Pagi itu Yuki datang ke sekolah dengan hati berbunga-bunga. Hampir semua orang yang ia temui disapanya. Baik itu tukang kebun sekolah, anak tak dikenal bahkan Bu Susana, kepala sekolah, yang galak pun ia sapa dengan senyum ceria.
Sesampainya di kelas, ia celingak-celinguk mencari sosok seseorang. Tak menemukan sosok itu, tak lantas membuat Yuki kehilangan keceriaannya. Ia kembali menyapa sahabat-sahabatnya.
“Ceria banget loe hari ini, Ki?” tanya Angel.
“Biasa aja kok, kan tiap hari gue emang ceria” jawab Yuki sambil tertawa lalu merogoh isi tasnya mengambil kaca kecil dari dalam tasnya. Yuki merapikan rambutnya serta riasan wjahanya sambil sesekali ia bertanya pada Angel, Vita, Karina, dan Bella.
“Vit, bedak gue nggak ketebalan kan?” tanya Yuki.
“Nggak” jawab Vita.
“Ngel, lipgloss gue warnanya nggak terlalu norak kan?” tanya Yuki.
“Nggak kok” jawab Angel.
“Kar, baju gue udah rapi, kan?” tanya Yuki lagi.
“Udah” jawab Karina.
“Oiya Bella, rambut gue udah rapi belum, bagusnya diurai apa dikuncir?” tanya Yuki untuk kesekian kalinya.
“Bagus di….diurai aja” jawab Bella.
Yuki lalu sibuk menata penampilannya hari itu membuat para sahabatnya geleng-geleng kepala karena heran melihat sikapnya itu.
Setelahnya, Yuki menuju depan pintu kelas seperti mencari seseorang kemudian mondar-mandir di depan pintu kelas, makin membuat tanda tanya besar di benak para sahabatnya.
“Ngapain sih, Ki, loe mondar-mandir di depan pintu. Udah kayak satpam aja loe” seru Fathir.
Yuki nyengir kuda, “Stef kok belum datang ya?” tanya Yuki akhirnya menjawab pertanyaan di benak para sahabatnya.
“Ya ampuuun…jadi daritadi loe rebut ini-itu, mondar-mandir nggak jelas gitu gara-gara nungguin Stef” seru Angel membuat Yuki tersenyum malu-malu.
Yaelah, Ki, bilang kek daritadi. Tadi tuh Stef sms gue katanya hari ini dia nggak masuk” ujar Fathir.
“Yang bener loe, Thir?” tanya Yuki agak kecewa.
“Beneran, nih kalo loe mau liat sms dari dia” Fathir menyodorkan HP nya tapi Yuki menggeleng.
Dengan lemas Yuki duduk kembali ke tempatnya. Para sahabatnya pun jadi kasihan melihat semangat Yuki yang tadinya menggebu-gebu kini padam begitu cepat. Fathir juga jadi makin bersalah udah kasih tau Yuki kalo Stef tak masuk hari ini.
“Udahlah, Ki, nggak ada Stef kan masih ada kita berdua, cumi kembar ganteng, imut dan lucu yang siap menghibur setiap saat” hibur cukem.
“Nakulaaaa” teriak Karina melotot ke arah Nakula.
“hehehe…iya Beibh sorry” ucap Nakula sambil nyengir kuda dan garuk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Rasain loe, Cumi. Gue sih aman” ucap Aldo sambil tertawa mengejek Nakula.
“Apa loe bilang, Cumi?” tanya Bella sambil berkacak pinggang pada Aldo.
“Eh…Putri ubur-ubur Qu sayang….apa kabar?” tanya Aldo basa-basi.
“Bagus banget ya….pangeran cumi o’on” ucap Bella seraya menjewer telinga Aldo.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Aldo dan Bella. Nakula tertawa paling keras membalas ledekan Aldo tadi.
“Sejak kapan kalian jadian?” tanya Vita.
“Iya nih, kok kita nggak tau” sahut Karina.
“Tadi malam” ucap Bella senyum-senyum.
“Selamat yah, Bella, Aldo” ucap para sahabat.
Setelah mereka semua memberi selamat pada Bella dan Aldo, kini semua mata kembali menatap pada Yuki.
“Kita semua udah pada punya pasangan masing-masing nih, kecuali loe, Ki” ucap Angel memberi sinyal.
“Apaan sih” ucap Yuki malu-malu. Pipinya memerah seperti tomat.
“Kita semua disini udah tau kok, loe sama Stef pasti ada apa-apa. Iya kan?” tebak Vita.
“Idiiih….sok tau banget sih kalian. Nggak ada apa-apa juga” elak Yuki.
“Ada apa-apa juga nggak pa-pa kok. Kita bakal dukung loe, Princess” sahut Karina.
Yuki hanya tersenyum malu-malu tanpa mengatakan iya atau tidak tapi para sahabatnya sudah lebih dari mengerti perasaan Yuki.
Percepat…………….
Ketika bel pulang sekolah telah berbunyi, semua anak telah bersiap untuk pulang tak terkecuali Vita, Angel, Yuki, Karina, dan Bella. Mereka berencana pergi mencari perlengkapan yang diperlukan untuk kompetisi cheers yang tinggal menghitung hari saja.
Ketika mereka sedang jalan bersama, wajah Vita terlihat suntuk sekali. Tentu hal itu membuat shabat-sahabatnya jadi ikut merasakan kesedihan Vita.
“Vit, memangnya Fathir masih sering ketemu Kim, ya?” tanya Yuki.
“Iya, Ki” jawab Vita tak bersemangat.
“Ya ampuuuun….princess Vita sayang….sabar yah” ucap Karina.
“Loe udah nyoba ngomong belum sih, Vit, kalo loe ngerasa terganggu dengan kedekatan Fathir sama Kim lagi?” tanya Angel geregetan.
Vita menggeleng.
“Trus mau sampai kapan loe mau terus-terusan makan hati kayak begini” omel Angel.
“Angel gimana sih, Vita nggak makan apa-apa juga kok dibilang makan hati” seru Karina.
Angel melotot ke arah Karina yang penyakit lola alias loading lambatnya kambuh.
“Aduh Karina….makan hati tuh perumpamaan…kiasan gitu loh” jelas Bella bikin Karina tersenyum malu.
“Angel bener, Vit, loe harus berani bilang sama Fathir” ucap Yuki.
“Tapi Ki, gue tuh……” belum sempat Vita melanjutkan kata-katanya, seorang pemuda muncul dihadapan mereka berlima.
“Hai Vita, pulang sekolah ya” sapa pemuda itu.
Yuki, Karina dan Bella dibuat melongo dan bertanya-tanya karena memang baru pertama kali melihat pemuda itu.
“Siapa sih?” tanya Yuki.
“Itu Bryan, temen barunya Vita” jawab Angel.
“Oooooo….”mereka bertiga ber-o ria.
“Bryan, loe ngapain disini?” tanya Via terkejut.
“Gue mau ngajak loe jalan, Vit” jawab Bryan.
“Apa loe nggak liat kalo gue lagi jalan sama sahabat-sahabat gue. Sorry, gue nggak bisa, Bryan” tolak Vita.
“Please, Vita, ada yang ingin gue omongin penting sama loe” pinta Bryan memelas.
Vita melihat sahabat-sahabatnya meminta pertimbangan dan mereka mengiyakan karena melihat sepertinya pemuda itu terlihat sangat memohon.
“Oke, tapi gue nggak bisa lama-lama, Bryan” ucap Vita akhirnya.
Vita dan Bryan pun pergi menjauh dari keempat gadis itu.
Karena urusan mereka semua telah selesai setelah kepergian Vita dan Bryan, keempat gadis itu memutuskan untuk pulang.
“Ki, gue ke rumah loe loe, ya, soalnya gue males pulang nih” ucap Angel.
“Oke” sahut Yuki.
Yuki dan Angel akhirnya sampai di rumah Yuki. Seperti biasa Yuki selalu meletakkan tasnya sembarangan di lantai kamarnya. Angel memilih meletakkan tasnya di meja.
“Ki, ngomong-ngomong kaset untuk lomba cheers ada di loe, kan?” tanya Angel.
“Ya ampun iya gue lupa. Kalo nggak salah gue taruh di meja itu tuh” ucap Yuki seraya menunjuk meja tempat Angel meletakkan tasnya.
“Gue ambil ya” Angel lalu menuju meja itu dan mencari kaset yang dimaksud. Disaat tengah mencari, Angel menemukan sebuah diari dan kalung berbandul kunci. Angel berpikir itu diary Yuki. Sebenarnya Angel sangat penasaran karena ingin tahu bagaimana perasaan Yuki yang sebenarnya pada Stef.
Angel melihat Yuki tengah sibuk membereskan barang-barangnya dan tak memperhatikan dirinya. Angel mencoba membuka diary itu dengan kunci yang ada di kalung. Dan terbuka.
Angel membuka diary tersebut. Pada halaman pertama, Angel membaca sebuat tulisan tangan yang ditulis dengan huruf besar.
“YUKA’S DIARY”
Angel agak heran mengapa yang tertulis nama Yuka, bukannya Yuki. Belum sempat Angel membuka lembar berikutnya, ia dikagetkan dengan panggilan Yuki. Angel pun menutup diary itu dengan terburu-buru dan meletakkannya kembali di meja dalam keadaan terbuka begitu saja.
“Ada apa, Ki?” tanya Angel.
“Tadi Mike sms gue, dia nanya apa loe di rumah gue. Katanya dia mau jemput loe tuh” jawab Yuki.
“Beneran, Ki?” tanya Angel dengan mata berbinar-binar.
“Beneran….serius gue…” jawab Yuki.
Angel langsung pergi ke kamar mandi segera bersiap-siap menunggu kedatangan Mike seolah lupa pada apa yang tengah dilakukannya tadi. Tak berapa lama kemudian, Mike pun datang dan Angel segera menyambutnya.
Di tempat lain, Vita yang kini berdua dengan Bryan di sebuah restoran mewah dengan nuansa romantis tengah berbincang.
“Loe mau ngomong apaan sih, Bryan?” tanya Vita.
Bryan berusaha menggenggam tangan Vita, namun gadis itu menghindar dan menarik tangannya.
“Sorry” ucap Bryan.
“I’ts okay” ucap Vita.
“Vita, sebenarnya sejak pertama kali gue liat loe, gue suka sama loe” ucap Bryan membuat Vita terkejut.
“Loe gila ya” ucap Vita.
“Gue gila karena loe, Vita. Gue tergila-gila sama loe. Gue suka sama loe, Vit” ujar Bryan berusaha memegang tangan Vita tapi lagi-lagi Vita menghindar.
“Bryan, please, hentikan omong kosong ini. Gue mau pulang” seru Vita seraya berdiri hendak meninggalkan tempat itu, tapi tangan Bryan begitu kuat menahan lengan Vita.
“Bryan lepasin…loe udah nyakitin gue” teriak Vita.
“Gue nggak akan lepasin loe sampai loe mau nerima cinta gue” ucap Bryan.
“Loe emang bener-bener udah gila. Gue nggak mungkin nerima cinta loe, gue udah punya cowok” seru Vita berusaha menarik tangannya dari Bryan.
“Putusin aja cowok loe yang nggak berguna itu, bukannya dia nggak pernah ada disamping loe karena jalan sama cewek lai” ucap Bryan lalu tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di pipi Bryan hingga cowok itu terjatuh.
“Jangan pernah loe berani-beraninya sentuh cewek gue” ucap seseorang yang memukul Bryan.
Bryan berusaha berdiri untuk melihat orang yang memukulnya. Vita masih berdiri mematung melihat penolongnya. Air matanya tak terbendung.
“Fathir…” panggilnya samar-samar.
“Iya, Sayang. Maafin aku ya udah terlalu sering ninggalin kamu sendirian” ucap Fathir lalu memeluk tubuh Vita.
“Oh…jadi loe yang mukul gue. Loe kan cowok yang berguna, cowok yang selalu ninggalin cewek loe sama cewek lain” seru Bryan marah dan tiba-tiba sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Bryan.
“Kata-kata itu pantesnya buat loe, Bryan” ucap seseorang yang menampar Bryan dengan keras.
Fathir dan Vita melihat sumber suara tersebut. Vita sangat terkejut melihat siapa yang telah berani menampar Bryan.
“Kimberly?!” ucap Vita.
“Iya, Sayang. Selama ini aku sama Kim berusaha menyelidiki soal tunangannya Kim yang ternyata seorang playboy. Dan tunangannya itu, Bryan brengsek ini” Fathir hendak memukul Bryan tapi dihalang-halangi oleh, Kim.
“Jangan Fathir. Jangan pernah kotori tangan kamu untuk makhluk nggak berguna ini” sela Kim.
Kim lalu melepaskan cincin pertunangannya dan melemparkannya tepat di muka Bryan.
“Ambil kembali cincin kamu dan pertunangan kita….BATAL…” ucap Kim kemudian pergi meninggalkan Bryan diikuti Fathir dan Vita.
Begitu mereka bertiga keluar dari restoran, Kim menghampiri pasangan kekasih Fathir dan Vita. Kim memeluk Vita.
“Vit, maafin gue ya, gara-gara gue hubungan loe sama Fathir jadi terganggu. Sebenarnya gue sama Fathir nggak ada apa-apa lagi kok. Fathir hanya ngebantuin gue aja menyelidiki tunangan gue, Bryan, brengsek itu” jelas Kim.
Vita melepaskan pelukan Kim dan tersenyum pada sahabatnya sedari kecil itu.
“Harusnya gue yang minta maaf sama loe, karena gue udah mikir yang macam-macam tentang kalian” ucap Vita. Mereka berdua saling tersenyum tak ketinggalan pula Fathir. Ketiga sahabat itu saling berpelukan.
Esoknya di sekolah, Yuki kembali datang dengan semangat yang begitu besar. Ia berharap bertemu Stef hari ini. Nyatanya, ia melihat tas Stef sudah ada di bangkunya, tapi orangnya tidak ada. Yuki mencoba mencari Stef kesana-kemari seperti orang kesetanan. Gadis itu ingin mengutarakan perasaannya pada Stef.
Sampai akhirnya ia melihat ruangan OSIS sdikit terbuka. Yuki samar-samar mendengar suara Stef dari arah sana. Yuki pun mendekati ruangan itu ingin member kejutan. Namun, sepertinya Yuki lebih dulu mendapat kejutan tak terduga.
Di ruangan itu, selain Stef, Yuki juga melihat Fathir. Mereka sepertinya membicarakan hal yang seharusnya tak Yuki dengar.
“Loe kemana Bro kemarin. Yuki nyariin loe” ucap Fathir.
“Justru itu gue nggak masuk” sahut Stef dingin.
“Lho kenapa. Bukannya kalian udah jadian dari dulu kenapa nggak pernah ngomong ke kita semua?” tanya Fathir.
“Gue nggak pernah jadian sama Yuki” jawab Stef.
“Trus, foto yang dulu gue temuin di dompet loe itu foto siapa?” tanya Fathir.
“Itu bukan Yuki tapi Yuka” jawab Stef.
“Apa?!” seru Fathir terkejut.
“Iya, Thir. Foto yang loe liat waktu itu Yuka, yang ternyata baru gue tau saudara kembar Yuki” terang Stef.
Dari luar ruangan, Yuki yang mendengar kata-kata Stef barusan begitu shock sehingga tak mampu berpikir apapun. Yuki berlari menuju mobilnya kemudian keluar dari area sekolah. Gadis itu melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Yuki segera masuk ke kamarnya dan menangis. Kata-kata Stef terus terngiang di telinganya, “Itu bukan Yuki tapi Yuka” kata-kata itu berulang kali terngiang di benak Yuki.
Gadis itu lalu teringat pada diary Yuka. Yuki segera mencari diary Yuka dan menemukannya dalam keadaan terbuka dengan kunci masih menempel pada gembok buku tersebut.
Kunci yang menjadi bandul kalung milik Stef. Yuki benar-benar tak bisa percaya pada apa yang terjadi.
Yuki pun membaca diary itu.
*****************************************************************
bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar