi hingga tanpa sadar ia sampai di tempat kenangannya dengan Sheryl.
        Dia menghentikan motornya kemudian berjalan menuju salah satu bangku di tempat itu. Dia teringat saat-saat bersama dengan sahabat yang dicintainya, Sheryl, "Harusnya gue sadar, perasaan ini nggak seharusnya gue miliki karena loe sahabat gue. Dan harusnya gue mengerti dari awal sejak loe pertama kali liat dia" gumamnya tanpa sadar setitik air mata jatuh  seiring air hujan yang turun begitu deras menutupi air mata itu.
       Tanpa ia sadari seseorang mengulurkan tangannya memayungi tubuhnya. Satya mendongak melihat orang itu.
       "Elsa" ucap Satya lirih
       "Loe ngapain ujan-ujanan di tempat kayak gini?" tanya Elsa yang ikut kehujanan karena memayungi Satya.
       "Gue..., loe sendiri kenapa ada disini?" Satya balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Elsa.
       "Gue tinggal di deket sini, kebetulan gue lagi keluar dan liat loe di tempat ini" jawab Elsa yang mulai kedinginan karena hujan.
       "Oh...loe kedinginan ya, loe pulang aja, Sa, nanti loe sakit. Gue juga udah mau balik" ujar Satya beranjak dari duduknya hendak pergi seraya menyodorkan payung yang tadi dipakai untuk memayunginya.
      "Satya" panggil Elsa saat Satya hendak beranjak pergi.
      Satya berhenti dan menatap Elsa yang kini juga hujan-hujanan tanpa payung.
      "Ada yang ingin gue bilang ke loe" ucap Elsa.
      "Apa?" tanya Satya
      "Gue...suka sama loe" ujar Elsa.
       Satya terdiam sejenak sambil menatap Elsa yang kedinginan karena kehujanan.
       "Gue minta maaf, Sa, tapi gue udah mencintai orang lain" ujar Satya.
       "Sheryl, kan" tebak Elsa membuat Satya diam seketika. "Gue tau dari cara loe mandang Sheryl tiap gue liat loe. Tatapan mata loe nggak bisa bohong kalo perasaan loe ke Sheryl bukan hanya sekedar sahabat" ujar Elsa.
       "Gue..." Satya tak dapat meneruskan kata-katanya.
       "Gue ini bodoh banget ya, harusnya gue tau perasaan gue nggak mungkin bersambut. Tapi gue lega karena akhirnya gue bisa ungkapin perasaan gue ke loe" ucap Elsa menahan tangisnya di tengah guyuran hujan, namun Satya tau perasaan Elsa. Ia pun mendekati gadis itu dan memeluknya.
        "Loe nggak bodoh, Sa. Nggak seorangpun bisa menentukan cinta, kapan cinta itu datang dan pada siapa cinta itu berlabuh. Entah itu sahabat ataupun orang yang baru kita kenal. Tapi cinta itu nggak harus saling memiliki. Gue minta maaf kalo gue nggak bisa menerima perasaan loe ke gue tapi gue berterima kasih atas perasaan loe ke gue" ucap Satya pada Elsa dan juga dirinya sendiri, membuat Elsa menangis di pelukan Satya.

                                 

bersambung.....

Rabu, 30 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 8




        11 tahun yang lalu...
        Sherin dan Sheryl kecil sedang asyik bermain di sebuah taman bersama kedua orang tuanya merayakan ulang tahun Rafa yang kebetulan orang tuanya tak dapat merayakannya. Disana mereka bermain dengan seorang anak laki-laki yang mereka panggil Kak Rafa. Selayaknya anak kecil umur 7 dan 9 tahun mereka bermain keluarga-keluargaan. Sherin yang feminim berlaku seperti seorang ibu dan Rafa ayahnya sedangkan Sheryl menjadi anaknya. Terkadang mereka juga iseng-iseng mencoba merangkai bunga. Untuk soal ini, Sherin paling jago, apalagi saat itu dia paling suka membuat mahkota bunga. Karena Sheryl ogah memakai benda seperti itu jadilah Rafa yang selalu mengalah dijadikan sasaran. hehehe... ^_^
       "Kak Rafa, liat deh mahkota bunga buatan Sherin udah jadi" ujar Sherin kecil memperlihatkan rangkaian mahkota bunganya.
        "Wah...hebat, bagus banget" puji Rafa yang selalu baik pada si kembar seperti adiknya sendiri.
        "Sherin pake'in ke Kak Rafa ya, soalnya Sheryl ga mau, Kak" pinta Sherin manja.
        "Ya udah deh sini" ucap Rafa
        "Waah....Kak Rafa keren deh kayak pangeran" ujar Sherin bahagia saat emasangkan mahkota bunga ke kepala Rafa..
        Sheryl  yang tadinya duduk disamping mereka tiba-tiba berdiri dan menghampiri seorang anak laki-laki seusianya yang sedang duduk sendiri sambil membawa kotak makan. Sheryl menghampirinya dan melihat isi di kotak bekal makanan anak laki-laki itu.
        "Wah...enak banget...bikinan Mama kamu ya?" tanya Sheryl kecil SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat.
        Anak laki-laki itu diam saja dan berkata sepatah katapun, hanya menunduk terdiam.
        "Nama kamu siapa?" tanya Sheryl.
        Ketika anak laki-laki itu hendak bicara, suara Sherin menggema tepat di telinga Sheryl membangunkannya dari mimpi.
         "Aaaaahhhh.....Sherin kebiasaan deh teriak-teriak di telinga gue, ganggu mimpi gue aja loe" protes Sheryl.
        "Emangnya loe mimpi apaan sih sampai jam tujuh lewat gini loe ga bangun-bangun?" tanya Sherin
        "Mimpi msa kecil kita. Loe inget ga waktu kita dulu main di taman sama Papa-Mama juga Kak Rafa waktu ulang tahunnya Kak Rafa?" tanya Sheryl.
        "Hmmm..." sambil berpikir, Sherin mengingat-ingat. "Yah gue inget, trus kenapa?" tanya balik Sherin.
        "Kayaknya waktu itu gue ketemu sama anak kecil seumuran kita, cowok. Gue kira itu Satya, tapi gue ga yakin" ujar Sheryl.
        "Kayaknya emang ada sih...tapi gue nggak seberapa tau juga. Emangnya waktu itu kita udah kenal Satya?" tanya Sherin lagi.
        "Udahlah, ngomong sama loe malah banyak nanyanya. Gue mau mandi" ujar Sheryl kesal karena Sherin ditanya malah nanya balik.
       Melihat saudara klembarnya itu kesal dan buru-buru mandi bikin Sherin tersenyum kecil lalu kembali mengingat masa lalu, "Kayaknya waktu itu belum kenal Satya deh" gumam Sherin lalu pergi meninggalkan kamar Sheryl.

                                              

       


          Sherin merasa ada yang berbeda dari Eza, kekasihnya sejak pagi tadi menjemputnya di rumah. Cowok itu jadi lebih banyak diam meski sesekali ia tersenyum lembut pada Sherin. Sherin ingin bertanya tapi ia urungkan, ia takut menyinggung Eza, dikiranya mencampuri privacynya.
        "Kak Eza baik-baik aja?" tanya Sherin mencoba mencairkan suasana.
        "Ah iya baik kok" jawab Eza.
        "Kak Eza yakin, soalnya Sherin perhatikan Kak Eza nggak seperti biasanya" ucap Sherin meyakinkan.
        Eza berhenti dan menatap kedua bola mata gadis itu. Hatinya terasa bergejolak tak keruan sampai akhirnya ia berucap, "Boleh aku peluk kamu sebentar?" tanya Eza.
       Muka Sherin langsung memerah. Baru akan mengatakan "iya", Eza sudah memeluknya.
       Eza memeluk Sherin erat sekali, seakan-akan tak ingin melepaskan gadis itu. Sherin sendiri antara senang, malu dan bingung bercampur menjadi satu.
        Setelah beberapa menit mereka dalam pose seperti itu akhirnya Eza melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada Sherin.
        "Aq senang Kak Eza tersenyum seperti ini" ujar Sherin
        "Iya, Sayang. Maafin Kak Eza ya kalo udah bikin Sherin jadi mikirin Kak Eza" ujar Eza sambil membelai rambut indah Sherin yang panjang.
       Perjalanan mereka pun berlanjut menuju kampus, dimana telah menunggu kejutan besar untuk mereka berdua.
       Setelah keduanya sampai do pelataran fakultas kedokteran, Riana, dan Noura telah menunggu di parkiran dengan wajah panik. Baru setelah Sherin turun dari mobil Eza, mereka langsung menghampiri Sherin dan langsung memeluknya.
        "Kalian ini kenapa sih, ada apa?" tanya Sherin heran plus bingung.
        "Sherin, my honey, loe yang sabar ya" ucap Noura dennagn suara cemprengnya.
        "Hah?! Sabar kenapa?" tanya Sherin makin biertanya-tanya ada apa gerangan sahabat-sahabatnya itu.
        "Sebentar lagi Kak Eza bakal ninggalin loe, kan. Dia mau sekolah di LN" ucap Riana bagaikan petir di siang bolong di telinga Sherin.. (Woo Lebay yach...!!! xixixixi)
         "Sherin langsung terdiam menatap ke arah Eza yang ada disampingnya mencoba mencari penjelasan. Tapi pemuda itu memandang Sherin dengan wajah sendu, dan Sherin sadar dan mulai mengerti maksud dari sikap Eza akhir-akhir ini.
         Seperti tau bahwa shabtanya ini sama sekali tak mengerti dan buth penjelasan langsung dari sang kekasih sendiri, Riana pun mengajak Noura pergi dan meninggalkan Sherin serta Eza berdua saja.
        Setelah kedua sahabat Sherin pergi, Sherin dan Eza sama-sama membisu. Mulut mereka seolah terkunci, tapi akhirnya Eza memberanikan diri untuk berterus terang ke Sherin.
        "Maafin aku, harusnya aku cerita ini ke kamu sejak awal" ucap Eza sambil memandang sedih ke gadisnya.
        "Selama ini Kak Eza selalu termenung, karena masalah ini, kenapa Kak Eza tutupi hal ini dari aku, Kak. Apa Sherin nggak pantas untuk dipercaya sama Kak Eza?" tanya Sherin, gadis itu begitu sedih. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
       "Sungguh bukan maksud aku untuk ga percaya sama kamu. Kak Eza hanya takut Sherin bakal sedih, dan Kak Eza juga masih memikirkan soal beasiswa itu" ujar Eza berusaha meyakinkan. Ia memeluk gadis itu dan menenangkan tangisnya.
        Tanpa mereka sadari seseorang tersenyum licik tak jauh dari sepasang kekasih itu.

                                                   

        Di tempat lain Sheryl sedang duduk di taman kampusnya seorang diri sambil membaca novel yang baru dibelinya kemarin bersama Satya. Seseorang menghampirinya dan duduk disebelahnya.
       "Hai, Ryl, sendirian aja?" tanya orang itu.
       "Eh loe, Sa, iya nih sendiri aja soalnya Satya ga masuk" ujar Sheryl.
       "Emangnya Satya kenapa kok ga masuk, apa dia sakit?" tanya Elsa kelihatan khawatir.
       Sheryl menangkap ekspresi Elsa yang terlihat cemas, sebenarnya Sheryl tau perasaan Elsa ke Satya hanya saja Sheryl belum berani bertanya langsung ke Elsa.
      "Oh ga kok, tenang aja. Satya baik-baik aja, cuma hari ini dia ada urusan keluarga aja." jelas Sheryl.
      "Syukur deh kalo gitu" ucap Elsa.
      Sheryl tersenyum melihat Elsa dan bikin Elsa jadi salting seketika.
      "Loe kok senyum-senyum gitu liatin gue?" tanya Elsa.
      "Hehehe...loe suka ya sama Satya?" tanya Sheryl yang seketika bikin muka Elsa memerah.
      "Apaan sih ga kok" elak Elsa malu-malu.
      "Halah....iya juga ga pa-pa kok, Sa. Gue dukung kok kalo loe suka ma Satya" ujar Sheryl bikin muka Elsa makin memerah.
     "Tapi sepertinya Satya suka sama cewek lain, Ryl" ucap Elsa langsung bikin Sheryl terdiam.
      "Ah nggak kok, Sa. Apa loe mau gue bantuin deket sama Satya?" tawar Sheryl berusaha tersenyum menutupi yang sebenarnya.
      "Makasih ya, Ryl" ucap Elsa tersenyum senang.
      "Ya Tuhan, ampuni aku...aku ga bermaksud membohongi Elsa. Aku hanya ingin bantu dia, agar dia dan Satya bisa bahagia. Biarlah Satya hanya menjadi sahabatku aja, Tuhan" ucap Sheryl dalam hati.
                                                
       Sheryl hendak pulang karena baru saja mendapat telepon dari Sherin yang menangis. saat tiba di depan mobilnya, ia baru tau kalo ban mobilnya bocor, parahnya disitu udah sepi orang. Sheryl ingin menghubungi Satya tapi ia teringat Elsa yang begitu menyukai cowok itu, jadi dia urungkan niatnya.
      "Ya udahlah, gue jalan ke depan aja cari taksi" gumamnya.
      Baru beberapa langkah Sheryl keluar dari pelataran parkir, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti tepat di depannya.
      "Loe mau pulang?" tanya pengendara motor itu.
      "Iya" jawab Sheryl singkat.
      "Mobil loe mana?" tanya cowok itu.
      "Ban mobil gue bocor dan gue ga bawa ban cadangan" jawab Sheryl.
      Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu melemparkan helm ke Sheryl, "Ayo naik" suruh cowok itu.
     "Tapi, Ar, gue bisa pulang sendiri kok" ujar Sheryl setelah menangkap helm yang diberikan Arya.
      "Ga usah ge-er, gue nganterin loe soalnya searah ke rumah Rafa"  Ujar Arya.
     Sheryl memandang Arya heran, "Nih cowok aneh banget sih" ucap Sheryl dalam hati. Dan akhirnya Sheryl pun naik ke motor Arya.
     Baru juga naik, Arya sudah langsung tancap gas, sontak Sheryl kaget dan langsung berpegangan pada Arya.
     "Arya, loe gila ya, mau bikin gue cepet mati" omel Sheryl tapi Arya tetap diam ketika laju motor mulai stabil.
    Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Dan diam-diam Sheryl jadi makin penasaran pada sosok yang ada di depannya saat ini. Sheryl memang baru mengenal cowok yang ga banyak bicara ini tapi Sheryl merasa udah ga asing lagi padanya. Arya memang tampan dan Sheryl tak menampik perasaannya kalo ia diam-diam tertarik pada cowok itu hanya saja Arya terlalu dingin.
     Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Sheryl. Sheryl pun turun dan segera memberikan helmnya ke Arya.
     "Makasih ya" ucap Sheryl.
     Tanpa berkata apa-apa Arya pergi meninggalkan Sheryl di depan rumah. Sheryl terus memandangi Arya dan motornya yang makin menjauh. Sheryl tersenyum simpul seolah baru saja mengalami hari yang menyenangkan. Dan seseorang melihat itu dari jauh.

                                                  

bersambung.....

Jumat, 18 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 7



       Satya (Riski) sedang duduk sendirian di kantin sambil melihat ke arah Sheryl yang sedang bercanda dengan teman-teman perempuannya. Kadang ia tersenyum mengikuti senyuman gadis itu. Yah, hatinya memang sedikit sakit  saat tahu sahabat yang dicintainya sejak kecil itu tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Setidaknya sampai saat ini, dia masih bisa berada disamping gadis itu dan melindunginya.
      "Loe sendirian aja, Sat?" sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya.
      "Ah elo, Sa. Loe sendiri juga sendirian aja?" tanya Satya balik pada Elsa (Nina).
      Elsa hanya menjawab dengan senyuman, "Boleh gue duduk disini?" tanya Elsa.
      "Ya silahkan" jawab Satya.
      Elsa pun mengambil tempat duduk disamping Satya.
      Satya masih terus memandang ke arah Sheryl meski Elsa ada disampingnya.
      "Tumben loe sendiri aja, kok ga sama Sheryl?" tanya Elsa.
      "Nggak...tuh dia lagi sama temen-temennya. Loe sendiri ga gabung sama mereka?" ujar Satya menunjuk ke arah Sheryl yang bercanda dengan teman-teman yang lainnya.
      Elsa menggeleng perlahan, "Gue nggak terlalu kenal sama mereka, kan beda kelas mata kuliah" ujar Elsa.
      Mereka pun saling terdiam. Satya lebih menikmati memandangi Sheryl dari jauh, sedangkan Elsa berusaha menguasai hatinya.
      "Mmm....Sat, boleh gue minta tolong?" ujar Elsa.
      "Minta tolong apa ya?" tanya Satya.
      "Minggu depan ulang tahun gue. Gue pengen loe dateng...sama Sheryl juga" ucap Elsa.
      "Gue kira minta tolong apaan...iya gue sama Sheryl bakal dateng kok" ujar Satya seraya tersenyum.
      "Thanks ya, Sat....gue berharap loe...eh maksud gue kalian bisa dateng. Ya udah. gue balik dulu ya" ujar Elsa kemudian segera berlari meninggalkan Satya.


 
Sheryl

      Sheryl melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Satya, sedang cowok itu hanya balas tersenyum. Sheryl hendak menghampiri Saty tapi di pertengahan jalan ia bertabrakan dengan Arya.
     "Ah maaf" ucap Sheryl yang memang salah karena terburu-buru.
     "Ya" sahut Arya datar.
     Sheryl melihat ada sesuatu yang terjatuh saat mereka bertabrakan. Sheryl mengambil benda itu. Seuntai gelang berbandul bintang. Entah mengapa Sheryl merasa tak asing dengan gelang itu, tapi baru juga mau berpikir, Arya dengan cepat merebut benda itu dari tangan Sheryl.
      "Sorry, itu punya gue" ujar Arya yang kemudian segera pergi meninggalkan Sheryl yang masih kelihatan bingung.
      Sheryl kembali meneruskan langkahnya menuju ke arah Satya. Sheryl kini tak terlalu gugup lagi pada Satya meskipun ada sedikit rasa segan terhadap Satya, namun Sheryl berusaha bersikap seperti biasanya,
      "Hai Sat" sapa Sheryl.
      "Hai....kenapa loe tadi?" tanya Satya mengenai peristiwa tadi.
      "Ah tadi....gue  gak sengaja nabrak Arya trus gue ngambil barangnya yang jatuh" jawab Sheryl seraya duduk menghadap Satya.
      "Tadi Elsa ungang kita ke ultahnya minggu depan" ujar Satya.
      "Oh ya?! Hmm...oke deh" ucap Sheryl
      Sheryl tiba-tiba kehilangan kata-kata. Ia bingung ingin bicara apa.
      "Sat"..."Ryl" ucap satya dan Sheryl bersamaan.
      "Loe duluan deh, Sat" ujar Sheryl
      "Ga usah, loe dulu aja" ucap satya.
      "Sat, ntar malem bisa anter gue ke toko buku nggak?" ajak Sheryl.
      Satya tertawa lalu mengusap-usap kepala Sheryl. "Hahaha...ngomong gitu aja kok susah banget sih" ujar Satya.
      Sheryl ikut tersenyum seperti Satya. Ia mencoba bersikap seperti biasa, seperti permintaan Satya.
      "Oke kalo gitu ntar malem gue jemput elo" ujar Satya.
      "Siiip....ppp gue tunggu" ujar Sheryl.
      Di kejauhan beberapa pasang mata memperhatikan mereka berdua.


 
Sherin

      Sherin menunggu Eza di taman belakang kampus seperti yang dibisikkan Eza padanya tadi pagi. Sudah pukul 2 siang tapi kekasihnya itu belum datang juga. Sherin duduk diayunan dan memaju mundurkannya layaknya anak kecil. Lalu tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuket bunga mawar merah untuknya dari arah belakang.
      "Maaf ya udah bikin kamu nunggu lama" ucap orang itu
      Sherin berbalik dan mendapati Eza, kekasihnya dengan sebukrt mawar merah. Sherin benar-benar senang menerima bunga itu apalagi Eza langsung memeluknya.
     "Kak Eza, kan malu peluk di tempat umum" ucap Sherin malu.
     "Biarin...lagian jarang orang lewat tempat ini" ujar Eza masih memeluk Sherin. Sherin hanya tersenyum diballik punggung Eza.
      Setelah puas berpelukan layaknya teletubbies (hehehe), mereka berdua saling bercanda bermain ayunan dan juga layang-layang, tanpa mereka sadari seseorang menatap kebahagiaan mereka dengan tatapn sinis.
      Dan setelah puas bermain-main, Eza mengantarkan Sherin pulang. Eza meminta Sherin menunggu sebentar di mobil karena ada sesuatu yang harus ia ambil di ruang senat. Sherin pun menunggu di dalam mobil dan melihat-lihat isi mobil Eza. Di tempat duduk belakang dia melihat sebuah amplop cokelat besar. Dia melihat ada beberapa lembar kertas didalamnya. Sherin penasaran lalu mencoba mengambilnya. Baru sedikit dia mencoba mengeluarkan selembar kertas, Eza datang dan langsung mengambil amplop itu.
      "Maaf ya, Sayang, ini proposal kegiatan senat" ujar Eza kembali meletakkan amplop itu di bangku belakang.
      Tanpa curiga sedikitpun Sherin tak bertanya apapun lagi. Eza juga tak menceritakan apapun soal kegiatan senatnya. Bagi Sherin, tak ingin mempersoalkan apapun kegiatan Eza karena semua orang punya privacy yang tak ingin orang lain tau meskipun itu kekasih, sahabat ataupun keluarga sekalipun. Sherin menghormati itu semua.
       Eza mengantarkan Sherin sampai di depan rumahnya. Sherin menawarkan Eza masuk ke dalam tapi Eza menolak dengan alasan ada sesuatu yang harus ia urus. Sherin mencoba mengerti dan tersenyum menyembunyikan kekecewaannya. Tapi lagi-lagi seolah tau perasaan gadis itu, Eza memegang tangan gadis itu dan berjanji akan secepatnya menghubunginya lalu mencium kening gadis itu.
      "Sebenarnya apa sih yang Kak Eza urus?" tanya Sherin dalam hati sambil memandang mobil Eza yang makin menjauh.


 
Eza

        Sebuah mobil berhenti di depan sebuah cafe. Eza keluar dari mobil sambil membawa sebuah amplop cokelat. Ia menghampiri seseorang yang telah menunggunya di salah satu meja.
        "Sorry Raf, lama nunggu" ujar Eza pada orang itu.
        "Ada apaan Za, loe manggil gue kesini?" tanya Rafa, orang yang ditemui Eza.
        "Ada yang mau gue tunjukin ke loe" ujar Eza menyerahkan amplop cokelat itu pada Rafa.
       Rafa membuka amplop itu dan membaca isi di dalamnya. Di raut wajahnya terlihat sebuah kebahagiaan, "Loe diterima?" ucap Rafa gembira.
       "Iya, Raf" ucap Eza tersenyum lalu kemudian senyumnya memudar.
       "Muka loe kok kayaknya  ga seneng gitu?" tanya Rafa.
       "Gue bingung, Raf" ucap Eza.
       "Bingung kenapa, bukannya ini impian loe?" tanya Rafa.
       Eza menggeleng perlahan, "Bukan, Raf. Ini bukan impian gue, gue terpaksa melakukan ini. Loe tau kan bokap gue gimana" ujar Eza.
        "Tapi selama ini gue pikir loe sama sekali nggak ada masalah dengan bokap loe" ujar Rafa.
        "Gue diem bukan berarti gue mggak punya keinginan gue sendiri, Raf. Apalagi untuk saat ini gue udah punya Sherin" ujar Eza
       "Oke gue ngerti sekarang. Trys rencana loe sendiri apa?" tanya Rafa lagi
       "Gue bingung, Raf, gue butuh waktu untuk  mikir semuanya" jawan Eza.
       "Oke, Bro, apapun keputusan loe nantinya, gue bakal dukung dan bantu loe" ujar Rafa.


 
Rafa

        Malam itu seorang pemuda sedang berbincang dengan seorang gadis berambut panjang. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
       "Ar, aku mohon maafin aku. Aku tau aku salah selama ini, aku bener-bener khilaf" ucap gadis itu tapi pemuda itu tetap memasang tampang dingin.
       "Udah selesai loe ngomongnya?" tanya Arya dingin hendak beranjak dari tempat duduknya namun ditahan oleh gadis itu.
       "Ar....please, dengerin aku. Sampai kapan kamu mau terus dingin seperti ini sama aku" ujar gadis itu memelas.
       "Udahlah, Van, udah ga ada lagi yang perlu dibahas" ucap Arya melepaskan tangannya dengan kasar dari Vania (Ariel) lalu berlalu meninggalkan gadis itu.
       Arya berjalan menuju pintu keluar yang kebetulan melewati etalase toko buku. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya. Arya memandangi sosok yang bersama seseorang itu. Tangannya menggenggam sesuatu dibalik saku celananya.
       "Maafin gue...." gumamnya pelan

 
Arya

bersambung...

Rabu, 16 November 2011

TWIN'S LOVE STORY 6


 
Sheryl & Sherin

         Di dalam kamarnya, Sherin (Yuki) masih sering senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Hatinya berbunga-bunga dan sangat tersanjung dengan kejutan yang diberikan oleh Eza (Esa). Apalagi disaksikan oleh saudari kembar dan juga sahabat-sahabatnya. Malam yang tak akan pernah dilupakan olehnya seumur hidup.
         "Terima kasih Tuhan, ini malam terindah untukku" ucap Sherin dalam hati
         Berbeda dengan Sheryl (Yuki) yang terlihat galau setelah pengakuan Satya (Riski). Dia tak mampu berucap apapun, bahkan ia belum memberi jawaban pada Satya.  Satya memberi waktu pada Sheryl untuk mempertimbangkan perasaannya.
         "Ya Tuhan, jawaban apa yang harus kuberikan???" ucap Sheryl dalam hati.


         Esok paginya, Sherin dan Sheryl segera turun dan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Wajah Sherin berbunga-bunga sedangkan Sherin seperti orang linglung.
        "Ryl, mau dong selai strawberry" pinta Sherin.
        Sheryl tanpa melihat menyerahkan sebotol selai ke Sherin.
        "Ryl, ini kan kacang. Gue minta Strawberry" ucap Sherin.
        Lagi-lagi tanpa melihat Sheryl memberikan sebotol selai yang lain ke Sherin.
        "Ryl, loe nggak lagi demam kan, loe masih ngantuk ya?" tanya Sherin menyadarkan Sheryl dari lamunannya.
       "Hah..?! Loe ngomong apa?" tanya Sheryl yang baru sadar.
       "Dari tadi gue minta selai Strawberry, loe malah kasih gue selai kacang sama cokelat" ucap Sherin menatap saudarinya heran.
        "Sorry, Rin, nih" ucap Sheryl yang akhirnya memberikan selai yang benar.
        "Loe kenapa sih, Loe lagi bingung ya?" tanya Sherin yang seperti tau isi hati saudara kembarnya itu.
        Sherin mengangguk pelan.
        "Bingung apaan sih, nggak biasanya loe kayak gini?" tanya Sherin.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue" jawab Sheryl dengan muka depresi. Sherin yang saat itu sedang makan roti langsung tersedak mendengar jawaban Sheryl.
        "Hhhuukkk...Hhhhuuukkk...loe bilang apa tadi?" tanya Sherin lagi.
        "Satya nyatain perasaannya ke gue...dan sekarang gue bingung" sahut Sheryl kesal.
        Sherin kontan tertawa mendengar pengakuan Sheryl.
        "Loe kok malah ketawa sih" ujar Sheryl cemberut.
        "Trus kalo nggak ketawa, gue mau apalagi, coba?" ujar Sherin.
        "Bantu gue mikir kek" ucap Sheryl
        "Emangnya gue bantu mikir apaan, itu kan masalah hati dan perasaan loe. Nah, sekarang perasaan loe sendiri gimana ma Satya?" tanya Sherin.
        "Gue juga bingung, Rin, gue juga sayang sama Satya tapi gue nggak yakin apakah perasaan ini hanya untuk sahabat atau lebih dari itu" jawab Sheryl.
        "Jadi loe belum kasih jawaban ke Satya?" tanya Sherin yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Sheryl.
        "Kalo bisa gue saranin, loe pikir dulu baik-baik sebelum loe ambil keputusan. Tapi menurut pendapat gue, Satya sayang banget sama loe, buktinya dia sabar banget ngadepin tingkah loe selama ini" ujar Sherin
         Sheryl terdiam memikirkan kata-kata Sherin. Memang benar selama ini hanya Satya satu-satunya cowok yang dekat dengannya selama ini, yang selalu ada untuk Sheryl, yang selalu sabar menghadapi tingkah Sheryl yang kekanak-kanakan dan sering membuat Satya susah tapi cowok itu sama sekali ga pernah meninggalkannya. Tapi...masalahnya selama ini Sheryl hanya menganggap Satya sekadar sahabat, tak pernah terpikir di benak Sheryl memiliki rasa lebih dari sahabat ke Satya.
         "Loe pikir dengan baik-baik, jangan sampai loe salah ambil keputusan yang nantinya malah akan menghancurkan persahabatan kalian" nasihat Sherin sebelum dia pergi berangkat duluan ke kampus dengan Eza yang menjemputnya.

 
picture to Eza & Sherin

         Di mobil, perjalanan menuju kampus, Sherin tak henti-hentinya tersenyum mengingat tingkah saudari kembarnya. Tentu saja, Eza yang berada disampingnya jadi penasaran.
         "Kok senyum-senyum aja dari tadi, Sayang?" tanya Eza.
         "Ga pa-pa kok, Kak" jawab Sherin yang masih terlihat kaku dihadapan Eza yang sekarang udah resmi jadi kekasihnya. Tapi Eza hanya tersenyum dan tak protes sama sekali.
         "Bener ga ada apa-apa, kok dari tadi seyum-senyum sendiri?" tanya Eza sekali lagi.
         "Sherin cuma inget Sheryl aja kok, Kak. soalnya dia lagi galau gara-gara dapat pernyataan cinta dari sahabatnya" ucap Sherin.
        "lalu apanya yang lucu, Sayang?" tanya Eza
        "Ga ada sih, Kak, hanya baru pertama kali Sherin liat dia sebingung itu. Biasanya dia orang yang paling santai dan cuek pada hal-hal seperti itu" jawab Sherin.
        Eza tersenyum  pada Sherin hingga gadis itu tersipu dan tertunduk malu.
        "Hari ini kamu ada kuliah sampai jam berapa?" tanya Eza.
        "Hari ini Sherin kuliah sampai jam 12, Kak" jawabnya.
        "Kalo gitu nanti aku jemput ya" ucap Eza.
        "Lho, memangnya Kak Eza ga ada kuliah?" tanya Sherin
        "Hari ini aku ada urusan di luar kampus. Kebetulan juga hari ini aku nggak ada kuliah. Jadi maaf ya kalo hari ini aku nggak bisa nemenin kamu di kampus" ucap Eza
       "Ah ya nggak pa-pa kok, Kak" ucap Sherin sambil tersenyum simpul berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
       Seperti tau apa yang dipikirkan kekasihnya, Eza pun menggenggam tangan Sherin seraya tersenyum lembut.
       "Aku janji, secepatnya aku bakal balik untuk nemenin kamu" ujar Eza.
       "Iya, Kak" balas Sherin tersenyum.
       Sesampainya di kampus, Eza membukakan pintu untuk Sherin, membuat gadis itu tersanjung. Dan sebelum pergi, Eza sempat berbisik sesuatu ke Sherin lalu mencium kening gadis itu.
      Sherin memandangi kepergian Eza, kekasihnya hingga mobil yang membawa kekasihnya itu tak nampak lagi dari pandangannya, sampai-sampai tak menyadari seseorang telah berdiri disampingnya.
      "Kak Rafa" teriak Sherin kaget ketika hendak berbalik.
      "Aduh, Sherin teriak kenceng banget kayak liat hantu aja" ujar Rafa (Maxime) tersenyum jahil.
      "Abisnya Kak Rafa tiba-tiba ada disamping Sherin, kan Sherin jadi kaget kirain ada hantu di siang bolong" canda Sherin.
      "Ya udah yuk masuk" ajak Rafa sambil merangkul pundak gadis itu.
      "Kak Rafa kalo kuliah biasanya sekelas sama Kak Eza ya?" tanya Sherin.
      "Hu-um, kenapa? Mau cari tau tentang Eza ya?" goda Rafa
      "Iiikkhhh...Kak Rafa apaan sih" ucap Sherin malu-malu sambil menggelitik pinggang Rafa hingga cowok itu geli.
      "Hahaha...muka kamu udah merah aja tuh kayak kepiting rebus" goda Rafa bikin Sherin cemberut.
      "Males ah ngomong sama Kak Rafa godain Sherin mulu" ucap Sherin pura-pura ngambek.
      "Ngambek nih ceritanya...hehehe"
      "Tau ah, Kak Rafa nyebelin"
      "Iya iya deh maaf" ujar Rafa akhirnya sambil mengusap-usap kepala Sherin.
       Sherin segera tersenyum kembali ke Rafa. Mereka berdua saling menautkan kelingking tanda baikan seperti kebiasaan mereka dulu.
       "Kak Rafa ga kuliah?" tanya Sherin.
       "Hari ini aku nggak ada kuliah tapi ada kerjaan yang harus aku beresin" jawab Rafa.
       "Ada yang bisa Sherin bantuin, Kak?" tanya Sherin.
       "Ada sih...temenin aku sarapan yuk" ajak Rafa langsung menyeret Sherin ke kantin.


       Di kantin, Sherin dan Rafa mendapati Noura sedang mengintip seseorang dari balik tembok. Iseng Sherin mengagetkan Noura.
       "Dooorrr.....!!!" seru Sherin
       "Eh kodok keong cumi belalang kupu-kupu" ucap Noura (Veby) latah.
       "Hahahaha.....ga sekalian seisi kebun binatang loe sebutin semua" canda Sherin.
       "Sheriiinn...apaan sih ngagetin gue aja deh" protes Noura.
       "Abisnya loe ngapain ngumpet disini, ngintipin apaan sih?" tanya Sherin celingak-celinguk mencari tau apa yang dilihat Noura. Rafa yang berdiri disampingnya hanya tersenyum geli melihat tingkah dua gadis itu.
       "Itu tuh Riana ma Kak Niko" tunjuk Noura ke arah dua orang yang sedang duduk di pojokan kantin.
        "Wah, sejak kapan mereka berdua...." ucap Sherin heran hingga tak dapat meneruskan kata-katanya.
        "Yaelah...loe mah akhir-akhir ini yang dipikirin Kak Eza mulu sih, jadi ketinggalan berita kan loe" ujar Noura membuat Sherin nyengir kuda.
       "Apaan sih loe" ucap Sherin seraya meleletkan lidah.


       Di tempat tak jauh dari mereka bertiga Riana memasang muka cemberut ke Niko, pasalnya cowok itu tiba-tiba menariknya ke kantin.
       "Ada apaan sih, Kak, pake acara narik-narik aku ke kantin?" tanya Riana agak kesal.
       "Sebenarnya sejak aku liat kamu, aku tertarik sama kepribadian kamu. Makanya aku tertarik ngajak kamu gabung di senat, gimana?" ajak Niko.
       "Owh...cuma itu yang mau Kak Niko bicarain? aku pikir-pikir dulu deh" ujar Riana asal.
       "Tolong pikirin ini baik-baik. Sebentar lagi kita ada event bakti sosial ke rumah sakit dan mungkin ini bisa jadi wawasan lebih buat kamu" ujar Niko.
        "Oke deh, Kak. Ya udah aku mau ke kelas dulu, bentar lagi dosen dateng nih" Riana hendak beranjak dari tempatnya tapi lengannya ditahan oleh Niko.
        "Ada apalagi, Kak?" tanya Riana.
        "Nih kemarin malam kalung kamu jatuh, aku temuin di taman semalem" ucap Niko seraya menyerahkan seuntai kalung ke tangan Riana.
         Riana memegang lehernya, benar saja, ternyata kalung pemberian almarhumah Mamanya tak ada di lehernya.
        "Makasih, Kak, ini kalung berharga banget buat aku, tapi kok Kakak tau ini punya aku?" tanya Riana mulai melunak.
        "Karena tiap aku ketemu kamu, aku selalu liat kalung itu" jawab Niko.
        "Makasih ya, Kak" ucap Riana tersenyum senang berbeda dengan senyum yang tadi karena terpaksa.
        "Oh ya, satu lagi yang ingin aku bilang, kamu lebih cantik kalo tersenyum seperti itu. Ya udah, bentar lagi dosen kamu datang, kan. Buruan ke kelas" suruh Niko
         "Sekali lagi makasih, Kak" ujar Riana sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Niko yang masih melihat gadis itu semakin menjauh.

 
picture to Satya & Sheryl

         Sheryl baru saja sampai di parkiran kampus, di pintu masuk ia melihat Satya sedang bersama si Cumi Kembar, Deka dan Deki. Sheryl masih bingung dengan jawaban apa yang harus diberikan ke Satya hingga membuatnya enggan untuk keluar dari mobil. Sampai akhirnya seseorang mengetuk jendela mobilnya.
         "Elsa" gumam Sheryl.
         Sheryl pun membuka kaca mobilnya.
         "Ryl, kok nggak turun sih, bentar lagi waktunya mata kuliah dosen yang killer loh" ucap Elsa (Nina).
         "Mmm...iya nih gue udah mau turun kok" ujar Sheryl berbohong.
         Dengan terpaksa Sheryl pun turun dari mobilnya, Ia berharap Satya tak melihatnya. Tapi mana mungkin, jelas-jelas Satya ada di depan pintu masuk. Mendekati pintu masuk, kegugupan Sheryl makin memuncak, membuat Elsa merasa Sheryl tak seperti biasanya.
         "Loe kenapa, Ryl?" tanya Elsa.
         "Ah nggak....nggak pa-pa kok" elak Sheryl gugup.
         Aaarrrrggghhhh.....jerit hati Sheryl ingin segera pergi dari tempat itu tanpa terlihat Satya. Dan satu lagi, Arya, cowok yang tau masalah penembakan itu sekarang juga ada disana. Sheryl benar-benar merasa malu sekali.
          Sampai di pintu masuk, benar saja Satya menghampirinya.
         "Hai, Ryl" sapa Satya seraya tersenyum seperti biasa, senyum lembut tapi terasa sedikit menakutkan bagi Sheryl, pasalnya sampai saat ini dia belum bisa menemukan jawaban untuk Satya.
         "Hai Sat" balas Sheryl gugup.
         Satya juga tersenyum ke Elsa hingga gadis itu tersipu malu.
        "Boleh gue ngomong berdua sama Sheryl, Sa?" tanya Satya.
        "Ya tentu aja. Ryl, gue ke kelas dulu deh" ujar Elsa yang akhirnya meninggalkan Satya dan Sheryl berdua.
        "Mmm-mau ngomong apa, Sat?" tanya Sheryl berusaha menutupi kegugupannya yang tak seperti biasanya dia seperti ini dihadapan Satya.
         "Soal kemarin, maaf kalo pernyataan gue bikin loe jadi berubah sikap sama gue. Loe lupain aja, gue nggak mau itu jadi beban buat loe" ucap Satya.
          Duuuhh....Sheryl jadi merasa makin tak enak hati pada Satya.
         "Sat, maafin gue yah. Gue bener-bener ga tau harus jawab apa. Selama ini gue terbiasa dengan elo disamping gue dan gue nyaman di deket loe karena kita sahabat dari dulu. Jadi waktu loe nyatain perasaan loe, gue ga tau perasaan gue sendiri ke loe seperti apa" ucap Sheryl jujur dari hatinya sambil menundukkan kepalanya, takut Satya akan marah padanya.
          Tak disangka-sangka, Satya malah mengusap-usap rambut Sheryl seperti biasa, ambil tersenyum ia berkata, "Gue nggak akan memaksa loe untuk bales perasaan gue, Gue udah cukup bahagia loe anggap gue sahabat, seenggaknya gue berarti buat loe" ucap Satya.
          "Makasih ya, Sat" ucap Sheryl dengan mata berkaca-kaca.
          "Ikh....jelek banget loe mau nangis segala. Nggak biasanya loe jadi cengeng gini, jelek" goda Satya seperti biasa.
          "Satyaaaa...." teriak Sheryl sambil memukul-mukul dada Satya yang menertawakannya.
         Di tempat yang tak jauh dari mereka berdua, seseorang memperhatikan mereka. Orang itu membawa seuntai gelang berbandul bintang.

         "Udah 10 tahun lebih akhirnya aku menemukannya kembali, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang" ucap orang itu.

 
Arya

bersambung...

Selasa, 01 November 2011

Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3

Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/uPNSaFiQ/Puisi_-_Maafkan_Aku_Ibu.html" target="_blank">Puisi - Maafkan Aku Ibu.mp3</a>

Kamis, 27 Oktober 2011

My Tears

Kau hadir sebagai penyejuk jiwa
Di kala ku sendiri di kehampaan
Kata-katamu mampu meyakinkanku
Membuatku berfikir kebahagian itu nyata

hari berganti hari....
Bahkan bulan tlah berganti tahun...
Kebahagiaan itu masih kurasakan sempurna
Dan harapku sampai tiba waktunya kita dipersatukan Tuhan

Badai pun datang dalam hubungan kita
Kebohongan demi kebohongan kau tuturkan tuk sakitiku
Namun ku coba untuk bertahan demi cinta ini

kucoba bersabar, menahan perih yang kau ciptakan
Berharap suatu saat kau akan berubah
Tapi malah kau meninggalkanku tanpa perasaan
Dengan kata-kata yang paling menyakitkan

Dalam setiap doa kuteteskan airmata
Memohon pada Tuhan agar engkau kembali
Berharap ini hanya mimpi...
Cobaan yang sesaat untuk cinta kita

Kau menyalahkanku karena kepergianmu
Berjuta alasan kau buat akulah yang bersalah dimatamu
Dan baru kutahu kau lakukan itu karena kau tlah memiliki yang lain
Kau buat hati ini hancur berkeping-keping

Kau sia-siakan perasaanku yang tulus untukmu
Kau sia-siakan pengorbanan yang telah kulakukan
Kau buang aku seperti sampah
Tak berharga, tak berguna dan tak berarti

Aku menangis mengingatmu...
sekejam itukah dirimu..
Melupakan janji-janji yang kau ucapkan
Mengingkari segalanya
Menipu seluruh dunia dengan kebaikan semu

Bahagia diimu bersamanya
Namun kau bayar semua itu dengan airmataku
Tapi ingatlah cintaku....
Suatu saat ketika airmata ini mengering
Tuhan akan menggantinya dengan airmatamu..

TWIN'S LOVE STORY 5



        Elsa baru saja membereskan perlengkapan kuliahnya dan hendak keluar dari ruang kuliahnya, ketika Adit menghampirinya.
       "Mau pulang, Sa?" tanya Adit.
       "Iya" jawab Elsa singkat
       "Boleh nggak gue nganter loe pulang?" tanya Adit lagi.
       "Mmm...Dit, tapi gue udah janji pulang bareng Sheryl" jawabnya.
        Adit terlihat kecewa, lalu entah darimana datangnya duo cukem tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua.
        "Ehemmm...kayaknya tadi ada yang nawarin tebengan nih" ujar si Deka
        "Yo'i my brother. Boleh dong kita berdua ikut" sahut Deki sambil merangkul pundak Adit.
        "Ogah gue kalo kalian ikutan. Mending gue nebengin orang utan daripada kalian berdua" ujar Adit seraya melepaskan tangan Deki dari pundaknya.
        "Hmmm...baru tau gue kalo loe sukanya bergaul sama orang utan. Bener-bener nggak nyangka gue, Dit" ucap Deka sambil geleng-geleng kepala diikuti Deki juga. Elsa pun tertawa mendengar kata-kata Deka barusan namun ia berusaha menahannya.
        "Udah ah, bisa-bisa gue ikutan gila kayak loe berdua nanti kalo gue lama-lama disini. Gue balik ya, Sa" ujar Adit yang kemudian pergi meninggalkan Elsa dan duo cukem, Deka & Deki.
        "Yee...tuh anak sembarangan aja ya kalo ngomong, masa kita dibilang gila. Dia kali yang gila" ucap Deki ke Deka.
        "Iya tuh, nggak tau apa kalo kita ini cowok-cowok keren masak dibilang gila" sahut Deka.
        "Hahaha...kalian narsis banget sih" sahut Elsa yang langsung tertawa begitu mendengar celotehan Deka-Deki
        "Eh...ada Elsa" ucap Deka seolah baru menyadari kehadiran Elsa.
        "Kayaknya daritadi gue udah disini deh, kalian ini rabun ato katarak sih?" ujar Elsa nyengir kuda.
        "Hahaha..just kidding Elsa, jangan esmosi gitu ah, nanti cantiknya hilang loh" ucap Deki menggoda Elsa.
        "Kayaknya Adit bener deh, kalo gue disini lama-lama sama kalian, bisa-bisa gue jadi gila. Udah ah, gue mau balik" ujar Elsa sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum dan hendak pergi.
       "Yah..Elsa kok ngambek sih" ucap Deki.
        "Kan kita cuma bercanda" lanjut Deka.
        "Bercandanya lain kali aja yah, gue udah ditungguin Sheryl nih. Bye..." ujar Elsa melambaikan tangan ke Deka-Deki.

       Elsa  segera  menghampiri Sheryl yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa teman sekelas mereka.
       "Lagi ngomongin apaan sih?" tanya Elsa bergabung dengan teman-temannya.
       "Nih lagi bahas materi kuliah tadi, kan kita disuruh cari di buku tentang prinsip-prinsip Akuntansii" jawab  Sheryl
       "Hmm...ada yang punya buku literaturnya ga?" tanya salah seorang teman Sheryl.
       "Katanya di perpustakaan banyak. Coba aja kesana" ujar salah satu dari mereka.
       "Oke deh, thanks ya infonya" ucap Sheryl.
       Sheryl dan Elsa berniat ke perpustakaan Fakultas, tapi ditengah perjalanan Elsa mendapat telepon dari Mamanya yang meminta agar Elsa cepat pulang.
        "Ryl, gue pulang dulu ya, nyokap gue minta gue pulang sekarang" ucap Elsa.
         "Ya udah gue anter" ujar Sheryl.
         "Nggak usah, Ryl, loe ke perpus aja, gue balik sendiri. Oh iya, nanti gue pinjem dari loe bukunya ya" pinta Elsa.
         "Oke deh...tapi Sa, kan loe lagi ga bawa mobil. Loe pulangnya gimana?" tanya Sheryl
         "Gampanglah, nanti gue naik taksi aja" jawab Elsa.
         Lalu entah darimana datangnya, Satya muncul di depan dua gadis itu. Nafasnya terlihat tak bveraturan, seperti habis berlari.
         "Loe kenapa, Sat?" tanya Sheryl.
         "Gue nyariin loe, ada yang mau gue omongin" jawab Satya.
         Sheryl terlihat berpikir sejenak kemudian tersenyum dan memandang penuh arti ke Satya, "Sat, gue minta tolong anterin Elsa ya" pinta Sheryl.
         "Tapi kan gue mau ngomong sama loe" ujar Satya.
         "Ayo dong Sat, please...tadi gue udah janji nganter Elsa balik tapi gue mau ke perpus nih. Ngomongnya nanti malam aja deh ya" pinta Sheryl setengah memohon.
         "Nggak usah, Ryl, gue bisa pulang sendiri" ucap Elsa.
         "Ya udah deh, gue anter Elsa, tapi nanti malam gue ke rumah loe" ucap Satya akhirnya meskipun dengan berat hati.
          "Tengkyu ya Sat, loe emang sahabat gue yang paliiing baik" ujar Sheryl seraya menepuk-nepuk pundak Satya.
          "Kalo ada maunya aja deh loe muji gue" sindir Satya, Sheryl nyengir kuda dan Satya dengan kebiasaan lamanya mengacak-acak rambut Sheryl.
          Elsa yang melihat pemandangan itu dari dekat hanya tersenyum, tapi dalam hati dia merasa iri dengan kedekatan Sheryl dan Satya.
          Saat Satya dan Elsa pergi, Sheryl menatap mereka dari jauh.
          "Mungkin begini lebih baik. Supaya apa yang dikatakan Sherin nggak akan terjadi, karena gue terbiasa dengan loe sebagai sahabat gue, Sat" ucap Sheryl dalam hati. Setelah Elsa dan Satya hilang dari pandangannya, Sheryl melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan.


          Dalam hati Elsa merasa senang sekali ketika Satya bersedia mengantarnya pulang. Mereka berdua jalan beriringan, membuat Elsa berharap agar waktu berhenti disini. Sesekali Elsa mencuru-curi pandang ke Satya, tapi sepertinya cowok itu cuek sekali.
          "Makasih ya, Sat, loe mau nganterin gue" ucap Elsa dengan tersenyum.
          "Iya" sahut Satya singkat.
          Sesampainya mereka di parkiran, Satya memberikan helm pada Elsa, dan Elsa menerimanya dengan senang hati. Di tempat yang tak jauh dari situ, seseorang melihat mereka dengan penuh ketidaksukaan.


           Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Riana baru saja keluar dari toilet ketika Lisa dan para pengikutnya menghadangnya.
          "Loe yang waktu itu berani permalukan gue di depan umum, kan" ujar Lisa sambil mendorong tubuh Riana hingga gadis itu terpojok di tembok.
          "Kalo iya kenapa" sahut Riana tanpa rasa takut sedikitpun.
          "Masih berani juga ya loe buka mulut. Loe tau kan posisi loe dimana sekarang" ujar Lisa.
          Riana tersenyum mengejek, "Kenapa gue harus takut sama manusia seperti kalian semua. Gue hanya takut sama Allah daripada kalian" sahut Riana tanpa rasa takut.
          "Ternyata mulut loe ini perlu diajari ya" ujar Lisa hendak menampar Riana.
          Riana menatap dengan tenang, tak adarasa takut sedikitpun bahkan ketika Lisa hendak menamparnya. Untungnya ada seseorang yang menahan tangan Lisa sebelum sampai ke wajah Riana.
          "Hentikan semua ini, Lis, ato loe bakal tau akibatnya" ucap seseorang dengan tatapan mata menakutkan.
          Lisa terlihat kesal dan melepaskan tangannya dari orang itu.
          "Jangan ikut campur urusan gue, Nik" seru Lisa.
          "Oh ya, siapa bilang gue nggak berhak?" tanya Niko
          "Kenapa sih loe selalu belain dia, emang dia siapa loe sih?" tanya Lisa
          "Mau dia siapa gue ato bukan siapa-siapa gue itu bukan urusan loe. Gue minta loe sama temen-temen loe ini pergi sekarang. Dan janagn sampai gue lihat hal ini sekali lagi ato gue bakal bilang ini semua ke Rafa" ujar Niko.
           Mendengar ancaman Niko, mau tak mau Lisa dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Kini tinggal Niko dan Riana yang berdua di tempat itu.
          "Ngapain sih nolongin gue, gue nggak butuh tau" ujar Riana ketus berniat meninggalkan Niko, tapi cowok itu malah menangkap tangan Riana, menahan gadis itu untuk pergi.
          "Gue salut sama keberanian loe. Loe bener-bener cewek pemberani ternyata" ucap Niko sambil terus memegang tangan Riana.
         Riana ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Niko tapi rupanya tangan cowok itu begitu kuat memegangnya.
        "Mau loe apa sih?" tanya Riana ketus.
        "Hmm..mau gue, loe ikut gue, sekarang" jawab Niko langsung menarik Riana pergi tanpa menunggu jawaban apa gadis itu mau ato tidak.


         Sherin dan Noura menunggu Riana yang pamit ke toilet, namun sedari tadi belum juga kembali. Noura sedari tadi ribut terus karena yang paling tak sabar menunggu.
         "Riana kemana aja sih, ke toilet lama banget" rutuk Noura.
         "Sabar dong, Ra, sebentar lagi juga balik Riana" sahut Sherin yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya.
        "Tapi nggak biasanya tuh si Riana lama banget kayak gini. Apa gue susul aja kali ya?" tanya Noura.
        "Ya udah terserah elo deh, daripada loe ribut terus disini" ucap Sherin.
        Noura pun pergi menyusul Riana ke toilet sedangkan Sherin masih bertahan di kantin dengan bukunya, ketika seseorang menutup matanya tiba-tiba dara belakang.
        "Siapa ya?" tanya Sherin
        "Coba tebak siapa" jawab orang itu.
        Sherin tersenyum, mengenali suara itu dan mengenali kebiasaan itu, "Kak Rafa, kan" ucap Sherin.
        Orang itu pun membuka tangannya yang menutupi mata Sherin lalu duduk di depan gadis itu.
        "Kok bisa tau sih, ah ga seru" ujar Rafa dengan senyum menggoda Sherin.
        "Yah tau dong, siapa lagi yang punya kebiasaan seperti itu sejak dulu" sahut Sherin sambil tersenyum.
         "Kok sendirian aja, temen kamu yang lain mana?" tanya Rafa.
         "Ke toilet Kak, ini juga lagi nunggu mereka" jawab Sherin.
         "Kebetulan kalo gitu, aku ada titipan nih buat kamu" ujar Rafa seraya memberikan sebuah undangan.
         "Apaan nih, Kak?" tanya Sherin bingung.
         "Baca aja, nanti juga kamu bakal ngerti kok" jawab Rafa dengan senyum penuh arti.
         Sherin membuka undangan itu, dan membacanya.


                    Datang ya jam 7 malam ini di taman belakang kampus
                                                        - Eza -


         "Maksudnya apa nih, Kak?" tanya Sherin tak mengerti.
         "Yah, pokoknya kamu datang aja nanti. Sekarang yuk ikut aku" ajak Rafa menarik tangan Sherin.
         "Mau kemana sih, Kak, kan Sherin nungguin Riana ma Noura" ucap Sherin.
         "Udahlah, kamu smz aja temen-temen kamu kalo kamu balik sama aku" ujar Rafa.
         Sherin menurut saja dengan kata-kata Rafa, ia segera membenahi perlengkapannya, memasukkan bukunya ke dalam tas.
         Rafa mengajak Sherin ke suatu tempat, dimana dia disuruh memilih gaun yang paling cantik menurut dia.
         "Buat apa sih, Kak, sampai ngajak Sherin ke butik?' tanya Sherin penuh tanda tanya.
         "Udah nggak perlu banyak tanya ya, sekarang Kak Rafa minta kamu pilih satu gaun yang kamu suka" jawab Rafa penuh senyum.
         Sherin mengerutkan keningnya, tanda ia benar-benar heran dengan kelakuan Rafa. Tapi cowok itu malah menyelipkan jari telunjuknya diantara kerutan kening Sherin hingga kerutan itu menghilang.
         "Nggak usah bingung. Sekarang kamu tinggal pilih aja, anggap itu permintaan maaf karena aku lama balik tapi nggak kabarin kamu ataupun Sheryl" ujar Rafa dengan senyumnya yang menenangkan.
         Akhirnya Sherin setuju dengan alasan Rafa meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia memilih dress warna putih yang simpel tapi terlihat anggun. Rafa meminta Sherin mencoba gaun itu, dan hasilnya benar-benar....membuat Rafa terpana.
         "Sepertinya kamu nggak salah pilih  gaun itu, Sherin ternyata udah jadi gadis yang cantik ya" puji Rafa yang takjub melihat Sherin yang terlihat cantik mengenakan dress putih itu.
         "Makasih, Kak" sahut Sherin tersipu malu dipuji begitu oleh Rafa.
         Setelah membayar gaun itu ke kasir, Rafa mengantar Sherin pulang ke rumahnya. Tak lupa ia berpesan pada Sherin untuk datang menurut undangan itu dengan gaun tadi. Sherin mengangguk, mengerti.



          Di tempat lain, Sheryl mencari buku literatur untuk tugas dari dosennya. Buku-buku di perpustakaan begitu banyak sehingga Sheryl cukup kesulitan menemukan buku yang ia cari. Dan ketika ia menemukan satu buku dan berniat mengambilnya, tangannya bertumbukkan dengan tangan seseorang.
          "Maaf tapi gue dulu yang mau ambil buku ini" ujar Sheryl.
          "Gue yang liat buku ini dulu" ujar orang itu.
          Mereka berdua pun saling tarik-menarik buku hingga menarik perhatian para pengunjung perpustakaan. Sheryl benar-benar tak mau kalah begitu juga orang itu. Sampai-sampai penjaga perpustakaan menghampiri mereka berdua.
          "Maaf ya adik-adik, tolong jangan ribut disini karena mengganggu yang lainnya" ucap si penjaga perpustakaan.
          "Maaf ibu, bukannya saya ingin mengganggu, tapi saya yang mau pinjam buku ini dulu" ujar Sheryl tetap mempertahankan sebagian buku itu di tangannya.
          "Gue dulu yang lihat buku ini" ujar orang itu juga memepertahankan sebagian buku ditangannya.
          "Kenapa kalian nggak pinjam sama-sama aja" ujar penjaga perpus.
          "Nggak bisa" ucap mereka berdua kompak lalu saling pandang.
          Untuk sesaat Sheryl merasa pernah merasakan kejadian yang sama seperti saat itu, tapi belum sempat Sheryl mengingatnya, handphone Sheryl berbunyi sehingga membuat dia kontan melepaskan buku itu. Yah...Sheryl terpaksa melepaskan buku itu dan menjauh dari perpustakaan untuk mengangkat telepon itu.
          "Ya, Rin, ada apa telepon gue?" tanya Sheryl.
          "Nanti malem ikut gue ya" jawab Sherin.
          "Kemana?" tanya Sheryl lagi.
          "Nanti gue jelasin di rumah" jawab Sherin lalu menutup telepon.
          "Arrrggghh....kebiasaan deh nih anak. Bikin gue gagal mempertahankan buku itu deh" gerutu Sheryl.
          Sheryl berjalan menuju mobilnya, berniat untuk pulang. Ketika di parkiran, seseorang menghampirinya dan menghalangi jalannya.
          "Loe lagi, mau apa sih, kan bukunya udah loe dapetin" ujar Sheryl pada orang itu.
          Tiba-tiba orang itu menyodorkan buku y6ang tadi diperebutkan di perpustakaan.
          "Maksudnya?" tanya Sheryl.
          "Ambil nih buku" ujarnya lalu beranjak pergi.
          Sheryl merasa bingung dan tak mengerti yang terjadi barusan. Dia pun berteriak pada  orang itu.
          "Arryaaa...gue nggak tau apa yang ada di pikiran loe, tapi..Terima kasih" teriak Sheryl.
          Arya yang berjalan memunggungi Sheryl hanya menganggkat tangan kanannya dan dilambaikan ke udara tanpa melihat Sheryl.
           "Cowok yang aneh" batin Sheryl lalu melanjutkan perjalanannya...Go to home... :)


          Malamnya, Sheryl menemani Sherin datang ke taman belakang kampus Sherin ditemani Satya juga karena kebetulan saat mereka berdua mau keluar, Satya datang. Jadilah Satya jadi pengawal buat dua gadis kembar ini. hehehe... :p
          "Sepi banget, Rin, mana gelap lagi. Loe nggak salah dapet undangan disini?" tanya Sheryl melihat lokasi yang ditunjuk Sherin.
         "Nggak salah kok. Kak Eza sendiri yang pernah ngajakin gue kesini" jawab Sherin.
         "Loe yakin nggak salah tempat?" tanya Satya coba meyakinkan lagi.
         "Nggak salah kok. Bener disini tempatnya" ujar Sherin lalu tiba-tiba lampu-lampu kecil pun menyala perlahan dan membuat tempat yang tadinya gelap menjadi terang oleh lampu warna-warni.
         Sherin, Sheryl dan Satya terkejut, tapi benar-benar surprise bagi Sherin. Tempat itu benar-benar indah sekarang. Di depannya telah berdiri Eza, cowok yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
        Eza menghampiri Sherin lalu mengulurkan tangannya agar gadis itu menerima uluran tangannya. Sherin melihat pada saudara kembarnya, Sheryl yang tersenyum dan mengangguk setuju padanya. Sherin pun menerima uluran tangan itu, mengikuti Eza yang membawanya ke tempat yang ada lilin-lilin kecil berbentuk hati dan ada taburan kelopak bunga mawar di sekelilingnya.
        "Apa maksudnya ini, Kak?" tanya Sherin.
        "Maaf ya, kalo aku bikin kamu kaget dan bingung seperti ini. Ini semua juga berkat bantuan sahabat-sahabat aku dan juga sahabat kamu" ujar Eza menunjuk ke arah sebelah kiri yang telah berdiri Rafa, Niko, Riana dan Noura.
         "Lalu maksud dari semua ini apa, Kak?" tanya Sherin.
        Eza memegang kedua tangan Sherin dan menatap dalam-dalam ke kedua mata gadis itu, "Malam ini, aku ingin jujur sama kamu tentang perasaanku. Aku mencintai kamu, Sherin. Apa kamu bersedia menerima cinta aku?" ucap Eza.
        Sherin tersenyum dan tersipu mendengar kata-kata Eza.


         Di waktu yang bersamaan, tak jauh dari tempat itu, Satya mengajak Sheryl pergi dari tempat itu.
         "Ada apa sih, Sat, kok loe ngajakin gue pergi dari tempat itu?" tanya Sheryl.
         "Ada yang ingin gue omongin sama loe, Ryl" ucap Satya.
         "Oh iya, tadi siang loe bilang mau ngomong sama gue. Emangnya loe mau ngomong apaan, Sat?" tanya Sheryl.
         "Selama ini gue selalu menutupi perasaan ini, gue tau nggak seharusnya gue miliki perasaan ini. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh tanpa bisa gue tahan. Gue sayang loe, Ryl, bukan sebagai sahabat tapi seorang wanita yang ingin gue lindungi" ujar Satya.
         Sheryl langsung terdiam mendengar kata-kata Satya. Bibirnya tak mampu berucap apa-apa. Tepat disaat itu, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti di depan mereka.


                         Inginku, bukan hanya jadi temanmu,
                         atau sekedar sahabatmu,
                         yang rajin dengar ceritamu
                         Tak perlu, hanya kau lihat ketulusan,
                         yang sebenarnya tak kusangkal,
                         kadang ku hilang kesabaran


                         Mungkinkah akan segera mengerti,
                         seiring jalannya hari,
                         sungguh ku tergila padamu
                         Yang ada, bila tak juga kau sadari,
                         akan ku tempuh banyak cara,
                         agar engkau tahu (2-3: yakin) semua, mauku

                         Biarkan, aku untuk jadi kasihmu,
                         kar’na tak percaya ungkapan,
                         cinta tak harus memiliki
                         Terlambat, jika aku harus berubah,
                         ku terlanjur ingini semua,
                         yang ada di dalam dirimu

                        Dan berulang, mencoba,
                        ‘tuk merebut hati dan cintamu
                        Sadarkah dirimu, sering kau kesalkan aku
                        bila masih saja kau menyebut namanya
                       (yovie&nuno_inginku bukan jadi temanmu)


***************************************************************************

bersambung

Sabtu, 22 Oktober 2011

TWIN'S LOVE STORY 4






  Sherin dan Sheryl sedang duduk-duduk di taman belakang rumahnya. Sheryl asyik melihat bintang-bintang dengan teleskopnya sedangkan Sherin asyik dengan bukunya. Meski memiliki kesukaan yang berbeda, namun kedua saudara ini saling melengkapi.

            "Rin, loe nggak bosen apa baca buku mulu?" tanya Sheryl
            "Nggak tuh, loe sendiri juga apa nggak bosen liatin bintang mulu?" balas Sherin tanpa mengubah pandangannya yang masih di depan buku..
            "Nggak dong" jawab Sheryl masih terus memandangi bintang-bintang.
            tiba-tiba ponsel Sherin berbunyi.
            "Halo, Selamat malam" ucap Sherin.
            Lama Sherin terdiam kayak orang bego ketika mengetahui siapa yang menelponnya.
            "Kak Eza? Kok kakak bisa tau no telepon aku?" tanya Sherin.
            Entah apa yang dikatakan orang yang diseberang sana tapi sepertinya sesuatu hal yang membuat wajah Sherin bersemu merah. Begitu telepon ditutup, Sherin masih saja nggak berhenti untuk tersenyum, tentu saja hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Sheryl.
            "Barusan telepon dari siapa sih, kayaknya happy bener?" tanya Sheryl.
            "Dari Kak Eza" jawab Sherin sambil senyum-senyum.
            "Hmm...kalo gue nggak salah inget nih, Kak Eza tuh senior yang nolongin elo itu kan?" tanya Sheryl lagi dan dijawab anggukan oleh Sherin.
           "Emangnya ada apa Kak Eza telepon elo?" tanya Sheryl
           "Dia bilang besok mau ngajakin berangkat ke kampus bareng" jawab Sherin.
           "Loe suka ya sama Kak Eza itu?" tanya Sheryl yang langsung bikin wajah Sheryl semakin merah.
           "Apaan sih, mau tau urusan gue aja loe" ujar Sherin menahan perasaannya yang sudah terlihat dengan jelas.
           "Ga usah loe jawab juga gue udah tau kok, kan kita kembar, gue tau apa yang loe rasain sekarang" ujar Sheryl.
           "Loe sendiri gimana sama Satya?" tanya Sherin balik bikin Sheryl kontan menjatuhkan teleskopnya.
           "Tuh kan...gara-gara loe ngomongin masalah itu jadinya jatuh deh teleskop gue" rutuk Sheryl sambil memungut kembali teleskopnya.
           "Yeee...salah sendiri loe nggak hati-hati" sahut Sherin.
           "Gue sama Satya tuh cuma sahabatan aja tau" ucap Sheryl.
           "Iya itu kan menurut loe, tapi kalo orang lain liat kalian, persepsinya beda tau" ujar Sherin
           "Beda gimana maksud loe?" tanya Sheryl nggak mengerti maksud Sherin.
           "Gini nih ya, dimana ada elo pasti disitu ada Satya, kemana-mana kalian pasti berdua. Pasti orang mikirnya kalian pasti ada apa-apanya" jelas Sherin.
           "Tapi kan loe tau sendiri gue ma Satya udah deket sejak kecil. Loe juga deket sama Satya kan" ujar Sheryl
           "Hmm..iya sih tapi loe yang paling deket sama Satya. Emangnya loe nggak punya perasaan sedikitpun ke Satya?" tanya Sherin
            Sheryl terdiam dan terlihat sedang berpikir. Lalu menggeleng, "Ga tau lah gue. Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja" ucap Sheryl.
            "Tapi apa Satya juga anggap loe cuma sekedar sahabatnya aja?" ucap Sherin
            "Maksud loe?" tanya Sheryl lagi.
            "Menurut pandangan gue nih, kayaknya Satya suka deh sama loe" ujar Sherin.
            Sheryl lantas tertawa mendengar ucapan Sherin, "Atas dasar apa loe bilang Satya naksir gue. Gue tau tipe nya Satya gimana, jadi ga mungkinlah" ujar Sheryl.
             "Yah..terserah deh kalo loe ga percaya. Udah ah, gue mau masuk dulu. Besok gue ada kuliah pagi" ucap Sherin yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sheryl masih berada disana memikirkan kata-kata Sherin.
             "Masa iya Satya naksir gue, kayaknya ga mungkin banget...Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat baik gue, nggak pernah terpikir sekalipun buat gue suka sama dia. Gara-gara Sherin nih gue jadi bingung sama perasaan gue" batin Sheryl sebelum akhirnya dia mengikuti Sherin masuk ke dalam.


              Keesokan harinya, Sherin dan Sheryl udah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
              "Jadi loe berangkat bareng si Kak Eza itu?" tanya Sheryl.
              "Iya jadi kok. Loe sendiri bareng Satya lagi?' balas Sherin bertanya.
              "Hmmm...nggak deh, hari ini gue bawa mobil sendiri aja" jawab Sheryl.
              "Kenapa ga bareng Satya, tumben amat?" tanya Sherin sambil memakan rotinya.
              "Nggak pa-pa sih...emangnya ga boleh kalo gue bawa mobil sendiri" jawab Sheryl seraya meleletkan lidah lalu meminum susunya.
              Lalu tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar.
              "Kayaknya gue udah dijemput deh, gue berangkat dulu ya" pamit Sherin melambaikan tangan ke arah Sheryl
              "Oke. Hati-hati yah" sahut Sheryl.
              Tak lama setelah itu Sheryl juga segera berangkat ke kampus dengan mengendarai mobilnya. Sebenarnya bukan tanpa alasan Sheryl memutuskan naik mobil sendiri hari ini. Gara-gara perkataan Sherin semalam, Sheryl jadi merasa ragu pada perasaannya sendiri, dia ingin membuktikan bahwa perasaannya pada Satya hanya sekedar sahabat aja.
              Sheryl mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mendengar kan lagu yang disetel cukup keras. Ketika masuk ke area kampus, mobil Sheryl hendak bertabrakan dengan sebuah motor ninja warna merah. Beruntung Sheryl cepat-cepat mengerem, begitu pula pengendara motor itu.
             Sheryl membuka kaca mobilnya dan bertanya pada si pengendara motor itu, " Loe nggak pa-pa?" tanya Sheryl. Bukannya menjawab pertanyaan Sheryl, tuh orang langsung pergi gitu aja.
             "Orang yang aneh" gumam Sheryl.
            Sheryl pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir dan memarkirkan mobilnya. Sampai di tempat parkir mobil, dia melihat Satya sedang mengobrol dengan seseorang. Sheryl pun segera menghampiri mereka.
           "Hai, Sat, Elsa" sapa Sheryl ceria pada Satya dan juga Elsa.
           Satya tersenyum pada Sheryl, begitu pula Elsa.
           "Kalian pada nungguin gue ya?" tanya Sheryl dengan nada bercanda.
           "Narsis gila loe" ujar Satya hendak mengacak-acak rambut Sheryl, tapi Sheryl menghindar lebih cepat.
           "Eiitsss....loe nggak bisa ngacak-acak rambut gue, Sat" ujar Sheryl sambil tertawa penuh kemenangan.
           Elsa yang juga ada disitu tertawa melihat kelakuan Sheryl dan Satya, lalu kemudian Adit yang baru datang memanggil Satya sehingga Satya pun meninggalkan kedua gadis itu. Sepeninggal Satya, tinggal Sheryl dan Elsa. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kuliah mereka.
            "Loe sama Satya udah sahabatan lama ya?" tanya Elsa
            "Hu'um...gue sama Satya udah temenan sejak TK" jawab Sheryl
            "Loe sama Satya apa ga saling suka?" tanya Elsa lagi
            Sheryl hanya tertawa mendengar pertanyaan Elsa, karena ini bukan pertama kalinya dia mendengar pertanyaan itu, sebelumnya dia mendapatkan pertanyaan itu dari saudara kembarnya sendiri, Sherin.
            "Ga tau deh, selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja kok. Kenapa?" tanya Sheryl balik.
            "Ga pa-pa kok" jawab Elsa
            "Jangan-jangan loe suka ya sama Satya?" tebak Sheryl yang langsung membuat Elsa tertunduk malu dan wajahnya memerah.
            Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan dua gadis itu dari kejauhan dengan penuh senyum.



             Beralih ke tempat Sherin yang baru sampai di kampus bersama Eza, langsung menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang lain.
            "Kak, aku jadi ngerasa nggak enak nih dilihatin sama yang lainnya" ujar Sherin sambil menundukkan kepalanya.
            "Kamu nggak perlu mikirin yang lainnya ya, sebentar juga mereka bakal biasa aja kok" ucap Eza menenangkan.
            Sherin mengangguk dan tersenyum ke Eza.
            "Sherin" panggil seseorang.
             Sherin menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati sahabat-sahabatnya berjalan menghampirinya.
             "Riana, Noura....kalian udah datang ternyata" ujar Sherin.
             "Cieeee...lagi jalan sama siapa tuh..."goda Noura yang membuat Sherin tersipu, sedangkan Eza yang berdiri disamping Sherin hanya tersenyum.
             "Tadi gue nggak liat mobil loe, kirain loe belum datang tadi" ucap Riana.
             "Iya gue nggak bawa mobil tadi, gue bareng Kak Eza, kebetulan rumah kita searah" jelas Sherin
             "Ooo..searah nih rupanya" goda Noura lagi membuat Sherin malu-malu.
             "Kalian udah sarapan?" tanya Eza
             "Belum sih Kak, soalnya tadi berangkatnya buru-buru" sahut Noura blak-blakan bikin Riana mendelik padanya.
             "Hahaha...ya sudah, ke kantin yuk...kan kuliahnya masih setengah jam lagi, itu pun kalo ga molor jamnya" ajak Eza.
            "Ditraktir ga nih, Kak?" tanya Noura bercanda lalu tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Auwwww..." teriak Noura seraya melotot ke arah Riana.
            "Malu-maluin aja loe" ujar Riana pelan.
             Eza hanya tersenyum melihat tingkah Noura dan Riana, sedangkan Sherin mencoba tersenyum menahan malu akibat ulah sahabat-sahabatnya.
              "Udah tenang aja, gue traktir deh" ujar Eza.
              Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kantin. Disana kebetulan ada Niko dan Rafa yang sedang berdiskusi di depan laptop.
              "Hai Raf, Nik" sapa Eza pada dua sahabatnya.
             "Hai, Za. Sama siapa loe?" tanya Niko yang melihat Eza datang tak hanya sendiri.
             "Gue sama adik kelas kita, Ini Sherin dan yang dua itu..." belum sempat Eza memperkenalkan keduanya, Niko sudah menyahut.
             "Riana sama Noura kan?" tanya Niko
             "Iya Kak" sahut Riana dan Noura barengan.
             "Sherin, apa kabar. Sini gabung sama kita" ajak Rafa yang melihat gadis itu berdiri disamping Eza.
             "Iya Kak" sahut Sherin.
             Akhirnya mereka berempat yang baru datang segera bergabung dengan Rafa dan Niko. Keenam orang itu benar-benar menyedot perhatian seluruh penghuni fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, tiga orang mahasiswi baru bisa duduk bersama ketiga orang cowok yang diidolakan di fakultas itu.
           "Gimana kabar orang tua loe Rin, gue kangen main-main lagi sama kalian berdua" ujar Rafa
           "Papa sama Mama baik-baik aja, Kak. Sekarang mereka lagi ke Jepang soalnya Papa ada urusan disana. Kalo Kak Rafa mau, datang aja ke rumah"
           "Oke deh, nanti gue ajak Eza juga ya" ucap Rafa sambil menyenggol lengan Eza yang duduk disampingnya.
           Sherin mengangguk sambil tersenyum.


           Di tempat lain, Sheryl, Satya, Elsa dan Adit cukup serius memperhatikan dosen yang sedang mengajar, tapi konsentrasi Sheryl sempat teralihkan pada seseorang yang duduk di pojok kelas. Orang itu tanpa rasa sungkan sedikitpun tidur di dalam ruang kelas dimana sang dosen sedang mengajar.  Namun, anehnya sang dosen sama sekali tak menegurnya.
          Satya yang duduk disamping Sheryl, menyadari kalau sahabatnya itu memperhatikan seseorang langsung menyenggol lengan Sheryl dan berbisik pelan.
          "Liatin apaan sih?" tanya Satya.
          "Ah...nggak" elak Sheryl.
          "Loe itu nggak bisa bo'ong sama gue. Loe tadi ngeliatin si Arya, kan?" tanya Satya lagi.
          "Sok tau loe, gue nggak liatin apa-apa kok. Justru orang lain tuh yang liatin elo" ujar Sheryl menunjuk ke arah Elsa dengan dagunya.
          Satya menoleh ke arah Elsa, gadis itu langsung kelihatan gugup dan langsung mengalihkan pandangannya.
          "Apaan sih gue tuh lagi bahas elo kok malah bahas yang lain" ujar Satya tapi Sheryl seolah tak mendengar kata-kata Satya dan kembali menyimak dosen.
           Begitu mata kuliah selesai, Sheryl hendak keluar bersama Elsa tapi ditahan oleh Satya.
           "Ada apa sih, Sat?" tanya Sheryl.
           "Gue mau tanya soal tadi, bener loe tadi merhatiin Arya?"  tanya Satya ganti.
           "Mmmm....ga kok, cuma kebetulan aja gue mau nengok ke Elsa pandangan gue lewatin dia" ucap Sheryl mengelak.
            "Oh ya udah kalo gitu" ucap Satya akhirnya meskipun dia yakin kalo tadi Sheryl memperhatikan Arya.
             "Lagian kalo pun gue tadi beneran merhatiin si Arya, emangnya kenapa, kok loe yang ribut sih" ujar Sheryl.
             "Nggak ada apa-apa. Gue cuma khawatir sama loe kalo loe sampai berhubungan sama dia. Soalnya gue denger-denger banyak cewek yang sakit hati gara-gara dia" ujar Satya.
             "Hahaha.....gue kira apaan. Loe tenang aja deh, gue nggak sama kok dengan cewek-cewek yang lain. Loe tau itu kan. Ya udah, Elsa udah nungguin gue nih. Bye, Sat" ucap Sheryl lalu pergi meninggalkan Satya yang masih terdiam ditempat sambil memandang kepergian Sheryl, sahabatnya.
             "Justru karena elo beda dengan cewek-cewek yang lain, makanya gue ingin lindungin loe, Ryl.  Karena entah sejak kapan, loe nggak hanya sekedar sahabat buat gue" gumam Satya yang terus memandangi punggung Sheryl hingga akhirnya gadis itu hilang dari pandangan matanya.


             Malamnya, Rafa memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Sherin dan Sheryl. Tapi dia tak sendirian, melainkan bersama dua orang lainnya. Sherin yang membuka pintu pertama kali merasa senang karena salah satu diantara mereka ada Eza. Mereka pun dipersilahkan masuk.
            "Sebentar ya, Kak, Sherin panggil Sheryl dulu" ucap Sherin lalu segera pergi memanggil Sheryl, kembarannya.
            Tak lama kemudian Sherin kembali bersama Sheryl yang kelihatan ogah-ogahan awalnya. Tapi begitu melihat siapa yang datang, dia langsung tersenyum lebar.
            "Kak Rafa" teriak Sheryl senang.
            "Hai Ryl, apa kabar?" tanya Rafa.
            "Kok Kak Rafa ada disini, kapan balik dari Aussie Kak?" tanya Sheryl penasaran.
            "Gue balik 2 tahun yang lalu, sekarang gue kuliah di Universitas yang sama dengan kalian. Gue kakak kelasnya Sherin" terang Rafa.
            "Oh ya? Kok Sherin ga pernah cerita ke gue sih" ujar Sheryl sambil melihat ke arah Sherin.
           "Iya maaf gue lupa" sahut Sherin yang mengerti protes saudari kembarnya itu.
           Sheryl yang tadinya hanya memperhatikan Rafa, kini melihat disamping Rafa ternyata ada dua orang lainnya. Salah satu yang dikenalinya adalah Eza, dan satu lagi seperti tak asing untuknya.
            "Lho, kamu Arya kan?" tanya Sheryl ke cowok yang duduk di samping kiri Rafa.
           Cowok itu pun menoleh begitu namanya disebut tapi pandangannya benar-benar flat, datar, tak berekspresi.
           "Loe udah kenal ternyata, ini sepupu gue, Arya. Dia juga kuliah di universitas yang sama tapi di Fakultas Ekonomi" ujar Rafa memperkenalkan.
           "Iya Kak, dia teman sekelas Sheryl di beberapa mata kuliah" sahut Sheryl.
           Kemudian mereka berlima pun terlibat pembicaraan, Sherin terlihat begitu senang bicara dengan Eza, sedangkan Sheryl seru mengobrol dengan Rafa dan tak jarang pula dia memperhatikan Arya yang lebih banyak diam. Hal ini membuat Sheryl benar-benar merasa penasaran pada cowok itu

********************************************************************************************
bersambung....