Elsa baru saja membereskan perlengkapan kuliahnya dan hendak keluar dari ruang kuliahnya, ketika Adit menghampirinya.
"Mau pulang, Sa?" tanya Adit.
"Iya" jawab Elsa singkat
"Boleh nggak gue nganter loe pulang?" tanya Adit lagi.
"Mmm...Dit, tapi gue udah janji pulang bareng Sheryl" jawabnya.
Adit terlihat kecewa, lalu entah darimana datangnya duo cukem tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua.
"Ehemmm...kayaknya tadi ada yang nawarin tebengan nih" ujar si Deka
"Yo'i my brother. Boleh dong kita berdua ikut" sahut Deki sambil merangkul pundak Adit.
"Ogah gue kalo kalian ikutan. Mending gue nebengin orang utan daripada kalian berdua" ujar Adit seraya melepaskan tangan Deki dari pundaknya.
"Hmmm...baru tau gue kalo loe sukanya bergaul sama orang utan. Bener-bener nggak nyangka gue, Dit" ucap Deka sambil geleng-geleng kepala diikuti Deki juga. Elsa pun tertawa mendengar kata-kata Deka barusan namun ia berusaha menahannya.
"Udah ah, bisa-bisa gue ikutan gila kayak loe berdua nanti kalo gue lama-lama disini. Gue balik ya, Sa" ujar Adit yang kemudian pergi meninggalkan Elsa dan duo cukem, Deka & Deki.
"Yee...tuh anak sembarangan aja ya kalo ngomong, masa kita dibilang gila. Dia kali yang gila" ucap Deki ke Deka.
"Iya tuh, nggak tau apa kalo kita ini cowok-cowok keren masak dibilang gila" sahut Deka.
"Hahaha...kalian narsis banget sih" sahut Elsa yang langsung tertawa begitu mendengar celotehan Deka-Deki
"Eh...ada Elsa" ucap Deka seolah baru menyadari kehadiran Elsa.
"Kayaknya daritadi gue udah disini deh, kalian ini rabun ato katarak sih?" ujar Elsa nyengir kuda.
"Hahaha..just kidding Elsa, jangan esmosi gitu ah, nanti cantiknya hilang loh" ucap Deki menggoda Elsa.
"Kayaknya Adit bener deh, kalo gue disini lama-lama sama kalian, bisa-bisa gue jadi gila. Udah ah, gue mau balik" ujar Elsa sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum dan hendak pergi.
"Yah..Elsa kok ngambek sih" ucap Deki.
"Kan kita cuma bercanda" lanjut Deka.
"Bercandanya lain kali aja yah, gue udah ditungguin Sheryl nih. Bye..." ujar Elsa melambaikan tangan ke Deka-Deki.
Elsa segera menghampiri Sheryl yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa teman sekelas mereka.
"Lagi ngomongin apaan sih?" tanya Elsa bergabung dengan teman-temannya.
"Nih lagi bahas materi kuliah tadi, kan kita disuruh cari di buku tentang prinsip-prinsip Akuntansii" jawab Sheryl
"Hmm...ada yang punya buku literaturnya ga?" tanya salah seorang teman Sheryl.
"Katanya di perpustakaan banyak. Coba aja kesana" ujar salah satu dari mereka.
"Oke deh, thanks ya infonya" ucap Sheryl.
Sheryl dan Elsa berniat ke perpustakaan Fakultas, tapi ditengah perjalanan Elsa mendapat telepon dari Mamanya yang meminta agar Elsa cepat pulang.
"Ryl, gue pulang dulu ya, nyokap gue minta gue pulang sekarang" ucap Elsa.
"Ya udah gue anter" ujar Sheryl.
"Nggak usah, Ryl, loe ke perpus aja, gue balik sendiri. Oh iya, nanti gue pinjem dari loe bukunya ya" pinta Elsa.
"Oke deh...tapi Sa, kan loe lagi ga bawa mobil. Loe pulangnya gimana?" tanya Sheryl
"Gampanglah, nanti gue naik taksi aja" jawab Elsa.
Lalu entah darimana datangnya, Satya muncul di depan dua gadis itu. Nafasnya terlihat tak bveraturan, seperti habis berlari.
"Loe kenapa, Sat?" tanya Sheryl.
"Gue nyariin loe, ada yang mau gue omongin" jawab Satya.
Sheryl terlihat berpikir sejenak kemudian tersenyum dan memandang penuh arti ke Satya, "Sat, gue minta tolong anterin Elsa ya" pinta Sheryl.
"Tapi kan gue mau ngomong sama loe" ujar Satya.
"Ayo dong Sat, please...tadi gue udah janji nganter Elsa balik tapi gue mau ke perpus nih. Ngomongnya nanti malam aja deh ya" pinta Sheryl setengah memohon.
"Nggak usah, Ryl, gue bisa pulang sendiri" ucap Elsa.
"Ya udah deh, gue anter Elsa, tapi nanti malam gue ke rumah loe" ucap Satya akhirnya meskipun dengan berat hati.
"Tengkyu ya Sat, loe emang sahabat gue yang paliiing baik" ujar Sheryl seraya menepuk-nepuk pundak Satya.
"Kalo ada maunya aja deh loe muji gue" sindir Satya, Sheryl nyengir kuda dan Satya dengan kebiasaan lamanya mengacak-acak rambut Sheryl.
Elsa yang melihat pemandangan itu dari dekat hanya tersenyum, tapi dalam hati dia merasa iri dengan kedekatan Sheryl dan Satya.
Saat Satya dan Elsa pergi, Sheryl menatap mereka dari jauh.
"Mungkin begini lebih baik. Supaya apa yang dikatakan Sherin nggak akan terjadi, karena gue terbiasa dengan loe sebagai sahabat gue, Sat" ucap Sheryl dalam hati. Setelah Elsa dan Satya hilang dari pandangannya, Sheryl melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan.
Dalam hati Elsa merasa senang sekali ketika Satya bersedia mengantarnya pulang. Mereka berdua jalan beriringan, membuat Elsa berharap agar waktu berhenti disini. Sesekali Elsa mencuru-curi pandang ke Satya, tapi sepertinya cowok itu cuek sekali.
"Makasih ya, Sat, loe mau nganterin gue" ucap Elsa dengan tersenyum.
"Iya" sahut Satya singkat.
Sesampainya mereka di parkiran, Satya memberikan helm pada Elsa, dan Elsa menerimanya dengan senang hati. Di tempat yang tak jauh dari situ, seseorang melihat mereka dengan penuh ketidaksukaan.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Riana baru saja keluar dari toilet ketika Lisa dan para pengikutnya menghadangnya.
"Loe yang waktu itu berani permalukan gue di depan umum, kan" ujar Lisa sambil mendorong tubuh Riana hingga gadis itu terpojok di tembok.
"Kalo iya kenapa" sahut Riana tanpa rasa takut sedikitpun.
"Masih berani juga ya loe buka mulut. Loe tau kan posisi loe dimana sekarang" ujar Lisa.
Riana tersenyum mengejek, "Kenapa gue harus takut sama manusia seperti kalian semua. Gue hanya takut sama Allah daripada kalian" sahut Riana tanpa rasa takut.
"Ternyata mulut loe ini perlu diajari ya" ujar Lisa hendak menampar Riana.
Riana menatap dengan tenang, tak adarasa takut sedikitpun bahkan ketika Lisa hendak menamparnya. Untungnya ada seseorang yang menahan tangan Lisa sebelum sampai ke wajah Riana.
"Hentikan semua ini, Lis, ato loe bakal tau akibatnya" ucap seseorang dengan tatapan mata menakutkan.
Lisa terlihat kesal dan melepaskan tangannya dari orang itu.
"Jangan ikut campur urusan gue, Nik" seru Lisa.
"Oh ya, siapa bilang gue nggak berhak?" tanya Niko
"Kenapa sih loe selalu belain dia, emang dia siapa loe sih?" tanya Lisa
"Mau dia siapa gue ato bukan siapa-siapa gue itu bukan urusan loe. Gue minta loe sama temen-temen loe ini pergi sekarang. Dan janagn sampai gue lihat hal ini sekali lagi ato gue bakal bilang ini semua ke Rafa" ujar Niko.
Mendengar ancaman Niko, mau tak mau Lisa dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Kini tinggal Niko dan Riana yang berdua di tempat itu.
"Ngapain sih nolongin gue, gue nggak butuh tau" ujar Riana ketus berniat meninggalkan Niko, tapi cowok itu malah menangkap tangan Riana, menahan gadis itu untuk pergi.
"Gue salut sama keberanian loe. Loe bener-bener cewek pemberani ternyata" ucap Niko sambil terus memegang tangan Riana.
Riana ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Niko tapi rupanya tangan cowok itu begitu kuat memegangnya.
"Mau loe apa sih?" tanya Riana ketus.
"Hmm..mau gue, loe ikut gue, sekarang" jawab Niko langsung menarik Riana pergi tanpa menunggu jawaban apa gadis itu mau ato tidak.
Sherin dan Noura menunggu Riana yang pamit ke toilet, namun sedari tadi belum juga kembali. Noura sedari tadi ribut terus karena yang paling tak sabar menunggu.
"Riana kemana aja sih, ke toilet lama banget" rutuk Noura.
"Sabar dong, Ra, sebentar lagi juga balik Riana" sahut Sherin yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya.
"Tapi nggak biasanya tuh si Riana lama banget kayak gini. Apa gue susul aja kali ya?" tanya Noura.
"Ya udah terserah elo deh, daripada loe ribut terus disini" ucap Sherin.
Noura pun pergi menyusul Riana ke toilet sedangkan Sherin masih bertahan di kantin dengan bukunya, ketika seseorang menutup matanya tiba-tiba dara belakang.
"Siapa ya?" tanya Sherin
"Coba tebak siapa" jawab orang itu.
Sherin tersenyum, mengenali suara itu dan mengenali kebiasaan itu, "Kak Rafa, kan" ucap Sherin.
Orang itu pun membuka tangannya yang menutupi mata Sherin lalu duduk di depan gadis itu.
"Kok bisa tau sih, ah ga seru" ujar Rafa dengan senyum menggoda Sherin.
"Yah tau dong, siapa lagi yang punya kebiasaan seperti itu sejak dulu" sahut Sherin sambil tersenyum.
"Kok sendirian aja, temen kamu yang lain mana?" tanya Rafa.
"Ke toilet Kak, ini juga lagi nunggu mereka" jawab Sherin.
"Kebetulan kalo gitu, aku ada titipan nih buat kamu" ujar Rafa seraya memberikan sebuah undangan.
"Apaan nih, Kak?" tanya Sherin bingung.
"Baca aja, nanti juga kamu bakal ngerti kok" jawab Rafa dengan senyum penuh arti.
Sherin membuka undangan itu, dan membacanya.
Datang ya jam 7 malam ini di taman belakang kampus
- Eza -
"Maksudnya apa nih, Kak?" tanya Sherin tak mengerti.
"Yah, pokoknya kamu datang aja nanti. Sekarang yuk ikut aku" ajak Rafa menarik tangan Sherin.
"Mau kemana sih, Kak, kan Sherin nungguin Riana ma Noura" ucap Sherin.
"Udahlah, kamu smz aja temen-temen kamu kalo kamu balik sama aku" ujar Rafa.
Sherin menurut saja dengan kata-kata Rafa, ia segera membenahi perlengkapannya, memasukkan bukunya ke dalam tas.
Rafa mengajak Sherin ke suatu tempat, dimana dia disuruh memilih gaun yang paling cantik menurut dia.
"Buat apa sih, Kak, sampai ngajak Sherin ke butik?' tanya Sherin penuh tanda tanya.
"Udah nggak perlu banyak tanya ya, sekarang Kak Rafa minta kamu pilih satu gaun yang kamu suka" jawab Rafa penuh senyum.
Sherin mengerutkan keningnya, tanda ia benar-benar heran dengan kelakuan Rafa. Tapi cowok itu malah menyelipkan jari telunjuknya diantara kerutan kening Sherin hingga kerutan itu menghilang.
"Nggak usah bingung. Sekarang kamu tinggal pilih aja, anggap itu permintaan maaf karena aku lama balik tapi nggak kabarin kamu ataupun Sheryl" ujar Rafa dengan senyumnya yang menenangkan.
Akhirnya Sherin setuju dengan alasan Rafa meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia memilih dress warna putih yang simpel tapi terlihat anggun. Rafa meminta Sherin mencoba gaun itu, dan hasilnya benar-benar....membuat Rafa terpana.
"Sepertinya kamu nggak salah pilih gaun itu, Sherin ternyata udah jadi gadis yang cantik ya" puji Rafa yang takjub melihat Sherin yang terlihat cantik mengenakan dress putih itu.
"Makasih, Kak" sahut Sherin tersipu malu dipuji begitu oleh Rafa.
Setelah membayar gaun itu ke kasir, Rafa mengantar Sherin pulang ke rumahnya. Tak lupa ia berpesan pada Sherin untuk datang menurut undangan itu dengan gaun tadi. Sherin mengangguk, mengerti.
Di tempat lain, Sheryl mencari buku literatur untuk tugas dari dosennya. Buku-buku di perpustakaan begitu banyak sehingga Sheryl cukup kesulitan menemukan buku yang ia cari. Dan ketika ia menemukan satu buku dan berniat mengambilnya, tangannya bertumbukkan dengan tangan seseorang.
"Maaf tapi gue dulu yang mau ambil buku ini" ujar Sheryl.
"Gue yang liat buku ini dulu" ujar orang itu.
Mereka berdua pun saling tarik-menarik buku hingga menarik perhatian para pengunjung perpustakaan. Sheryl benar-benar tak mau kalah begitu juga orang itu. Sampai-sampai penjaga perpustakaan menghampiri mereka berdua.
"Maaf ya adik-adik, tolong jangan ribut disini karena mengganggu yang lainnya" ucap si penjaga perpustakaan.
"Maaf ibu, bukannya saya ingin mengganggu, tapi saya yang mau pinjam buku ini dulu" ujar Sheryl tetap mempertahankan sebagian buku itu di tangannya.
"Gue dulu yang lihat buku ini" ujar orang itu juga memepertahankan sebagian buku ditangannya.
"Kenapa kalian nggak pinjam sama-sama aja" ujar penjaga perpus.
"Nggak bisa" ucap mereka berdua kompak lalu saling pandang.
Untuk sesaat Sheryl merasa pernah merasakan kejadian yang sama seperti saat itu, tapi belum sempat Sheryl mengingatnya, handphone Sheryl berbunyi sehingga membuat dia kontan melepaskan buku itu. Yah...Sheryl terpaksa melepaskan buku itu dan menjauh dari perpustakaan untuk mengangkat telepon itu.
"Ya, Rin, ada apa telepon gue?" tanya Sheryl.
"Nanti malem ikut gue ya" jawab Sherin.
"Kemana?" tanya Sheryl lagi.
"Nanti gue jelasin di rumah" jawab Sherin lalu menutup telepon.
"Arrrggghh....kebiasaan deh nih anak. Bikin gue gagal mempertahankan buku itu deh" gerutu Sheryl.
Sheryl berjalan menuju mobilnya, berniat untuk pulang. Ketika di parkiran, seseorang menghampirinya dan menghalangi jalannya.
"Loe lagi, mau apa sih, kan bukunya udah loe dapetin" ujar Sheryl pada orang itu.
Tiba-tiba orang itu menyodorkan buku y6ang tadi diperebutkan di perpustakaan.
"Maksudnya?" tanya Sheryl.
"Ambil nih buku" ujarnya lalu beranjak pergi.
Sheryl merasa bingung dan tak mengerti yang terjadi barusan. Dia pun berteriak pada orang itu.
"Arryaaa...gue nggak tau apa yang ada di pikiran loe, tapi..Terima kasih" teriak Sheryl.
Arya yang berjalan memunggungi Sheryl hanya menganggkat tangan kanannya dan dilambaikan ke udara tanpa melihat Sheryl.
"Cowok yang aneh" batin Sheryl lalu melanjutkan perjalanannya...Go to home... :)
Malamnya, Sheryl menemani Sherin datang ke taman belakang kampus Sherin ditemani Satya juga karena kebetulan saat mereka berdua mau keluar, Satya datang. Jadilah Satya jadi pengawal buat dua gadis kembar ini. hehehe... :p
"Sepi banget, Rin, mana gelap lagi. Loe nggak salah dapet undangan disini?" tanya Sheryl melihat lokasi yang ditunjuk Sherin.
"Nggak salah kok. Kak Eza sendiri yang pernah ngajakin gue kesini" jawab Sherin.
"Loe yakin nggak salah tempat?" tanya Satya coba meyakinkan lagi.
"Nggak salah kok. Bener disini tempatnya" ujar Sherin lalu tiba-tiba lampu-lampu kecil pun menyala perlahan dan membuat tempat yang tadinya gelap menjadi terang oleh lampu warna-warni.
Sherin, Sheryl dan Satya terkejut, tapi benar-benar surprise bagi Sherin. Tempat itu benar-benar indah sekarang. Di depannya telah berdiri Eza, cowok yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
Eza menghampiri Sherin lalu mengulurkan tangannya agar gadis itu menerima uluran tangannya. Sherin melihat pada saudara kembarnya, Sheryl yang tersenyum dan mengangguk setuju padanya. Sherin pun menerima uluran tangan itu, mengikuti Eza yang membawanya ke tempat yang ada lilin-lilin kecil berbentuk hati dan ada taburan kelopak bunga mawar di sekelilingnya.
"Apa maksudnya ini, Kak?" tanya Sherin.
"Maaf ya, kalo aku bikin kamu kaget dan bingung seperti ini. Ini semua juga berkat bantuan sahabat-sahabat aku dan juga sahabat kamu" ujar Eza menunjuk ke arah sebelah kiri yang telah berdiri Rafa, Niko, Riana dan Noura.
"Lalu maksud dari semua ini apa, Kak?" tanya Sherin.
Eza memegang kedua tangan Sherin dan menatap dalam-dalam ke kedua mata gadis itu, "Malam ini, aku ingin jujur sama kamu tentang perasaanku. Aku mencintai kamu, Sherin. Apa kamu bersedia menerima cinta aku?" ucap Eza.
Sherin tersenyum dan tersipu mendengar kata-kata Eza.
Di waktu yang bersamaan, tak jauh dari tempat itu, Satya mengajak Sheryl pergi dari tempat itu.
"Ada apa sih, Sat, kok loe ngajakin gue pergi dari tempat itu?" tanya Sheryl.
"Ada yang ingin gue omongin sama loe, Ryl" ucap Satya.
"Oh iya, tadi siang loe bilang mau ngomong sama gue. Emangnya loe mau ngomong apaan, Sat?" tanya Sheryl.
"Selama ini gue selalu menutupi perasaan ini, gue tau nggak seharusnya gue miliki perasaan ini. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh tanpa bisa gue tahan. Gue sayang loe, Ryl, bukan sebagai sahabat tapi seorang wanita yang ingin gue lindungi" ujar Satya.
Sheryl langsung terdiam mendengar kata-kata Satya. Bibirnya tak mampu berucap apa-apa. Tepat disaat itu, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti di depan mereka.
Inginku, bukan hanya jadi temanmu,
atau sekedar sahabatmu,
yang rajin dengar ceritamu
Tak perlu, hanya kau lihat ketulusan,
yang sebenarnya tak kusangkal,
kadang ku hilang kesabaran
Mungkinkah akan segera mengerti,
seiring jalannya hari,
sungguh ku tergila padamu
Yang ada, bila tak juga kau sadari,
akan ku tempuh banyak cara,
agar engkau tahu (2-3: yakin) semua, mauku
Biarkan, aku untuk jadi kasihmu,
kar’na tak percaya ungkapan,
cinta tak harus memiliki
Terlambat, jika aku harus berubah,
ku terlanjur ingini semua,
yang ada di dalam dirimu
Dan berulang, mencoba,
‘tuk merebut hati dan cintamu
Sadarkah dirimu, sering kau kesalkan aku
bila masih saja kau menyebut namanya
(yovie&nuno_inginku bukan jadi temanmu)
***************************************************************************
bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar