Yuki segera dilarikan ke rumah sakit. Semua sahabat Yuki begitu terpukul atas kejadian ini terutama Vita. Gadis itu terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri karena gara-gara dia Yuki marah dan akhirnya terjadi kecelakaan itu.
“Ini salah gue, Thir, salah gue” ucap Vita sesenggukan.
“Kamu nggak boleh menyalahkan diri kamu sendiri, Sayang. Ini kecelakaan dan kita nggak pernah mengharapkan ini terjadi” ucap Fathir menenangkan kekasihnya.
“Fathir bener, Vit, ini bukan salah loe” ujar Karina menyahut.
“Iya Vit, kita semua disini tau loe sayang banget sama Yuki seperti kita semua yang ada disini. Kejadian ini udah takdir Tuhan, Vit. Loe jangan menyalahkan diri loe sendiri” ucap Angel.
“Tapi gara-gara gue Yuki marah. Yuki pergi ninggalin lapangan gara-gara gue dan akhirnya terjadi kecelakaan itu. Kalo terjadi apa-apa dengan Yuki, gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri” isak Vita.
“Vita daripada loe terus-terusan nangis dan menyesali yang udah terjadi, lebih baik kita berdoa buat Yuki” saran Mike.
Semua sahabat Yuki berdoa untuk keselamatan gadis yang kini berada di ruang UGD. Mereka semua terlihat sedih, terutama Stef yang wajahnya terlihat sangat pucat.
Sejak mendengar kabar Yuki kecelakaan, cowok itu terlihat linglung. Tatapan matanya begitu kosong seperti tak bernyawa. Disaat semua orang sedang berdoa, dia perlahan menjauh dari anak-anak yang lain. Dengan langkah gontai dia menuju atap rumah sakit. Disana, dia menumpahkan segala perasaannya.
“TUHAN….KENAPA INI SEMUA HARUS TERJADI. JIKA AKU BERSALAH, HUKUM SAJA AKU, JANGAN DIA, TUHAN. JANGAN AMBIL DIA DARI AKU. AKU MOHON, BIARKAN AKU YANG MENGGANTIKAN DIA DISANA, TUHAN” teriak Stef tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.
Di depan ruang UGD, mereka semua menunggu dalam keadaan cemas. Dokter baru saja keluar dari ruang UGD, mereka semua langsung meminta penjelasan dokter.
“Dokter, bagaimana kondisi teman saya?” tanya Fathir mewakili teman-temannya.
“Pasien sedang kritis sekarang. Dia kehilangan banyak darah sedangkan golongan darah pasien tergolong langka dan rumah sakit ini baru saja kehabisan persediaan darah yang sama. Kita membutuhkan donor darah. Dimana keluarganya?” tanya dokter.
“Keluarganya sedang berada di luar negeri, Dok. Mereka akan tiba disini besok” jawab Revan tiba-tiba menyahut.
“Kalau begitu kita harus cepat mencari golongan darah yang sama. Adakah diantara kalian yang memiliki golongan darah O negatif karena golongan darah ini tidak dapat menerima golongan darah yang lain?” tanya dokter lagi.
Mereka saling berpandangan untuk mencari tahu.
“Golongan darah gue A” ucap Vita panik.
“Gue juga” sahut Karina, Aldo, dan Mike.
“Kalo gue B” ucap Fathir.
“Sama. Gue juga” sahut Nakula dan Bella.
“Gue AB” ucap Angel.
“Golongan darah saya, O, Dokter” ucap Revan.
“Baiklah, kalau begitu silahkan Anda ikut saya. Darah Anda akan diperiksa lebih dulu apakah cocok atau tidak” ucap Dokter.
Tak berapa lama Revan diperiksa ternyata golongan darahnya tidak cocok. Mereka semua semakin panik sampai akhirnya Stef datang.
“Dokter, ambil darah saya. Golongan darah saya O negatif” ucap Stef tiba-tiba.
Dokter pun segera memeriksa darah Stef dan tak berapa lama hasilnya pun keluar. Dokter mengatakan bahwa darah Stef cocok.
Setelah mendapatkan transfusi darah, kondisi Yuki sama sekali belum membaik. Dokter mengatakan bahwa kondisi Yuki masih kritis dan jika dalam waktu 24 jam ke depan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan perkembangan yang baik maka satu-satunya jalan terakhir hanyalah mengharapkan keajaiban Tuhan.
Semua sahabat Yuki tak henti-hentinya berdoa, mengharap ada keajaiban yang akan datang untuk sahabat mereka. Jam demi jam mereka lewati tapi sama sekali belum ada perkembangan yang signifikan. Mereka mulai panik ketika dokter dan para perawat masuk dalam ruang UDG dengan tergesa-gesa. Mereka takut terjadi sesuatu yang buruk pada Yuki. Begitu dokter keluar, mereka langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
Dokter mengatakan bahwa detak jantung Yuki sempat berhenti, tapi kini detak jantung Yuki sudah kembali. Namun, kondisinya benar-benar mengkhawatirkan. Dokter hanya berpesan agar mereka semua segera memanggil keluarganya dan terus berdoa memohon keajaiban datang untuk Yuki yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Mendengar penjelasan dokter, Vita langsung histeris dan pingsan. Fathir dan yang lainnya berusaha menyadarkan Vita tanpa menyadari bahwa orang yang paling terpukul atas kejadian ini adalah Stef.
Stef berdiri di sudut ruangan dengan tatapan mata kosong. Wajahnya begitu pucat dan penampilannya benar-benar berantakan. Satu-satunya orang yang menyadari hal itu adalah Revan. Cowok itu menghampiri Stef yang terus terdiam tanpa ekspresi, tapi Revan tau bahwa sesungguhnya Stef begitu terpukul dan sedih.
“Loe nggak pa-pa kan, Bro?” tanya Revan tapi Stef tetap tak bergeming.
“Loe yang namanya, Stef, kan. Yuki cerita banyak tentang loe ke gue. Dia selalu cerita ke gue dengan wajah yang bahagia, sepertinya dia sangat sayang sama loe. Dan gue liat, sepertinya loe juga punya perasaan yang sama” ujar Revan.
Stef mulai bereaksi. Ia melihat ke arah Revan yang berdiri dihadapannya.
“Loe salah” ucap Stef dengan tatapan tajam.
“Maksud loe?” tanya Revan tak mengerti.
“Yuki nggak mungkin sayang sama gue. Gue cuma akan bikin dia marah dan sedih. Gue nggak pantes buat dia” ucap Stef membuat Revan sedikit terkejut.
“Kenapa loe ngomong kayak gitu?” tanya Revan lagi.
“Karena gue yang udah menyebabkan saudara kembarnya meninggal. Yuki nggak akan pernha maafin gue. Dan gue juga nggak akan pernah maafin diri gue sendiri” jawab Stef kemudian pergi menjauh dari Revan yang masih terkejut dengan pengakuan Stef barusan.
Keesokan paginya orang tua Yuki yang baru saja datang dari Jepang langsung menuju rumah sakit, tempat putri kesayangan mereka dirawat. Mereka terlhat panik dan cemas. Untung Revan berhasil menenangkan mereka.
“Revan, kenapa ini bisa terjadi?” tanya Mama Yuki.
“Tante, Om, maafin Revan nggak bisa jagain Yuki. Yuki mengalami kecelakaan saat akan menyeberang jalan” jawab Revan.
“Terus bagaimana keadaan Yuki, Revan. Bagaimana sepupu kamu?” tanya Mama Yuki khawatir dan menangis.
“Yuki masih kritis Tante, Om” jawab Revan.
Mama Yuki langsung histeris dan suaminya berusaha menenangkannya. Setelah diberi pengertian oleh suaminya, akhirnya Mama Yuki bisa lebih tenang. Mama Yuki mengucapkan terima kasih pada semua sahabat Yuki, tapi ketika beliau melihat Stef, Mama Yuki seolah teringat sesuatu.
“Kamu…sepertinya Tante pernah liat kamu, tapi Tante lupa?” tanya Mama Yuki pada Stef.
“Saya Stef, Tante” jawab Stef dengan suara bergetar.
Mama Yuki seperti mengingat-ingat sesuatu yang telah lama dipendamnya. Memorinya kembali pada peristiwa dua tahun yang lalu.
Dua tahun yang lalu, Mama Yuki dan Yuka baru saja pulang dari acara keluarga ketika seseorang meneleponnya dan mengabarkan bahwa Yuka, salah satu anak kembarnya mengalami kecelakaan. Yuki yang kebetulan ada disamping Mamanya turut mendengar kabar itu dan buru-buru menuju lokasi kejadian seorang diri, sehingga terjadilah kecelakaan yang sempat merenggut penglihatan Yuki saat itu.
Yuki dilarikan di rumah sakit yang sama dengan Yuka, saudara kembarnya. Di rumah sakit, Mama Yuki diberi tahu bahwa kondisi Yuka sangat kritis. Dari pengakuan para saksi yang kebetulan ada di tempat kejadian, mereka melihat Yuka jatuh dari motor bersama seorang teman laki-lakinya ketika menghindari sebuah mobil. Dan menurut informasi yang di dapat dari polisi juga, teman laki-laki Yuka bernama Stef saat itu juga dalam keadaan cukup parah sehingga tidak dapat dimintai keterangan. Mama Yuki dan Yuka terlihat begitu shock.
Sebelum Yuka menghembuskan nafas terakhirnya, Yuka sempat bicara pada Mamanya mengenai Stef.
“Ma, maafin Yuka” ucap Yuka lemah.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Kamu harus bertahan, Nak” ucap Mama berurai air mata melihat kondisi anaknya.
“Ma, sebelum Yuka pergi, Yuka minta satu hal dari Mama” pinta Yuka yang nafasnya mulai tidak teratur.
“Jangan bilang begitu, Sayang, kamu pasti baik-baik aja” ucap Mama.
“Yuka mohon, Ma” ucap Yuka.
“Apapun permintaan kamu, Nak, Mama akan penuhi. Asalkan kamu nggak ninggalin Mama” isak Mama.
“Ma, Yuka mohon jangan pernah menyalahkan siapapun atas peristiwa ini. Stef nggak salah, Ma” ucap Yuka, nafasnya terlihat sangat berat.
“Stef siapa, Sayang?” tanya Mama.
“Stef….orang yang Yuka sayang, Ma. Mama janji ya sama Yuka” jawab Yuka.
“Iya, Sayang. Mama janji. Mama janji sama kamu, Nak” ucap Mama.
Yuka semakin kesulitan untuk bernafas, denyut jantungnya semakin melemah. Mamanya terus memanggil-manggil namanya.
“Yuka….kamu kenapa, Nak” teriak mama Yuka panik melihat kondisi anaknya.
“Ma, tolong sampaikan permintaan maaf aku ke Yuki, karena aku udah bikin dia marah dan kecewa sama aku. Aku sayang dia, Ma. Meskipun aku akan pergi tapi aku akan selalu ada disampingnya dan menjaga dia dari atas sana” ucap Yuka sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya tanpa tau bahwa saat itu, Yuki, saudara kembarnya juga berada di rumah sakit yang sama.
Setelah kepergian Yuka, Mama Yuka sempat melihat kondisi Stef. Tapi saat itu Stef dalam keadaan koma, sehingga orang tua Yuka hanya melihatnya sebentar lalu pergi membawa serta jenasah Yuka dan Yuki untuk dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta tanpa mengetahui lebih lanjut keadaan Stef.
Mama Yuki kembali menatap Stef dalam-dalam. Air matanya kembali tumpah, suaminya pun senantiasa memeluk dan menenangkannya.
“Kamu, Stef yang waktu itu kecelakaan bersama, Yuka?” tanya Mama Yuki.
Stef mengangguk lemah, “Maafkan saya, Tante, Om” jawab Stef.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Stef, Yuka tak pernah menyalahkan kamu, Nak” ucap Mama Yuki.
“Maksud, Tante?” tanya Stef.
“Yuka mengatakan itu semua sama Tante. Yuka bilang, dia tak ingin menyalahkan siapapun atas kecelakaan itu. Dia sangat menyayangi kamu, Nak” ucap Mama Yuka yang kini kembali terisak, mengingat tentang Yuka.
“Tenang, Ma” ucap Papa Yuki.
Entah mengapa ada sedikit kelegaan di hati Stef. Rasa bersalah yang selama 2 tahun ini terus membebaninya seolah telah diangkat sedikit demi sedikit.
Tak berapa lama, kondisi Yuki kembali memburuk. Tubuhnya mengejang sehingga membuat dokter dan perawat kembali harus berjuang untuk menyelamatkan nyawanya. Semua yang menungguinya begitu khusyuk mendoakannya. Hampir setengah jam kemudian dokter keluar. Orang tua Yuki segera meminta penjelasan dokter.
“Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya orang tua Yuki.
“Kondisi anak ibu tadi sempat anfal tapi sekarang kondisinya sudah semakin membaik. Denyut jantungnya mulai normal dan nafasnya semakin teratur. Rupanya Tuhan memberikan keajaiban untuk putri ibu berkat doa sahabat-sahabatnya” jawab dokter.
“Kalau begitu, bisa kami melihat anak kami?” tanya Papa Yuki.
“Silahkan, Pak, tapi saat ini putrid Bapak dan Ibu masih belum sadar karena dalam pengaruh obat” ucap dokter.
Akhirnya semua sahabat Yuki bisa bernafas lega. Mereka semua pun bergantian melihat Yuki meskipun gadis itu belum sadar. Stef masuk bersama Vita dan Fathir. Stef melihat Yuki terbaring lemah dan tak berdaya bersama selang-selang yang menempel ditubuhnya. Vita langsung menangis melihat kondisi sahabatnya, untung Fathir selalu ada disampingnya untuk menghiburnya.
Stef duduk disamping Yuki dan memegang tangannya. Melihat situasi dan kondisi yang ada di ruangan itu, Fathir dan Vita memutuskan untuk keluar meninggalkan Stef sendiri.
Stef tetap memegang tangan Yuki, menatap gadis itu dengan tatapan lembut, sama dengan tatapan matanya 2 tahun yang lalu saat ia pertama kali jatuh cinta pada Yuka. Kini tatapan mata itu kembali lagi, kali ini untuk orang lain yang begitu mirip dengan gadis yang dicintainya dulu.
“Yuki, gue nggak pernah percaya adanya cinta sejati sejak gue kehilangan Yuka. Tapi sejak gue ketemu loe, semuanya berubah. Terserah loe percaya atau nggak, tapi cinta gue ke loe benar adanya, bukan karena loe mirip Yuka tapi karena diri loe yang bikin gue sadar bahwa cinta sejati itu ada. Gue minta maaf, Yuki, jika kehadiran gue sama sekali nggak pernah loe harapkan dan hanya bikin loe sakit seperti ini, harusnya gue nggak pernah hadir dalam kehidupan loe. Gue tau loe benci banget sama gue, karena gue yang menyebabkan Yuka meninggal dan loe nggak mau liat gue lagi. Gue udah ambil keputusan. Gue akan pergi dari kehidupan loe untuk selamanya jika itu bisa bikin loe bahagia seperti dulu. Satu hal yang perlu loe tau, Yuki, true love is never die. Cinta gue nggak akan pernah mati buat loe” ucap Stef.
Stef berdiri lalu mengecup kening Yuki begitu lembut selama beberapa saat. Kemudian Stef pun pergi meninggalkan Yuki. Tanpa seorang pun yang menyadarinya, setetes air mata mengalir dari sudut mata Yuki yang masih belum sadar.
Beberapa jam kemudian Yuki sadar. Perlahan-lahan gadis itu mulai membuka matanya. Dia melihat orang-orang yang ia sayangi ada disampingnya. Semua sahabatnya langsung memeluknya saat itu juga, sedangkan kedua orang tua Yuki pergi ke ruang dokter.
“Yuki, maafin gue ya” ucap Vita sesenggukan.
“Iya Vit, gue nggak pa-pa kok” ucap Yuki lemah.
“Loe udah bikin kita semua disini khawatir tau nggak sih” ujar Angel.
“Makasih teman-teman udah khawatir sama gue” ucap Yuki.
“Kita semua sayang banget sama loe, my princess” seru Karina.
Yuki tersenyum menatap sahabat-sahabatnya. Dia melihat diantara sahabat-sahabatnya, mencari sosok Stef.
“Stef mana?” tanya Yuki.
Entah mengapa setelah bertanya tentang Stef, semua sahabatnya terdiam. Yuki semakin curiga ketika melihat wajah mereka semakin sedih.
“Kalian kenapa sih kok diam?” tanya Yuki lagi.
“Stef pergi, Ki” jawab Nakula.
“Apa?!” Yuki seakan tak mempercayai apa yang ia dengar.
“Iya Ki, dia bilang bakal pergi dan nggak akan pernah balik lagi” sahut Aldo.
“Nggak mungkin….Stef nggak mungkin pergi…..” Yuki terlihat sedih.
“Yang dibilang Nakula sama Aldo bener, Ki. Stef udah pergi. Dia bilang nggak mau bikin loe marah, sedih dan terluka lagi, makanya dia mutusin untuk pergi” jelas Fathir.
Air mata Yuki pun keluar dengan sangat deras, “Nggak….gue nggak mau dia pergi….STEFFF…..” teriak Yuki histeris.
Vita memeluk tubuh Yuki yang berniat untuk turun dari ranjangnya, padahal kondisinya masih lemah.
“Yuki, tenang. Loe baru aja sadar, tubuh loe masih lemah” nasihat Vita.
“Gue harus susul dia, Vit, gue nggak mau dia pergi. Gue bahkan belum bilang perasaan gue ke dia” isak Yuki di pelukan Vita.
“Sabar ya, Ki. Kita semua yakin suatu saat Stef akan kembali. Stef juga sangat mencintai loe, Ki” hibur Vita.
Seminggu kemudian Yuki diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tentu saja semua sahabat Yuki datang menjemputnya. Hanya satu orang yang melihat semua itu dari jauh tanpa bisa ikut serta bersama mereka.
Lima tahun kemudian……………
Yuki, Favit, Mikan, Nakar dan Beldo baru saja lulus dari perguruan tinggi. Mereka berencana mengadakan pesta kelulusan di villa keluarga Vita. Begitu wisuda, mereka semua langsung berangkat ke lokasi.
Sesampainya disana, mereka semua teringat saat-saat dimana dulu mereka bersama-sama di tempat itu untuk menghibur Yuki. Semua ada kecuali satu orang. Yah, Stef tak lagi bersama mereka. Tak ada yang tau kabar dan keberadaan Stef selama 5 tahun terakhir.
Ketika semuanya merapikan barang bawaan mereka, Yuki berjalan-jalan sendiri di taman bunga yang berada tak jauh dari villa Vita. Ia teringat 5 tahun yang lalu, ketika ia sedih karena kehilangan Esa, Stef menghiburnya di tempat itu. Stef yang dengan lagak sok coolnya meminjamkan dadanya untuk menumpahkan segala kesedihan Yuki. Yuki tersenyum kecil mengingat kenangan itu. Baginya itu adalah kenangan yang terindah dalam hidupnya dan tak akan pernah ia lupakan sampai kapan pun.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyanyi tak jauh dari tempat itu. Yuki berusaha mencari sumber suara tersebut.
Lihat ku disini
Kau buat ku menangis
Tak ingin menyerah
Tapi tak menyerah
Mencoba lupakan
Tapi ku bertahan
Reff:
Kau terindah kan selalu terindah
Aku bisa apa tuk memilikimu
Kau terindah kan selalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku
Mungkin lewat mimpi
Ku bisa tuk memberi
Ku ingin bahagia
Tapi tak bahagia
Ku ingin dicinta
Tapi tak dicinta
Back to Reff(2x)
Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku(Pemilik Hatiku-Armada)
Yuki melihat seseorang duduk di bangku taman. Ia menghampiri orang itu. Penasaran, Yuki menepuk pundak orang itu. Betapa terkejutnya Yuki saat tahu siapa orang itu.
“Stef” gumam Yuki terkejut sambil membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Stef berdiri dan tersenyum menatap Yuki. Senyum itu begitu lembut, masih hangat seperti yang dulu meskipun gaya sok cool itu masih tersisa.
“Apa kabar Yuki?” tanya Stef.
Tanpa berkata apapun Yuki langsung memeluk Stef. Air mata bahagia mengalir dari kedua matanya.
“Loe kemana aja, kenapa loe pergi dari gue?” tanya Yuki terisak.
“Maafin gue, Ki. Gue pikir loe benci sama gue” jawab Stef.
Yuki melepaskan pelukannya dan menatap tajam Stef.
“Bodoh. Gue nggak mungkin bisa benci sama loe, sampai kapan pun gue nggak akan pernah bisa. Loe pergi begitu aja tanpa tau perasaan gue yang sebenarnya” ucap Yuki.
“Maksud loe?” tanya Stef tak mengerti.
“Gue cinta sama loe, Stef” jawab Yuki.
“Bukannya loe bilang loe benci gue karena gue yang udah bikin….” Belum sempat Stef menyelesaikan kata-katanya, Yuki membungkam mulut Stef dengan telunjuknya.
“Gue sadar, Stef. Loe nggak mungkin dengan sengaja bikin Yuka meninggal. Mama udah cerita semuanya ke gue dan waktu gue dalam keadaan hidup dan mati, gue ketemu Yuka. Dia bilang ke gue kalo kepergian dia bukan karena loe. Dia sama sekali tak membenci loe. Dia berharap gue bisa gantiin dia disamping loe, karena dia tau gue sayang sama loe. True Love is Never Die seperti yang loe bilang cinta sejati yak akan pernah mati. Begitu juga cinta gue ke loe, Stef” jelas Yuki.
“Gue juga cinta sama loe, Ki” ucap Stef langsung memeluk Yuki.
Disaat mereka berpelukan, rupanya semua sahabat mereka mengintip mereka berdua di balik pepohonan yang ada disana.
“Cieeee….jadian nih yee….” seru Cukem merusak suasana romantis.
Yuki dan Stef jelas terkejut. Rupanya selama ini sahabat-sahabat Yuki berusaha mencari informasi tentang Stef tanpa diketahui Yuki. Mereka sengaja membuat kejutan ini untuk Yuki. Kini mereka semua telah berkumpul kembali di tempat kenangan mereka.
“Sahabat Selamanya” teriak mereka semua kompak mengawali kehidupan kelima pasang manusia yang saling mencintai dan menyayangi. Mereka melewati hari-hari mereka dengan kasih sayang dan kebersamaan hingga ajal menjemput mereka.
*********************************************************************************************
- End -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar