Stef masih berdiri mematung di anjungan pantai dari beberapa jam yang lalu, memandang ombak yang bergulung-gulung menggoyangkan perahu-perahu para nelayan. Ia masih belum bisa percaya pada apa yang telah ia dengar dan lihat. Masih terekam jelas dalam memori ingatannya peristiwa 2 tahun yang lalu, ketika pertama kali mengenal sosok itu, Yuka, gadis yang telah merubah seluruh hidupnya.
DUA TAHUN YANG LALU…..
Sekumpulan remaja sedang berkumpul di sebuah arena balap liar. Stef ada disana bersama beberapa remaja lain seusianya bahkan ada pula yang lebih tua darinya.
Yah, Stef tadinya seorang anggota genk motor, bahkan dia yang paling jago diantara para anggotanya. Meskipun saat itu Stef tergolong masih merupakan siswa putih-biru namun tak menutup kemungkinan ia cukup dikenal oleh beberapa anggota genk motor lain yang lebih tua usianya. Biarpun Stef tergabung dalam genk motor, tapi tak pernah sekalipun dia ikut-ikutan merusak fasilitas-fasilitas umum seperti yang banyak diberitakan di media.
Ketika itu terjadi bentrokan antara genk motor Stef dengan genk motor lain yangv merasa tak terima dikalahkan oleh genk Stef apalgi sebelumnya diantara kedua kubu sering terjadi selisih paham. Tawuran pun tak terelakkan lagi.
Seorang gadis tanpa sengaja me;ewati area tawuran itu, namun gadis itu seolah acuh pada apa yang terjadi di depan matanya. Dia hanya berdiri mematung, menyaksikan kejadian itu seolah sebuah film.
Tiba-tiba terdengar suarana sirine polisi yang entah darimana asalnya sehingga membuat tawuran itu terhenti dan mereka semua berhamburan meninggalkan lokasi untuk menyelamatkan diri, kecuali satu orang yakni gadis itu. Gadis berambut panjang dan memakai kacamata itu masih berdiri sambil memegang HP-nya.
Stef yang terluka tak sempat melarikan diri lalu memilih bersembunyi tak jauh dari tempat kejadian.
“Sial…..gimana polisi-polisi itu bisa tau” keluh Stef sambil menahan perih luka di sekujur tubuhnya.
Terdengar suara langkah kaki menuju arahnya, membuat Stef semakin was-was. Dia pun bersiap dengan segala kemungkinan. Ia mengambil balok kayu yang ada di dekatnya dan bersiap memukul kalau-kalau polisi itu berniat menangkapnya. Suara langkah kaki itu semakin dekat…..dan……
“Loe mau mukul gue pake kayu” seru sebuah suara.
Stef terkejut saat mendengarnya. Itu bukan suara polisi. Seorang gadis mendekatinya perlahan. Gadis itu terlihat begitu polos dan feminim tipikal gadis terpelajar.
“Tenang aja, nggak ada polisi kok” ucap gadis itu lagi.
“Loe siapa?” tanya Stef penuh selidik.
“Gue bukan siapa-siapa, cuma orang yang kebetulan lewat aja” jawabnya sambil menyodorkan sapu tangannya pada Stef.
Stef agak ragu untuk menerimanya. Seolah tau apa yang dipikirkan Stef, gadis itu tersenyum lalu meraih tangan Stef agar Stef menerima sapu tangan itu.
“Ambil ini untuk bersihkan luka-luka kamu” ucap gadis itu dan Stef pun menurut.
“Ya udah, gue mau pulang dulu…bye…” ucap gadis itu hendak beranjak pergi.
“Tunggu” cegah Stef.
“Ya…ada apa?” tanya gadis itu.
“Loe yakin di luar sana nggak ada polisi?” tanya Stef.
“100 persen yakin. Soalnya emang nggak pernah ada polisi disana” jawab gadis itu.
“Trus suara sirine itu?” tanya Stef.
“Maksud loe suara ini” gadis itu menyalakan bunyi di HP nya.
Stef memandang tak percaya pada gadis itu. Begitu hebatnya dia berhasil mengecoh para genk motor. Gadis itu pun berlalu pergi meninggalkan Stef dengan berjuta pertanyaan dan rasa penasaran.
Stef bersekolah di sebuah SMP yang cukup elit di daerahnya, bahkan dia pun tergolong siswa yang pandai karena selalu menjadi juara umum dan mengharumkan nama sekolah. Dibalik semua itu, ternyata Stef mempunyai sifat pemberontak akibat kurangnya perhatian dari kedua orangtuanya. Dia sering membuat ulah tak hanya di sekolah namun juga di tempat lain.
Seperti saat ini, dia malah tidur di bangku paling belakang ketika pelajaran sedang berlangsung. Dan guru-guru tak ada yang berani menegurnya karena orangtuanya adalah pemilik yayasan sekolah.
Tiba-tiba seorang guru lain masuk ke kelas dan membawa seorang siswa baru. Olh sang guru, siswa itu diperkenankan untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya Yuka, pindahan dari Jakarta. Didini, saya tinggal bersama nenek saya. Mohon bantuannya” ucap gadis itu dengan senyum hangatnya.
Guru pun mempersilahkan Yuka untuk duduk. Karena semua tempat sudah terisi penuh kecuali bangku paling belakang, mau tak mau Yuka menuju bangku itu, bangku disamping Stef.
“Permisi, boleh gue duduk disini?” tanya Yuka membangunkan Stef yang tengah tidur.
Tanpa memandang gadis itu, Stef hanya bergeser sedikit lalu melanjutkan tidurnya kembali.
Yuka menatap heran pada teman sebangkunya itu, sepertinya wajah itu tak asing baginya. Yuka menatap cowok itu dari atas sampai ke bawah, barulah ia yakin pada sosok disampingnya itu.
“Loe yang kemarin ikut tawuran itu kan, nggak nyangka ternyata loe sekolah disini” ucap Yuka sambil tersenyum.
Stef bangun dan menatap Yuka tak mengerti, seolah berkata, “Siapa sih loe?” batinnya.
“Loe udah lupa ya sama gue” ucap Yuka.
“Apaan sih, sok kenal banget sama gue” ucap Stef kesal namun Yuka hanya menanggapinya dengan senyuman. Stef pun kembali melanjutkan tidurnya.
Rupanya Yuka termasuk anak yang supel sehingga mudah bergaul dengan siapa aja. Tak heran jika dalam waktu yang singkat ia telah mempunyai banyak teman. Kecuali Stef, teman sebangkunya yang selalu acuh padanya.
“Stef, belajar bareng yuk, loe kan pinter tuh, ajarin gue fisika dong…” pinta Yuka.
Stef memandang sebal pada gadis itu karena selalu saja merecoki dirinya.
“Apaan sih, ganggu aja” sahut Stef dingin tapi Yuka tak pernah menyerah. Dengan segala cara dia berusaha untuk membujuk Stef agar mau mengajarinya.
“Hmm…oke deh kalo loe nggak mau juga nggak pa-pa tapi kira-kira kalo seluruh sekolah ini tau ada siswa yang jadi anggota genk motor gimana ya…hmmm…” ucap Yuka pura-pura berpikir. Stef terkejut.
“Loe, gimana bisa tau?” tanya Stef heran.
“Loe lupa ya sama gue. Apa loe bener-bener nggak inget kejadian malam itu?” tanya Yuka ganti.
Stef mencoba mengingat-ingat dan memorinya terhenti pada satu scene dimana dia bertemu seorang gadis yang dengan entengnya menunjukkan betapa pintarnya dia berhasil mengecoh para genk motor.
“Loe, cewek yang waktu itu?” tanya Stef. Yuka mengangguk dengan senyum penuh arti.
Mau tak mau Stef pun menuruti kemauan Yuka. Perlahan tapi pasti, Yuka sedikit merubah perilaku Stef yang tadinya suka tidur di kelas dan selalu dingin sama orang lain menjadi Stef yang lebih care sama orang lain. Yah awalnya memang karena ancaman Yuka, tapi lama kelamaan Stef berubah atas keinginannya sendiri. Dan Stef mulai jatuh cinta pada Yuka.
“Ka, loe belajar mulu, nggak capek apa” keluh Stef yang memperhatikan Yuka sedari tadi sibuk membaca buku.
“Kan sebentar lagi Ujian Nasional, Stef. Loe sih enak otak loe pinter. Nah gue…” ucap Yuka desperate sambil menutup buku dan melepas kacamatanya.
“Daripada loe stress….ikut gue yuk” ajak Stef.
“Kemana sih?” tanya Yuka.
“Udah ikut aja nggak usah banyak nanya” Stef segera menarik tangan Yuka yang buru-buru memasukkan buku ke dalam tasnya.
Yuka bingung kemana Stef akan mengajaknya. Stef membonceng Yuka dengan motornya menuju arah pantai. Yuka semakin bingung saat Stef menghentikan motornya lalu menarik Yuka menuju bibir pantai.
“Loe ngapain ngajakin gue kesini?” tanya Yuka heran.
“Loe suka kan sama pantai?” tanya Stef balik.
“Loe tau darimana gue suka sama pantai?” tanya Yuka lagi.
“Apa sih yang nggak gue tau tentang loe. Loe tuh suka banget pantai dan ngeliat sunset. Loe juga suka lihat pemandangan yang indah, suka main piano, melukis dan loe selalu pengen orang-orang disamping loe selalu bahagia” jelas Stef.
“Ah loe sok tau banget” ucap Yuka malu-malu dan memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba Stef meraih kedua tangan Yuka sehingga gadis itu menatapnya heran. Stef menatap mata Yuka dalam-dalam.
“Yuka, aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu jadi orang yang paling special di hati aku. Maaf kalo aku tiba-tiba mengatakan hal ini, tapi aku benar-benar tak bisa membohongi hati aku sendiri” ucap Stef.
Yuka melihat ketulusan di mata Stef. Yuka tersenyum lalu berkata, “Aku juga sayang sama kamu, Stef. Tapi untuk saat ini aku ingin konsen dulu pada pelajaran setidaknya sampai Ujian Nasional berakhir” ucap Yuka.
Stef udah menduga akan mendapatkan jawaban itu, tapi Stef tetap tersenyum pada gadis itu, “ aku akan nunggu jawaban kamu sampai saat itu tiba. Dan aku janji kalau kita berdua akan lulus sama-sama” ucap Stef mantap.
Dan hari itu mereka lewatkan dengan melihat sunset. Stef menyanyikan lagu untuk Yuka.
angin tolonglah aku sedang jatuh cinta
tapi aku tak punya nyali tuk katakan
bahwasanya setiap hari kumerindukan dia
angin masukkan aku ke dalam mimpinya
jadikan aku raja dan dia ratunya
buat dia selalu memikirkan diriku
reff :
angin katakan padanya bahwa aku cinta dia
angin sampaikan padanya bahwa aku butuh dia
angin tancapkanlah busur panah cintaku
tancapkanlah cepat tepat dijantung hatinya
sebelum hatinya jadi beku dan membatu
(Angin – Dewa 19)
Ujian Nasional sudah di depan mata. Stef dan Yuka sering menghabiskan waktu berdua untuk belajar. Stef pun vakum dari genk motornya karena hal ini.
“Besok kita udah ujian nih, Stef. Aku deg-degan banget” ucap Yuka.
“Kamu tenang aja. Kita kan udah belajar….itu artinya kita udah berusaha. Kita tinggal berdoa dan berharap yang terbaik selanjutnya Tuhan yang menentukan” ucap Stef menghibur.
“Iya kamu bener, Stef” ucap Yuka sambil tersenyum.
Esoknya Ujian Nasional pun dimulai hingga 3 hari ke depan.
Percepat……….
Selesai Ujian Nasional, mereka menunggu hasil kelulusan. Stef mengajak Yuka pergi ke sutau tempat di daerah puncak. Stef ingin memperlihatkan pemandangan yang indah pada Yuka.
“Stef….bagus banget….” seru Yuka melihat pemandangan yang diperlihatkan oleh Stef.
“Aku tau kamu pasti suka”ucap Stef sambil memndang lembut Yuka.
“Ka, boleh aku minta jawaban kamu sekarang?” tanya Stef.
Yuka menatap Stef cukup lama sampai akhirnya ia tersenyum lalu mengangguk. Stef begtu bahagia hingga ia memeluk gadis itu dan menggendongnya sambil berputar-putar. Mereka begitu bahagia saat itu tanpa sadar sesuatu yang besar akan merebut kebahagian itu.
Stef dan Yuka hendak kembali pulang ketika cuaca semakin mendung. Mereka melewati jalan yang agak sepi dan penuh tikungan agar lebih cepat sampai, namun di tengah jalan mereka dihadang segerombolan orang yang ternyata anggota genk motor Stef.
Rupanya anggota genk motor Stef tak terima karena Stef vakum dari genk motor dan memilih untuk mengundurkan diri. Mereka meminta Stef kembali tapi Stef menolak. Akhirnya, mereka menantang Stef untuk adu balap motor berboncengan dan Stef setuju.
“Stef, please jangan lakuin perbuatan konyol kayak gini” cegah Yuka takut.
“Tapi nggak ada pilihan lain, Ka” ucap Stef.
“Stef, kita mengalah aja, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu” ucap Yuka khawatir.
“Kamu tenang aja, aku janji kalo aku akan jagain kamu. Percaya sama aku” ucap Stef meyakinkan.
Yuka mengangguk pasrah meskipun perasaannya benar-benar tak tenang.
“Kamu pegang erat aku ya” suruh Stef, Yuka menurut saja.
Mereka pun bersiap untuk bertanding, gerimis mulai turun dari langit yang mendung. Yuka yang duduk di belakang Stef, memeluk erat tubuh Stef.
Pertandingan berlangsung cukup seru dan ketat, namun Stef berhasil berada di posisi paling depan meninggalkan lawannya. Tikungan demi tikungan ia lewati dengan sempurna. Karena gerimis menjadi semakin deras, membuat jarak pandang Stef terganggu dan pada tikungan terakhir, Stef tak melihat ada sebuah mobil pick up melaju menuju arahnya. Stef mencoba menghindar namun terlambat. Motor Stef oleng lalu menabrak pembatas jalan. Stef dan Yuka terlempar beberapa meter dari tempat kejadian.
Stef yang sempat sadar melihat Yuka tergeletak bersimbah darah. Darah keluar deras dari belakang kepalanya. Stef mencoba meraih tangan Yuka meskipun harus susah payah menyeret tubuhnya. Dan begitu di berhasil menggenggam tangan kekasihnya itu, Stef pingsan.
Stef tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika sadar, dia mendapati kenyataan yang begitu menyedihkan. Yuka meninggal dalam kecelakaan itu. Stef benar-benar terpukul atas kejadian itu. Dia sanagt menyesal. Andai dia menuruti kata-kata Yuka saat itu, mungkin gadis itu masih ada disampingnya. Nasi sudah menjadi bubur. Yuka telah tiada, dan Stef gagal memenuhi janjinya untuk menjaga gadis itu.
Stef tersadar dari lamunannya, ia mengusap setitik air mata yang menetes dari matanya.
************************************************************
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar