Sabtu, 22 Oktober 2011

TRUE LOVE IS NEVER DIE 24

Yuki membaca diary Yuka dari awal sampai akhir. Hingga akhirnya ada beberapa bagian yang menurutnya penting disana dan berhubungan dengan penyebab kematian Yuka.

Dear Diary,
Hari pertama gw pindah dari Jakarta dan memilih tinggal sama oma,
rasanya berat banget karena harus pisah sama Yuki. Dia nangis terus waktu gw
mutusin untuk tinggal sama oma…
Maklumlah, kita berdua emang saudara kembar yang nggak pernah terpisahkan,
makanya susah banget rasanya berpisah dari Yuki, tapi mau gimana lagi,
gw kasihan sama oma yang sendirian disini. Gw harap Yuki bisa ngerti keputusan gw.


Diary….
Baru aja gw liat tawuran genk motor…entah mengapa gw lucu aja liat mereka
berantem ga’ jelas, saling adu kekuatan hanya karena hal sepele. Lucunya, dibalik
tampang mereka yang keliatan sangar ternyata gampang banget dibohongin….hehehe
gw nyalain nada dering handphone gw dan gw perkeras suaranya,
eh mereka pada lari ketakutan. Sumpah lucu banget liat reaksi mereka. Andai Yuki ada
disini dan ngeliat kejadian tadi pasti dia langsung ketawa.
Tapi…gw sempat ketemu sama salah satu dari mereka. Gw liat dia terluka,
hampir di seluruh tubuhnya. Gw berniat nolongin dia tapi sepertinya dia jaga
jarak banget sama gw. Akhirnya gw kasih sapu tangan gw buat dia.
Btw, diliat-liat tuh cowok ganteng juga.
kelihatannya terpelajar, tapi kenapa ikut-ikutan genk motor ya………???

Diary ku sayang….,
Hari pertama gw masuk sekolah ternyata menyenangkan juga, anak-anak di sekolah
sangat bersahabat, sepertinya gw bakal betah disini meskipun gw bakal kangen saat-saat
bersama Yuki. Gimana ya, dia sekarang???
Teman sebangku gw orangnya agak aneh…masa’ di tengah jam pelajaran, dia malah
molor kayak kebo…(hehehe) tapi sepertinya dia nggak asing buat gw.
Dan setelah gw amati ternyata tuh cowok kan anggota genk motor
yang waktu itu gw tolongin. Nggak nyangka gw ternyata cowok itu sekolah disini jg….

Diary,
Temen sebangku gw ternyata nggak seburuk yang gw pikir. Rupanya dia smart juga,
itu gw denger dari anak-anak. Tapi sepertinya mereka semua nggak tau
apa yang dilakukan cowok itu di luar sana. Sepertinya cuma gw yang tau rahasia ini
Hihihihi……

My Diary,
Gw berhasil maksa cowok itu untuk ngajarin gw belajar. Sebenarnya sih gw nggak
sungguh-sungguh mengancam dia untuk bocorin rahasianya ke pihak sekolah.
Anehnya tuh cowok setuju….gw harap bisa lebih mengenal cowok itu. Jujur, gw
penasaran banget sama dia sejak pertama gw ketemu dia.

Dear Diary ku,
Kenapa setiap gw liat dia, jantung gw selalu berdebar-debar gini sih???
Gw bener-bener nggak tau perasaan apa ini, gw pengen banget cerita ke seseorang.
Gw berharap Yuki disini nemenin gw tapi Yuki sepertinya masih marah sama gw.
Buktinya, dia jarang balas sms atau jawab telepon gw.
Yuki….maafin gw….

Yuki menangis. Dia menyesal kenapa saat itu dia marah pada Yuka karena keputusannya untuk tinggal bersama Oma. Andai dia mau mengerti, pasti saat itu dia masih bisa bicara dengan Yuka untuk terakhir kalinya.

Diary….
Dia ngajakin gw ke pantai. Gw seneng banget, gw happy banget hari ini.
Dan….dia nyatain perasaannya ke gw, diary….
ternyata persaan gw nggak bertepuk sebelah tangan.
Gw sempat bingung mw jawab apa, akhirnya kata-kata itu yang keluar
dari mulut gw….gw minta dia nunggu gw sampai selesai unas…dan dia setuju

Oh Diary….
Finally….selesai juga unas yang mendebarkan. Kini tinggal menunggu
hasil kerja keras kami. Semoga Yuki juga bisa mengerjakan unas dengan baik.
Gue janji sama dia setelah kelulusan nanti gw bakal ketemu sama Yuki.

Diary…
Dia ngajakin gue ke puncak besok. Dia bilang mau kasih surprise buat gw…
Gw jadi nggak sabar ingin tau kejutan apa yang dia buat untuk gw.
Sepertinya, malam ini gw bakal mimpi indah nih…hehehehe

Dear Diary….
Gw pengen cerita sedikit…kebetulan dia lagi beli minum, jadi gw nggak sabar
pengen cerita….dia bener-bener kasih surprise buat gw yang nggak akan pernah
gw lupain seumur hidup gw…..
dia nyatain lagi perasaannya ke gw….rasanya bahagia banget.
Tapi diary, kenapa perasaan gw jadi ngerasa nggak enak gini sejak berangkat tadi.
entah  mengapa gue ngerasa sedih, padahal gw happy banget hari ini.
Gw jadi nggak sabar ingin cerita langsung ke Yuki. Semoga aja dia mau angkat
telepon gue…..dan bilang kalo gue  sayang dia dan juga Stef.
I love you, Stef.

Yuki menangis semakin menjadi-jadi. Air matanya tumpah dan tak terbendung lagi. Ia tak menyangka selama ini orang yang sering Yuka ceritakan dalam diarynya adalah Stef. Orang yang sama dengan yang dicintainya saat ini.
Dan tulisan terakhir Yuka, membuat Yuki menduga Stef tau penyebab kematian Yuka. Karena dalam tulisan itu, Yuki tau orang terakhir yang bersama Yuka adalah Stef. Entah bagaimana perasaan Yuki saat ini. Dia benar-benar tak dapat berpikir jernih untuk saat ini.


Di tempat lain, Angel merasa heran karena Yuki tak kunjung masuk padahal tas nya ada di bangkunya. Angel pun bertanya pada teman-temannya.
“Loe liat Yuki nggak, Vit?” tanya Angel.
“Nggak tuh, gue aja baru datang gara-gara Fathir nggak jadi jemput gue” jawab Vita.
“Loe, Karina?” tanya Angel lagi.
“Sama, gue juga nggak tau” jawab Karina.
“Kalo nggak salah tadi gue sempat lihat Yuki di depan uang OSIS” sahut Bella.
“Ya udah, gue coba susul Yuki deh. Ada yang mau ikut, nggak” ajak Angel.
Akhirnya Angel pergi bersama Vita, Karina dan Bella. Mereka berempat menuju ruang OSIS. Namun, sesampainya disana mereka hanya melihat Stef dan Fathir.
“Fathir, kamu liat Yuki, nggak?” tanya Vita.
“Nggak tuh, Sayang. Aku daritadi disini sama Stef tapi nggak liat Yuki” jawab Fathir.
“Tapi tadi gue sempat liat Yuki di depan pintu ruang OSIS” sahut Bella.
Mereka semua berpikir kemana perginya Yuki yang tiba-tiba menghilang dari sekolah. Tiba-tiba Stef yang tadinya duduk langsung berdiri. Wajahnya terlihat tegang.
“Loe kenapa, Stef?” tanya Fathir.
“Thir, jangan-jangan Yuki dengar yang kita omongin” ucap Stef cemas.
“Maksud loe, Yuki tadi dengerin percakapan kita tadi?” tanya Fathir dijawab anggukan Stef.
“Kalian pada ngomongin apaan sih, Yuki mana?” tanya Karina tak sabaran.
“Tau nih, kita tuh lagi nyariin Yuki malah kalian ngomongin hal nggak jelas” sahut Angel.
“Thir, gue harus cari Yuki sekarang. Mungkin udah waktunya gue jujur sama dia” Stef langsung berlari keluar ruang OSIS seperti orang kesetanan meninggalkan Fathir dan keempat gadis, sahabat Yuki.
“Stef kenapa sih?” tanya Vita heran.
“Nanti gue bakal certain ke kalian semua, guys” ucap Fathit dan bel pun berbunyi.


Stef pergi meninggalkan sekolah. Dia segera pergi ke rumah Yuki untuk mencari gadis itu. Tapi sesampainya disana, pembantunya bilang Yuki tak ada di rumah dan baru saja pergi. Ada sedikit perasaan was-was dalam hati Stef. Bahkan dia tak tahu harus mencari Yuki dimana. Stef yang biasanya selalu tenang dan berpikir jernih, kini sangat kacau. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah secepatnya dia harus menemukan gadis itu.
Stef berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain. Dia pergi ke taman tempat biasa Yuki menyendiri saat sedih, ke makam Esa, bahkan ke makam Yuka. Namun, Stef tak menemukan Yuki disana. Pasrah, Stef kembali ke rumah Yuki dan berharap Yuki sudah pulang tapi nihil. Akhirnya Stef pergi ke pantai untuk menenangkan pikirannya.
Di pantai, Stef berjalan tak tentu arah. Ia berdiri di anjungan pantai menatap ombak yang bergulung-gulung seolah berkejar-kejaran. Di kejauhan, Stef tampak melihat seorang yang tak asing untuknya. Yah, seorang gadis berambut panjang sedang berjalan menyusuri bibir pantai. Serta merta Stef berlari menuju gadis itu. Dekat dan semakin dekat tef dengan gadis itu hingga dia pun berhasil meraih tangan gadis itu.
“Yuki” panggil Stef.
Gadis itu pun menoleh. Sesaat mereka saling menatap tanpa ekspresi.
“Lepasin tangan gue” sentak Yuki seraya melepaskan tangannya dari cengkraman Stef.
Stef melihat sorot mata gadis itu tak seperti biasanya. Wajah gadis itu terlihat dingin dan tak selembut biasanya. Kemarahan terpancar jelas dari raut mukanya.
“Yuki, loe kenapa sih?” tanya Stef.
“Biarin gue sendiri. Gue nggak mau ketemu sama loe….PEMBOHONG” ucap Yuki penuh kemarahan membuat Stef shock.
“Maksud loe?” tanya Stef lagi.
“Nggak usah pura-pura lagi di depan gue. Gue tau siapa loe yang sebenarnya. Loe kan yang menyebabkan Yuka meninggal” seru Yuki kali ini benar-benar membuat Stef tersentak.
“Ki, gue…..” Stef berusaha menjelaskan tapi segera dipotong oleh Yuki.
“Please, Stef, loe pergi dari sini. Gue ingin sendiri” pinta Yuki masih dengan nada tinggi tanpa menatap Stef.
Stef tetap berdiri terpaku disana. Sama sekali tak bergeming.
“Gue minta loe pergi dari sini, Stef, sebelum gue makin benci sama loe” bentak Yuki.
“Gue nggak akan pergi, Ki, sebelum loe dengerin penjelasan gue” ucap Stef.
“Nggak ada yang perlu dijelasin. Sekali pembohong selamanya pembohong. Dan kesalahan terbesar gue adalah percaya kalo loe orang yang baik ternyata loe yang menyebabkan kematian saudara kembar gue. Gue benci sama loe” teriak Yuki marah.
“Gue minta maaf, Ki. gue nggak bermaksud bohongin loe” ucap Stef.
“Whatever. Kalo loe nggak mau pergi dari sini. Gue yang akan pergi” ujar Yuki segera berlalu pergi meninggalkan Stef.
Stef hanya mampu melihat gadis itu perlahan menjauh darinya. Dia benar-benar menyesal telah menyakiti hati gadis itu. Harusnya dia menyadari semuanya sejak awal. Tak mungkin ada orang yang begitu mirip di dunia ini dan ternyata Yuki audara kembar Yuka. Seandainya Stef tau hal ini sejak awal, dia nggak akan pernah muncul di hadapan Yuki.
Kini semuanya udah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Yuki benar-benar membencinya disaat ia mulai mencintai gadis itu dan menerima bahwa Yuka tak mungkin kembali ke sisinya. Yang ada hanyalah Yuki tapi gadis itu sekarang sangat membencinya.

Sesempat-sempatnya kau lakukan itu
Sedalam-dalamnya menusuk jantungku
Menipu aku

Sehebay-hebatnya perih yang terasa
Sedalam-dalamnya menusuk jantungku

Reff:
Meski kau tikam aku
Aku tetap bertahan
Yang kubutuhkan hanyalah ketulusan

Kuyakini akhirnya
Cinta tetap bertahan
Bukakan hati dan beri ketulusan

Setega-teganya kau lakukan itu…
Back to Reff
(zigaz-tetap bertahan)

*****************************************************************
bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar