Seminggu pun berlalu, masa orientasi selesai sudah. Kini Sherin dan Sheryl (Yuki) sudah mulai beraktivitas layaknya mahasiswi. Jadwal kuliah pun sudah mulai berlangsung.
"Sheryyylll buruan....udah mau telat nih...." panggil Sherin dari lantai bawah.
"Ya....sebentar...." sahut Sheryl yang tak lama kemudian turun dari lantai atas dengan terburu-buru sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
"Lama banget sih, kebiasaan deh loe. napa ga bareng Satya aja sih" ucap Sherin.
"Satya (Rizky) mau nganter nyokapnya dulu ke bandara tadi makanya gue terpaksa bareng loe hari ini" sahut Sheryl.
"Ya udah buruan, udah mau telat nih gue gara-gara loe" ujar Sherin segera masuk ke mobil.
"Iya iya bawel, gue mau ambil helm gue dulu biar nanti baliknya gue bareng Satya aja" ucap Sheryl yang kemudian segera mengambil helmnya lalu masuk ke mobil.
Di dalam mobil, Sherin masih saja terus mengomel gara-gara kebiasaan Sheryl yang serampangan dan suka telat. Benar-benar berbeda dengan Sherin yang selalu hati-hati dan on time dalam segala hal. Yah, meskipun secara fisik mereka berdua mirip, hampir tak bisa dibedakan tapi sifatlah yang membedakan mereka berdua.
"Jadi nanti loe bareng Satya?" tanya Sherin sambil terus menyetir.
"Hu'um" jawab Sheryl singkat karena mulutnya penuh dengan roti yang ia ambil sekalian tadi sebelum berangkat dari rumah.
"Loe sama Satya kan udah deket banget dari dulu, kenapa ga jadian aja" ujar Sherin.
"Huukkkk....huukkkk....loe ngomong apaan sih" ucap Sheryl yang sempat tersedak karena kata-kata Sherin barusan.
"Ikhhh...Sheryl, makanya kalo makan tuh jangan banyak-banyak yang dimasukin ke mulut" omel Sherin.
"Abisnya loe ngomong yang nggak-nggak....jadi begini kan" sahut Sheryl sambil mengelap mulutnya dengan tissue sembari minum air mineral yang dibawa Sherin.
"Kan gue ngomong kenyataan, Ryl. Loe kan deket banget tuh sama Satya, kenapa ga jadian aja" ucap Sherin.
"Ya ga mungkin lah....Gue tuh cuma sahabatan aja sama si Satya" ujar Sheryl.
"Yah itu kan menurut elo, menurut Satya sendiri gimana?" tanya Sherin.
"Pasti Satya juga mikirnya sama kayak gue lah" jawab Sherin.
"Yakin loe?" tanya Sherin mendesak Sheryl.
Sheryl menatap Sherin lama seolah sedang berpikir sesuatu, "Nggak lah, Satya cuma nganggap gue sahabatnya aja dan gue juga anggap dia hanya sahabat, nggak lebih" jelas Sheryl lalu menghadap ke depan. Sedangkan Sherin hanya menganggkat bahunya, "Yah maybe kan..." ucapnya.
Tak berapa lama akhirnya Sherin dan Sheryl sampai juga di kampuz mereka. Sebelumnya Sherin menurunkan Sheryl dulu di depan fakultasnya sebelum akhirnya dia menuju ke fakultasnya sendiri.
Sheryl bertemu Satya di parkiran. Cowok itu baru saja memarkirkan motornya. Sheryl langsung menghampirinya berniat menaruh helmnya di motor Satya. Satya sendiri yang begitu melihat Sheryl langsung melambai ke arahnya sambil tersenyum manis banget. Melihat senyum Satya, entah mengapa kata-kata Sherin langsung terlintas lagi di benaknya.
Langkah Sheryl makin melambat, lalu dia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya, "Aduh Sheryl...nggak usah mikir macem-macem. Satya cuma anggap loe sahabat, begitu juga elo. Ini gara-gara Sherin nih" ucapnya hanya di dalam kepala.
Satya melihat tingkah Sheryl dengan kening berlipat. Benar-benar tak tau apa yang ada dipikiran gadis itu.
"Hai Sat, pagiii" sapa Sheryl mencoba bersikap seperti biasa pada Satya.
"Pagi juga. Kenapa loe jelek kok pagi-pagi udah bersikap aneh?" tanya Satya.
"Gue nggak kenapa-kenapa kok" jawab Sheryl berkilah.
"Nggak abis salah minum obat kan loe?" tanya Satya bercanda sambil mengacak-acak rambut Sheryl.
"Ya enggaklah...ikh..Satya jangan ngacak-acak rambut gue dong" seru Sheryl sambil merapikan kembali rambutnya.
"Hmm...gimana yah...." Satya terlihat berpikir " Ga bisa Ryl, udah kebiasaan sih.." ucap Satya kemudian sambil mengacak-acak rambut Sheryl lagi dan membuka ikatan rambutnya sehingga rambut Sheryl yang indah terurai lalu dia pun berlari.
"Satyaaa.....awas yah loe"teriak Sheryl lalu mengejar Satya.
Satya dan Sheryl pun saling kejar-kejaran sampai di depan pintu ruang kuliah mereka, tiba-tiba Sheryl menabrak seseorang.
"Bruuukkkk"
"Awww....sakit" rintih Sheryl sambil mengelus jidatnya yang terbentur seseorang.
" Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong" ujar seseorang yang ditabrak Sheryl dengan nada jutek banget.
"Iya iya maaf, tapi nggak usah nyolot juga ngomongnya" sahut Sheryl masih tetap mengelus jidatnya dan melihat ke arah orang yang ditabraknya. begitu melihat orang itu, untuk sesaat Sheryl merasa terpana.
"Minggir, gue mau masuk" ucap tuh orang seraya melewati Sheryl begitu saja.
Sheryl merasa kayak orang bego, bengong di tempat tapi juga kesel. Satya yang melihat kejadian itu dari jauh segera menghampiri Sheryl.
"Loe nggak pa-pa Ryl?" tanya Satya.
"Nggak pa-pa pala loe peyang. Sakit nih jidat gue, gara-gara loe. Sapa sih tuh orang belagu amat gayanya" ujar Sheryl menunjuk orang yang tadi ditabraknya sembari memukul pundak Satya.
"Itu namanya Arya (Stefan), temen sekelompok gue waktu ospek kemarin. Dia cowok yang berantem sama senior waktu itu" ujar Satya.
"Oh ya?!" tanya Sheryl seolah tak percaya.
"Yah begitulah kenyataannya...Anak-anak juga udah pada tau" jawab Satya.
"Hmm....gitu ya, bermasalah ternyata tapi cakep juga orangnya" ujar Sheryl menatap jauh ke dalam ruangan itu melihat sosok Arya.
"Gue saranin jangan deket-deket dia deh" ujar Satya tiba-tiba aneh.
"Kenapa emangnya?" tanya Sheryl.
"Yah pokoknya gue bilang jangan. Dia nggak baik buat loe" ucap Satya dengan ekspresi yang tak seperti biasanya.
Sheryl langsung menatap Satya heran, "Loe kenapa sih?" tanya Sheryl yang merasa aneh dengan perubahan Satya.
"Ah ga usah dipikirin...hehe" ucap Satya yang kemudian berganti ekspresi tersenyum ke Sheryl lalu kembali mengacak-acak rambut Sheryl dan meletakkan kuncir rambut gadis itu diatas kepalanya..
"Iiihh....Satyaaaa" teriak Sheryl sebal tapi cowok itu sudah lebih cepat kaburnya sebelum Sheryl membalas.
Sherin baru saja memarkir mobilnya, ketika baru keluar dari mobil tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.
"Pagi Sherin...." sapa orang itu.
Sherin segera melihat ke arah orang itu dan langsung membalas dengan senyuman, "Pagi juga Kak Eza"
"Kok baru datang?" tanya Eza
"Iya Kak tadi nganter saudara dulu" jawab Sherin tersenyum ke arah Eza.
"Ya udah, masuk yuk" ajak Eza.
Sherin dan Eza pun masuk bersama ke dalam gedung Fakultas Kedokteran. Hampir semua mata memandang ke arah Sherin dan Eza, maklumlah biar bagaimanapun Eza adalah salah satu senior yang paling dikagumi di Fakultas itu, sedangkan Sherin hanya mahasiswi baru. Dan ga sedikit pula yang memandang mereka sinis, siapa lagi kalo bukan Lisa, senior yang tega bikin Sherin pingsan waktu itu.
"Hmm...ini toh yang dibilang ga ada hubungan apa-apa. Diam-diam mahasiswi baru yang kelihatan kalem ternyata kegenitan juga ya sama kakak seniornya" sindir Lisa bicara ke teman-temannya pada saat Eza dan Sheryl lewat di depan mereka.
Mendengar kata-kata Lisa, membuat hati Sherin terasa sakit. Ia ingin membantah semua itu tapi tiba-tiba tangan Eza memegang lengannya dan segera menariknya pergi dari tempat itu.
"Mau kemana, Kak?" tanya Sherin.
"Yang pasti jauh dari tempat itu" jawab Eza tanpa menoleh ke Sherin dan terus berjalan ke depan dengan tetap menggandeng tangan gadis itu.
Sherin diam-diam tersenyum dibalik punggung Eza.
Setelah Eza dan Sherin pergi entah kemana, dua orang gadis menghampiri Lisa dan teman-temannya.
"Eh, ada mahasiswi baru yang sok jadi pahlawan nih" cibir Lisa.
"Denger baik-baik ya, KAKAK SENIOR YANG TERHORMAT.....kalo loe ngerasa ilmu loe lebih tinggi dari kita, harusnya loe bisa jaga omongan loe. Kecuali kalo loe emang bego dan nggak punya ilmu, jadi maklum lah kalo loe ngomong kayak orang yang ga pernah disekolahin" ujar gadis cantik berambut panjang.
"Bener banget tuh, punya mulut tapi nggak bisa jaga ucapan....senior yang nggak pantes buat dihormati" sahut gadis satunya yang berdiri di sebelahnya dengajn nada khas cemprengnya.
Lisa benar-benar dibuat naik darah sama dua orang juniornya ini. Dia hendak menampar si cewek cempreng itu tapi tangannya terhenti di udara karena ada sebuah tangan besar yang menahannya.
"Sebagai senior, harusnya loe bisa jaga tingkah laku loe, Lis" ucap orang itu
"Niko" gumam Lisa lalu dengan cepat melepaskan tangannya dari cengkraman cowok itu, "Jangan ikut campur urusan gue. Ini nggak ada hubungannya sama loe" ujar Lisa.
"Jelas ada, gue wakil ketua senat disini dan gue punya kewajiban untuk menjaga lingkungan kampuz ini" ujar Niko (Kevin).
Wajah Lisa terlihat jelas menahan kemarahan, akhirnya dia pun pergi. Selepas kepergian Lisa, Dua orang gadis itu pun juga hendak pergi, namun ditahan oleh Niko.
"Kalian berani juga ya" ujar Niko.
"Apapun demi sahabat kita" jawab si gadis cantik berambut panjang yang tadi mengucapkan kata-kata menusuk ke Lisa.
"Menarik juga....siapa nama kalian?" tanya Niko.
"Gue Riana dan disamping gue, Noura" jawab gadis itu.
"Senang bisa kenal dengan kalian. Gue Niko" ucap cowok itu memperkenalkan diri.
Kembali ke tempat Eza yang membawa Sherin pergi, rupanya cowok itu mengajak Sherin ke taman belakang kampus, tempat yang teduh dan dipenuhi dengan bermacam-macam tanaman. Kebetulan disana ada ayunan.
"Baru tau kalo ada tempat sebagus ini di kampus" ucap Sherin penuh kekaguman.
"Nggak banyak orang yang tau tempat ini" ujar Eza.
"Kenapa begitu? tanya Sherin.
"Karena nggak sembarang orang bisa ke tempat ini tanpa izin dari ketua senat. Lagipula, tempat ini juga cukup jauh dari lingkungan anak-anak kampus" jawab Eza.
"Kalo nggak sembarang orang bisa kesini, kok Kak Eza bisa dapat izin ke tempat ini?" tanya Sherin lagi.
"Soalnya ketua senatnya sahabat gue sendiri" ujar Eza.
Sherin pun tersenyum pada Eza, begitu pula Eza. Lalu tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggil Eza.
"Woiii Za, kemana aja loe gue cariin ternyata malah disini berduaan sama cewek" ucap orang itu seraya menepuk pundak Eza yang kaget.
"Ah elo, Raf. Ada apa nyari gue?" tanya Eza
"Gue cuma mau minta data tentang mata kuliah yang kemarin" jawab cowok itu.
"Yah...flasdisk gue dibawa sama Niko, Raf" ujar Eza.
"Ya udah deh, gue cari Niko dulu. Ngomong-ngomong, loe sama siapa sih?" tanya cowok itu karena sedari tadi Sherin hanya diam dan melihat ke bawah.
"Ini mahasiswi baru yang tadi dicariin gara-gara sama si Lisa, namanya Sherin" ucap Eza.
Sherin pun mendongan begitu namanya disebut. Betapa terkejutnya dia saat tau siapa yang tadi bicara dengan Eza.
"Kak Rafa?" ucap Sherin terkejut.
"Sherin?" ucap cowok itu.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Eza.
"Nggak nyangka gue ketemu elo disini, Rin. Sherin ini dulunya tetangga gue, Za. Bokapnya itu sahabat bokap gue. Udah lama gue ga ketemu sama dia soalnya waktu SMP gue ikut bokap gue pindah ke Aussie" jelas Rafa (Maxime).
"Iya. Kak Rafa apa kabar?" tanya Sherin.
"Baik...trus gimana Sheryl?" tanya Rafa.
"Sheryl juga masuk universitas ini kok, Kak. Cuma dia di Fakultas Ekonomi" jelas Sherin.
"Wah, bagus itu, kapan-kapan kita kumpul bareng ya. Ya udah, Kak Rafa cabut dulu deh...Za, gue balik dulu ya, jagain tuh Sherin" canda Rafa kemudian pergi.
Setelah kepergian Rafa, Eza bertanya pada Sherin terkait Rafa.
"Loe sama Rafa dekat ya?" tanya Eza.
"Kak Rafa itu udah kayak kakak sendiri buat aku sama kembaran aku, Kak. Kak Eza sendiri kenal baik ya sama Kak Rafa?" tanya Sherin.
"Dia kan ketua senat di kampus ini" ujar Eza.
"Kak kayaknya udah waktunya masuk kuliah deh, Sherin pergi dulu ya, Kak" pamit Sherin.
"Sherin tunggu" cegah Eza seraya memegang lengan gadis itu.
"Kalo kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi aku" ucap Eza.
"Iya Kak" ucap Sherin sambil tersenyum lalu berlari meninggalkan Eza yang masih terus memandangi kepergian gadis itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya sejak pertama kali melihat gadis itu.
********************************************************************************
bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar