Kamis, 27 Oktober 2011

My Tears

Kau hadir sebagai penyejuk jiwa
Di kala ku sendiri di kehampaan
Kata-katamu mampu meyakinkanku
Membuatku berfikir kebahagian itu nyata

hari berganti hari....
Bahkan bulan tlah berganti tahun...
Kebahagiaan itu masih kurasakan sempurna
Dan harapku sampai tiba waktunya kita dipersatukan Tuhan

Badai pun datang dalam hubungan kita
Kebohongan demi kebohongan kau tuturkan tuk sakitiku
Namun ku coba untuk bertahan demi cinta ini

kucoba bersabar, menahan perih yang kau ciptakan
Berharap suatu saat kau akan berubah
Tapi malah kau meninggalkanku tanpa perasaan
Dengan kata-kata yang paling menyakitkan

Dalam setiap doa kuteteskan airmata
Memohon pada Tuhan agar engkau kembali
Berharap ini hanya mimpi...
Cobaan yang sesaat untuk cinta kita

Kau menyalahkanku karena kepergianmu
Berjuta alasan kau buat akulah yang bersalah dimatamu
Dan baru kutahu kau lakukan itu karena kau tlah memiliki yang lain
Kau buat hati ini hancur berkeping-keping

Kau sia-siakan perasaanku yang tulus untukmu
Kau sia-siakan pengorbanan yang telah kulakukan
Kau buang aku seperti sampah
Tak berharga, tak berguna dan tak berarti

Aku menangis mengingatmu...
sekejam itukah dirimu..
Melupakan janji-janji yang kau ucapkan
Mengingkari segalanya
Menipu seluruh dunia dengan kebaikan semu

Bahagia diimu bersamanya
Namun kau bayar semua itu dengan airmataku
Tapi ingatlah cintaku....
Suatu saat ketika airmata ini mengering
Tuhan akan menggantinya dengan airmatamu..

TWIN'S LOVE STORY 5



        Elsa baru saja membereskan perlengkapan kuliahnya dan hendak keluar dari ruang kuliahnya, ketika Adit menghampirinya.
       "Mau pulang, Sa?" tanya Adit.
       "Iya" jawab Elsa singkat
       "Boleh nggak gue nganter loe pulang?" tanya Adit lagi.
       "Mmm...Dit, tapi gue udah janji pulang bareng Sheryl" jawabnya.
        Adit terlihat kecewa, lalu entah darimana datangnya duo cukem tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua.
        "Ehemmm...kayaknya tadi ada yang nawarin tebengan nih" ujar si Deka
        "Yo'i my brother. Boleh dong kita berdua ikut" sahut Deki sambil merangkul pundak Adit.
        "Ogah gue kalo kalian ikutan. Mending gue nebengin orang utan daripada kalian berdua" ujar Adit seraya melepaskan tangan Deki dari pundaknya.
        "Hmmm...baru tau gue kalo loe sukanya bergaul sama orang utan. Bener-bener nggak nyangka gue, Dit" ucap Deka sambil geleng-geleng kepala diikuti Deki juga. Elsa pun tertawa mendengar kata-kata Deka barusan namun ia berusaha menahannya.
        "Udah ah, bisa-bisa gue ikutan gila kayak loe berdua nanti kalo gue lama-lama disini. Gue balik ya, Sa" ujar Adit yang kemudian pergi meninggalkan Elsa dan duo cukem, Deka & Deki.
        "Yee...tuh anak sembarangan aja ya kalo ngomong, masa kita dibilang gila. Dia kali yang gila" ucap Deki ke Deka.
        "Iya tuh, nggak tau apa kalo kita ini cowok-cowok keren masak dibilang gila" sahut Deka.
        "Hahaha...kalian narsis banget sih" sahut Elsa yang langsung tertawa begitu mendengar celotehan Deka-Deki
        "Eh...ada Elsa" ucap Deka seolah baru menyadari kehadiran Elsa.
        "Kayaknya daritadi gue udah disini deh, kalian ini rabun ato katarak sih?" ujar Elsa nyengir kuda.
        "Hahaha..just kidding Elsa, jangan esmosi gitu ah, nanti cantiknya hilang loh" ucap Deki menggoda Elsa.
        "Kayaknya Adit bener deh, kalo gue disini lama-lama sama kalian, bisa-bisa gue jadi gila. Udah ah, gue mau balik" ujar Elsa sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum dan hendak pergi.
       "Yah..Elsa kok ngambek sih" ucap Deki.
        "Kan kita cuma bercanda" lanjut Deka.
        "Bercandanya lain kali aja yah, gue udah ditungguin Sheryl nih. Bye..." ujar Elsa melambaikan tangan ke Deka-Deki.

       Elsa  segera  menghampiri Sheryl yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa teman sekelas mereka.
       "Lagi ngomongin apaan sih?" tanya Elsa bergabung dengan teman-temannya.
       "Nih lagi bahas materi kuliah tadi, kan kita disuruh cari di buku tentang prinsip-prinsip Akuntansii" jawab  Sheryl
       "Hmm...ada yang punya buku literaturnya ga?" tanya salah seorang teman Sheryl.
       "Katanya di perpustakaan banyak. Coba aja kesana" ujar salah satu dari mereka.
       "Oke deh, thanks ya infonya" ucap Sheryl.
       Sheryl dan Elsa berniat ke perpustakaan Fakultas, tapi ditengah perjalanan Elsa mendapat telepon dari Mamanya yang meminta agar Elsa cepat pulang.
        "Ryl, gue pulang dulu ya, nyokap gue minta gue pulang sekarang" ucap Elsa.
         "Ya udah gue anter" ujar Sheryl.
         "Nggak usah, Ryl, loe ke perpus aja, gue balik sendiri. Oh iya, nanti gue pinjem dari loe bukunya ya" pinta Elsa.
         "Oke deh...tapi Sa, kan loe lagi ga bawa mobil. Loe pulangnya gimana?" tanya Sheryl
         "Gampanglah, nanti gue naik taksi aja" jawab Elsa.
         Lalu entah darimana datangnya, Satya muncul di depan dua gadis itu. Nafasnya terlihat tak bveraturan, seperti habis berlari.
         "Loe kenapa, Sat?" tanya Sheryl.
         "Gue nyariin loe, ada yang mau gue omongin" jawab Satya.
         Sheryl terlihat berpikir sejenak kemudian tersenyum dan memandang penuh arti ke Satya, "Sat, gue minta tolong anterin Elsa ya" pinta Sheryl.
         "Tapi kan gue mau ngomong sama loe" ujar Satya.
         "Ayo dong Sat, please...tadi gue udah janji nganter Elsa balik tapi gue mau ke perpus nih. Ngomongnya nanti malam aja deh ya" pinta Sheryl setengah memohon.
         "Nggak usah, Ryl, gue bisa pulang sendiri" ucap Elsa.
         "Ya udah deh, gue anter Elsa, tapi nanti malam gue ke rumah loe" ucap Satya akhirnya meskipun dengan berat hati.
          "Tengkyu ya Sat, loe emang sahabat gue yang paliiing baik" ujar Sheryl seraya menepuk-nepuk pundak Satya.
          "Kalo ada maunya aja deh loe muji gue" sindir Satya, Sheryl nyengir kuda dan Satya dengan kebiasaan lamanya mengacak-acak rambut Sheryl.
          Elsa yang melihat pemandangan itu dari dekat hanya tersenyum, tapi dalam hati dia merasa iri dengan kedekatan Sheryl dan Satya.
          Saat Satya dan Elsa pergi, Sheryl menatap mereka dari jauh.
          "Mungkin begini lebih baik. Supaya apa yang dikatakan Sherin nggak akan terjadi, karena gue terbiasa dengan loe sebagai sahabat gue, Sat" ucap Sheryl dalam hati. Setelah Elsa dan Satya hilang dari pandangannya, Sheryl melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan.


          Dalam hati Elsa merasa senang sekali ketika Satya bersedia mengantarnya pulang. Mereka berdua jalan beriringan, membuat Elsa berharap agar waktu berhenti disini. Sesekali Elsa mencuru-curi pandang ke Satya, tapi sepertinya cowok itu cuek sekali.
          "Makasih ya, Sat, loe mau nganterin gue" ucap Elsa dengan tersenyum.
          "Iya" sahut Satya singkat.
          Sesampainya mereka di parkiran, Satya memberikan helm pada Elsa, dan Elsa menerimanya dengan senang hati. Di tempat yang tak jauh dari situ, seseorang melihat mereka dengan penuh ketidaksukaan.


           Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Riana baru saja keluar dari toilet ketika Lisa dan para pengikutnya menghadangnya.
          "Loe yang waktu itu berani permalukan gue di depan umum, kan" ujar Lisa sambil mendorong tubuh Riana hingga gadis itu terpojok di tembok.
          "Kalo iya kenapa" sahut Riana tanpa rasa takut sedikitpun.
          "Masih berani juga ya loe buka mulut. Loe tau kan posisi loe dimana sekarang" ujar Lisa.
          Riana tersenyum mengejek, "Kenapa gue harus takut sama manusia seperti kalian semua. Gue hanya takut sama Allah daripada kalian" sahut Riana tanpa rasa takut.
          "Ternyata mulut loe ini perlu diajari ya" ujar Lisa hendak menampar Riana.
          Riana menatap dengan tenang, tak adarasa takut sedikitpun bahkan ketika Lisa hendak menamparnya. Untungnya ada seseorang yang menahan tangan Lisa sebelum sampai ke wajah Riana.
          "Hentikan semua ini, Lis, ato loe bakal tau akibatnya" ucap seseorang dengan tatapan mata menakutkan.
          Lisa terlihat kesal dan melepaskan tangannya dari orang itu.
          "Jangan ikut campur urusan gue, Nik" seru Lisa.
          "Oh ya, siapa bilang gue nggak berhak?" tanya Niko
          "Kenapa sih loe selalu belain dia, emang dia siapa loe sih?" tanya Lisa
          "Mau dia siapa gue ato bukan siapa-siapa gue itu bukan urusan loe. Gue minta loe sama temen-temen loe ini pergi sekarang. Dan janagn sampai gue lihat hal ini sekali lagi ato gue bakal bilang ini semua ke Rafa" ujar Niko.
           Mendengar ancaman Niko, mau tak mau Lisa dan teman-temannya pergi dari tempat itu. Kini tinggal Niko dan Riana yang berdua di tempat itu.
          "Ngapain sih nolongin gue, gue nggak butuh tau" ujar Riana ketus berniat meninggalkan Niko, tapi cowok itu malah menangkap tangan Riana, menahan gadis itu untuk pergi.
          "Gue salut sama keberanian loe. Loe bener-bener cewek pemberani ternyata" ucap Niko sambil terus memegang tangan Riana.
         Riana ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Niko tapi rupanya tangan cowok itu begitu kuat memegangnya.
        "Mau loe apa sih?" tanya Riana ketus.
        "Hmm..mau gue, loe ikut gue, sekarang" jawab Niko langsung menarik Riana pergi tanpa menunggu jawaban apa gadis itu mau ato tidak.


         Sherin dan Noura menunggu Riana yang pamit ke toilet, namun sedari tadi belum juga kembali. Noura sedari tadi ribut terus karena yang paling tak sabar menunggu.
         "Riana kemana aja sih, ke toilet lama banget" rutuk Noura.
         "Sabar dong, Ra, sebentar lagi juga balik Riana" sahut Sherin yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya.
        "Tapi nggak biasanya tuh si Riana lama banget kayak gini. Apa gue susul aja kali ya?" tanya Noura.
        "Ya udah terserah elo deh, daripada loe ribut terus disini" ucap Sherin.
        Noura pun pergi menyusul Riana ke toilet sedangkan Sherin masih bertahan di kantin dengan bukunya, ketika seseorang menutup matanya tiba-tiba dara belakang.
        "Siapa ya?" tanya Sherin
        "Coba tebak siapa" jawab orang itu.
        Sherin tersenyum, mengenali suara itu dan mengenali kebiasaan itu, "Kak Rafa, kan" ucap Sherin.
        Orang itu pun membuka tangannya yang menutupi mata Sherin lalu duduk di depan gadis itu.
        "Kok bisa tau sih, ah ga seru" ujar Rafa dengan senyum menggoda Sherin.
        "Yah tau dong, siapa lagi yang punya kebiasaan seperti itu sejak dulu" sahut Sherin sambil tersenyum.
         "Kok sendirian aja, temen kamu yang lain mana?" tanya Rafa.
         "Ke toilet Kak, ini juga lagi nunggu mereka" jawab Sherin.
         "Kebetulan kalo gitu, aku ada titipan nih buat kamu" ujar Rafa seraya memberikan sebuah undangan.
         "Apaan nih, Kak?" tanya Sherin bingung.
         "Baca aja, nanti juga kamu bakal ngerti kok" jawab Rafa dengan senyum penuh arti.
         Sherin membuka undangan itu, dan membacanya.


                    Datang ya jam 7 malam ini di taman belakang kampus
                                                        - Eza -


         "Maksudnya apa nih, Kak?" tanya Sherin tak mengerti.
         "Yah, pokoknya kamu datang aja nanti. Sekarang yuk ikut aku" ajak Rafa menarik tangan Sherin.
         "Mau kemana sih, Kak, kan Sherin nungguin Riana ma Noura" ucap Sherin.
         "Udahlah, kamu smz aja temen-temen kamu kalo kamu balik sama aku" ujar Rafa.
         Sherin menurut saja dengan kata-kata Rafa, ia segera membenahi perlengkapannya, memasukkan bukunya ke dalam tas.
         Rafa mengajak Sherin ke suatu tempat, dimana dia disuruh memilih gaun yang paling cantik menurut dia.
         "Buat apa sih, Kak, sampai ngajak Sherin ke butik?' tanya Sherin penuh tanda tanya.
         "Udah nggak perlu banyak tanya ya, sekarang Kak Rafa minta kamu pilih satu gaun yang kamu suka" jawab Rafa penuh senyum.
         Sherin mengerutkan keningnya, tanda ia benar-benar heran dengan kelakuan Rafa. Tapi cowok itu malah menyelipkan jari telunjuknya diantara kerutan kening Sherin hingga kerutan itu menghilang.
         "Nggak usah bingung. Sekarang kamu tinggal pilih aja, anggap itu permintaan maaf karena aku lama balik tapi nggak kabarin kamu ataupun Sheryl" ujar Rafa dengan senyumnya yang menenangkan.
         Akhirnya Sherin setuju dengan alasan Rafa meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia memilih dress warna putih yang simpel tapi terlihat anggun. Rafa meminta Sherin mencoba gaun itu, dan hasilnya benar-benar....membuat Rafa terpana.
         "Sepertinya kamu nggak salah pilih  gaun itu, Sherin ternyata udah jadi gadis yang cantik ya" puji Rafa yang takjub melihat Sherin yang terlihat cantik mengenakan dress putih itu.
         "Makasih, Kak" sahut Sherin tersipu malu dipuji begitu oleh Rafa.
         Setelah membayar gaun itu ke kasir, Rafa mengantar Sherin pulang ke rumahnya. Tak lupa ia berpesan pada Sherin untuk datang menurut undangan itu dengan gaun tadi. Sherin mengangguk, mengerti.



          Di tempat lain, Sheryl mencari buku literatur untuk tugas dari dosennya. Buku-buku di perpustakaan begitu banyak sehingga Sheryl cukup kesulitan menemukan buku yang ia cari. Dan ketika ia menemukan satu buku dan berniat mengambilnya, tangannya bertumbukkan dengan tangan seseorang.
          "Maaf tapi gue dulu yang mau ambil buku ini" ujar Sheryl.
          "Gue yang liat buku ini dulu" ujar orang itu.
          Mereka berdua pun saling tarik-menarik buku hingga menarik perhatian para pengunjung perpustakaan. Sheryl benar-benar tak mau kalah begitu juga orang itu. Sampai-sampai penjaga perpustakaan menghampiri mereka berdua.
          "Maaf ya adik-adik, tolong jangan ribut disini karena mengganggu yang lainnya" ucap si penjaga perpustakaan.
          "Maaf ibu, bukannya saya ingin mengganggu, tapi saya yang mau pinjam buku ini dulu" ujar Sheryl tetap mempertahankan sebagian buku itu di tangannya.
          "Gue dulu yang lihat buku ini" ujar orang itu juga memepertahankan sebagian buku ditangannya.
          "Kenapa kalian nggak pinjam sama-sama aja" ujar penjaga perpus.
          "Nggak bisa" ucap mereka berdua kompak lalu saling pandang.
          Untuk sesaat Sheryl merasa pernah merasakan kejadian yang sama seperti saat itu, tapi belum sempat Sheryl mengingatnya, handphone Sheryl berbunyi sehingga membuat dia kontan melepaskan buku itu. Yah...Sheryl terpaksa melepaskan buku itu dan menjauh dari perpustakaan untuk mengangkat telepon itu.
          "Ya, Rin, ada apa telepon gue?" tanya Sheryl.
          "Nanti malem ikut gue ya" jawab Sherin.
          "Kemana?" tanya Sheryl lagi.
          "Nanti gue jelasin di rumah" jawab Sherin lalu menutup telepon.
          "Arrrggghh....kebiasaan deh nih anak. Bikin gue gagal mempertahankan buku itu deh" gerutu Sheryl.
          Sheryl berjalan menuju mobilnya, berniat untuk pulang. Ketika di parkiran, seseorang menghampirinya dan menghalangi jalannya.
          "Loe lagi, mau apa sih, kan bukunya udah loe dapetin" ujar Sheryl pada orang itu.
          Tiba-tiba orang itu menyodorkan buku y6ang tadi diperebutkan di perpustakaan.
          "Maksudnya?" tanya Sheryl.
          "Ambil nih buku" ujarnya lalu beranjak pergi.
          Sheryl merasa bingung dan tak mengerti yang terjadi barusan. Dia pun berteriak pada  orang itu.
          "Arryaaa...gue nggak tau apa yang ada di pikiran loe, tapi..Terima kasih" teriak Sheryl.
          Arya yang berjalan memunggungi Sheryl hanya menganggkat tangan kanannya dan dilambaikan ke udara tanpa melihat Sheryl.
           "Cowok yang aneh" batin Sheryl lalu melanjutkan perjalanannya...Go to home... :)


          Malamnya, Sheryl menemani Sherin datang ke taman belakang kampus Sherin ditemani Satya juga karena kebetulan saat mereka berdua mau keluar, Satya datang. Jadilah Satya jadi pengawal buat dua gadis kembar ini. hehehe... :p
          "Sepi banget, Rin, mana gelap lagi. Loe nggak salah dapet undangan disini?" tanya Sheryl melihat lokasi yang ditunjuk Sherin.
         "Nggak salah kok. Kak Eza sendiri yang pernah ngajakin gue kesini" jawab Sherin.
         "Loe yakin nggak salah tempat?" tanya Satya coba meyakinkan lagi.
         "Nggak salah kok. Bener disini tempatnya" ujar Sherin lalu tiba-tiba lampu-lampu kecil pun menyala perlahan dan membuat tempat yang tadinya gelap menjadi terang oleh lampu warna-warni.
         Sherin, Sheryl dan Satya terkejut, tapi benar-benar surprise bagi Sherin. Tempat itu benar-benar indah sekarang. Di depannya telah berdiri Eza, cowok yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
        Eza menghampiri Sherin lalu mengulurkan tangannya agar gadis itu menerima uluran tangannya. Sherin melihat pada saudara kembarnya, Sheryl yang tersenyum dan mengangguk setuju padanya. Sherin pun menerima uluran tangan itu, mengikuti Eza yang membawanya ke tempat yang ada lilin-lilin kecil berbentuk hati dan ada taburan kelopak bunga mawar di sekelilingnya.
        "Apa maksudnya ini, Kak?" tanya Sherin.
        "Maaf ya, kalo aku bikin kamu kaget dan bingung seperti ini. Ini semua juga berkat bantuan sahabat-sahabat aku dan juga sahabat kamu" ujar Eza menunjuk ke arah sebelah kiri yang telah berdiri Rafa, Niko, Riana dan Noura.
         "Lalu maksud dari semua ini apa, Kak?" tanya Sherin.
        Eza memegang kedua tangan Sherin dan menatap dalam-dalam ke kedua mata gadis itu, "Malam ini, aku ingin jujur sama kamu tentang perasaanku. Aku mencintai kamu, Sherin. Apa kamu bersedia menerima cinta aku?" ucap Eza.
        Sherin tersenyum dan tersipu mendengar kata-kata Eza.


         Di waktu yang bersamaan, tak jauh dari tempat itu, Satya mengajak Sheryl pergi dari tempat itu.
         "Ada apa sih, Sat, kok loe ngajakin gue pergi dari tempat itu?" tanya Sheryl.
         "Ada yang ingin gue omongin sama loe, Ryl" ucap Satya.
         "Oh iya, tadi siang loe bilang mau ngomong sama gue. Emangnya loe mau ngomong apaan, Sat?" tanya Sheryl.
         "Selama ini gue selalu menutupi perasaan ini, gue tau nggak seharusnya gue miliki perasaan ini. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh tanpa bisa gue tahan. Gue sayang loe, Ryl, bukan sebagai sahabat tapi seorang wanita yang ingin gue lindungi" ujar Satya.
         Sheryl langsung terdiam mendengar kata-kata Satya. Bibirnya tak mampu berucap apa-apa. Tepat disaat itu, sebuah sepeda motor ninja merah berhenti di depan mereka.


                         Inginku, bukan hanya jadi temanmu,
                         atau sekedar sahabatmu,
                         yang rajin dengar ceritamu
                         Tak perlu, hanya kau lihat ketulusan,
                         yang sebenarnya tak kusangkal,
                         kadang ku hilang kesabaran


                         Mungkinkah akan segera mengerti,
                         seiring jalannya hari,
                         sungguh ku tergila padamu
                         Yang ada, bila tak juga kau sadari,
                         akan ku tempuh banyak cara,
                         agar engkau tahu (2-3: yakin) semua, mauku

                         Biarkan, aku untuk jadi kasihmu,
                         kar’na tak percaya ungkapan,
                         cinta tak harus memiliki
                         Terlambat, jika aku harus berubah,
                         ku terlanjur ingini semua,
                         yang ada di dalam dirimu

                        Dan berulang, mencoba,
                        ‘tuk merebut hati dan cintamu
                        Sadarkah dirimu, sering kau kesalkan aku
                        bila masih saja kau menyebut namanya
                       (yovie&nuno_inginku bukan jadi temanmu)


***************************************************************************

bersambung

Sabtu, 22 Oktober 2011

TWIN'S LOVE STORY 4






  Sherin dan Sheryl sedang duduk-duduk di taman belakang rumahnya. Sheryl asyik melihat bintang-bintang dengan teleskopnya sedangkan Sherin asyik dengan bukunya. Meski memiliki kesukaan yang berbeda, namun kedua saudara ini saling melengkapi.

            "Rin, loe nggak bosen apa baca buku mulu?" tanya Sheryl
            "Nggak tuh, loe sendiri juga apa nggak bosen liatin bintang mulu?" balas Sherin tanpa mengubah pandangannya yang masih di depan buku..
            "Nggak dong" jawab Sheryl masih terus memandangi bintang-bintang.
            tiba-tiba ponsel Sherin berbunyi.
            "Halo, Selamat malam" ucap Sherin.
            Lama Sherin terdiam kayak orang bego ketika mengetahui siapa yang menelponnya.
            "Kak Eza? Kok kakak bisa tau no telepon aku?" tanya Sherin.
            Entah apa yang dikatakan orang yang diseberang sana tapi sepertinya sesuatu hal yang membuat wajah Sherin bersemu merah. Begitu telepon ditutup, Sherin masih saja nggak berhenti untuk tersenyum, tentu saja hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Sheryl.
            "Barusan telepon dari siapa sih, kayaknya happy bener?" tanya Sheryl.
            "Dari Kak Eza" jawab Sherin sambil senyum-senyum.
            "Hmm...kalo gue nggak salah inget nih, Kak Eza tuh senior yang nolongin elo itu kan?" tanya Sheryl lagi dan dijawab anggukan oleh Sherin.
           "Emangnya ada apa Kak Eza telepon elo?" tanya Sheryl
           "Dia bilang besok mau ngajakin berangkat ke kampus bareng" jawab Sherin.
           "Loe suka ya sama Kak Eza itu?" tanya Sheryl yang langsung bikin wajah Sheryl semakin merah.
           "Apaan sih, mau tau urusan gue aja loe" ujar Sherin menahan perasaannya yang sudah terlihat dengan jelas.
           "Ga usah loe jawab juga gue udah tau kok, kan kita kembar, gue tau apa yang loe rasain sekarang" ujar Sheryl.
           "Loe sendiri gimana sama Satya?" tanya Sherin balik bikin Sheryl kontan menjatuhkan teleskopnya.
           "Tuh kan...gara-gara loe ngomongin masalah itu jadinya jatuh deh teleskop gue" rutuk Sheryl sambil memungut kembali teleskopnya.
           "Yeee...salah sendiri loe nggak hati-hati" sahut Sherin.
           "Gue sama Satya tuh cuma sahabatan aja tau" ucap Sheryl.
           "Iya itu kan menurut loe, tapi kalo orang lain liat kalian, persepsinya beda tau" ujar Sherin
           "Beda gimana maksud loe?" tanya Sheryl nggak mengerti maksud Sherin.
           "Gini nih ya, dimana ada elo pasti disitu ada Satya, kemana-mana kalian pasti berdua. Pasti orang mikirnya kalian pasti ada apa-apanya" jelas Sherin.
           "Tapi kan loe tau sendiri gue ma Satya udah deket sejak kecil. Loe juga deket sama Satya kan" ujar Sheryl
           "Hmm..iya sih tapi loe yang paling deket sama Satya. Emangnya loe nggak punya perasaan sedikitpun ke Satya?" tanya Sherin
            Sheryl terdiam dan terlihat sedang berpikir. Lalu menggeleng, "Ga tau lah gue. Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja" ucap Sheryl.
            "Tapi apa Satya juga anggap loe cuma sekedar sahabatnya aja?" ucap Sherin
            "Maksud loe?" tanya Sheryl lagi.
            "Menurut pandangan gue nih, kayaknya Satya suka deh sama loe" ujar Sherin.
            Sheryl lantas tertawa mendengar ucapan Sherin, "Atas dasar apa loe bilang Satya naksir gue. Gue tau tipe nya Satya gimana, jadi ga mungkinlah" ujar Sheryl.
             "Yah..terserah deh kalo loe ga percaya. Udah ah, gue mau masuk dulu. Besok gue ada kuliah pagi" ucap Sherin yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sheryl masih berada disana memikirkan kata-kata Sherin.
             "Masa iya Satya naksir gue, kayaknya ga mungkin banget...Selama ini gue cuma anggap Satya sahabat baik gue, nggak pernah terpikir sekalipun buat gue suka sama dia. Gara-gara Sherin nih gue jadi bingung sama perasaan gue" batin Sheryl sebelum akhirnya dia mengikuti Sherin masuk ke dalam.


              Keesokan harinya, Sherin dan Sheryl udah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
              "Jadi loe berangkat bareng si Kak Eza itu?" tanya Sheryl.
              "Iya jadi kok. Loe sendiri bareng Satya lagi?' balas Sherin bertanya.
              "Hmmm...nggak deh, hari ini gue bawa mobil sendiri aja" jawab Sheryl.
              "Kenapa ga bareng Satya, tumben amat?" tanya Sherin sambil memakan rotinya.
              "Nggak pa-pa sih...emangnya ga boleh kalo gue bawa mobil sendiri" jawab Sheryl seraya meleletkan lidah lalu meminum susunya.
              Lalu tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari arah luar.
              "Kayaknya gue udah dijemput deh, gue berangkat dulu ya" pamit Sherin melambaikan tangan ke arah Sheryl
              "Oke. Hati-hati yah" sahut Sheryl.
              Tak lama setelah itu Sheryl juga segera berangkat ke kampus dengan mengendarai mobilnya. Sebenarnya bukan tanpa alasan Sheryl memutuskan naik mobil sendiri hari ini. Gara-gara perkataan Sherin semalam, Sheryl jadi merasa ragu pada perasaannya sendiri, dia ingin membuktikan bahwa perasaannya pada Satya hanya sekedar sahabat aja.
              Sheryl mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mendengar kan lagu yang disetel cukup keras. Ketika masuk ke area kampus, mobil Sheryl hendak bertabrakan dengan sebuah motor ninja warna merah. Beruntung Sheryl cepat-cepat mengerem, begitu pula pengendara motor itu.
             Sheryl membuka kaca mobilnya dan bertanya pada si pengendara motor itu, " Loe nggak pa-pa?" tanya Sheryl. Bukannya menjawab pertanyaan Sheryl, tuh orang langsung pergi gitu aja.
             "Orang yang aneh" gumam Sheryl.
            Sheryl pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir dan memarkirkan mobilnya. Sampai di tempat parkir mobil, dia melihat Satya sedang mengobrol dengan seseorang. Sheryl pun segera menghampiri mereka.
           "Hai, Sat, Elsa" sapa Sheryl ceria pada Satya dan juga Elsa.
           Satya tersenyum pada Sheryl, begitu pula Elsa.
           "Kalian pada nungguin gue ya?" tanya Sheryl dengan nada bercanda.
           "Narsis gila loe" ujar Satya hendak mengacak-acak rambut Sheryl, tapi Sheryl menghindar lebih cepat.
           "Eiitsss....loe nggak bisa ngacak-acak rambut gue, Sat" ujar Sheryl sambil tertawa penuh kemenangan.
           Elsa yang juga ada disitu tertawa melihat kelakuan Sheryl dan Satya, lalu kemudian Adit yang baru datang memanggil Satya sehingga Satya pun meninggalkan kedua gadis itu. Sepeninggal Satya, tinggal Sheryl dan Elsa. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kuliah mereka.
            "Loe sama Satya udah sahabatan lama ya?" tanya Elsa
            "Hu'um...gue sama Satya udah temenan sejak TK" jawab Sheryl
            "Loe sama Satya apa ga saling suka?" tanya Elsa lagi
            Sheryl hanya tertawa mendengar pertanyaan Elsa, karena ini bukan pertama kalinya dia mendengar pertanyaan itu, sebelumnya dia mendapatkan pertanyaan itu dari saudara kembarnya sendiri, Sherin.
            "Ga tau deh, selama ini gue cuma anggap Satya sahabat aja kok. Kenapa?" tanya Sheryl balik.
            "Ga pa-pa kok" jawab Elsa
            "Jangan-jangan loe suka ya sama Satya?" tebak Sheryl yang langsung membuat Elsa tertunduk malu dan wajahnya memerah.
            Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan dua gadis itu dari kejauhan dengan penuh senyum.



             Beralih ke tempat Sherin yang baru sampai di kampus bersama Eza, langsung menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang lain.
            "Kak, aku jadi ngerasa nggak enak nih dilihatin sama yang lainnya" ujar Sherin sambil menundukkan kepalanya.
            "Kamu nggak perlu mikirin yang lainnya ya, sebentar juga mereka bakal biasa aja kok" ucap Eza menenangkan.
            Sherin mengangguk dan tersenyum ke Eza.
            "Sherin" panggil seseorang.
             Sherin menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati sahabat-sahabatnya berjalan menghampirinya.
             "Riana, Noura....kalian udah datang ternyata" ujar Sherin.
             "Cieeee...lagi jalan sama siapa tuh..."goda Noura yang membuat Sherin tersipu, sedangkan Eza yang berdiri disamping Sherin hanya tersenyum.
             "Tadi gue nggak liat mobil loe, kirain loe belum datang tadi" ucap Riana.
             "Iya gue nggak bawa mobil tadi, gue bareng Kak Eza, kebetulan rumah kita searah" jelas Sherin
             "Ooo..searah nih rupanya" goda Noura lagi membuat Sherin malu-malu.
             "Kalian udah sarapan?" tanya Eza
             "Belum sih Kak, soalnya tadi berangkatnya buru-buru" sahut Noura blak-blakan bikin Riana mendelik padanya.
             "Hahaha...ya sudah, ke kantin yuk...kan kuliahnya masih setengah jam lagi, itu pun kalo ga molor jamnya" ajak Eza.
            "Ditraktir ga nih, Kak?" tanya Noura bercanda lalu tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Auwwww..." teriak Noura seraya melotot ke arah Riana.
            "Malu-maluin aja loe" ujar Riana pelan.
             Eza hanya tersenyum melihat tingkah Noura dan Riana, sedangkan Sherin mencoba tersenyum menahan malu akibat ulah sahabat-sahabatnya.
              "Udah tenang aja, gue traktir deh" ujar Eza.
              Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kantin. Disana kebetulan ada Niko dan Rafa yang sedang berdiskusi di depan laptop.
              "Hai Raf, Nik" sapa Eza pada dua sahabatnya.
             "Hai, Za. Sama siapa loe?" tanya Niko yang melihat Eza datang tak hanya sendiri.
             "Gue sama adik kelas kita, Ini Sherin dan yang dua itu..." belum sempat Eza memperkenalkan keduanya, Niko sudah menyahut.
             "Riana sama Noura kan?" tanya Niko
             "Iya Kak" sahut Riana dan Noura barengan.
             "Sherin, apa kabar. Sini gabung sama kita" ajak Rafa yang melihat gadis itu berdiri disamping Eza.
             "Iya Kak" sahut Sherin.
             Akhirnya mereka berempat yang baru datang segera bergabung dengan Rafa dan Niko. Keenam orang itu benar-benar menyedot perhatian seluruh penghuni fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, tiga orang mahasiswi baru bisa duduk bersama ketiga orang cowok yang diidolakan di fakultas itu.
           "Gimana kabar orang tua loe Rin, gue kangen main-main lagi sama kalian berdua" ujar Rafa
           "Papa sama Mama baik-baik aja, Kak. Sekarang mereka lagi ke Jepang soalnya Papa ada urusan disana. Kalo Kak Rafa mau, datang aja ke rumah"
           "Oke deh, nanti gue ajak Eza juga ya" ucap Rafa sambil menyenggol lengan Eza yang duduk disampingnya.
           Sherin mengangguk sambil tersenyum.


           Di tempat lain, Sheryl, Satya, Elsa dan Adit cukup serius memperhatikan dosen yang sedang mengajar, tapi konsentrasi Sheryl sempat teralihkan pada seseorang yang duduk di pojok kelas. Orang itu tanpa rasa sungkan sedikitpun tidur di dalam ruang kelas dimana sang dosen sedang mengajar.  Namun, anehnya sang dosen sama sekali tak menegurnya.
          Satya yang duduk disamping Sheryl, menyadari kalau sahabatnya itu memperhatikan seseorang langsung menyenggol lengan Sheryl dan berbisik pelan.
          "Liatin apaan sih?" tanya Satya.
          "Ah...nggak" elak Sheryl.
          "Loe itu nggak bisa bo'ong sama gue. Loe tadi ngeliatin si Arya, kan?" tanya Satya lagi.
          "Sok tau loe, gue nggak liatin apa-apa kok. Justru orang lain tuh yang liatin elo" ujar Sheryl menunjuk ke arah Elsa dengan dagunya.
          Satya menoleh ke arah Elsa, gadis itu langsung kelihatan gugup dan langsung mengalihkan pandangannya.
          "Apaan sih gue tuh lagi bahas elo kok malah bahas yang lain" ujar Satya tapi Sheryl seolah tak mendengar kata-kata Satya dan kembali menyimak dosen.
           Begitu mata kuliah selesai, Sheryl hendak keluar bersama Elsa tapi ditahan oleh Satya.
           "Ada apa sih, Sat?" tanya Sheryl.
           "Gue mau tanya soal tadi, bener loe tadi merhatiin Arya?"  tanya Satya ganti.
           "Mmmm....ga kok, cuma kebetulan aja gue mau nengok ke Elsa pandangan gue lewatin dia" ucap Sheryl mengelak.
            "Oh ya udah kalo gitu" ucap Satya akhirnya meskipun dia yakin kalo tadi Sheryl memperhatikan Arya.
             "Lagian kalo pun gue tadi beneran merhatiin si Arya, emangnya kenapa, kok loe yang ribut sih" ujar Sheryl.
             "Nggak ada apa-apa. Gue cuma khawatir sama loe kalo loe sampai berhubungan sama dia. Soalnya gue denger-denger banyak cewek yang sakit hati gara-gara dia" ujar Satya.
             "Hahaha.....gue kira apaan. Loe tenang aja deh, gue nggak sama kok dengan cewek-cewek yang lain. Loe tau itu kan. Ya udah, Elsa udah nungguin gue nih. Bye, Sat" ucap Sheryl lalu pergi meninggalkan Satya yang masih terdiam ditempat sambil memandang kepergian Sheryl, sahabatnya.
             "Justru karena elo beda dengan cewek-cewek yang lain, makanya gue ingin lindungin loe, Ryl.  Karena entah sejak kapan, loe nggak hanya sekedar sahabat buat gue" gumam Satya yang terus memandangi punggung Sheryl hingga akhirnya gadis itu hilang dari pandangan matanya.


             Malamnya, Rafa memenuhi janjinya untuk datang ke rumah Sherin dan Sheryl. Tapi dia tak sendirian, melainkan bersama dua orang lainnya. Sherin yang membuka pintu pertama kali merasa senang karena salah satu diantara mereka ada Eza. Mereka pun dipersilahkan masuk.
            "Sebentar ya, Kak, Sherin panggil Sheryl dulu" ucap Sherin lalu segera pergi memanggil Sheryl, kembarannya.
            Tak lama kemudian Sherin kembali bersama Sheryl yang kelihatan ogah-ogahan awalnya. Tapi begitu melihat siapa yang datang, dia langsung tersenyum lebar.
            "Kak Rafa" teriak Sheryl senang.
            "Hai Ryl, apa kabar?" tanya Rafa.
            "Kok Kak Rafa ada disini, kapan balik dari Aussie Kak?" tanya Sheryl penasaran.
            "Gue balik 2 tahun yang lalu, sekarang gue kuliah di Universitas yang sama dengan kalian. Gue kakak kelasnya Sherin" terang Rafa.
            "Oh ya? Kok Sherin ga pernah cerita ke gue sih" ujar Sheryl sambil melihat ke arah Sherin.
           "Iya maaf gue lupa" sahut Sherin yang mengerti protes saudari kembarnya itu.
           Sheryl yang tadinya hanya memperhatikan Rafa, kini melihat disamping Rafa ternyata ada dua orang lainnya. Salah satu yang dikenalinya adalah Eza, dan satu lagi seperti tak asing untuknya.
            "Lho, kamu Arya kan?" tanya Sheryl ke cowok yang duduk di samping kiri Rafa.
           Cowok itu pun menoleh begitu namanya disebut tapi pandangannya benar-benar flat, datar, tak berekspresi.
           "Loe udah kenal ternyata, ini sepupu gue, Arya. Dia juga kuliah di universitas yang sama tapi di Fakultas Ekonomi" ujar Rafa memperkenalkan.
           "Iya Kak, dia teman sekelas Sheryl di beberapa mata kuliah" sahut Sheryl.
           Kemudian mereka berlima pun terlibat pembicaraan, Sherin terlihat begitu senang bicara dengan Eza, sedangkan Sheryl seru mengobrol dengan Rafa dan tak jarang pula dia memperhatikan Arya yang lebih banyak diam. Hal ini membuat Sheryl benar-benar merasa penasaran pada cowok itu

********************************************************************************************
bersambung....

TWIN'S LOVE STORY 3






   Seminggu pun berlalu, masa orientasi selesai sudah. Kini Sherin dan Sheryl (Yuki) sudah mulai beraktivitas layaknya mahasiswi. Jadwal kuliah pun sudah mulai berlangsung.

            "Sheryyylll buruan....udah mau telat nih...." panggil Sherin dari lantai bawah.
            "Ya....sebentar...."  sahut Sheryl yang tak lama kemudian turun dari lantai atas dengan terburu-buru sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
            "Lama banget sih, kebiasaan deh loe. napa ga bareng Satya aja sih" ucap Sherin.
            "Satya (Rizky) mau nganter nyokapnya dulu ke bandara tadi makanya gue terpaksa bareng loe hari ini" sahut Sheryl.
            "Ya udah buruan, udah mau telat nih gue gara-gara loe" ujar Sherin segera masuk ke mobil.
            "Iya iya bawel, gue mau ambil helm gue dulu biar nanti baliknya gue bareng Satya aja" ucap Sheryl yang kemudian segera mengambil helmnya lalu masuk ke mobil.
            Di dalam mobil, Sherin masih saja terus mengomel gara-gara kebiasaan Sheryl yang serampangan dan suka telat. Benar-benar berbeda dengan Sherin yang selalu hati-hati dan on time dalam segala hal. Yah, meskipun secara fisik mereka berdua mirip, hampir tak bisa dibedakan tapi sifatlah yang membedakan mereka berdua.
            "Jadi nanti loe bareng Satya?" tanya Sherin sambil terus menyetir.
            "Hu'um" jawab Sheryl singkat karena mulutnya penuh dengan roti yang ia ambil sekalian tadi sebelum berangkat dari rumah.
            "Loe sama Satya kan udah deket banget dari dulu, kenapa ga jadian aja" ujar Sherin.
            "Huukkkk....huukkkk....loe ngomong apaan sih" ucap Sheryl yang sempat tersedak karena kata-kata Sherin barusan.
             "Ikhhh...Sheryl, makanya kalo makan tuh jangan banyak-banyak yang dimasukin ke mulut" omel Sherin.
             "Abisnya loe ngomong yang nggak-nggak....jadi begini kan" sahut Sheryl sambil mengelap mulutnya dengan tissue sembari minum air mineral yang dibawa Sherin.
            "Kan gue ngomong kenyataan, Ryl. Loe kan deket banget tuh sama Satya, kenapa ga jadian aja" ucap Sherin.
            "Ya ga mungkin lah....Gue tuh cuma sahabatan aja sama si Satya" ujar Sheryl.
            "Yah itu kan menurut elo, menurut Satya sendiri gimana?" tanya Sherin.
            "Pasti Satya juga mikirnya sama kayak gue lah" jawab Sherin.
            "Yakin loe?" tanya Sherin mendesak Sheryl.
            Sheryl menatap Sherin lama seolah sedang berpikir sesuatu, "Nggak lah, Satya cuma nganggap gue sahabatnya aja dan gue juga anggap dia hanya sahabat, nggak lebih" jelas Sheryl lalu menghadap ke depan. Sedangkan Sherin hanya menganggkat bahunya, "Yah maybe kan..." ucapnya.
            Tak berapa lama akhirnya Sherin dan Sheryl sampai juga di kampuz mereka. Sebelumnya Sherin menurunkan Sheryl dulu di depan fakultasnya sebelum akhirnya dia menuju ke fakultasnya sendiri.


             Sheryl bertemu Satya di parkiran. Cowok itu baru saja memarkirkan motornya. Sheryl langsung menghampirinya berniat menaruh helmnya di motor Satya. Satya sendiri yang begitu melihat Sheryl langsung melambai ke arahnya sambil tersenyum manis banget. Melihat senyum Satya, entah mengapa kata-kata Sherin langsung terlintas lagi di benaknya.
             Langkah Sheryl makin melambat, lalu dia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya, "Aduh Sheryl...nggak usah mikir macem-macem. Satya cuma anggap loe sahabat, begitu juga elo. Ini gara-gara Sherin nih" ucapnya hanya di dalam kepala.
             Satya melihat tingkah Sheryl dengan kening berlipat. Benar-benar tak tau apa yang ada dipikiran gadis itu.
            "Hai Sat, pagiii" sapa Sheryl mencoba bersikap seperti biasa pada Satya.
            "Pagi juga. Kenapa loe jelek kok pagi-pagi udah bersikap aneh?" tanya Satya.
            "Gue nggak kenapa-kenapa kok" jawab Sheryl berkilah.
            "Nggak abis salah minum obat kan loe?" tanya Satya bercanda sambil mengacak-acak rambut Sheryl.
            "Ya enggaklah...ikh..Satya jangan ngacak-acak rambut gue dong" seru Sheryl sambil merapikan kembali rambutnya.
            "Hmm...gimana yah...." Satya terlihat berpikir " Ga bisa Ryl, udah kebiasaan sih.." ucap Satya kemudian sambil mengacak-acak rambut Sheryl lagi dan membuka ikatan rambutnya sehingga rambut Sheryl yang indah terurai  lalu dia pun berlari.
            "Satyaaa.....awas yah loe"teriak Sheryl lalu mengejar Satya.
            Satya dan Sheryl pun saling kejar-kejaran sampai di depan pintu ruang kuliah mereka, tiba-tiba Sheryl menabrak seseorang.
             "Bruuukkkk"
             "Awww....sakit" rintih Sheryl sambil mengelus jidatnya yang terbentur seseorang.
             " Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong" ujar seseorang yang ditabrak Sheryl dengan nada jutek banget.
             "Iya iya maaf, tapi nggak usah nyolot juga ngomongnya" sahut Sheryl masih tetap mengelus jidatnya dan melihat ke arah orang yang ditabraknya. begitu melihat orang itu, untuk sesaat Sheryl merasa terpana.
              "Minggir, gue mau masuk" ucap tuh orang seraya melewati Sheryl begitu saja.
              Sheryl merasa kayak orang bego, bengong di tempat tapi juga kesel. Satya yang melihat kejadian itu dari jauh segera menghampiri Sheryl.
              "Loe nggak pa-pa Ryl?" tanya Satya.
              "Nggak pa-pa pala loe peyang. Sakit nih jidat gue, gara-gara loe. Sapa sih tuh orang belagu amat gayanya" ujar Sheryl menunjuk orang yang tadi ditabraknya sembari memukul pundak Satya.
             "Itu namanya Arya (Stefan), temen sekelompok gue waktu ospek kemarin. Dia cowok yang berantem sama senior waktu itu" ujar Satya.
             "Oh ya?!" tanya Sheryl seolah tak percaya.
             "Yah begitulah kenyataannya...Anak-anak juga udah pada tau" jawab Satya.
             "Hmm....gitu ya, bermasalah ternyata tapi cakep juga orangnya" ujar Sheryl menatap jauh ke dalam ruangan itu melihat sosok Arya.
             "Gue saranin jangan deket-deket dia deh" ujar Satya tiba-tiba aneh.
             "Kenapa emangnya?" tanya Sheryl.
             "Yah pokoknya gue bilang jangan. Dia nggak baik buat loe" ucap Satya dengan ekspresi yang tak seperti biasanya.
             Sheryl langsung menatap Satya heran, "Loe kenapa sih?" tanya Sheryl yang merasa aneh dengan perubahan Satya.
            "Ah ga usah dipikirin...hehe" ucap Satya yang kemudian berganti ekspresi tersenyum ke Sheryl lalu kembali mengacak-acak rambut Sheryl dan meletakkan kuncir rambut gadis itu diatas kepalanya..
           "Iiihh....Satyaaaa" teriak Sheryl sebal tapi cowok itu sudah lebih cepat kaburnya sebelum Sheryl membalas.


            Sherin baru saja memarkir mobilnya, ketika baru keluar dari mobil tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.
            "Pagi Sherin...." sapa orang itu.
            Sherin segera melihat ke arah orang itu dan langsung membalas dengan senyuman, "Pagi juga Kak Eza"
            "Kok baru datang?" tanya Eza
            "Iya Kak tadi nganter saudara dulu" jawab Sherin tersenyum ke arah Eza.
            "Ya udah, masuk yuk" ajak Eza.
            Sherin dan Eza pun masuk bersama ke dalam gedung Fakultas Kedokteran. Hampir semua mata memandang ke arah Sherin dan Eza, maklumlah biar bagaimanapun Eza adalah salah satu senior yang paling dikagumi di Fakultas itu, sedangkan Sherin hanya mahasiswi baru. Dan ga sedikit pula yang memandang mereka sinis, siapa lagi kalo bukan Lisa, senior yang tega bikin Sherin pingsan waktu itu.
           "Hmm...ini toh yang dibilang ga ada hubungan apa-apa. Diam-diam mahasiswi baru yang kelihatan kalem ternyata kegenitan juga ya sama kakak seniornya" sindir Lisa bicara ke teman-temannya pada saat Eza dan Sheryl lewat di depan mereka.
           Mendengar kata-kata Lisa, membuat hati Sherin terasa sakit. Ia ingin membantah semua itu tapi tiba-tiba tangan  Eza memegang lengannya dan segera menariknya pergi dari tempat itu.
           "Mau kemana, Kak?" tanya Sherin.
           "Yang pasti jauh dari tempat itu" jawab Eza tanpa menoleh ke Sherin dan terus berjalan ke depan dengan tetap menggandeng tangan gadis itu.
           Sherin diam-diam tersenyum dibalik punggung Eza.


           Setelah Eza dan Sherin pergi entah kemana, dua orang gadis menghampiri Lisa dan teman-temannya.
          "Eh, ada mahasiswi baru yang sok jadi pahlawan nih" cibir Lisa.
          "Denger baik-baik ya, KAKAK SENIOR YANG TERHORMAT.....kalo loe ngerasa ilmu loe lebih tinggi dari kita, harusnya loe bisa jaga omongan loe. Kecuali kalo loe emang bego dan nggak punya ilmu, jadi maklum lah kalo loe ngomong kayak orang yang ga pernah disekolahin" ujar gadis cantik berambut panjang.
           "Bener banget tuh, punya mulut tapi nggak bisa jaga ucapan....senior yang nggak pantes buat dihormati" sahut gadis satunya yang berdiri di sebelahnya dengajn nada khas cemprengnya.
           Lisa benar-benar dibuat naik darah sama dua orang juniornya ini. Dia hendak menampar si cewek cempreng itu tapi tangannya terhenti di udara karena ada sebuah tangan besar yang menahannya.
          "Sebagai senior, harusnya loe bisa jaga tingkah laku loe, Lis" ucap orang itu
          "Niko" gumam Lisa lalu dengan cepat melepaskan tangannya dari cengkraman cowok itu, "Jangan ikut campur urusan gue. Ini nggak ada hubungannya sama loe"  ujar Lisa.
          "Jelas ada, gue wakil ketua senat disini dan gue punya kewajiban untuk menjaga lingkungan kampuz ini" ujar Niko (Kevin).
          Wajah Lisa terlihat jelas menahan kemarahan, akhirnya dia pun pergi. Selepas kepergian Lisa, Dua orang gadis itu pun juga hendak pergi, namun ditahan oleh Niko.
          "Kalian berani juga ya" ujar Niko.
          "Apapun demi sahabat kita" jawab si gadis cantik berambut panjang yang tadi mengucapkan kata-kata menusuk ke Lisa.
          "Menarik juga....siapa nama kalian?" tanya Niko.
          "Gue Riana dan disamping gue, Noura" jawab gadis itu.
          "Senang bisa kenal dengan kalian. Gue Niko" ucap cowok itu memperkenalkan diri.


          Kembali ke tempat Eza yang membawa Sherin pergi, rupanya cowok itu mengajak Sherin ke taman belakang kampus, tempat yang teduh dan dipenuhi dengan bermacam-macam tanaman. Kebetulan disana ada ayunan.
         "Baru tau kalo ada tempat sebagus ini di kampus" ucap Sherin penuh kekaguman.
         "Nggak banyak orang yang tau tempat ini" ujar Eza.
         "Kenapa begitu? tanya Sherin.
         "Karena nggak sembarang orang bisa ke tempat ini tanpa izin dari ketua senat. Lagipula, tempat ini juga cukup jauh dari lingkungan anak-anak kampus" jawab Eza.
         "Kalo nggak sembarang orang bisa kesini, kok Kak Eza bisa dapat izin ke tempat ini?" tanya Sherin lagi.
         "Soalnya ketua senatnya sahabat gue sendiri" ujar Eza.
         Sherin pun tersenyum pada Eza, begitu pula Eza. Lalu tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggil Eza.
         "Woiii Za, kemana aja loe gue cariin ternyata malah disini berduaan sama cewek" ucap orang itu seraya menepuk pundak Eza yang kaget.
         "Ah elo, Raf. Ada apa nyari gue?" tanya Eza
         "Gue cuma mau minta data tentang  mata kuliah yang kemarin" jawab cowok itu.
         "Yah...flasdisk gue dibawa sama Niko, Raf" ujar Eza.
         "Ya udah deh, gue cari Niko dulu. Ngomong-ngomong, loe sama siapa sih?" tanya cowok itu karena sedari tadi Sherin hanya diam dan melihat ke bawah.
         "Ini mahasiswi baru yang tadi dicariin gara-gara sama si Lisa, namanya Sherin" ucap Eza.
         Sherin pun mendongan begitu namanya disebut. Betapa terkejutnya dia saat tau siapa yang tadi bicara dengan Eza.
         "Kak Rafa?" ucap Sherin terkejut.
         "Sherin?" ucap cowok itu.
         "Kalian berdua saling kenal?" tanya Eza.
         "Nggak nyangka gue ketemu elo disini, Rin. Sherin ini dulunya tetangga gue, Za. Bokapnya itu sahabat bokap gue. Udah lama gue ga ketemu sama dia soalnya waktu SMP gue ikut bokap gue pindah ke Aussie" jelas Rafa (Maxime).
         "Iya. Kak Rafa apa kabar?" tanya Sherin.
         "Baik...trus gimana Sheryl?" tanya Rafa.
         "Sheryl juga masuk universitas  ini kok, Kak. Cuma dia di Fakultas Ekonomi" jelas Sherin.
         "Wah, bagus itu, kapan-kapan kita kumpul bareng ya. Ya udah, Kak Rafa cabut dulu deh...Za, gue balik dulu ya, jagain tuh Sherin" canda Rafa kemudian pergi.
         Setelah kepergian Rafa, Eza bertanya pada Sherin terkait Rafa.
         "Loe sama Rafa dekat ya?" tanya Eza.
         "Kak Rafa itu udah kayak kakak sendiri buat aku sama kembaran aku, Kak. Kak Eza sendiri kenal baik ya sama Kak Rafa?" tanya Sherin.
         "Dia kan ketua senat di kampus ini" ujar Eza.
         "Kak kayaknya udah waktunya masuk kuliah deh, Sherin pergi dulu ya, Kak" pamit Sherin.
         "Sherin tunggu" cegah Eza seraya memegang lengan gadis itu.
         "Kalo kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi aku" ucap Eza.
         "Iya Kak" ucap Sherin sambil tersenyum lalu berlari meninggalkan Eza yang masih terus memandangi kepergian gadis itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya sejak pertama kali melihat gadis itu.

********************************************************************************

bersambung

TWIN'S LOVE STORY 2







Sherin (Yuki) baru saja sampai di depan kampuznya, tepatnya di depan fakultas kedokteran. Begitu di parkiran, dia disambut oleh dua sahabatnya, Riana (Chika) dan Noura (Karina). Riana dan Noura adalah sahabat Sherin sejak SMA. Suatu kebetulan mereka bertiga diterima di Universitas dan jurusan yang sama.

           "Akhirnya loe datang juga, Rin, kalo loe telat semenit aja bisa-bisa gendang telinga gue bisa pecah nih gara-gara dia" ucap Riana seraya menunjuk ke arah Noura yang terlihat sibuk merapikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
           "Yeee....kan gue panik menghadapi hari pertama kita. Kayak loe nggak aja"  sahut Noura tanpa melihat Riana.
           "Alaaahh....tapi gue nggak lebay kali kayak loe" balas Riana.
           "Ya ampun guys, malah berantem sih pagi-pagi....gue deg-degan nih...." ucap Sherin
           "Masuk yuk...udah dipanggilin tuh disuruh kumpul" ajak Riana.
           "Yuuukkk..." ucap Sherin sambil menarik tangan Noura yang masih terus sibuk merapikan penampilannya.
           Sherin, Riana dan Noura segera ikut berkumpul diantara barisan-barisan yang dikumpulkan oleh kakak-kakak senior di sebuah lapangan. Disana, mereka diberikan pengarahan dan kemudian dibagi berkelompok, masing-masing kelompok 20 orang dan didampingi oleh satu kakak senior. Suatu kebetulan, Sherin, Riana dan Noura tergabung dalam satu kelompok. Kelompok mereka didampingi oleh seorang kakak senior yang cukup tampan, namanya Eza.
           Eza adalah senior yang terkenal paling ramah. Dia suka membantu dan nggak segan menolong mahasiswa baru yang kesulitan, malah dia sering membela maba yang kadang disuruh ini-itu nggak jelas sama kakak-kakak senior yang lain. Seperti yang terjadi pada Sherin dan Riana ketika disuruh untuk berkumpul, mereka datang terlambat karena mereka baru dari toilet. salah seorang senior yang merasa sok berkuasa segera memanggil mereka.
            "Kalian berdua yang terlambat, ke depan sekarang juga" perintah seorang senior perempuan, Lisa.
            Sherin dan Riana pun maju ke depan dan menjadi tontonan seluruh mahasiswa baru dan senior-senior yang lain. sebenarnya saat itu perut Sherin terasa sakit.
            "Kenapa kalian terlamabat, bukankah alarm berkumpul sudah berbunyi daritadi?" bentak Lisa
            "Maaf Kak, tadi kami dari toilet"  sahut Sherin sambil menahan rasa sakit di perutnya.
            "Cari alasan saja kalian ini...sekarang sebagai hukumannya lari keliling memutari teman-teman kalian 20 kali" perintah Lisa.
            "Tapi Kak....." Riana hendak membantah tapi dicegah oleh Sherin. Sherin langsung menarik lengan Riana dan memberi isyarat agar tak mencari masalah dengan senior. Riana pun terpaksa menurut.
            "Tapi apa? cepat lari sekarang!" perintah Lisa sambil membentak.
            Sherin dan Lisa pun berlari mengelilingi anak-anak mahasiswa baru yang berkumpul. benar-benar menjadi tontonan banyak orang. Noura sebenarnya tak tega melihat kedua sahabatnya diperlakukan seperti itu tapi saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
             "Awas aja loe Lisa, gue bakal bales loe setelah acara ospek ini selesai" batin Noura.
             Baru beberapa putaran, wajah Sherin sudah mulai memucat karena ia berlari sambil menahan sakit di perutnya. Riana menyuruhnya untuk berhenti tapi Sherin tetap nekat.
              Tiba-tiba ada senior lain yang menghampiri Lisa. Rupanya itu Eza, dia berniat membela anggota kelompok yang didampinginya.
              "Loe nggak bisa hukum mereka seperti ini, Lis. Kalo sampai terjadi sesuatu sama mereka gimana" ujar Eza.
              "Halah...kayak gini ga ada apa-apanya. siapa suruh mereka terlambat" sahut Lisa.
              "Menurut gue alasan mereka wajar kok dan bisa dimaklumi. Kenapa diperpanjang sih?" ucap Eza lagi.
              "Terserah gue dong....gue sie disiplin disini. Loe nggak berhak ikut campur. Memangnya mereka siapa loe sih sampai loe belain mereka?" tanya Lisa nyolot.
              "Mereka emang bukan siapa-siapa gue, tapi mereka mahasiswa baru yang harusnya kita bimbing bukannya dihukum seperti ini. Mereka juga punya hak disini" bela Eza.
              "Udahlah, ini urusan gue" sahut Lisa keras kepala.
              "Oke...gue cuma ngingetin aja. Kalo terjadi sesuatu sama mereka, loe yang harus tanggung jawab" ucap Eza akhirnya.
              "Nggak akan terjadi apa-apa sama mereka. Cuma lari 20 putaran aja kok" sahut Lisa.
              Baru saja Lisa berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara kepanikan dari arah kerumunan mahasiswa baru. Ternyata Sherin yang tak kuat lagi menahan sakitnya pun pingsan. Riana yang panik segera teriak meminta pertolongan.
              "Lihat akibatnya sekarang" ucap Eza yang kemudian berlari menuju arah Sherin dan Riana. Sedangkan Lisa hanya bisa menggigit bibirnya penuh kecemasan
              Eza membawa Sherin ke posko kesehatan. Dia merasa ikut bertanggung jawab karena Sherin adalah anggota kelompok yang didampinginya. Riana ikut serta mendampingi Sherin.
             Setelah beberapa menit, akhirnya Sherin pun sadar. Riana yang sangat cemas pun lega.
             "Gue dimana?" tanya Sherin
             "Loe di posko kesehatan sekarang, loe pingsan tadi di lapangan" jawab Riana.
             "Trus yang bawa gue kesini?" tanya Sherin.
             "Kamu udah sadar?" tanya seseorang yang baru saja muncul.
             "Kak Eza?" ucap Sherin bingung.
             "Iya, Rin. Kak Eza yang tadi bantuin bawa loe kesini" sahut Riana.
             "Gimana keadaan kamu, udah baikan?" tanya Eza.
             "Iya Kak, udah lebih baik" jawab Sherin.
             "Baguslah kalau begitu. Lain kali sebelum berangkat sebaiknya kamu sarapan dulu biar perut kamu ga sakit" ucap Eza sambil tersenyum lembut.
              "Iya Kak" ucap Sherin tersenyum malu-malu.



              Di tempat lain Sheryl (Yuki) dan Satya (Rizky) yang datang tepat pada waktunya segera bergabung diantara mahasiswa-mahasiswa baru. Sheryl dan Satya sama-sama masuk di jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi di Universitas yang sama dengan Sherin. Meskipun Universitas mereka sama tetapi Fakultas mereka berbeda.
             Sheryl tak satu kelompok dengan Satya, beruntung Sheryl mudah untuk bergaul dengan siapa saja. Dia berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Elsa (Nina) dan dua cowok kembar tapi tak serupa, Deka (Aldo) dan Deki (Nakula).
             "Loe dulu dari SMA mana, Sa?" tanya Sheryl.
             "Gue dari SMA 25. Loe sendiri?" tanya Elsa balik.
             "Gue dulu dari SMA 55" jawab Sheryl.
             "Temen loe banyak yang masuk sini, Ryl?" tanya Elsa lagi.
             "Gue sama Satya, sahabat gue, disini. Kalo saudara kembar gue di Fakultas Kedokteran" jawab Sheryl.
             Tiba-tiba saja ada dua cowok yang ikut menimbrung obrolan mereka.
             "Kayaknya tadi ada yang ngomongin masalah kembar nih....." sela seorang cowok jangkung agak kurus
             "Yo'i...tau aja sih kalo kita kembar.." sahut cowok disebelahnya.
             "Woiii...hellooo...siapa juga yang ngomongin kalian berdua" sahut Sheryl.
             "Udahlah, kita berdua tau kok. Kalian pada ngomongin kita berdua kan. kenalin nama gue Deka, yang sebelah gue itu Deki" ujar si cowok jangkung kurus.
             "Bener banget tuh...udah deh ngaku aja..." sahut Deka
             "Idiiih....nih orang berdua sarap kali ya" ucap Sheryl diikuti tawa Elsa.
             "Kayaknya mereka berdua habis salah minum obat deh" ucap Elsa.
             "Yah, beginilah nasib orang ganteng, banyak fitnah dimana-mana" ujar Deki.
             "Hoeeeekkkk...." Sheryl berlagak pengen muntah
             "Kenapa loe, Ryl?" tanya Elsa.
             "Eneg deh gue denger mereka ngomong...ga..ga ..ga kuat..aq ga kuat sama cowok narsis" ucap Sheryl menirukan lagu 7 icons.
             "Huahahahaha....."tawa Elsa.
             "Wah..wah...penghinaan ini, Brother" ucap Deki seraya merangkul saudara kembarnya, Deka.
             "Yo'i Brother...masa' cowok setampan kita dihina...ga terima gue..." ucap Deka sok bergaya sedih.
             "Lebay banget sih jadi cowok...yuk, Sa, samperin sahabat gue, Satya. kebetulan mumpung masih waktu istirahat" ajak Sheryl pergi meninggalkan Deka dan Deki yang masih saja tebar pesona ke cewek-cewek yang lain.
             Sheryl mengajak Elsa mencari Satya. Setelah mencari kemana-mana akhirnya mereka menemukan Satya berada di lorong-lorong kampus sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
             "Satya...." panggil Sheryl.
             Cowok yang dipanggil pun menoleh. Dia melambaikan tangan ke arah sheryl sambil tersenyum sekilas. Entah mengapa Elsa yang disebelah Sheryl merasa terpesona oleh seyuman Satya.
             "Hai Sat, gue cari kemana-mana ga taunya disini. Sama siapa loe?" tanya Sheryl bertanya mengenai orang yang bicara dengan Satya.
             "Kenalin nih temen gue, Adit (Kenneth)" ucap Satya.
             "Ngomong-ngomong soal temen, gue juga punya temen baru nih, namanya Elsa" Sheryl mengenalkan Elsa ke Satya dan temannya, Adit. Mereka saling berkenalan satu sama lain kecuali Sheryl dan Satya yang udah saling kenal dari dulu.
             "Laper nih, perut gue tiba-tiba sakit. Makan yuk mumpung masih istirahat" ajak Sheryl.
             "Sama, gue juga laper gara-gara jemput elo tadi pagi. Bukannya dapet ucapan terima kasih malah diomelin" ujar Satya sambil mengacak-acak rambut Shery yang dikucir kuda.
             "Iiiih....Satya apaan sih, udah gue bilang jangan suka acak-acak rambut gue" seraya merapikan kucirannya.
             Elsa dan Adit tersenyum saja melihat tingkah dua sahabat ini. Tatapan Elsa ke Satya terlihat lain. Sepertinya Elsa tertarik pada Satya sejak pandangan pertama. Sedangkan Adit diam-diam memperhatikan Elsa.
             Mereka berempat pun menuju kantin yang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa baru dan tak sedikit pula kakak-kakak senior yang juga berada disana. Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ada keributan yang terjadi. Sheryl yang penasaran berniat untuk melihat tapi dicegah oleh Satya yang menarik lengan Sheryl.
             "Ngapain sih loe kesana. Bukan urusan kita, Ryl" ujar Satya.
             "Satya bener, Ryl. Kita disini aja, nggak usah ikut-ikutan anak-anak yang lain" ucap Elsa juga.
             "Paling juga msalah yang tadi" ujar Adit.
             "Memangnya tadi ada masalah apa?" tanya Sheryl ingin tau.
             "Kurang tau juga sih, cuma tadi gue sama Satya liat ada junior yang berantem gitu sama kakak senior" jelas Adit.
             "Owwh...ya sudahlah kalau begitu" ucap Sheryl yang kembali duduk dan melanjutkan makannya bersama Satya, Elsa dan Adit.
             Hari pertama ospek Sheryl berjalan lancar-lancar saja hari itu. Sheryl tak menemukan hambatan apapun, bahkan ketika dia dihukum menyanyi pun dia dengan PD nya bernyanyi dengan begitu indah membuat semua yang ada disekelilingnya tterpesona oleh suaranya. Sayangnya, setelah selesai bernyanyi, Sheryl kembali menjadi Sheryl yang serampangan dan tomboy.


              Hari pun berlalu dengan begitu cepat hari itu. Sherin mencoba menelpon Sheryl tapi tak diangkat. Padahal tadi Sheryl sempat smz dia ingin pulang sama-sama, tapi udah waktunya pulang malah ga bisa dihubungi. Sherin menunggu di depan pintu masuk universitas lebih dari 15 menit tapi Sheryl tak kunjung kelihatan. Malah orang lain yang tiba-tiba menghampirinya.
              "Belum pulang?" tanya seseorang.
              "Eh Kak Eza. Belum Kak, masih nunggu saudara saya" jawab Sherin.
              "Saudara kamu juga kuliah di universitas ini?" tanya Eza.
              "Iya kak, saudara kembar saya di Fakultas Ekonomi" jawab Sherin lagi.
              "Kamu kembar?" tanya Eza sekali lagi
              Sherin tersenyum, "Iya"
              Tak lama kemudian akhirnya Sheryl datang bersama Satya.
              "Sorry ya Rin, tadi gue nungguin Satya nih ambil motor ngantri dulu" cerocos Sheryl tak menyadari adanya Eza.
              "Kirain loe ga jadi bareng gue" ujar Sherin. "Oh iya, Ryl, kenalin ini Kak Eza, senior gue yang tadi nolongin gue" ucap Sherin memperkenalkan.
               "Sheryl" ucap Sheryl menyodorkan tangannya dan disambut oleh Eza.
               "Eza" ucap eza.
               "Oh iya, kenalin Kak, ini sahabat aku, Satya" ucap Sheryl memperkenalan kedua laki-laki itu.
               "Ngomong-ngomong, emangnya loe tadi kenapa? pasti tadi pagi loe belum makan ya? pantesan kok perut gue mendadak sakit tadi" cerocos Sheryl
               "Udah ah nggak usah dibahas, nanti aja gue ceritain dirumah" ujar Sherin.
               "Ya udah, pulang yuk...udah sore nih" ajak Sheryl.
               "Kak, kita pulang dulu ya" pamit Sherin
               "Ya hati-hati dijalan" ucap Eza.
               "Sat, gue balik dulu ya....besok pagi kalo gue kesiangan jangan kapok jemput gue ya...hehhehehe" ujar sheryl lalu masuk ke mobil Sherin.
               "Dasar loe...jangan sampe ngaret lagi ya" pesan Satya.


               Diperjalanan pulang, Sherin dan Sheryl sengaja melewati jalan yang agak sepi karena ingin segera sampai di rumah. Namun di tengah jalan, mereka melihat seseorang tergeletak dijalan dan sebuah sepeda motor ninja merah juga tergeletak disampingnya. Wajah orang itu penuh dengan darah. Sheryl berniat menolongnya tapi Sherin sempat ragu.
              Sheryl tanpa pikir panjang langsung turun dari mobil dan menghampiri sosok itu. Wajahnya tak terlihat begitu jelas karena dipenuhi darah.
               "Sher, sini cepetan" teriak Sheryl memanggil Sherin.
               Sherin segera menghampiri Sheryl dengan agak ragu-ragu.
               "Nih orang masih hidup kan?" tanya Sheryl pada Sherin.
               Sherin memegang pergelangan tangan orang itu dan mencari denyut nadinya.
               "Sepertinya memang masih hidup" ujar Sherin.
               "Cepat kita bawa dia ke rumah sakit" ujar Sheryl
               "Tapi Ryl...."
               "Nggak ada tapi-tapian, Rin, kita harus cepat tolong orang ini" ujar Sheryl berusaha memapah orang itu.
                Mau tak mau Sherin pun turut membantu yang dilakukan Sheryl. Mereka berdua  segera membawa orang itu ke rumah sakit. Sherin yang menyetir sedangkan sheryl berada di belakang menjaga orang itu. Di tengah perjalanan ke rumah sakit, terdengar bunyi HP yang asing di telingan Sherin dan Sheryl.
                "Bunyi HP siapa tuh?" tanya Sherin
                "Kayaknya punya nih orang deh" jawab Sheryl berusaha mencari HP yang ada di jaket orang itu.
                "Loe angkat deh, siapa tau itu keluarganya. Kasih tau kalo kita mau ke rumah sakit Bina Harapan" ujar sherin.
                Sheryl melihat ke layar HP orang itu yang disana tertera sebuah nama "my rabbit"
                "Halo" sapa Sheryl
                "Halo, siapa ini?" tanya orang diseberang sana.
                "Gue Sheryl"
                "Loe siapa? kenapa HP cowok gue ada di loe?" tanya orang diseberang sana.
                "Saya orang yang menemukan orang yang punya HP ini, saya menemukan orang ini tergeletak di tengah jalan. Sekarang saya mau membawa orang ini ke rumah sakit Bina Harapan" jelas Sheryl.
                "Oke, gue kesana sekarang"


                 Sesampainya di rumah sakit, orang tersebut segera dibawa ke UGD. Sherin mengajak Sheryl untuk pulang karena memang tugasnya sudah selesai. Tapi Sheryl masih merasa khawatir terhadap orang itu.
                "Ryl, kita harus pulang sekarang. Mama udah nelponin daritadi" ajak Sherin.
                "Tapi gue masih khawatir Rin sama orang itu" ucap Sheryl.
                "Tapi tugas kita untuk nolong orang itu udah selesai. Biar dokter yang menangani dia. Lagipula sebentar lagi saudaranya juga akan datang" ujar Sherin.
                Sheryl berpikir sejenak, lalu menagngguk, " Loe tunggu gue di mobil aja deh. Gue mau nunggu keluarganya sebentar disini 5 menit lagi" ucap Sheryl dan Sherin menyetujuinya.
                Sheryl menunggu dan terus menunggu hingga 5 menit berlalu. Seorang gadis cantik  berambut panjang bersama cowok datang menuju depan pintu ruang ICU.
                "Maaf, apa kamu kenal orang yang ada di dalam?" tanya Sheryl
                "Iya benar, kamu siapa?" tanya anak perempuan itu.
                "Aku Sheryl yang tadi terima telepon kamu. Aku mau mengembalikan HP ini" ujar Sheryl seraya menyerahkan HP orang itu.
                "Ah iya, terima kasih sudah menolongnya" ucap anak perempuan itu.
                "Ya sudah saya permisi dulu" pamit Sheryl.
                Perlahan, Sheryl menjauh dari orang-orang itu. Tapi hatinya masih saja mengkhawatirkan orang yang ada di dalam sana. "Sudah Sheryl...dia bukan siapa-siapa. Sudah ada orang yang menjaganya" bisik hati kecilnya.
               Akhirnya Sherin dan Sheryl pun pulang. Malam itu, kedua saudara kembar ini tak bisa tidur. Sherin terbayang-bayang akan kebaikan Eza, sedangkan Sheryl masih teringat pada orang yang dia tolong tadi.....

************************************************************************
bersambung...