Sabtu, 22 Oktober 2011

TRUE LOVE IS NEVER DIE 25

Di sekolah terjadi perang dingin antara Yuki dan Stef. Lebih tepatnya mereka berdua saling bungkam dan menghindar satu sama lain jika bertatapan. Terutama Yuki yang selalu berusaha untuk menghindar dari Stef di setiap kesempatan.
Sahabat-sahabat mereka sampai tak bisa berbuat apa-apa untuk mendamaikan mereka berdua kali ini, karena mereka sudah tau masalah yang sebenarnya diantara mereka dari Fathir. Mereka mengerti bagaimana perasaan Yuki saat ini tapi mereka juga tak bisa menyalahkan Stef begitu saja karena Stef pasti punya alasan yang kuat mengapa menyembunyikan hal ini dari Yuki dan yang lainnya. Semua berkaitan dengan masa lalu Stef dan berhubungan dengan Yuki yang mereka semua tak ketahui.
“Guys, mending gue liat mereka berantem kayak tom & jerry deh daripada harus liat mereka perang dingin kayak gini” keluh Karina.
“Loe bener Karina. Gue kangen sama Yuki dan Stef yang dulu daripada yang sekarang. Mereka udah kayak orang asing tau nggak” sahut Bella.
“Apa nggak ada yang punya ide buat mendamaikan mereka gitu. Sumpah, gue nggak tega liat mereka terus-terusan kayak gini” ucap Angel.
“Fathir, kita harus gimana dong buat bantuin mereka berdua?” tanya Vita pada kekasihnya.
“Aku juga nggak tau, Sayang. Ini masalah pribadi mereka yang kita sama sekali nggak bisa ikut campur dalam hal ini” jawab Fathir.
“Fathir benar, Guys. Masalah ini terjadi disaat kita sama sekali belum mengenal mereka. Kita nggak bisa menjudge Stef bersalah dan meminta Yuki untuk memaafkan Stef. Bagaimanapun juga Yuki memang berhak untuk marah pada Stef” ujar Mike.
“Tapi mau sampai kapan mereka akan terus seperti ini, Mikey?” tanya Angel.
“Biar waktu yang akan menjawab semuanya. Karena perasaan tak akan pernah bisa berbohong” jawab Mike.
Tiba-tiba Cukem datang sambil berlari, nafasnya ngos-ngosan seperti abis ngeliat hantu.
“Guys, tau nggak siapa yang kita liat tadi di parkiran” seru Cukem.
“Emangnya apaan, Beibh?” tanya Karina pada Nakula.
“Kita liat Yuki dianter sama cowok.  Keren banget, tapi nggak sekeren kita pastinya” jawab Nakula.
“So pasti” sahut Aldo lalu kedua makhluk yang dijuluki Cumi kembar itu pun saling tos,
“Woooo….narsis banget sih jadi orang” sela semuanya.
“Ngomong-ngomong emangnya tuh cowok siapa?” tanya Fathir.
“Kita juga nggak tau sih, tapi yang jelas kita tadi liat Yuki keluar dari mobil dibukain pintu gitu sama cowok itu” jelas Aldo.
“Kira-kira siapa ya?” tanya Vita penasaran begitu pula anak-anak yang lain.


Stef baru saja masuk ke kelas, seperti biasa cowok itu datang dengan raut wajah tanpa ekspresi begitu pula Yuki yang kini tak seceria biasanya. Tiba-tiba ada panggilan untuk tim cheers dan juga tim basket di lapangan basket saat itu juga.
Mereka dikumpulkan di lapangan untuk latihan dan gladhi bersih sebelum kompetisi yang akan dimulai besok. Tim basket berlatih di bawah arahan Pak Oscar sedangkan tim cheers di bawah arahan Bu Rosa. Tim cheers berlatih di samping lapangan basket, tempat tim basket berlatih.
Kebetulan saat itu tim cheers akan melakukan gerakan membentuk pyramid dan Yuki yang nantinya akan berada di puncak. Saat Yuki akan naik, kaki Yuki yang belum sembuh sepenuhnya terlihat oleng dan tidak seimbang sehingga ia terjatuh, tapi Stef yang nampaknya memperhatikan gerakan Yuki segera menangkapnya tepat waktu sehingga gadis itu tak sampai menyentuh tanah.
Sesaat mereka saling bertatapan namun begitu tersadar, Yuki malah membentak Stef dan meminta untuk menurunkannya.
“Turunin gue” seru Yuki.
Stef pun menuruti apa yang diinginkan gadis itu. Setelah dia menurunkan Yuki, Stef kembali pada teman-temannya dan langsung dihukum oleh Pak Oscar karena meninggalkan latihan begitu saja. Dan Yuki juga meminta izin pada Bu Rosa untuk ke toilet.
Di toilet, Yuki menangis. Perasaannya benar-benar tak karuan saat ini. Dia membenci Stef setelah tau bahwa cowok itu yang menyebabkan saudara kembarnya meninggal tapi kenapa untuk sesaat tadi ketika Stef menolongnya, jantungnya masih saja berdebar-debar terhadap laki-laki itu. Seseorang masuk ke dalam toilet dan melihat Yuki menangis.
“Loe kenapa, Ki?” tanya Vita.
“Gue nggak kenapa-napa kok, Vit” jawab Yuki menyembunyikan perasaannya.
“Ki, kalo loe ada masalah jangan sungkan cerita ke gue dan yang lain ya, karena kita sahabat-sahabat loe akan selalu ada buat loe” ujar Vita.
“Makasih Vita” ucap Yuki mencoba tuk tersenyum. Dan mereka pun kembali ke lapangan dan melanjutkan latihan. Kali ini gerakan mereka telah sempurna, tinggal menunggu kompetisi besok.

Ketika pulang sekolah, Favit, Mikan, Karbel, Cukem, Yuki dan Stef keluar bersama meskipun saat itu Yuki dan Stef sama-sama saling bungkam tapi tujuan mereka satu, yaitu pulang.
Diparkiran, ada seseorang yang telah menunggu Yuki. seorang cowok yang ciri-cirinya sama seperti yang diceritakan oleh Cukem. Cowok itu memang benar-benar keren keren dan juga terlihat lebih dewasa. Cowok itu melambai ke arah Yuki dan Yuki membalasnya lalu menghampirinya tanpa memperdulikan ekspresi sahabat-sahabatnya terutama Stef saat itu.
Yuki terlihat akrab dengan cowok  itu. Mau tak mau Vita dan yang lainnya dibuat penasaran dengan cowok itu, tapi tanpa memberi penjelasan, Yuki pergi begitu saja dengan cowok itu.
“Siapa sih, tuh cowok?” tanya Angel pada yang lainnya tapi sama sekali tak ada yang tau.
Stef yang sedari tadi diam mematung tanpa berkata apa-apa meninggalkan mereka semua yang masih terheran-heran melihat Yuki dan cowok tak dikenal itu. Stef segera mengambil motornya keluar dari area sekolah.
Sepanjang perjalanan, Stef terus mengingat kejadian yang baru-baru ini dialaminya, mulai dari ketika dia tau bahwa Yuki adalah saudara kembar Yuka sampai akhirnya Yuki mengetahui bahwa dia yang menyebabkan meninggalnya Yuka an kini gadis itu bersama laki-laki yang tak dikenalnya. Entah emngapa kenyataan itu membuat hati Stef terasa sakit.

( Backsound: Tertatih –Kerispatih )


aku berjalan di dalam kesendirian
aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu
aku tlah hancur lebih dari berkeping-keping
karna cintaku karna rasaku
yang tulus padamu

begitu dalamnya aku terjatuh
dalam kesalahan rasa ini
reff:
jujur aku tak sanggup, aku tak bisa
aku tak mampu dan aku tertatih
semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat  ku dustai
meskipun harus tertatih

begitu dalamnya aku terjatuh
dalam kesalahan rasa ini
repeat reff

aku tak sanggup, aku tak bisa
aku tak mampu dan aku tertatih
semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat ku dustai
meskipun harus tertatih


di tempat lain, Yuki baru saja turun dari mobil bersama laki-laki yang membuat sahabat-sahabatnya penasaran.
“Kak Revan, makasih ya udah nganter dan jemput Yuki” ucap Yuki sambil tersenyum.
“Sama-sama, Kak Revan seneng kok bisa nganter dan jemput Yuki. Tiap hari juga nggak pa-pa” ujar cowok itu.
“Bener nih?” tanya Yuki bercanda.
“Beneran lah, kalo Yuki mau, Kak Revan ok-ok aja” sahut cowok itu.
“Kak Revan ini suka banget bikin Yuki ge-er…hehehe” ucap Yuki.
“Hehehe….ya udah sekarang Yuki masuk gih” suruh Revan.
“Kak Revan nggak ikut masuk?” tanya Yuki.
“Kak Revan masih ada urusan, jadi lain kali aja Kak Revan mampir ya” jawab Revan.
“Ok deh…bye Kak Revan” ucap Yuki sebelum Revan pergi.
Di kejauhan, seseorang memperhatikan tingkah laku Yuki sejak turun  dari mobil hingga gadis itu masuk ke dalam rumah.


Esoknya, kompetisi pun dimulai. Kompetisi cheers dan basket diadakan di lokasi yang sama hanya tempatnya saja yang dibedakan. Kebetulan tim cheers SMA 55 mendapat giliran tampil di awal sedangkan tim basket setelah lolos babak seleksi sebelumnya, mereka akan bertanding melawan SMA 25 di final.
Penampilan tim cheers tak diragukan lagi. Begitu sempurna. Meskipun sebelum tampil, mereka dilanda nervous yang cukup besar ditambah lagi kaki Yuki yang masih sakit. Namun, hal itu sama sekali tak menyurutkan semangat tim cheers SMA 55. Gerakan yang mereka lakukan begitu indah bahkan ketika mereka membentuk formasi pyramid pun terlihat sempurna dan tak terlihat kegalauan apapun.
“Selamat ya, tim kalian hebat banget tadi” ucap Mike pada tim cheers.
“Makasih…, Mikey, kamu tadi liat penampilan kita?” tanya Angel.
“Iya, Beibh, aku liat kok penampilan kamu. Anak-anak yang lain juga liat penampilan kalian semua tadi” jawab Mike seraya tersenyum lembut pada kekasihnya.
“Oiya sebentar lagi giliran kalian bertanding, kan? tanya Vita.
“Iya 15 menit lagi giliran kita” jawab Fathir.
“Selamat berjuang ya teman-teman” ucap Vita disambut anggukan oleh tim basket.
Yuki yang dari tadi diam tiba-tiba berlari ke ujung ruangan menghampiri Revan yang sudah sejak tadi melihat Yuki Cs tampil.
“Kak Revan udah lama ya disini?” tanya Yuki
“Yah lumayan lah sudah sejam yang lalu” jawabnya sambil tertawa.
“Kenapa nggak nyamperin Yuki sih?” tanya Yuki.
“Maaf ya, tadi Kak Revan pikir Yuki lagi sibuk sama teman-teman kamu” jawab Revan.
“Ya udah, yuk Yuki kenalin ke teman-teman Yuki” ajak Yuki sambil menyeret Revan menuju teman-temannya.
Melihat Yuki dan Revan mendekat, Stef langsung pergi. Tentu saja hal itu membuat para sahabatnya merasa heran. Sebenarnya mereka semua tau perasaan Stef yang sebenarnya dan mereka juga tau bagaimana persaan Yuki ke Stef sebelum adanya kejadian itu. Tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Pertandingan basket pun dimulai. Tim cheers plus Revan yang kini telah menjadi sahabat mereka mengambil tempat yang strategis untuk melihat pertandingan final antara tim basket SMA 55 dengan SMA 25.rupanya pertandingan berjalan cukup imbang. Kedua tim sama-sama kuat, tapi tim basket SMA 55 terus berjuang sekuat tenaga demi membawa nama sekolah dan harapan teman-teman mereka.
“Ayo Mike!!!” teriak Angel.
“Fathir…kamu pasti bisa!!!” teriak Vita.
“Cukem….tunjukkan kemampuanmu!!!” teriak Karbel.
“Stef…Stef….Stef…” teriak penonton yang lain meneriaki para pemain SMA 55.
Pertandingan semakin seru. Skor kedua tim terus bersaing, perbedaannya sangat tipis. Di tengah teriakan para penonton yang membahana, diam-diam Vita memperhatikan Yuki yang menatap ke arah lapangan tanpa berkedip. Vita mengikuti arah pandangan Yuki, rupanya sahabatnya itu memperhatikan Stef dari tadi.
“Ki, boleh gue tanya sesuatu?” ucap Vita.
“Loe mau tanya apa, Vit?” tanya Yuki.
“Loe masih sayang kan sama Stef?” tanya Vita.
Yuki yang tadinya tak melihat ke arah Vita, kini menatap sahabatnya itu dengan pandangan aneh.
“Ngomong apa sih loe, Vit. Gue nggak mungkin sayang sama orang yang udah bikin saudara gue meninggal” ujar Yuki. Ekspresinya terlihat marah.
“Gue tau itu bukan perasaan loe yang sebenarnya kan, Ki” ucap Vita.
“Udah lah Vit, males gue ngomongin hal ini” ucap Yuki kesal.
“Tapi, Ki, mau sampai kapan loe marah sama Stef. Kita semua tau soal Yuka, dan kita percaya Stef bukan orang yang jahat. Paling nggak loe dengerin penjelasan dia. Gue nggak mau loe terus-terusan benci sama Stef dan melukai perasaaan loe sendiri” ujar Vita.
“Stop Vita….hentikan omong kosong ini” bentak Yuki mulai marah sehingga membuat orang-orang disekitar menatap mereka berdua.
Yuki yang bingung berlari meninggalkan bangku penonton, padahal pertandingan sebentar lagi akan selesai. Vita dan yang lainnya segera menyusul Yuki. Yuki yang pergi sambil menahan menangis karena kata-kata Vita tak menghiraukan panggilan sahabat-sahabatnya. Dia terus berlari dan berlari sehingga ketika ia hendak menyeberang jalan, ia tak menyadari ada mobil  yang melaju dengan kecepatan sanagt tinggi. Dan kecelakaan pun terjadi tepat disaat peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan.


*****************************************************************
bersambung........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar