Sabtu, 22 Oktober 2011

TWIN'S LOVE STORY 4






  Sherin dan Sheryl sedang duduk-duduk di taman belakang rumahnya. Sheryl asyik melihat bintang-bintang dengan teleskopnya sedangkan Sherin asyik dengan bukunya. Meski memiliki kesukaan yang berbeda, namun kedua saudara ini saling melengkapi.

            "Rin, loe nggak bosen apa baca buku mulu?" tanya Sheryl
            "Nggak tuh, loe sendiri juga apa nggak bosen liatin bintang mulu?" balas Sherin tanpa mengubah pandangannya yang masih di depan buku..
            "Nggak dong" jawab Sheryl masih terus memandangi bintang-bintang.
            tiba-tiba ponsel Sherin berbunyi.
            "Halo, Selamat malam" ucap Sherin.
            Lama Sherin terdiam kayak orang bego ketika mengetahui siapa yang menelponnya.
            "Kak Eza? Kok kakak bisa tau no telepon aku?" tanya Sherin.
            Entah apa yang dikatakan orang yang diseberang sana tapi sepertinya sesuatu hal yang membuat wajah Sherin bersemu merah. Begitu telepon ditutup, Sherin masih saja nggak berhenti untuk tersenyum, tentu saja hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Sheryl.
            "Barusan telepon dari siapa sih, kayaknya happy bener?" tanya Sheryl.
            "Dari Kak Eza" jawab Sherin sambil senyum-senyum.
            "Hmm...kalo gue nggak salah inget nih, Kak Eza tuh senior yang nolongin elo itu kan?" tanya Sheryl lagi dan dijawab anggukan oleh Sherin.
           "Emangnya ada apa Kak Eza telepon elo?" tanya Sheryl
           "Dia bilang besok mau ngajakin berangkat ke kampus bareng" jawab Sherin.
           "Loe suka ya sama Kak Eza itu?" tanya Sheryl yang langsung bikin wajah Sheryl semakin merah.
           "Apaan sih, mau tau urusan gue aja loe" ujar Sherin menahan perasaannya yang sudah terlihat dengan jelas.
           "Ga usah loe jawab juga gue udah tau kok, kan kita kembar, gue tau apa yang loe rasain sekarang" ujar Sheryl.
           "Loe sendiri gimana sama Satya?" tanya Sherin balik bikin Sheryl kontan menjatuhkan teleskopnya.
           "Tuh kan...gara-gara loe ngomongin masalah itu jadinya jatuh deh teleskop gue" rutuk Sheryl sambil memungut kembali teleskopnya.
           "Yeee...salah sendiri loe nggak hati-hati" sahut Sherin.
           "Gue sama Satya tuh cuma sahabatan aja tau" ucap Sheryl.
           "Iya itu kan menurut loe, tapi kalo orang lain liat kalian, persepsinya beda tau" ujar Sherin
           "Beda gimana maksud loe?" tanya Sheryl nggak mengerti maksud Sherin.
           "Gini nih ya, dimana ada elo pasti disitu ada Satya, kemana-mana kalian pasti berdua. Pasti orang mikirnya kalian pasti ada apa-apanya" jelas Sherin.
           "Tapi kan loe tau sendiri gue ma Satya udah deket sejak kecil. Loe juga deket sama Satya kan" ujar Sheryl
           "Hmm..iya sih tapi loe yang paling deket sama Satya. Emangnya loe nggak punya perasaan sedikitpun ke Satya?" tanya Sherin
            Sheryl terdiam dan terlihat sedang berpikir. Lalu menggeleng, "Ga tau lah gue. Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja" ucap Sheryl.
            "Tapi apa Satya juga anggap loe cuma sekedar sahabatnya aja?" ucap Sherin
            "Maksud loe?" tanya Sheryl lagi.
            "Menurut pandangan gue nih, kayaknya Satya suka deh sama loe" ujar Sherin.
            Sheryl lantas tertawa mendengar ucapan Sherin, "Atas dasar apa loe bilang Satya naksir gue. Gue tau tipe nya Satya gimana, jadi ga mungkinlah" ujar Sheryl.
             "Yah..terserah deh kalo loe ga percaya. Udah ah, gue mau masuk dulu. Besok gue ada kuliah pagi" ucap Sherin yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sheryl masih berada disana memikirkan kata-kata Sherin.
             "Masa iya Satya naksir gue, kayaknya ga mungkin banget...Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat baik gue, nggak pernah terpikir sekalipun buat gue suka sama dia. Gara-gara Sherin nih gue jadi bingung sama perasaan gue" batin Sheryl sebelum akhirnya dia mengikuti Sherin masuk ke dalam.


              Keesokan harinya, Sherin dan Sheryl udah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
              "Jadi loe berangkat bareng si Kak Eza itu?" tanya Sheryl.
              "Iya jadi kok. Loe sendiri bareng Satya lagi?' balas Sherin bertanya.
              "Hmmm...nggak deh, hari ini gue bawa mobil sendiri aja" jawab Sheryl.
              "Kenapa ga bareng Satya, tumben amat?" tanya Sherin sambil memakan rotinya.
              "Nggak pa-pa sih...emangnya ga boleh kalo gue bawa mobil sendiri" jawab Sheryl seraya meleletkan lidah lalu meminum susunya.
              Lalu tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar.
              "Kayaknya gue udah dijemput deh, gue berangkat dulu ya" pamit Sherin melambaikan tangan ke arah Sheryl
              "Oke. Hati-hati yah" sahut Sheryl.
              Tak lama setelah itu Sheryl juga segera berangkat ke kampus dengan mengendarai mobilnya. Sebenarnya bukan tanpa alasan Sheryl memutuskan naik mobil sendiri hari ini. Gara-gara perkataan Sherin semalam, Sheryl jadi merasa ragu pada perasaannya sendiri, dia ingin membuktikan bahwa perasaannya pada Satya hanya sekedar sahabat aja.
              Sheryl mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mendengar kan lagu yang disetel cukup keras. Ketika masuk ke area kampus, mobil Sheryl hendak bertabrakan dengan sebuah motor ninja warna merah. Beruntung Sheryl cepat-cepat mengerem, begitu pula pengendara motor itu.
             Sheryl membuka kaca mobilnya dan bertanya pada si pengendara motor itu, " Loe nggak pa-pa?" tanya Sheryl. Bukannya menjawab pertanyaan Sheryl, tuh orang langsung pergi gitu aja.
             "Orang yang aneh" gumam Sheryl.
            Sheryl pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir dan memarkirkan mobilnya. Sampai di tempat parkir mobil, dia melihat Satya sedang mengobrol dengan seseorang. Sheryl pun segera menghampiri mereka.
           "Hai, Sat, Elsa" sapa Sheryl ceria pada Satya dan juga Elsa.
           Satya tersenyum pada Sheryl, begitu pula Elsa.
           "Kalian pada nungguin gue ya?" tanya Sheryl dengan nada bercanda.
           "Narsis gila loe" ujar Satya hendak mengacak-acak rambut Sheryl, tapi Sheryl menghindar lebih cepat.
           "Eiitsss....loe nggak bisa ngacak-acak rambut gue, Sat" ujar Sheryl sambil tertawa penuh kemenangan.
           Elsa yang juga ada disitu tertawa melihat kelakuan Sheryl dan Satya, lalu kemudian Adit yang baru datang memanggil Satya sehingga Satya pun meninggalkan kedua gadis itu. Sepeninggal Satya, tinggal Sheryl dan Elsa. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kuliah mereka.
            "Loe sama Satya udah sahabatan lama ya?" tanya Elsa
            "Hu'um...gue sama Satya udah temenan sejak TK" jawab Sheryl
            "Loe sama Satya apa ga saling suka?" tanya Elsa lagi
            Sheryl hanya tertawa mendengar pertanyaan Elsa, karena ini bukan pertama kalinya dia mendengar pertanyaan itu, sebelumnya dia mendapatkan pertanyaan itu dari saudara kembarnya sendiri, Sherin.
            "Ga tau deh, selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja kok. Kenapa?" tanya Sheryl balik.
            "Ga pa-pa kok" jawab Elsa
            "Jangan-jangan loe suka ya sama Satya?" tebak Sheryl yang langsung membuat Elsa tertunduk malu dan wajahnya memerah.
            Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan dua gadis itu dari kejauhan dengan penuh senyum.



             Beralih ke tempat Sherin yang baru sampai di kampus bersama Eza, langsung menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang lain.
            "Kak, aku jadi ngerasa nggak enak nih dilihatin sama yang lainnya" ujar Sherin sambil menundukkan kepalanya.
            "Kamu nggak perlu mikirin yang lainnya ya, sebentar juga mereka bakal biasa aja kok" ucap Eza menenangkan.
            Sherin mengangguk dan tersenyum ke Eza.
            "Sherin" panggil seseorang.
             Sherin menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati sahabat-sahabatnya berjalan menghampirinya.
             "Riana, Noura....kalian udah datang ternyata" ujar Sherin.
             "Cieeee...lagi jalan sama siapa tuh..."goda Noura yang membuat Sherin tersipu, sedangkan Eza yang berdiri disamping Sherin hanya tersenyum.
             "Tadi gue nggak liat mobil loe, kirain loe belum datang tadi" ucap Riana.
             "Iya gue nggak bawa mobil tadi, gue bareng Kak Eza, kebetulan rumah kita searah" jelas Sherin
             "Ooo..searah nih rupanya" goda Noura lagi membuat Sherin malu-malu.
             "Kalian udah sarapan?" tanya Eza
             "Belum sih Kak, soalnya tadi berangkatnya buru-buru" sahut Noura blak-blakan bikin Riana mendelik padanya.
             "Hahaha...ya sudah, ke kantin yuk...kan kuliahnya masih setengah jam lagi, itu pun kalo ga molor jamnya" ajak Eza.
            "Ditraktir ga nih, Kak?" tanya Noura bercanda lalu tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Auwwww..." teriak Noura seraya melotot ke arah Riana.
            "Malu-maluin aja loe" ujar Riana pelan.
             Eza hanya tersenyum melihat tingkah Noura dan Riana, sedangkan Sherin mencoba tersenyum menahan malu akibat ulah sahabat-sahabatnya.
              "Udah tenang aja, gue traktir deh" ujar Eza.
              Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kantin. Disana kebetulan ada Niko dan Rafa yang sedang berdiskusi di depan laptop.
              "Hai Raf, Nik" sapa Eza pada dua sahabatnya.
             "Hai, Za. Sama siapa loe?" tanya Niko yang melihat Eza datang tak hanya sendiri.
             "Gue sama adik kelas kita, Ini Sherin dan yang dua itu..." belum sempat Eza memperkenalkan keduanya, Niko sudah menyahut.
             "Riana sama Noura kan?" tanya Niko
             "Iya Kak" sahut Riana dan Noura barengan.
             "Sherin, apa kabar. Sini gabung sama kita" ajak Rafa yang melihat gadis itu berdiri disamping Eza.
             "Iya Kak" sahut Sherin.
             Akhirnya mereka berempat yang baru datang segera bergabung dengan Rafa dan Niko. Keenam orang itu benar-benar menyedot perhatian seluruh penghuni fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, tiga orang mahasiswi baru bisa duduk bersama ketiga orang cowok yang diidolakan di fakultas itu.
           "Gimana kabar orang tua loe Rin, gue kangen main-main lagi sama kalian berdua" ujar Rafa
           "Papa sama Mama baik-baik aja, Kak. Sekarang mereka lagi ke Jepang soalnya Papa ada urusan disana. Kalo Kak Rafa mau, datang aja ke rumah"
           "Oke deh, nanti gue ajak Eza juga ya" ucap Rafa sambil menyenggol lengan Eza yang duduk disampingnya.
           Sherin mengangguk sambil tersenyum.


           Di tempat lain, Sheryl, Satya, Elsa dan Adit cukup serius memperhatikan dosen yang sedang mengajar, tapi konsentrasi Sheryl sempat teralihkan pada seseorang yang duduk di pojok kelas. Orang itu tanpa rasa sungkan sedikitpun tidur di dalam ruang kelas dimana sang dosen sedang mengajar.  Namun, anehnya sang dosen sama sekali tak menegurnya.
          Satya yang duduk disamping Sheryl, menyadari kalau sahabatnya itu memperhatikan seseorang langsung menyenggol lengan Sheryl dan berbisik pelan.
          "Liatin apaan sih?" tanya Satya.
          "Ah...nggak" elak Sheryl.
          "Loe itu nggak bisa bo'ong sama gue. Loe tadi ngeliatin si Arya, kan?" tanya Satya lagi.
          "Sok tau loe, gue nggak liatin apa-apa kok. Justru orang lain tuh yang liatin elo" ujar Sheryl menunjuk ke arah Elsa dengan dagunya.
          Satya menoleh ke arah Elsa, gadis itu langsung kelihatan gugup dan langsung mengalihkan pandangannya.
          "Apaan sih gue tuh lagi bahas elo kok malah bahas yang lain" ujar Satya tapi Sheryl seolah tak mendengar kata-kata Satya dan kembali menyimak dosen.
           Begitu mata kuliah selesai, Sheryl hendak keluar bersama Elsa tapi ditahan oleh Satya.
           "Ada apa sih, Sat?" tanya Sheryl.
           "Gue mau tanya soal tadi, bener loe tadi merhatiin Arya?"  tanya Satya ganti.
           "Mmmm....ga kok, cuma kebetulan aja gue mau nengok ke Elsa pandangan gue lewatin dia" ucap Sheryl mengelak.
            "Oh ya udah kalo gitu" ucap Satya akhirnya meskipun dia yakin kalo tadi Sheryl memperhatikan Arya.
             "Lagian kalo pun gue tadi beneran merhatiin si Arya, emangnya kenapa, kok loe yang ribut sih" ujar Sheryl.
             "Nggak ada apa-apa. Gue cuma khawatir sama loe kalo loe sampai berhubungan sama dia. Soalnya gue denger-denger banyak cewek yang sakit hati gara-gara dia" ujar Satya.
             "Hahaha.....gue kira apaan. Loe tenang aja deh, gue nggak sama kok dengan cewek-cewek yang lain. Loe tau itu kan. Ya udah, Elsa udah nungguin gue nih. Bye, Sat" ucap Sheryl lalu pergi meninggalkan Satya yang masih terdiam ditempat sambil memandang kepergian Sheryl, sahabatnya.
             "Justru karena elo beda dengan cewek-cewek yang lain, makanya gue ingin lindungin loe, Ryl.  Karena entah sejak kapan, loe nggak hanya sekedar sahabat buat gue" gumam Satya yang terus memandangi punggung Sheryl hingga akhirnya gadis itu hilang dari pandangan matanya.


             Malamnya, Rafa memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Sherin dan Sheryl. Tapi dia tak sendirian, melainkan bersama dua orang lainnya. Sherin yang membuka pintu pertama kali merasa senang karena salah satu diantara mereka ada Eza. Mereka pun dipersilahkan masuk.
            "Sebentar ya, Kak, Sherin panggil Sheryl dulu" ucap Sherin lalu segera pergi memanggil Sheryl, kembarannya.
            Tak lama kemudian Sherin kembali bersama Sheryl yang kelihatan ogah-ogahan awalnya. Tapi begitu melihat siapa yang datang, dia langsung tersenyum lebar.
            "Kak Rafa" teriak Sheryl senang.
            "Hai Ryl, apa kabar?" tanya Rafa.
            "Kok Kak Rafa ada disini, kapan balik dari Aussie Kak?" tanya Sheryl penasaran.
            "Gue balik 2 tahun yang lalu, sekarang gue kuliah di Universitas yang sama dengan kalian. Gue kakak kelasnya Sherin" terang Rafa.
            "Oh ya? Kok Sherin ga pernah cerita ke gue sih" ujar Sheryl sambil melihat ke arah Sherin.
           "Iya maaf gue lupa" sahut Sherin yang mengerti protes saudari kembarnya itu.
           Sheryl yang tadinya hanya memperhatikan Rafa, kini melihat disamping Rafa ternyata ada dua orang lainnya. Salah satu yang dikenalinya adalah Eza, dan satu lagi seperti tak asing untuknya.
            "Lho, kamu Arya kan?" tanya Sheryl ke cowok yang duduk di samping kiri Rafa.
           Cowok itu pun menoleh begitu namanya disebut tapi pandangannya benar-benar flat, datar, tak berekspresi.
           "Loe udah kenal ternyata, ini sepupu gue, Arya. Dia juga kuliah di universitas yang sama tapi di Fakultas Ekonomi" ujar Rafa memperkenalkan.
           "Iya Kak, dia teman sekelas Sheryl di beberapa mata kuliah" sahut Sheryl.
           Kemudian mereka berlima pun terlibat pembicaraan, Sherin terlihat begitu senang bicara dengan Eza, sedangkan Sheryl seru mengobrol dengan Rafa dan tak jarang pula dia memperhatikan Arya yang lebih banyak diam. Hal ini membuat Sheryl benar-benar merasa penasaran pada cowok itu

********************************************************************************************
bersambung....

2 komentar: