Vita merasa telah dilupakan oleh Fathir, karena cowok itu jadi lebih sering memperhatikan Kim daripada dirinya. Tapi Vita tak berani mengatakan isi hatinya pada Fathir dan hanya memendam dalam hati perasaannya itu. Seperti hari ini, harusnya Fathir menemani Vita ke toko buku tapi nyatanya Fathir membatalkan janjinya karena Kim meneleponnya sambil menangis.
Vita sebenarnya tak ingin Fathir menemui Kim lagi tapi dia tak pernah tega pada orang lain yang sedang kesusahan apalagi kalo itu sahabatnya sendiri.
“Fathir…Fathir…kamu sedang apa disana” gumam Vita.
Vita berjalan tanpa arah sampai akhirnya dia tak sengaja menabrak seseorang. Kebetulan orang itu sedang membawa minuman dan minuman itu tumpah ke baju orang itu.
“Aduh maaf…maaf….gue nggak sengaja” ucap Vita menyesal.
“Iya nggak pa-pa kok. Lain kali kalo jalan jangan sambil ngelamun ya” ucap orang itu.
Vita tersenyum kecut, “hehehe….iya. Sekali lagi gue minta maaf” ucap Vita.
“Oke, no problem. Kenalin nama gue, Bryan” ucap orang itu memperkenalkan diri.
“Gue Vita” sahut Vita.
“Loe lagi ada masalah ya, kok jalan sambil ngelamun?” tanya Bryan.
“Nggak juga kok” jawab Vita berusaha untuk tersenyum.
“Kita ngobrol di tempat lain aja yu” ajak Bryan bersahabat.
Akhirnya Vita dan Bryan memilih suatu tempat makan yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Mereka saling mengobrol. Vita merasa nyaman bicara dengan Bryan, apalagi cowok itu pandai sekali membuat Vita tersipu malu dan tersenyum seolah melupakan semua masalahnya. Vita dan Bryan pun saling tukar no. hp dan janjian untu ketemu lain waktu..
Pagi itu di sekolah, pelajaran Biologi kelas Yuki Cs akan meneliti struktur daun, karena itu mereka dibagi beberapa kelompok. Saat itu Yuki satu kelompok sama Stef, Mike dan Angel. Vita satu kelompok sama Fathir, Karina dan Nakula. Sedangkan Aldo sekelompok sama Bella dan anak lain teman sekelas mereka.
Mereka diharuskan mencari sepuluh macam daun yang berbeda di sekitar area sekolah. Kelompok Yuki membagi dua bagian supaya mempercepat waktu pengumpulan daun. Angel memilih bersama Mike sedangkan Yuki terpaksa harus bersama Stef, padahal tadinya Yuki berharap bisa mencari daun bersama Angel. Tapi demi Angel yang baru aja balikan sama Mike, Yuki rela mengalah.
“Stef, yuk kita cari di sebelah sana” ajak Yuki menunjuk arah kiri,
“Gue pengennya kesana” ujar Stef menunjuk arah kanan.
“Pokoknya kita kesana, Stef. Disana tuh banyak daun yang belum dijamah sama anak-anak” ucap Yuki ngotot ingin ke kiri.
“Terserah, pokoknya gue mau kesana” Stef tetap tak mau kalah.
“Oke, kalo gitu gue kesana sendiri” seru Yuki lalu meninggalkan Stef ke arah yang dia inginkan.
Stef pun pergi ke arah yang dia mau. Mereka lebih menuruti ego masing-masing dan tak ada yang mau mengalah. Sebenarnya Stef kurang tega membiarkan Yuki pergi sendiri. Dari kejauhan, Stef memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu.
Yuki kesulitan mengambil daun yang ada di atas pohon. Dia mencoba naik ke atas sebuah batu dan melompat untuk mengambil daun tersebut. Namun nahas, ketika pendaratan, kaki Yuki salah menginjak batu, jadinya dia terjatuh sehingga kakinya terkilir.
Yuki mencoba untuk berdiri namun kakinya terasa sakit, tiba-tiba seseorang meraih tangannya dan menolongnya berdiri.
“Stef, kok loe disini. Bukannya loe disana?” tanya Yuki.
“Iya gue kesini soalnya disana udah rame” jawab Stef berbohong, padahal sebenarnya dia memperhatikan gadis itu dari tadi.
“Gimana kaki loe, bisa jalan sendiri?” tanya Stef yang membopong Yuki.
“Kayaknya nggak bisa deh, kaki gue sakit banget” jawab Yuki sambil meringis menahan sakit di kakinya.
Tiba-tiba saja Stef langsung menggendong Yuki.
“Stef, loe apa-apaan sih. Turunin gue” seru Yuki tapi Stef tak memperdulikannya. Dia terus menggendong gadis itu sampai di UKS, tak perduli pada pandangan anak-anak.
Kebetulan ketika di UKS ternyata penjaga UKS nya sedang tidak ada, akhirnya Stef pun segera mencari obat gosok untuk Yuki. dia memijit kaki Yuki yang terkilir dengan penuh ketelatenan.
Yuki melihat apa yang dilakukan oleh Stef. Gadis itu benar-benar bingung pada cowok ini. Sebentar jutek, ngeselin, egois tapi sebentar dia bisa jadi orang yang baik dan perhatian banget. Yuki tersenyum melihat Stef yang memijit kakinya dengan serius dan lagi-lagi Yuki merasakan jantungnya berdebar-debar lagi bahkan lebih kencang daripada sebelumnya.
“Ya Allah…..ada apa sama gue. Kenapa gue jadi deg-degan gini sih liat nih cowok rese’ bin nyebelin ini” ucap Yuki dalam hati.
“Nanti pulang sekolah gue antar loe pulang” ucap Stef mengejutkan lamunan Yuki.
“O…e…ya, tapi mobil gue” ucap Yuki gelagapan.
“Loe tenang aja, nanti gue suruh sopir gue buat nganter mobil loe pulang” ujar Stef.
Yuki mengangguk tanpa protes sedikitpun
Ketika pulang sekolah, Vita menghampiri Fathir yang sedang bersiap-siap pulang. Hari ini memang latihan cheers dan latihan basket libur jadi mereka bisa pulang lebih awal. Vita bermaksud mengajak Fathir jalan-jalan.
“Sayang, kamu bisa nggak nemenin aku jalan-jalan” pinta Vita.
“Maaf, Sayang. Hari ini aku nggak bisa, tadi Kim sms aku katanya ada hal penting yang mau dia bicarakan” ucap Fathir.
Vita jadi heran dan bingung sama sikap Fathir. Sebenarnya pacar Fathir itu Vita apa Kim sih. Melihat ekspresi Vita yang kecewa, father pun berusaha menenangkan gadis itu.
“Jangan marah ya, Sayang, aku janji setelah ini aku akan selalu ada buat kamu. Aku cuma mau bantuin Kim aja, kan dia sahabat kita juga” ucap Fathir sambil membelai rambut indah Vita.
Vita mengangguk mengerti namun sebenarnya ada perasaan tak rela.
Di tempat lain, Angel dan Mike yang baru aja balikan terlihat makin mesra. Keduanya saling bergandengan saat keluar dari gerbang sekolah sehingga membuat semua orang iri melihatnya.
“Cieeee…..cieeee….” seru KarBel.
“Ehemm…..ehemmm…….” seru Cukem
“Yang lagi mesra…..dunia serasa milik berdua” celetuk Bella.
Mike dan Angel hanya tersenyum malu-malu.
“Ya udah, kita balik duluan ya, guys” pamit MikAn.
Mereka semua pun pergi dengan pasangan masing-masing. Mike dan Angel, Karina dan Nakula, sedangkan Aldo tumben-tumbenan dia mau nganterin Bella.
Yuki pulang diantar oleh Stef sesuai janji cowok itu. Stef mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu rumahnya. Bahkan tak hanya itu, Yuki yang masih kesulitan untuk berjalan akhirnya Stef menggendongnya hingga ke dalam rumah.
“Tumben banget sih loe baik sama gue?” tanya Yuki heran.
“Gue cuma merasa bersalah aja sama loe, gara-gara gue ninggalin loe sendirian jadinya kaki loe terkilir” jawab Stef sekenanya, padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.
“Oh ya? Yakin cuma itu aja alasannya?” tanya Yuki kurang yakin.
“Terserah loe mau percaya atau nggak. Mulai besok gue antar-jemput loe sampai kaki loe bener-bener sembuh” ucap stef sebelum cowok itu pergi meninggalkan sejuta tanya di benak Yuki.
“Tuh cowok abis kerasukan jin darimana sih, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba jadi perhatian gitu” batin Yuki.
Dan benar saja, keesokan harinya Stef benar-benar menjemput Yuki pagi-pagi sekali, padahal Yuki baru saja bangun.
“Heh, kodok jelek. Gue hargain niat baik loe tapi please deh masa’ sepagi ini loe udah jemput gue. Ini tuh masih setengah 6 tau” omel Yuki yang masih memakai piyamanya.
“Justru karena masih pagi, gue jemput loe biar nggak ada anak-anak sekolah yang tau kalo gue antar-jemput elo” ujar Stef.
Yuki asli gondok abis denger omongan Stef barusan, seolah cowok itu malu jalan sama dirinya. Benar-benar penghinaan buat Yuki.
“Heh, loe pikir gue mau apa loe antar-jemput. Mendingan loe balik aja gih, gue bisa berangkat sendiri” seru Yuki marah.
“Gue udah janji dan selama ini gue selalu menepati janji gue” ucap Stef datar.
“Oh ya?! Apa gue bisa percaya kalo loe nggak pernah sekalipun ngelanggar janji loe” seru Yuki.
Tiba-tiba wajah Stef menegang. Cowok itu tak menjawab sama sekali.
“Kenapa loe diem? Apa jangan-jangan omongan gue bener. Loe pasti pernah kan ngelanggar janji loe” ujar Yuki berapi-api.
“15 menit gue tunggu loe di depan” ucap Stef lalu pergi meninggalkan Yuki dengan kekesalannya.
Yuki benar-benar tak habis pikir sama Stef yang aneh. Kemarin begitu baik dan perhatian. Sekarang benar-benar menyebalkan.
*************************************************************
Yuki dan Stef baru saja sampai di parkiran sekolah. Suasana sekolah masih sangat sepi karena belum ada seorang pun yang datang kecuali tukang kebun sekolah dan juga satpam yang jaga pintu gerbang. Mereka berdua segera menuju kelas mereka yang sama sekali tak berpenghuni.
“Ini semua gara-gara loe tau nggak. Sekarang kita disni cuma berdua aja” keluh Yuki.
Stef tak menggubris omelan Yuki, malah menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan musik dari HP-nya.
“Kodok jelek loe dengerin gue nggak sih” bentak Yuki sambil melepas earphone Stef.
“Loe apa-apan sih. Gangguin orang aja” seru Stef.
“Iiiikh….loe nyebelin banget tau nggak. Heran gue, bisa-bisanya Esa punya saudara kayak loe” ucap Yuki.
“Maksud loe?” tanya Stef tak mengerti maksud perkataan Yuki.
“Esa jauuuuhh lebih baik daripada elo. Elo bener-bener cowok yang nggak punya perasaan beda banget sama Esa yang bisa memperlakukan seorang cewek dengan baik” seru Yuki.
Stef mendekati Yuki dan menatap gadis itu dalam-dalam. Dia mendekatkan wajahnya pada gadis itu dengan jarak yang amat sangat dekat seolah hendak menciumnya membuat jantung Yuki semakin dag-dig-dug. Namun saat jarak mereka begitu dekat, Stef malah berkata dengan begitu dinginnya.
“Jangan pernah loe nyama-nyamain gue sama Esa” ucap Stef dingin lalu pergi meninggalkan Yuki sendirian.
Setelah kepergian Stef, cewek itu langsung terduduk lemas di bangkunya. Hatinya benar-benar kacau. Stef berhasil mengacaukan perasaannya, antara marah, terkejut, kecewa, berdebar-debar dan bersalah.
“Dia kenapa sih…..dasar cowok nggak jelas” batin Yuki.
Tak berapa lama akhirnya anak-anak mulai berdatangan. Dan mendekati bel sekolah berbunyi, Yuki tak melihat tanda-tanda kedatangan Stef yang keluar sejak tadi. Entah mengapa Yuki jadi merasa bersalah dan khawatir pada cowok itu.
“Loe kenapa, Ki, kok kelihatannya nggak tenang gitu?” tanya Angel
“Nggak pa-pa kok, Ngel” elak Yuki sambil terus menatap ke arah pintu.
Bel masuk pun berbunyi, Stef yang sedari tadi ditunggu Yuki akhirnya masuk juga. Cowok itu masuk dengan menggunakan earphone di telinganya lalu melewati bangku Yuki tanpa melihat ataupun bicara sepatah kata pun. Yuki asli gondok setengah mampus sama tuh cowok, sia-sia rasanya tadi dia mengkhawatirkan cowok rese’ itu.
Sepanjang jam pelajaran, Yuki dan Stef sebenarnya sama-sama saling memperhatikan satu sama lain, hanya saja waktu mereka saling berselingan. Saat Yuki melihat ke arah Stef, cowok itu sedang menundukkan kepalanya. Namun, ketika Stef hendak melihat ke arah Yuki, cewek itu sudah berbalik dan hal itu berlangsung beberapa kali. Angel dan Mike yang teman sebangku Yuki dan Stef jadi merasa aneh dengan sikap mereka berdua.
Ketika pulang sekolah, Stef dan Yuki sengaja menunggu sampai keadaan sekolah benar-benar sepi. Setelah keadaan benar-benar aman, barulah mereka berdua segera meninggalkan sekolah. Yuki yang kakinya masih sakit, jalan dengan kaki terpincang-pincang di belakang Stef. Stef sendiri berjalan begitu cepat ke pelataran parkir, meninggalkan Yuki jauh di belakang.
Begitu Yuki sampai di parkiran, Stef sudah siap di atas motornya menunggu Yuki.
“Lama banget sih loe, jalan aja kayak keong” ucap Stef kesal.
“Loe nggak liat kaki gue sakit” seru Yuki.
“Cepetan naik” suruh Stef dan mau tak mau Yuki menurutinya.
Di perjalanan menuju rumah Yuki, Stef terus saja bersikap dingin dan nggak bicara sepatah kata pun bikin Yuki sebal dan sedih. Yuki meminta Stef berhenti saat itu juga.
“Turunin gue disini” seru Yuki.
Stef yang bingung segera menepikan motornya dan Yuki pun segera turun dari motor Stef.
“Loe mau apa?” tanya Stef.
“Gue mau pulang sendiri. Loe nggak perlu antar-jemput gue. Cukup ini yang terakhir” jawab Yuki datar menahan sakit hatinya.
“Loe tuh apa-apaan sih. Rumah loe tuh masih jauh dan kaki loe masih sakit” ujar Stef mengingatkan.
“Gue tetap mau balik sendiri. Loe nggak usah peduliin gue” ucap Yuki lalu segera berjalan menjauhi Stef.
“Oke, terserah” seru Stef dari kejauhan, dia melajukan motornya kembali meninggalkan Yuki.
Sepeninggal Stef, Yuki terus berjalan pulang menuju rumahnya. Mengingat sikap Stef padanya membuat Yuki menangis sedih. Dia benar-benar tak bisa memahami cowok itu. Dia teringat ketika dulu Esa menghilang, Stef menghiburnya, rela meminjamkan dadanya untuk tempat Yuki bersandar dan meluapkan kesedihannya. Tapi, sekarang semua itu berubah 1800.
Tiba-tiba ada dua orang lelaki berwajah sangar mendekati Yuki. Kedua lelaki itu meminta Yuki menyerahkan barang-barang berharganya. Yuki yang takut berusaha untuk lari meskipun harus tertatih-tatih karena kakinya yang masih sakit. Tentu saja mudah bagi para penjahat itu untuk menangkap Yuki dan gadis itu hanya bisa berteriak minta tolong.
“Tolooooong….tolooooong….” teriak Yuki. Namun percuma, karena daerah itu sangat sepi.
“Percuma aja loe teriak, nggak aka nada yang dengerin loe disini” ucap salah seorang penjahat itu sambil berusaha merebut tas Yuki hingga dia terjatuh.
Entah dari mana asalnya tiba-tiba seseorang menendang tangan penjahat yang hendak merampas tas Yuki hingga terjatuh. Dan salah seorang lainnya merasa tak terima, berusaha untuk membalas tapi orang yang menolong Yuki lebih cepat bereaksi sehingga penjahat yang satunya pun dapat ditumbangkan.
Orang itu membantu Yuki untuk berdiri, “Loe nggak pa-pa?” tanyanya.
Yuki mengangguk, “Gue nggak pa-pa. kok loe bisa ada disini?” tanya Yuki.
Belum sempat orang itu menjawab Yuki berteriak karena salah seorang penjahat itu bangkit sambil membawa pisau bermaksud untuk melukai oarng yang menolong Yuki.
“Awas Steeefff…..” teriak Yuki sehingga penolong Yuki itu berbalik.
Namun, penjahat itu rupanya lebih cepat sehingga berhasil melukai lengan kanan Stef. Berusaha membela diri, Stef pun menghajar penjahat-penjahat itu sedangkan Yuki berteriak minta tolong sekeras-kerasnya hingga orang-orang pun berdatangan dan penjahat itu kabur dikejar massa.
Stef kelelahan dan terduduk di tanah sambil memegangi lengannya yang terluka terkena pisau penjahat tadi.
“Stef….lengan loe berdarah” seru Yuki menghampiri Stef.
“Gue nggak pa-pa kok. Tenang aja” ujar Stef menenangkan Yuki yang masih shock dengan kejadian barusan.
“Makasih, Stef, tapi loe kenapa bisa ada disini?” tanya Yuki.
“Gue udah janji bakal nganterin loe pulang. Meskipun loe ngotot pengen pulang sendiri, tapi gue udah janji. Gue ikutin loe dari belakang” jawab Stef masih memegangi lengannya yang sakit.
Tanpa sadar air mata Yuki menetes mendengar kata-kata Stef. Yuki tau cowok itu benar-benar tulus dan tak dibuat-buat. Meskipun dari luar terlihat cuek bebek ternyata Stef begitu perhatian padanya.
“Loe kenapa nangis, kan penjahatnya udah pergi” tanya Stef heran.
Tanpa banyak bicara Yuki langsung memeluk tubuh Stef.
“Makasih, Stef. Kalo loe nggak ada, gue nggak tau apa yang terjadi sama gue” isak Yuki.
Stef mengusap lembut rambut gadis yang ada di pelukannya, “Loe tenang aja, gue akan selalu ada buat loe” ucap Stef pelan.
Yuki membawa Stef pulang ke rumahnya. Gadis itu mengobati luka di lengan Stef dan membalut lukanya dengan perban. Stef memandangi Yuki yang begitu serius merawat lukanya mulai dari membersihkan luka dengan anti-septic sampai membalut luka tersebut dengan perban. Ada senyuman yang menghiasi wajah tampan itu.
“Gue nggak nyangka ternyata loe pinter juga ngobatin orang” sindir Stef sambil tersenyum jahil.
“Emangnya loe doang yang bisa mijitin kaki gue yang keseleo. Gini-gini gue juga pernah ikut pelatihan PMR kali di SMP” ucap Yuki bangga.
Stef tertawa mendengar kata-kata Yuki. Gadis yang akhir-akhir ini benar-benar menarik perhatiannya. Gadis yang mirip dengan seseorang di masa lalunya tapi sikap dan sifat mereka sama sekali berbeda.
“Loe mau minum apa, Stef?” tanya Yuki menawarkan.
“Apa aja deh” jawab Stef.
“Oke, tunggu ya gue ambil minuman dulu” ucap Yuki kemudian berlalu pergi ke dapur mengambil minuman.
Stef menunggu Yuki sambil melihat-lihat rumah Yuki. Dia mendekati meja yang terdapat foto-foto keluarga. Stef melihat foto-foto itu satu persatu sampai akhirnya matanya terhenti pada sebuah foto, dimana dalam foto itu ada dua orang gadis yang begitu mirip. Dalam foto itu salah satu gadis duduk di depan piano sedangkan gadis satunya berdiri disampingnya. Mereka terlihat begitu bahagia, terlihat jelas jelas dari senyum mereka. Senyum yang dirindukan Stef.
“Stef, sorry ya lama nunggu” Yuki tiba-tiba muncul sambil membawa dua gelas minuman. Stef berbalik menghampiri Yuki yang sudah duduk di sofa.
“Loe ngapain tadi?” tanya Yuki.
“Gue cuma liat-liat foto keluarga loe aja” jawab Stef yang sebenarnya ingin menanyakan tentang foto yang menarik perhatiannya itu.
“Oh…kirain loe mau ngambil barang di rumah gue…hehehe” canda Yuki seraya tersenyum ramah, tapi Stef hanya memandangi gadis itu.
“Foto yang disana itu elo?” tanya Stef akhirnya.
Yuki berdiri dan menghampiri foto yang dimaksud Stef. “Maksud loe, foto ini?” tanya Yuki. Stef mengangguk.
Yuki memandangi foto itu dengan tatapan sedih, “Iya ini foto gue sama saudara kembar gue, Yuka” ucap Yuki sambil terus memandangi foto itu tanpa tau ekspresi wajah Stef yang menegang mendengar ucapan Yuki barusan.
“Gue sayang banget sama dia meskipun kita berdua harus tinggal berjauhan. Nenek gue sayang banget sama Yuka makanya beliau minta Yuka tinggal dengannya di Bandung. Walaupun tinggal berjauhan, gue sama Yuka saling menyayangi satu sama lain dan nggak pernah ada rahasia diantara kita berdua kecuali satu hal” cerita Yuki sedih mengingat saudaranya. “Tapi Yuka udah meninggal dua tahun yang lalu. Gue nggak pernah tau dengan jelas apa penyebabnya, yang gue tau dia kecelakaan di daerah puncak” lanjut Yuki.
Wajah Stef mendadak pucat mendengar cerita Yuki. Perasaannya benar-benar kacau dan tak tau harus berkata apa. Sedangkan Yuki terus larut dalam kenangannya.
****************************************************************
bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar