Sore itu agaknya mendung mulai menyelimuti langit. Rupanya matahari mulai berbaik hati berbagi tempat dengan awan hingga menciptakan mega.
Yuki berlari-lari kecil menuju tempat ia janjian dengan Esa. Namun begitu sampai di tempat mereka janjian ternyata Esa belum datang. Yuki menghela nafas nafas panjang, lega karena setidaknya dia tidak terlambat. Yukki pun akhirnya memilih duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari tempat mereka bakal bertemu.
Lima menit Yuki menunggu namun sama sekali tak ada tanda-tanda Esa datang. Yuki hendak SMS Esa, tapi belum sempat dia mengetik pesannya, seseorang menutup matanya dari belakang.
“Coba tebak siapa” ucap seseorang yang menutup mata Yuki.
Tak butuh waktu lama bagi yuki untuk tahu siapa pemilik tangan itu, karena Yuki sangat hafal dengan suara itu, suara yang setiap hari dia dengarkan baik di radio maupun telepon.
“Esaaa……apaan sih!!!” seru Yuki yang langsung melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya.
“Kok kamu tau sih, gak seru ah” ucap Esa yang kemudian mengambil tempat disamping Yuki.
“Tau dong, masa suara pacar sendiri gak tau sih apalagi sampai bosen dengernya di radio…hehehe” sahut Yuki sambil tertawa.
Melihat senyum Yuki benar-benar membuat Esa gemas dan hendak mengacak-acak rambut Yuki seperti biasanya. Namun belum sempat tangannya menyentuh rambut kekasihnya itu, tangannya terhenti di udara.
“Sayang, kayaknya ada yang beda deh dari rambut kamu. Rambut kamu kok jadi keriting gini?” tanya Esa yang baru sadar penampilan Yuki.
Yuki tersenyum sambl ketawa-ketawa, “Bagus nggak sih, nih tadi aku dipaksa ma anak-anak ikutan ke salon langganannya Angel trus dipermak deh rambut aku” cerita Yuki.
“Memangnya salon Angel dimana?” tanya Esa lagi.
“Bukan salonnya Angel, Sayang, tapi salon langganannya Angel” koreksi Yuki.
“Ya itu maksud aku, Sayang. Salon langganannya Angel…hehehe” ucap Esa mengoreksi lagi kata-katanya.
“Di Jalan Biliton, di seberang tempat kamu biasa beli majalah” jelas Yuki. “Jadi gimana rambut aku, bagus nggak sih?” tanya Yuki berharap Esa menyukainya.
“Hmmm…..yah lumayanlah” jawab Esa singkat dan memandangi Yuki seolah sedang memikirkan sesuatu.
Yuki merasa sedikit kecewa atas komentar Esa barusan. Dia merasa Esa nggak suka dengan penampilan alias rambut barunya.
“Kok kamu diam aja, Sayang. Kecewa ya sama komentar aku barusan. Maaf ya, Sayang, bukannya aku nggak suka rambut baru kamu tapi aku lebih suka Yuki aku yang dulu yang apa adanya” ucap Esa seolah tau apa yang di pikiran Yuki.
Mendengar kata-kata Esa, Yuki kembali tersenyum. Kekecewaannya sedikit berkurang.
“Oh iya kok kamu ngajakin ketemuan hari ini, Sayang? Bukannya hari ini ada jadwal kamu latihan basket trus abis itu kamu harus siaran di radio?” tanya Yuki yang sempat lupa tujuannya bertemu Esa.
Esa tersenyum GaJe, “Besok aku ada ujian. Wish me luck ya, Sayang” jawab Esa.
Pastinya dong aku selalu doain yang terbaik buat kamu. By the way, anyway, busway (bingung nulisnya, ga tau bener ato salah…hehe :p), kok setiap kali mau ujian kamu ngajakin ketemuan. Kenapa?” tanya Yuki heran.
“Soalnya kamu tuh suplemen aku, biar ujiannya lancar kayak jalan tol yang bebas hambatan…hehehe” jawab Esa sambil tertawa.
“Yeee…..kirain kamu kangen sama aku. Dasar!!!” seru Yuki seraya meninju pelan lengan Esa.
“Ge-eR banget deh kamu” ucap Esa sambil menatap Yuki jahil.
Yuki langsung pasang tampang cemberut sehingga mau tak mau membuat Esa gemas dan tertawa melihat ekspresi muka Yuki yang lucu dan manis kalo lagi cemberut. Esa pun langsung mengusap-usap rambut kekasihnya itu lalu memeluknya.
“Aku sayang banget sama kamu, Yuki” bisik Esa lirih.
Sebenarnya saat itu benar-benar mendukung banget Esa buat cium Yuki yang merupakan ciuman pertamanya. Yuki pun sempat deg-degan banget tapi tinggal beberapa senti aja tiba-tiba suasana yang romantis itu kacau gara-gara HP Esa berbunyi. Yuki dan Esa pun jadi salting.
“Sebentar ya, Sayang” ucap Esa yang agak menjauh sedikit dari Yuki saat menerima telepon.
Yuki mengangguk. Yuki sama sekali tak pernah curiga sedikit pun pada Esa karena dia tau Esa hanya mencintai dia dan tak mungkin mengkhianati apalagi meninggalkannya. Tak lama kemudian Esa menutup sambungan teleponnya.
“Maaf ya, Sayang. Aku harus pulang, ada masalah di rumah” ucap Esa.
“Oke deh, hati-hati dijalan ya. Good luck buat ujiannya besok” ucap Yuki.
“Maksih, Sayang. I love you” ucap Esa seraya memeluk Yuki dan mencium lembut keningnya.
“Love you too…” sahut Yuki.
Esa tersenyum lembut ke arah Yuki yang ditinggalkannya sendirian di bangku taman dan Yuki membalasnya.
Esok harinya….
SMA 55, tempat dimana Yuki Cs bersekolah. Mereka duduk dibangku kelas 2 SMA. Kebetulan mereka sekelas di kelas IPA-3.
Entah mengapa pagi ini mood Yuki benar-benar buruk. Sama sekali tak bersemangat. Sambil memainkan rambutnya, tak henti-henti dia memandangi poselnya padahal saat itu jam pelajaran tengah berlangsung dan waktu itu jam pelajarannya Bu Amanda yang terkenal killer. Angel yang duduk disampingnya dibuat geregetan dengan sikap Yuki yang nggak seperti biasanya.
“Loe kenapa sih, Ki?” Tanya Angel sambil berbisik pelan karena takut ketahuan bu Amanda.
“Gue kepikiran Esa nih, Ngel, sejak ketemu kemarin ga ada kabar dari dia” jawab Yuki pelan tanpa semangat.
“Mungkin dia lagi sibuk kali, kan loe bilang kemarin dia ada ujian hari ini”ucap Angel.
“Iya sih, Ngel, mungkin loe bener, tapi nggak tau kenapa nih perasaan gue nggak enak dari tadi” ujar Yuki dengan pandangan menerawang keluar kelas.
Angel menatap Yuki heran karena sahabatnya itu nggak seperti biasanya yang ceria bukannya murung seperti ini. Angel pun berniat meminta pendapat Vita dan Karina. Karena tempat duduk mereka berdua terpisah oleh Nakula dan Aldo, cumi kembar, Angel pun menulis pada secarik kertas dan meminta Aldo untuk memberikannya ke Vita.
Emang dasar cumi kembar yang pengen tau aja urusan orang dan selalu melakukan kekonyolan saling rebutan kertas.
“Apaan tuh, Do?’ tanya Nakula begitu melihat Aldo memegang kertas dari Angel lalu berusaha merebutnya.
“Apaan sih cumi, mau tau aja loe. Sini balikin” jawab Aldo segera merebut kembali kertas itu.
Mereka pun saling berebutan sampai akhirnya tak sengaja kertas itu terlempar dan tepat di depan Bu Amanda. Cukem saling berpandangan lalu dengan cepat mereka menunduk sembunyi di bawah meja.
“Siapa yang melempar kertas?’ tanya Bu Amanda, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru kelas.
Anak-anak terdiam tanpa ada yang berani bersuara.
“Saya tanya sekali lagi siapa yang melempar kertas?” tanya Bu Amanda lagi dengan nada yang lebih tinggi.
Anak-anak yang takut jadi sasaran amukan Bu Amanda kontan langsung menunjuk ke arah cukem yang sembunyi di bawah meja.
Bu Amanda berjalan menghampiri bangku cukem. Dia melihat cukem yang sembunyi dibawah meja dan menyuruh mereka berdua keluar dari persembunyian.
“Nakula, Aldo, keluar kalian!” perinta Bu Amanda.
Cukem pun keluar dari persembunyiannya. Mereka berdua saling berpandangan sambil senyum-senyum gak jelas melihat kea rah Bu Amanda lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membuat simbol perdamaian.
“hehehe…peace buk. Maaf Bu Amanda yang cantik, kita bener-bener nggak sengaja” ucap Aldo.
“Bener buk, swear deh” sahut Nakula.
“Bagus sekali ya kalian berdua, lempar-lemparan kertas di jam pelajaran saya. Sekarang, kalian saya hukum berdiri di depan tiang bendera dan hormat sampai jam istirahat” perintah Bu Amanda.
“Tapi Bu….” Cukem berusaha meminta keringanan, tapi belum sempat bicara udah dipotong oleh Bu Amanda.
“Kalau kalian keberatan, hukuman akan saya tambah. Mengerti!” ucap Bu Amanda.
“I-iya Bu..” ucap cukem akhirnya dengan langkah gontai mereka keluar kelas untuk melaksanakan hukuman Bu Amanda. Semua murid pun tertawa melihat tingkah konyol cukem.
Ketika Bu Amanda hendak melanjutkan kembali mengajarnya, tiba-tiba pintu kelas diketuk seseorang. Rupanya, Bu Susana, kepala sekolah datang bersama seorang siswa baru.
**********************************************************
bersambung
Yuki berlari-lari kecil menuju tempat ia janjian dengan Esa. Namun begitu sampai di tempat mereka janjian ternyata Esa belum datang. Yuki menghela nafas nafas panjang, lega karena setidaknya dia tidak terlambat. Yukki pun akhirnya memilih duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari tempat mereka bakal bertemu.
Lima menit Yuki menunggu namun sama sekali tak ada tanda-tanda Esa datang. Yuki hendak SMS Esa, tapi belum sempat dia mengetik pesannya, seseorang menutup matanya dari belakang.
“Coba tebak siapa” ucap seseorang yang menutup mata Yuki.
Tak butuh waktu lama bagi yuki untuk tahu siapa pemilik tangan itu, karena Yuki sangat hafal dengan suara itu, suara yang setiap hari dia dengarkan baik di radio maupun telepon.
“Esaaa……apaan sih!!!” seru Yuki yang langsung melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya.
“Kok kamu tau sih, gak seru ah” ucap Esa yang kemudian mengambil tempat disamping Yuki.
“Tau dong, masa suara pacar sendiri gak tau sih apalagi sampai bosen dengernya di radio…hehehe” sahut Yuki sambil tertawa.
Melihat senyum Yuki benar-benar membuat Esa gemas dan hendak mengacak-acak rambut Yuki seperti biasanya. Namun belum sempat tangannya menyentuh rambut kekasihnya itu, tangannya terhenti di udara.
“Sayang, kayaknya ada yang beda deh dari rambut kamu. Rambut kamu kok jadi keriting gini?” tanya Esa yang baru sadar penampilan Yuki.
Yuki tersenyum sambl ketawa-ketawa, “Bagus nggak sih, nih tadi aku dipaksa ma anak-anak ikutan ke salon langganannya Angel trus dipermak deh rambut aku” cerita Yuki.
“Memangnya salon Angel dimana?” tanya Esa lagi.
“Bukan salonnya Angel, Sayang, tapi salon langganannya Angel” koreksi Yuki.
“Ya itu maksud aku, Sayang. Salon langganannya Angel…hehehe” ucap Esa mengoreksi lagi kata-katanya.
“Di Jalan Biliton, di seberang tempat kamu biasa beli majalah” jelas Yuki. “Jadi gimana rambut aku, bagus nggak sih?” tanya Yuki berharap Esa menyukainya.
“Hmmm…..yah lumayanlah” jawab Esa singkat dan memandangi Yuki seolah sedang memikirkan sesuatu.
Yuki merasa sedikit kecewa atas komentar Esa barusan. Dia merasa Esa nggak suka dengan penampilan alias rambut barunya.
“Kok kamu diam aja, Sayang. Kecewa ya sama komentar aku barusan. Maaf ya, Sayang, bukannya aku nggak suka rambut baru kamu tapi aku lebih suka Yuki aku yang dulu yang apa adanya” ucap Esa seolah tau apa yang di pikiran Yuki.
Mendengar kata-kata Esa, Yuki kembali tersenyum. Kekecewaannya sedikit berkurang.
“Oh iya kok kamu ngajakin ketemuan hari ini, Sayang? Bukannya hari ini ada jadwal kamu latihan basket trus abis itu kamu harus siaran di radio?” tanya Yuki yang sempat lupa tujuannya bertemu Esa.
Esa tersenyum GaJe, “Besok aku ada ujian. Wish me luck ya, Sayang” jawab Esa.
Pastinya dong aku selalu doain yang terbaik buat kamu. By the way, anyway, busway (bingung nulisnya, ga tau bener ato salah…hehe :p), kok setiap kali mau ujian kamu ngajakin ketemuan. Kenapa?” tanya Yuki heran.
“Soalnya kamu tuh suplemen aku, biar ujiannya lancar kayak jalan tol yang bebas hambatan…hehehe” jawab Esa sambil tertawa.
“Yeee…..kirain kamu kangen sama aku. Dasar!!!” seru Yuki seraya meninju pelan lengan Esa.
“Ge-eR banget deh kamu” ucap Esa sambil menatap Yuki jahil.
Yuki langsung pasang tampang cemberut sehingga mau tak mau membuat Esa gemas dan tertawa melihat ekspresi muka Yuki yang lucu dan manis kalo lagi cemberut. Esa pun langsung mengusap-usap rambut kekasihnya itu lalu memeluknya.
“Aku sayang banget sama kamu, Yuki” bisik Esa lirih.
Sebenarnya saat itu benar-benar mendukung banget Esa buat cium Yuki yang merupakan ciuman pertamanya. Yuki pun sempat deg-degan banget tapi tinggal beberapa senti aja tiba-tiba suasana yang romantis itu kacau gara-gara HP Esa berbunyi. Yuki dan Esa pun jadi salting.
“Sebentar ya, Sayang” ucap Esa yang agak menjauh sedikit dari Yuki saat menerima telepon.
Yuki mengangguk. Yuki sama sekali tak pernah curiga sedikit pun pada Esa karena dia tau Esa hanya mencintai dia dan tak mungkin mengkhianati apalagi meninggalkannya. Tak lama kemudian Esa menutup sambungan teleponnya.
“Maaf ya, Sayang. Aku harus pulang, ada masalah di rumah” ucap Esa.
“Oke deh, hati-hati dijalan ya. Good luck buat ujiannya besok” ucap Yuki.
“Maksih, Sayang. I love you” ucap Esa seraya memeluk Yuki dan mencium lembut keningnya.
“Love you too…” sahut Yuki.
Esa tersenyum lembut ke arah Yuki yang ditinggalkannya sendirian di bangku taman dan Yuki membalasnya.
Esok harinya….
SMA 55, tempat dimana Yuki Cs bersekolah. Mereka duduk dibangku kelas 2 SMA. Kebetulan mereka sekelas di kelas IPA-3.
Entah mengapa pagi ini mood Yuki benar-benar buruk. Sama sekali tak bersemangat. Sambil memainkan rambutnya, tak henti-henti dia memandangi poselnya padahal saat itu jam pelajaran tengah berlangsung dan waktu itu jam pelajarannya Bu Amanda yang terkenal killer. Angel yang duduk disampingnya dibuat geregetan dengan sikap Yuki yang nggak seperti biasanya.
“Loe kenapa sih, Ki?” Tanya Angel sambil berbisik pelan karena takut ketahuan bu Amanda.
“Gue kepikiran Esa nih, Ngel, sejak ketemu kemarin ga ada kabar dari dia” jawab Yuki pelan tanpa semangat.
“Mungkin dia lagi sibuk kali, kan loe bilang kemarin dia ada ujian hari ini”ucap Angel.
“Iya sih, Ngel, mungkin loe bener, tapi nggak tau kenapa nih perasaan gue nggak enak dari tadi” ujar Yuki dengan pandangan menerawang keluar kelas.
Angel menatap Yuki heran karena sahabatnya itu nggak seperti biasanya yang ceria bukannya murung seperti ini. Angel pun berniat meminta pendapat Vita dan Karina. Karena tempat duduk mereka berdua terpisah oleh Nakula dan Aldo, cumi kembar, Angel pun menulis pada secarik kertas dan meminta Aldo untuk memberikannya ke Vita.
Emang dasar cumi kembar yang pengen tau aja urusan orang dan selalu melakukan kekonyolan saling rebutan kertas.
“Apaan tuh, Do?’ tanya Nakula begitu melihat Aldo memegang kertas dari Angel lalu berusaha merebutnya.
“Apaan sih cumi, mau tau aja loe. Sini balikin” jawab Aldo segera merebut kembali kertas itu.
Mereka pun saling berebutan sampai akhirnya tak sengaja kertas itu terlempar dan tepat di depan Bu Amanda. Cukem saling berpandangan lalu dengan cepat mereka menunduk sembunyi di bawah meja.
“Siapa yang melempar kertas?’ tanya Bu Amanda, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru kelas.
Anak-anak terdiam tanpa ada yang berani bersuara.
“Saya tanya sekali lagi siapa yang melempar kertas?” tanya Bu Amanda lagi dengan nada yang lebih tinggi.
Anak-anak yang takut jadi sasaran amukan Bu Amanda kontan langsung menunjuk ke arah cukem yang sembunyi di bawah meja.
Bu Amanda berjalan menghampiri bangku cukem. Dia melihat cukem yang sembunyi dibawah meja dan menyuruh mereka berdua keluar dari persembunyian.
“Nakula, Aldo, keluar kalian!” perinta Bu Amanda.
Cukem pun keluar dari persembunyiannya. Mereka berdua saling berpandangan sambil senyum-senyum gak jelas melihat kea rah Bu Amanda lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membuat simbol perdamaian.
“hehehe…peace buk. Maaf Bu Amanda yang cantik, kita bener-bener nggak sengaja” ucap Aldo.
“Bener buk, swear deh” sahut Nakula.
“Bagus sekali ya kalian berdua, lempar-lemparan kertas di jam pelajaran saya. Sekarang, kalian saya hukum berdiri di depan tiang bendera dan hormat sampai jam istirahat” perintah Bu Amanda.
“Tapi Bu….” Cukem berusaha meminta keringanan, tapi belum sempat bicara udah dipotong oleh Bu Amanda.
“Kalau kalian keberatan, hukuman akan saya tambah. Mengerti!” ucap Bu Amanda.
“I-iya Bu..” ucap cukem akhirnya dengan langkah gontai mereka keluar kelas untuk melaksanakan hukuman Bu Amanda. Semua murid pun tertawa melihat tingkah konyol cukem.
Ketika Bu Amanda hendak melanjutkan kembali mengajarnya, tiba-tiba pintu kelas diketuk seseorang. Rupanya, Bu Susana, kepala sekolah datang bersama seorang siswa baru.
**********************************************************
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar