Sabtu, 22 Oktober 2011

TRUE LOVE IS NEVER DIE 22

lanjuuuuttttt...............


Vita, Angel dan Mike baru saja hang out bareng di salah satu mall. Kini mereka sedang santai sambil duduk di sebuah restoran langganan Mike dan Angel. Sebenarnya acara jalan-jalan itu atas usul Angel karena melihat Vita, sahabatnya, terus-terusan murung memikirkan Fathir. Tapi, sepertinya acara hari ini sama sekali tak membantu, Vita masih saja terlihat murung dan sedih.
“Loe masih kepikiran Fathir ya, Vit?” tanya Angel.
Vita sama sekali tak menyahut. Ia hanya memandang sekilas pada Angel dengan wajah sendu.
“Loe yang sabar ya, Vit, Fathir kan cuma bantuin Kimberly doang” hibur Angel. Bukannya membuat Vita tenang malah semakin membuat Vita makin gondok mendengarnya.
“Aku salah ngomong ya, Mikey?” tanya Angel pada Mike.
Mike tersenyum lalu membelai lembut rambut Angel, “Nggak kok, Beibh” ucap Mike.
Tiba-tiba saja Vita yang sedari tadi diam, merasa iri dengan kemesraan Angel dan Mike langsung menggebrak meja sehingga membuat seluruh mata di ruangan itu menatap ke arahnya.
“Sebel sebel sebel banget gue sama Fathir…awas aja kalo sampai dia berani macem-macem di belakang gue” seru Vita seolah tak perduli tatapan orang padanya. Angel dan Mike hanya bisa melongo melihat aksi vita tersebut.
“Nih orang udah kesambet kali ya” ucap Angel diikuti tawa Mike.
“Wajar Beibh, namanya juga orang jealous, jadi maklumlah, kayak kamu nggak kayak gitu aja kalo jealous sama aku” goda Mike
“Iiih…. Mikey, kamu nyindir aku ya” seru Angel pura-pura ngambek
“Muka kamu lucu banget tau nggak beibh, kalu lagi ngambek gitu bikin aku makin sayang  sama kamu” ucap Mike
“Aaah…. Mikey, gombal banget sich” seru Angel langsung memeluk Mike.
“Woii…enak banget ya kalian peluk-pelukan di depan gue, bukannya hibur gue malah asyik pamer kemesraan di depan gue” protes Vita .
“Ah  elo Vit , dari tadi juga gue sama Mike udah nyoba hibur loh, tapi loe malah asyik sama pikiran loe sendiri” sahut Angel
“Whatever lah ….. kalian itu bener-bener bikn gue iri tau ga” ucap Vita
“Loe tenang aja Vit, sebentar lagi loe juga bakal ngerasain sama kayak yang kita rasain kok” ucap Mika coba menghibur.
Lalu tanpa sengaja mereka bertemu dengan Bryan di tempat itu.
“Hai Vita” sapa Bryan.
Vita hanya membalasnya dengan senyum sedangkan Mike dan Angel membalasnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Who is He?” batin Mikan.
“Boleh nggak gue gabung sama kalian?” tanya Bryan.
“Boleh aja” jawab Vita.
Bryan pun mengambil tempat disamping Vita. Angel yang penasaran menyenggol lengan Vita lalu berbisik pelan, “Siapa sih?” tanya Angel.
“Oh iya gue lupa. Ngel, Mike kenalin ini Bryan temen gue. Bryan kenalin ini Angel sama Mike, sahabat gue” ucap Vita memperkenalkan mereka.
Tak berapa lama, datang Jasmine dan Juno. Rupanya mereka dating untuk menghampiri Mike dan Angel.
“Ya ampun gue lupa. Vit, Bryan, gue sama Angel balik duluan ya soalnya kita berdua mau nganterin Jasmine sama Juno” ucap Mike.
“Iya Vita, maaf banget yah” ucap Angel.
“Mau kemana sih?” tanya Vita.
“Jasmine sama Juno bakal balik ke Paris hari ini” jawab Angel.
“oke….take care ya Jasmine, Juno” ucap Vita.
“Thank you..hmmm, your boyfriend is very handsome” ucap Jasmine sambil melirik centil ke arah Bryan sehingga membuat Juno agak jealous.
“Ehemmm….Sayang, kita harus cepat-cepat nih” ucap Juno membuyarkan kegenitan Jasmine. Sebenarnya Jasmine sengaja melakukan itu untuk memancing kecemburuan Juno, kekasihnya.
“Oke Hunny….” ucap Jasmine seraya menggandeng mesra lengan Juno lalu mengajaknya pergi diikuti Mike dan Angel.
Sepeninggal Mikan, kini tinggal Vita dan Bryan. Mereka berdua di tempat itu.
“Sorry ya, Bryan. Ucapan temen gue jangan loe dengerin” ucap Vita.
“No problem, Vit, nggak pa-pa kok. Gue sama sekali nggak keberatan” sahut Bryan membuat Vita sedikit terkejut, namun ia segera mengalihkan pembicaraan.
“Gue pulang dulu ya, Bryan” pamit Vita.
“Gue anterin ya” tawar Bryan.
“Nggak usah Bryan, gue bisa pulang sendiri kok naik taksi” tolak Vita halus.
“Nggak baik cewek secantik loe pulang sendirian naik taksi. Kalo ada apa-apa di jalan gimana” ucap Bryan.
Dalam hati Vita berpikir, seandainya cowok yang mengatakan itu adalah Fathir betapa bahagianya Vita. Ia pun buru-buru menghilangkan khayalan itu.
“Gue nggak mau merepotkan orang lain, Bry” ucap Vita tetap menolak.
“Kan gue bukan orang lain Vit, kan kita temenan” ucap Bryan.
Akhirnya dengan terpaksa, Vita pun setuju.


Esoknya di sekolah, Karina yang  baru saja dari ruang guru untuk menyerahkan tugas, melihat Bella dan Cukem sedang berbisik-bisik sambil melihat sesuatu. Karina yang penasaran segera menghampiri mereka.
“Kalian ngeliatin apa sih, guys?” tanya Karina dengan suara nyaring, mengejutkan mereka.
“Sssssttt….Karina berisik tau” protes Aldo.
“Apaan sih, Cumim. Kan gue Cuma nanya kalian itu lagi ngeliatin apa sih kok pakai bisik-bisik segala. Ngerumpi kayak ibu-ibu pkk aja” ucap Karina.
“Kita tuh lagi ngeliatin mereka, Karina” sahut Bella sambil menunjuk ke arah taman sekolah yang dekat dengan lapangan basket.
“Yuki sama Stef?” tanya Karina bingung.]
“Iya, Sayang. Dari tadi kita perhatiin mereka berdua. Kayaknya akhir-akhir ini mereka makin akur aja” sahut Nakula seraya memeluk pundak Karina.
Karina sebenarnya juga merasakan hal yang sama akhir-akhir ini terhadap mereka berdua. Yuki dan Stef yang dulunya kayak Tom and Jerry sekarang jadi akur.
“Gue berani taruhan pasti bentar lagi mereka jadian” seru Nakula tiba-tiba.
“Nggak mungkin. Gue bertaruh kalo bentar lagi mereka bakal berantem lagi” ucap Aldo.
“Cumi kembar o’on….kalian itu bukannya bersyukur sahabat kita akur malah dijadiin taruhan” seru Karina seraya menjewer telinga Nakula sedangkan Bella menjewer telinga Aldo.



Di taman sekolah, Yuki dan Stef sedang duduk berdua. Mereka semakin dekat sejak insiden perampokan itu.
“Stef, maklasih ya udah nolongin gue waktu itu. Kalo nggak ad aloe, gue nggak tau deh gimana nasib gue” ucap Yuki yang hanya dibalas senyum simpul oleh Stef.
“Luka loe gimana, Stef?” tanya Yuki.
“Baik-baik aja kok, udah nggak ada yang perlu dikhawatirkan” jawab Stef.
Tiba-tiba saja entah darimana asalnya, sebuah bola nyasar hendak mengenai Yuki. Untungnya refleks Stef begitu cepat sehingga ia berhasil menangkap bola itu. Kini posisi wajah Stef berada sangat dekat dengan Yuki. Mata mereka saling beradu sehingga membuat jantung Yuki semakin berdebar kencang dan wajahnya memerah karena malu.
Stef segera menarik wajahnya dari depan Yuki lalu melemparkan bola basket itu. Mereka berdua jadi salting sejak kejadian barusan.
“Ki, ada sesuatu yang mau gue bilang sama loe” ucap Stef tiba-tiba.
“Loe mau ngomong apa?” tanya Yuki.
“Sebenarnya gue….” belum selesai Stef berbicara tiba-tiba ada panggilan untuk team cheers.
“Sorry ya Stef, gue tinggal dulu” ucap Yuki lalu meninggalkan Stef sendiri di bangku taman. Stef menatap kepergian Yuki sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.


Ternyata panggilan itu dari Bu Rosa yang ingin memberikan sedikit materi untuk pertandingan cheerleaders minggu depan. Tapi sepertinya sepanjang materi yang diberikan Bu Rosa siang itu sama sekali tak didengarkan oleh Yuki yang sibuk melamun. Untungnya Bu Rosa tak menyadarinya. Bahkan setelah Bu Rosa pergi sekalipun Yuki masih saja melamun.
“Ehemmm…ehemm…kayaknya ada yang lagi  falling in love nih” sindir Karina.
“Cieeee…Yuki” sahut Bella.
Vita dan Angel juga ikut-ikutan tersenyum menggoda Yuki yang kini tersipu malu. Wajahnya jadi memerah menahan malu.
“Apaan sih kalian ini” elak Yuki malu-malu.
“Aduh aduh…liat deh mukanya udah semerah pantat monyet” ledek Angel diikuti tawa semua sahabat-sahabatnya.
“Angeeellll…” teriak Yuki pura-pura ngambek.
“Ngaku aja napa sih, Ki. Kan kita sahabat loe, pasti kita bakal bantuin kok” ucap Vita.
“Bener nih?” tanya Yuki.
Vita, Angel, Karina dan Bella serentak mengangguk. Yuki pun mulai menyanyi


Ada yang bergerak di dalam dadaku ini
Seperti ku kenal pernah kurasakan
Waktu aku jatuh cinta
Waktu hatiku tertarik
Rasanya pun begini
Jatuh cinta

Apakah ini sama seperti yang itu
Hatiku bergerak
Aku jatuh cinta
Dinding hatiku berlagu
Harmoni cinta menyentuh
Pipiku pun merona
Jatuh cinta

Harmoni cintaku kini datang
Nyanyikan suara hatiku
Berlagu penuh cinta …( Harmoni Cinta-Gita Gutawa )

Tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan nyanyian itu.


Pulang seklah, Stef mengantarkan Yuki sampai di depan rumah. Yuki benar-benar bahagia hari itu meskipun sepanjang perjalanan, Stef lebih banyak diam dan tak banyak bicara.
“Loe nggak masuk dulu, Stef” ajak Yuki.
“Lain kali aja ya, gue masih ada latihan basket sebentar lagi” tolak Stef.
“Oke…good luck ya, Stef…bye…Stef” ucap Yuki lalu Stef pun pergi.
“Gue sayang sama loe, Stef” gumam Yuki setelah Stef menghilang dari pandangannya.
Di tempat lain, Stef yang baru saja mengantarkan Yuki, mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak truk kalau saja dia terlambat sedikit saja menginjak rem.
“Siaall….” umpat Stef.
“Ya Tuhan…kenapa harus dia…gue nggak sanggup jika harus jujur sama dia. Kenapa takdir mempermainkan gue” gumam Stef.

Yuki baru saja masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan tas nya begitu saja di sembarang tempat sampai akhirnya ia menyadari ada sesuatu yang terjatuh dari dalam tasnya. Yuki memungutnya dan memperhatikannya dengan seksama.
“Ini kan kalungnya, Stef. Kunci apa ya ini” gumam Yuki.
Dia pun meletakkan kalung itu di meja, bersebelahan dengan diary Yuka lalu melanjutkan aktivitasnya tanpa menyadari bahwa takdir itu semakin dekat dengannya.
Esoknya ketika pulang sekolah, Vita dikejutkan dengan kedatangan Bryan di sekolahnya.
“Bryan, loe ngapain ada disini?” tanya Vita.
“Gue mau jemput loe” jawab Bryan.
“Jemput gue? Tapi Bryan sorry, gue udah ada yang nganter kok” ucap Vita.
“Siapa?” tanya Bryan.
Baru saja Bryan selesai bertanya, Fathir datang  kemudian merangkul pundak Vita tanpa melihat disitu ada Bryan.
“Yuk, sayang kita pulang” ajak Fathir.
“Bryan, gue balik dulu ya” pamit Vita yang mengikuti langkah Fathir.
Bryan mengamati kedua pasanga itu dari kejauhan, “ Liat aja Vita, gue pasti bisa dapetin elo. Apa yang gue mau pasti bisa gue dapetin” ucapnya pelan dengan senyum penuh arti.


Di tempat lain, Stef yang hendak pulang dihadang oleh Yuki. Gadis itu memohon padanya untuk mengantarkannya ke suatu tempat.
“Please Stef, anterin gue yah” mohon Yuki.
“Kemana sih?” tanya Stef.
“Nanti juga loe bakal tau kok” jawab Yuki.
Stef pun mengantarkan Yuki ke tempat yang disebutkan oleh Yuki. Sebuah tempat pemakaman. Tadinya Stef mengira Yuki bakal ke makam Esa tapi ternyata Yuki tak mengarah ke makam Esa melainkan makam lain yang tak jauh dari makam Esa.
Stef mengikuti kemanapun kaki Yuki melangkah sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan pusara yang bertuliskan nama ‘Yuka’ pada nisannya.
Ia melihat Yuki berlutut di depan pusara itu dan menitikkan air matanya. Stef pun ikut berlutut karena lututnya mendadak lemas dan tak bertenaga.
“Sekian lama aku mencari, akhirnya aku menemukanmu, Yuka” ucap Stef dalam hati.
“My sister, Yuka, hari ini genap dua tahun loe ninggalin gue. Gue nggak pernah tau kenapa secepat itu loe pergi ninggalin gue tapi yang pasti selamanya loe ada di hati gue dan gue nggak akan pernah berhenti untuk cari tahu penyebab kematian loe” ucap Yuki pada makam Yuka.
Stef menatap ke arah Yuki saat gadis itu mengatakan isi hatinya di depan makam itu. Stef merasa ada perasaan bersalah dan juga sakit yang melingkupi hatinya. Suatu hal yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya, jika kini ia kembali berhubungan dengan masa lalunya.
“Stef” panggil Yuki menyadarkan Stef dari lamunannya.
“Ya” sahut Stef.
“Ini Yuka, saudara kembar gue” ucap Yuki.
Stef hanya mengangguk dan tersenyum samar-samar pada Yuki.
“Meskipun udah dua tahun dia ninggalin gue, tapi gue selalu merasa dia ada di deket gu, Stef. Gue kangen sama dia” isak Yuki, Stef pun tanpa sadar memeluk gadis itu dan membenamkannya di dadanya.
“Maafin gue, Yuki” ucap Stef dalam hati.


Tak lama setelah itu mereka pulang. Yuki dan Stef sama-sama tak banyak bicara sepanjang perjalanan.
“Makasih ya Stef, loe udah nemenin gue” ucap Yuki setelah mereka sampai di depan rumah Yuki.
“Sama-sama, Ki. gue pernah bilang kan ke loe, kalo gue akan selalu ada buat loe” ucap Stef.
Yuki tersenyum, kemudian dengan sangat cepat dan singkat ia mencium pipi Stef hingga membuat cowok itu terkejut.
“Gue masuk dulu ya, bye Stef” ucap Yuki sambil berlalu pergi meninggalkan Stef dengan sejuta kegalauan.
Stef pun kembali melajukan motornya, bukan ke arah rumahnya melainkan kembali ke makam Yuka. Begitu sampai di depan makam Yuka lagi, kali ini Stef sendirian. Ia tak bisa lagi membendung perasaannya yang selama ini dia pendam.
“Maafin gue, Yuka, karena baru sekarang gue nemuin loe. Gue bener-bener nyesel Yuka, bikin loe pergi dari dunia ini. Andai gue bisa memutar kembali waktu dan memohon sama Tuhan, gue akan meminta untuk menukar posisi loe. Kenapa nggak gue aja yang mati” ucap Stef, setitik air mata jatuh dari kedua matanya.
“Yuka, sekarang apa yang harus gue lakukan. Takdir bener-bener mempermainkan gue. Kenapa gue harus jatuh cinta sma dia, gue nggak bisa jujur sama dia tentang perasaan gue, apalagi kalo dia tau siapa gue, Yuka” ucap Stef lirih.
Malam itu Stef menangis di depan makam Yuka.

************************************************************
 bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar