Sabtu, 22 Oktober 2011

TRUE LOVE IS NEVER DIE 10

         Yuki dan Karina segera meluncur menuju stasiun radio tempat Esa biasa siaran, dan begitu sampai  di sana, mereka bergegas masuk ke dalam dan bertanya pada resepsionis.
         “Maaf Bu, bisa saya bertemu dengan pembawa acara ‘Katakan dengan Hati’?” tanya Yuki tak menyebut nama Esa. Karena memang sudah peraturan perusahaan kalau penyiar diwajibkan merahasiakan identitasnya yang asli.
         “Adik-adik ini siapa ya dan ada keperluan apa?” tanya si resepsionis.
         “Bu resepsionis yang cantik…teman saya ini tuh kan pa…..” belum sempat Karina menyelesaikan kalimatnya, Yuki buru-buru menginjak kaki Karina seolah member isyarat.
        “Begini Bu, sebenarnya saya ingin sekali bertemu dengan pembawa acara ‘Katakan dengan Hati’, ada yang ingin saya ceritakan juga minta pendapatnya, apa boleh?” tanya Yuki pada si resepsionis.
        “Apa mbak sudah buat janji?” tanya si resepsionis lagi.
        “Sudah mbak, bahkan udah dari beberapa hari yang lalu” sahut Karina.
        “Wah, kalau begitu adik-adik terlambat. Baru aja orangnya keluar. Coba adik cek di parkiran, mungkin masih ada” ucap si resepsionis.
        “Terima kasih, Bu” ucap Yuki pada si resepsionis lalu dengan cepat menarik Karina.
        “Yukiii….wait….pelan-pelan dong” protes Karina yang tangannya ditarik keras oleh Yuki.
        “Aduh Karina, cepetan dong nanti Esa keburu pergi” seru Yuki.
        Mereka segera berlari ke pelataran parkir motor. Yuki berharap Esa masih ada disana. Tapi begitu mer eka sampai disana, dia melihat motor Esa hendak keluar dari pelataran parkir. Tanpa sadar Yuki melepaskan pegangannya pada Karina dan berlari mengejar motor Esa.
        Seperti orang kesetanan Yuki mengejar motor Esa dan memanggil-manggil nama cowok itu tapi orang itu tetap  saja terus melaju dan semakin lama semakin menghilang dari pandangan Yuki. Gadis itu merasa lelah hingga dia terduduk di aspal, tanpa sadar air mata mengalir membasahi wajahnya.
        “Esa, ini aku, Yuki. Kenapa kamu sama sekali nggak menoleh” gumam Yuki di tengah tangisannya.
Karina mendekatinya dan memegang pundaknya,” Yuki sayang jangan nangis dong. Gue jadi ikutan sedih nih” ucap Karina
        “Gue hampir aja ketemu dia, Karina, tapi dia nggak menoleh, dia pergi”isak Yuki
        “My princess sayang, Esa boleh aja pergi, kenapa kita nggak tanya aja alamat rumahnya di stasiun radio tempat Esa kerja” usul Karina
        “Mana mungkin bisa, Karina. Aturan perusahaan itu ketat banget, kita nggak bisa seenaknya minta alamat” ucap Yuki meragukan.
        “Tenang aja my princess, loe serahin aja ke gue, pasti gue bisa dapetin alamatnya si Esa” ucap Karina mantap.
        Yuki ragu pada kata-kata Karina, karena memang stasiun radio  tempat kerja  Esa itu ketat banget. Jati diri penyiar aja harus dirahasiakan apalagi ini minta alamatnya penyiar. Impossible, pikir Yuki.
        “Besok gue jamin alamat Esa bakal ada ditangan loe” ucap Karina penuh percaya diri.
Walaupun meragukan, Yuki tetap berterima kasih pada Karina, “Makasih, Karina” ucapnya sambil tersenyum.
Akhirnya mereka berdua pun pulang dengan perasaan kecewa, terutama Yuki.


         ‘Halo,Vita, loe dimana sekarang?” tanya  Angel yang kesepian lalu menelepon Vita, sahabatnya.
         “Gue lagi jalan sama Fathir, Ngel” jawab Vita.
         “Ciieee….tumben nih kalian jalan berdua, ngedate nih….apa kalian udah jadian?” tebak Angel
         Vita tertawa, “Iya Ngel, tadi siang gue jadian sama Fathir” jelas Vita.
         “Syukur deh kalo gitu, gue ikut seneng dengernya” ucap Angel.
         “Oh iya hampir aja lupa. Ada apa, Ngel, kok loe telepon gue, bukannya loe mau dinner bareng Mike?” tanya Vita.
         “Gue nggak jadi keluar, Vit. Mike harus nganter nyokapnya ke dokter” jawab Angel.
         “Jadi, loe sendirian dong sekarang. Maaf ya Angel, gue nggak bisa nemenin loe atau loe kesini aja gabung sama gue dan Fathir” ajak Vita.
         “Nggak usah deh Vita,  ntar malah jadi obat nyamuk gue. Gue juga nggak mau ganggu kencan pertama kalian” ujar Angel.
         “Bisa aja loe, Ngel. Ya udah gue mau temuin Fathir dulu ya, kebetulan nih gue lagi di toilet. Nggak lucu kan kalo Fathir nyangkain gue sakit perut…hehehe” canda Vita.
         “Oke, good luck Vita”” ucap Angel sebelum menutup teleponnya.
         Vita segera keluar dari toilet lalu menghampiri Fathir yang telah menunggunya di salah satu meja.
        “Maaf Fathir, kamu lama ya nunggunya?” tanya Vita.
        “Nggak pa-pa kok, Vit, cuma 10 menit aja sama sekali nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu yang udah nunggu aku selama ini” jawab Fathir bikin muka Vita bersemu merah karena malu.
Fathir lalu memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua. Ketika menunggu makanan datang, Fathir tiba-tiba berdiri.
         “Kamu mau kemana, Fathir?” tanya Vita.
         “Tunggu ya, Vit, aku ada kejutan buat kamu” jawab Fathir lalu berjalan menuju panggung kecil yang ada di cafe itu, kebetulan saat itu ada band yang baru saja tampil. Fathir lalu berbisik pada sang vokalis.
        “Para pengunjung sekalian, hari ini kami kedatangan seorang teman yang ingin membawakan sebuah lagu untuk kita semua yang ada disini, khususnya untuk seseorang yang ada di sana” ujar sang vokalis menunjuk ke arah Vita.
         Kontan saja semua mata para pengunjung mengarah padanya, sehingga mau tak mau Vita jadi malu, mukanya bahkan merah sekali karena menahan malu yang luar biasa. Fathir pun menyannyikan sebuah lagu untuk Vita.


               Denganmu....Kulewati hari
               Dengan tak pasti....Kulewati waktu
               Yang terasa...Sedih untukku
               Yang kutahu...Itu berat bagimu


                Selama ini..Kusadari akan
                keangkuhanku...yang telah membeku
                Hingga sulit..Mungkin untuk berpijak
                Hingga sulit..Mungkin untuk berfikir

                 Seandainya..Dirimu mengerti..Isi hatiku...
                 Betapa aku menyayangmu...........
                 seandainya..engkau memahami..Perasaanku
                 Yang membebaniku...Yang sedih untuk..Kusadari..
                 Seiring waktu..Yang terus berlalu
                 Telah memudar..Keadaanku...
                 Untuk mencoba...Mencintaimu
                 Untuk semakin..menyayangimu..
                 Kini kusadari..Betapa diriku..Membutuhkanmu...
                 s'lalu bersamaku...ho...o..
                 Kutak ingin..Suatu saat nanti..Kita berpisah..
                 Karna yang kuingin..Kita bersama...Untuk selamanya...
                 Tak sedikitpun terlintas di benakku
                 Untuk meninggalkanmu seorang diri.......
                 Karna kuyakin hanya dirimulah yang untuk perasaanku yang selama ini....
                 Membuatku tetap cinta.....
                 Seadainya..Dirimu mengerti..Isi hatiku...
                 Betapa aku menyayangmu...........
                 seandainya..engkau memahami..Perasaanku
                 Yang membebaniku...Yang sedih untuk..Kusadari..
(Viory – Romance)
          Vita benar-benar bahagia dan terharu. Vita langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju Fathir lalu memeluknya.
        “Fathir terima kasih kamu udah bikin aku malu banget tapi kamu udah bikin aku bahagia sekali hari ini” ucap Vita.
        “Nggak hanya hari ini aja Vita. Gue akan selalu bikin hari-hari kamu bahagia. Aku janji” ucap Fathir seraya melepaskan pelukan gadis itu dan menatap ke dalam matanya.
        “I Love You, Vita, my princess” ucap Fathir yang langsung disambut tepuk tangan dari para pengunjung.
Tak lama setelah itu entah darima datangnya, Cukem dan Bella muncul dan mengagetkan keromantisan mereka berdua.
        “Cieeeee….udah jadian nih ceritanya” seru Bella.
Fathir dan Vita tersenyum malu-malu.
        “Ada jadian, berarti ada PJ (Pajak Jadian) dong” seru Cukem.
        “Dasar cumi kembar….kalo gratisan aja kalian semangat banget” seru Bella sambil menjewer telinga Cukem, Nakula dan Aldo.
        Fathir dan Vita hanya bisa tertawa melihat kekonyolan sahabat-sahabatnya itu. Akhirnya mereka berlima duduk satu meja, karena Fathir mentraktir mereka.
        “Kalian tadi sama Mike, ya?” tanya Bella.
Vita menggeleng,”Nggak tuh, Bel, dari tadi kita berdua aja disini” jawab Vita.
        “Beneran kalian berdua aja, tapi tadi gue liat Mike keluar dari sini sama cewek, cantik lagi tuh cewek” ucap Nakula.
        “Bener banget tuh, tapi si Mike telinganya sombong bener, gue panggilin juga gak noleh sama sekali” ucap Aldo.
        “Seperti yang Vita bilang tadi, kita berdua nggak tau sama sekali kalau ada Mike disini” ucap Fathir.
        “Lagian mana mungkin sih Mike ada disini tapi nggak nyamperin kita. Angel tadi telepon gue bilang kalo Mike nganterin nyokapnya ke dokter” ujar Vita.
        “Yakin loe, Vit, tapi gue bener-bener liat Mike. Nggak mungkin kan kita bertiga salah liat orang, mata gue juga masih normal kok. Gue liat Mike tuh sama cewek cantik dan masih muda, jadi nggak mungkin dong itu nyokapnya Mike” jelas Bella keukeuh pada pendapatnya.
        “Kalo menurut kalian tadi beneran Mike, berarti Mike udah bohong dong sama Angel. Trus cewek itu siapa kalo bukan Angel?” tanya Vita bingung.
        “Jangan-jangan Mike selingkuh” seru Nakula.
        “Bisa jadi tuh, kan loe bilang Mike bohong sama Angel kan, Vit, bilang kalo nganter nyokapnya ke dokter, padahal lagi jalan sama cewek lain” jelas Aldo.
        “Guys, kita nggak boleh nuduh orang sembarangan tanpa bukti yang jelas, apalgi dia sahabat kita sendiri.  Belum tentu juga Mike selingkuh, mungkin aja cewek yang kalian lihat itu saudaranya” ucap Fathir mencoba berpositif thinking.
         “Bener apa yang dibilang Fathir, dari pada kita menduga-duga gak jelas lebih baik kita Tanya langsung aja sama Mike langsung. Kasihan Angel kalo sampai bener Mike bohongin dia” ucap Vita sedih.
        “Yah terserah kalian aja, sekarang waktunya kita makan-makan” seru Cukem begitu melihat pesanan makanan mereka datang.


         Di sebuah ruangan, ada dua anak manusia yang tampak saling berhadapan. Salah satu diantara mereka  terbaring di atas ranjang sedangkan satu lagi duduk disampingnya.
        “Gue udah lakuin apa yang loe minta. Gue datang ke tempat itu, tapi sayangnya gue terlambat. Gue juga udah gantiin loe siaran di radio. Gue mohon loe cepet bangun, Brother” ucap salah satu diantara mereka”

*********************************************************
bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar