Sudah seminggu lebih sejak Yuki menerima bingkisan dari Esa, namun cowok itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya di hadapan Yuki. Ketika gadis itu sedang asyik melamun seorang diri di taman sekolah, seseorang tiba-tiba duduk disampingnya.
“Loe lagi mikirin cowok yang namanya Esa ya?” tanya orang itu.
“Stef…kok loe disini, trus kok loe bisa tau tentang Esa?” tanya Yuki kaget.
“Emangnya gue nggak boleh ada disini ya” ujar Stef lalu berdiri hendak melangkah pergi, namun dicegah oleh Yuki, tangannya memegang tangan Stef.
“Tunggu Stef, jangan pergi. Temenin gue disini, please” pinta Yuki.
Stef pun kembali duduk disamping Yuki.
“Sebenernya, waktu loe pingsan, loe selalu nyebut nama itu. Gue juga udah denger semuanya dari anak-anak. Cowok loe tiba-tiba hilang” ucap Stef memandang lurus tanpa menatap Yuki, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa.
“Iya Stef, sampai saat ini gue selalu nyariin dia. Gue sempet putus asa Stef, gue nggak tau harus nyari dia kemana lagi” ucap Yuki, tanpa sadar air matanya menetes.
Stef memandang ke arah Yuki yang menangis. Pandangan matanya tanpa ekspresi namun teduh. Yuki juga menatap Stef.
“Loe sayang banget sama dia?” tanya Stef.
“Gue sangat sayang sama dia, Stef. Gue cinta sama dia, tapi kenapa dia pergi dan nggak ngasih kabar ke gue” ujar Yuki di sela-sela tangisnya.
Perlahan Stef memegang kepala Yuki dan menyandarkannya di dadanya.
“Loe boleh nangis sepuasnya dan gue nggak akan ngomong apapun” ucap Stef membiarkan Yuki meluapkan kesedihannya yang selama ini ia pendam.
Di saat yang bersamaan di tempat lain, Angel dan Mike terlihat duduk berdua, namun sikap mereka tak seperti biasanya. Angel yang selalu bermanja-manja pada Mike, kini lebih banyak diam.
“Kamu ada masalah, Beibh, akhir-akhir ini aku perhatikan kamu berubah jadi lebih pendiam?” tanya Mike.
Angel menggeleng pelan lalu menatap Mike tajam.
“Mike, aku pengen kamu jujur sama aku” ucap Angel mengejutkan Mike.
“Maksud kamu apa?” tanya Mike tak mengerti.
“Seminggu yang lalu, waktu kamu batalin kencan kita, kamu kemana?” tanya Angel.
“Kan aku udah bilang sama kamu, Beibh, aku nganter nyokap ke dokter” jawab Mike.
“Trus kemarin lusa kenapa kamu nggak jadi jemput aku di tempat les?” tanya Angel lagi.
“Maaf, Beibh, waktu itu aku lagi latihan band sama anak-anak” jawab Mike lagi.
“Terakhir, sepulang sekolah kemarin kamu kemana?” tanya Angel.
“Aku langsung pulang ke rumah dan tidur” jawab Mike.
Angel mengalihkan pandangannya dari Mike lalu memejamkan matanya dan memegang dadanya seolah ada sesuatu yang menancap di hatinya.
“Kamu kenapa, Beibh, kamu sakit?” tanya Mike.
“Stop Mike, nggak usah kamu perdulikan aku lagi” jawab Angel membuat Mike terkejut.
“Kamu itu kenapa sih, Ngel?” tanya Mike bingung melihat ekspresi muka Angel yang terlihat marah.
“Please Mike, berhenti bohongin aku lagi. Apa kamu bakal terus ngebohongin aku untuk nutupin kebohongan-kebohongan kamu yang lain” seru Angel.
“Kamu ngomong apa sih, Ngel, aku nggak ngerti” ucap Mike.
“Apa perlu aku kasih tau ke kamu, kalo waktu kamu batalin kencan kita minggu lalu, aku telepon rumah kamu dan yang angkat Mama kamu, dan beliau bilang kalo sehat-sehat aja. Mama kamu juga bilang kalo kamu keluar sama cewek yang akhirnya aku tau kalo cewek itu Jasmine” seru Angel, wajah Mike pucat seketika.
“Aku dengar semuanya waktu kamu cerita sama Fathir” lanjut Angel.
“Angel…aku bisa jelasin hal itu nggak seperti yang kamu fikirkan” ucap Mike.
“Oh ya, tapi maaf Mike aku nggak bisa percaya sama kamu lagi. Kebohongan kamu ternyata nggak berhenti sampai disitu” ucap Angel.
“Maksud kamu?” tanya Mike.
“Kemarin lusa, kamu sama sekali nggak ada jadwal latihan band kan, Mike. Dan juga kemarin kamu nggak langsung pulang ke rumah seperti yang kamu bilang” cerocos Angel.
Mike terdiam, tak mampu berkata apa-apa.
“Kenapa kamu nggak jujur, Mike. Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalo kamu ketemu sama Jasmine. Kalau pun seandainya kamu nggak bisa melupakan dia dan masih sayang sama dia, kamu tinggal bilang sama aku. Aku bakal relain kamu, Mike. Aku akan biarin kamu bahagia bersama orang yang bener-bener kamu sayang, tapi kenapa harus bohong di belakang aku?” seru Angel, antara kecewa dan sedih. Air matanya mulai mengalir. Hatinya terasa sakit.
“Angel, aku minta maaf. Aku dan Jasmine sama sekali…..” Mike hendak menyentuh Angel namun ditepis oleh Angel dan kata-katanya terhenti.
“Jangan pernah sentuh aku, Mike. Aku kecewa sama kamu dan aku benci kamu. Mulai sekarang kita putus aja, karena hubungan kita nggak mungkin bisa dilanjutkan lagi kalo udah nggak ada lagi kejujuran diantara kita. Aku harap kamu bisa bahagia sama Jasmine” ucap Angel kemudian berlari pergi meninggalkan Mike yang terdiam, menyesali kebohongannya. Kini dia harus menanggung resiko yang lebih berat, kehilangan orang yang benar-benar dia sayangi.
“Angel maafin gue. Gimana caranya agar loe mengerti kalo gue sama Jasmine sekali nggak ada hubungan apa-apa lagi kecuali sahabat. Di hati gue cuma ada loe, Angel, sekarang dan selamanya” teriak Mike, namun Angel sudah terlanjur pergi dan menjauh darinya.
Dia memukul kaca yang ada disampingnya, melukai dirinya sendiri. Darah mengucur deras dari tangan kiri Mike, namun sepertinya dia tak merasakan sakit sedikitpun karena dia tau sakit yang dirasakannya sekarang tak sebanding dengan apa yang dirasakan Angel saat ini.
Angel terus berlari sampai akhirnya dia menabrak Vita di lorong yang kebetulan saat itu bersama Fathir dan Karbel.
“Angel, loe kenapa, kok nangis?” tanya Vita.
“Gue…gue….” Angel tak sanggup berkata-kata karena tangisnya.
“Angel, loe kenapa sih sampai nangis kayak gini, apa ada yang gangguin loe ya?” tanya Karina perhatian. Meskipun sering berantem dan beda pendapat sebenarnya Karina peduli banget sama Angel.
Angel mengangguk, masih tetap menangis.
“Biarin Angel tenang dulu, baru kalo udah tenang kita tanya lagi” ujar Fathir.
Setelah hampir lima menit, akhirnya Angel mulai tenang dan mulai menata kembali perasaannya.
“Sebenarnya kamu kenapa sih, Ngel?” tanya Vita.
“Ge putus, Vit, sama Mike” jawab Angel
Vita, Fathir, Karina, dan Bella terkejut mendengar jawaban Angel.
“Loe serius, Ngel, kenapa?” tanya Karina tak percaya.
“Ada masalah apa, Ngel?” tanya Bella.
“Mungkin ini yang terbaik buat gue dan Mike. Udah nggak ada lagi kejujuran diantara kita berdua, jadi untuk apa hubungan ini diteruskan” jawab Angel sambil memandang ke langit-langit, menahan agar air matanya tak jatuh lagi..
“Maksud kamu apa sih, Ngel?” tanya Karina tak mengerti namun Vita dan Fathir saling pandang seolah tau apa maksud Angel.
“Mike nggak pernah bisa lupain Jasmine, mantannya” jelas Angel.
“Tapi bukannya Mike sayang banget sama kamu, Ngel” ucap Fathir.
Angel menggeleng, “Nggak, Thir, semua nggak seperti yang kalian fikirkan. Sebenarnya dari awal gue yang selalu mengejar Mike, gue terlalu percaya diri bisa bikin Mike lupain Jasmine, tapi ternyata gue salah udah jatuh cinta sama dia. Cinta Mike cuma buat Jasmine dan gue sama sekali nggak berarti buat dia” ujar Angel.
“Angel, kamu ini ngomong apa sih. Kenapa kamu jadi pesimis seperti ini. Mana Angel yang kuat dan tegar yang aku kenal selama ini. Asal kamu tau ya, Ngel, cinta itu nggak pernah salah. Cinta itu anugerah dari Tuhan, datangnya dari hati, tapi cinta itu tak harus memiliki” ucap Vita menasehati.
“Gue tau, Vit, tapi hati gue sakit banget. Mike udah bohongin gue, dia bersikap seolah dia mencintai gue tapi sebenarnya hatinya tak pernah buat gue” ucap Angel.
“Angel, meskipun Mike pergi ninggalin loe, tapi kita sebagai sahabat loe akan selalu ada disamping loe” ujar Bella.
“Makasih semuanya. Gue beruntung punya sahabat seperti kalian semua” ucap Angel yang perlahan kembali tersenyum.
Dan Vita, Karina serta Bella bernyanyi untuk Angel, sahabatnya.
Biarkan saja kekasihmu pergi
Teruskan saja mimpi yang kau tunda
Kita temukan tempat yang layak
Sahabatku
Kupercaya kan langkah bersamamu
Tak kuragukan berbagi dengan mu
Kita temukan
Tempat yang layak sahabatku
Kita mencari
Jati diri
Teman lautan mimpi
Aku bernyanyi untuk sahabat
Aku berbagi untuk sahabat
Kita bisa jika bersama
Kita berbagi untuk sahabat
Kita bernyanyi untuk sahabat
Kita bisa jika bersama
Tiba waktunya
Kita untuk berbagi
Untuk saling member
Tiba waktunya
Kita untuk berbagi
Untuk saling member
(Untuk Sahabat – Audy feat Nindy)
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Sef langsung menarik tangan Yuki untuk mengikutinya ke parkiran motor.
”Stef, sakit banget tau loe main tarik aja tangan gue. Ngapain sih loe ngajakin gue ke parkiran motor, kan mobil gue disana” protes Yuki menunjuk arah mobilnya.
“Udah, bawel banget sih loe. Ikut gue sekarang dan jangan banyak bicara. Nanti mobil loe biar sopir gue aja yang balikin ke rumah loe” ujar Stef sambil menaiki motor dan memakai helmnya.
“Emangnya loe punya sopir?” tanya Yuki ragu soalnya selama ini Yuki hanya tau Stef selalu mengendarai motor dan tak pernah tau apa-apa tentang Stef.
“Ada pokoknya, loe tenang aja. Buruan naik” seru Stef sambil menarik tangan Yuki.
“Nih orang kesambet kali, ya” batin Yuki lalu naik di belakang Stef.
Yuki duduk agak jauh dari Stef seolah Stef ini penyakit menular.
“Hei, cewek jelek. Loe nggak kurang jauh tuh duduknya” sindir Stef.
“Segini juga udah cukup, kali” sahut Yuki.
“Ya udah terserah kalo mau loe gitu, tapi kalo ntar loe jatuh, jangan pernah loe manggil-manggil gue” ujar Stef kemudian langsung tancap gas. Yuki yang sama sekali tak punya persiapan, kaget dan secara refleks memeluk Stef.
“STEFF……pelan dikit napa nyetirnya. Gue takut nih” seru Yuki.
“Kalo loe takut, loe pegangan aja yang kuat dan tutup mata loe” suruh Stef tanpa mengurangi kecepatannya dan Yuki terpaksa mematuhinya.
Yuki berkata dalam hati, “Nih cowok udah gila kali ya, bunuh diri ngajak-ngajak gue. Gue juga gila mau-maunya aja ngikutin cowok rese’ ini”
Sepanjang perjalanan, Yuki terus berpegangan erat pada Stef dan menup matanya. Dari balik helmnya, Stef tersenyum simpul penuh arti. Tak berapa lama kemudian mereka sampai juga di pantai, tempat tujuan mereka. Meski Stef udah memberhentikan motornya, namun Yuki masih tak berani membuka matanya dan melepaskan pegangannya.
“Woiii…cewek jelek kita udah sampai. Mau sampai kapan loe nutup mata dan meluk gue” seru Stef.
Yuki pun memberanikan diri membuka matanya yang indah dan melepaskan pegangannya ke Stef. Turun dari motor, tak henti-hentinya dia mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa.
“Alhamdulillah ya Allah….Engkau masih menyayangi hambamu ini” ucap Yuki.
“Lebay banget sih loe” sindir Stef.
Mendengar kata-kata Stef, Yuki langsung menatapnya tajam seolah hendak menerkamnya, tapi itu tak dia lakukan. Yuki meninju dada Stef pelan.
“Loe gila, ya. Kalo mau bunuh diri, jangan ajak-ajak gue kali” seru Yuki.
Tanpa memperdulikan omelan Yuki, Stef berjalan menajauhi Yuki. Cowok itu berjalan menuju bibir pantai. Yuki sebenarnya masih kesal sama cowok itu, tapi tetap saja mengikuti kemanapun cowok itu melangkah. Dan mereka kini berdiri di bibir pantai sambil memandangi riak ombak yang bergulung-gulung menyapu pasir pantai.
“Ngapain sih loe ngajak gue kesini?” tanya Yuki heran.
“Gak ada alasan khusus sih, gue cuma mau loe nemenin gue kesini. Kan loe punya utang ke gue” jawab Stef.
“Emangnya gue punya utang apa ke loe, setau gue, gue nggak pernah tuh pinjem apapun dari loe” ujar Yuki tak mengerti.
“Kan tadi loe udah minjem dada gue buat nangis, jadi sebagai gantinya loe nemenin gue sekarang” jelas Stef.
“Jadi ternyata loe ngarepin pamrih juga ya. Kan gue udah kesini, jadi utang gue lunas, kan. Gue pergi sekarang” ucap Yuki gondok, hendak melangkah pergi.
Stef langsung mencengkeram tangan Yuki, menahan gadis itu untuk tak pergi
“Please, jangan pergi. Maafin gue, tadi gue cuma becanda. Tapi gue serius, gue cuma pengen loe disini nemenin gue” ucap Stef seraya memandang Yuki dengan tatapan lembut yang tak pernah Yuki lihat sebelumnya.
Akhirnya Yuki mengurungkan niatnya untuk pergi dan menemani Stef di pantai. Lama Yuki memandangi Stef yang terus diam memandang jauh ke arah pantai, membuat Yuki penasaran.
“Loe ngeliatin apa sih, Stef, serius banget?” tanya Yuki.
Stef menoleh pada Yuki yang memandangnya penuh tanya. Dia memandang wajah gadis itu lekat-lekat.
“Kok loe malah ngeliatin gue gitu sih?” Tanya Yuki heran.
“Boleh gue minta satu hal sama loe, Ki” pinta Stef tiba-tiba.
“Apa?” tanya Yuki.
“Boleh…..gue meluk loe sebentar” jawab Stef.
“Loe udah beneran gila ya atau otak loe udah nyemplung ke laut ya” ujar Yuki.
“Please, Yuki, gue mohon. Sebentar aja, karena gue kangen sama seseorang yang nggak mungkin gue temuin lagi” pinta Stef setengah memohon.
Yuki akhirnya mengangguk pasrah karena tak sanggup menatap mata Stef yang begitu berharap dan terlihat menyimpan kesedihan.
“Makasih Yuki” ucap Stef yang kemudian memeluk Yuki selama beberapa menit lalu melepaskannya.
Entah mengapa, sesaat ketika Stef memeluknya, jantung Yuki berdebar-debar. Namun Yuki berusaha untuk tetap tenang dan mengendalikan perasaannya ketika bayangan Esa tiba-tiba muncul di benaknya.
“Ya Allah ada apa sama aku. Kenapa aku jadi berdebar-debar sama Stef, kan aku udah punya Esa” batin Yuki.
Karena hari sudah semakin sore, Stef pun mengantar Yuki pulang. Kali ini Stef memperlambat laju motornya, tapi Yuki yang masih takut tetap berpegangan pada Stef.
Malamnya, Yuki mendengarkan siaran radio yang dibawakan Esa. Meskipun sampai detik ini cowok itu sama sekali tak menampakkan dirinya, Yuki percaya kalo Esa selalu ada untuknya.
Yuki mendengarkan siaran itu dengan seksama. Meskipun suara itu seperti suara Esa, tapi Yuki merasa yakin itu bukan suara Esa yang dia kenal. Tapi kalo bukan Esa trus siapa, pikir Yuki.
“Para pendengar sekalian, di malam yang dingin ini, saya akan memutarkan lagu untuk kalian semua terutama untuk orang yang sangat special, Princess Sakura ku, I Love You” ucap si pembawa acara.
Yuki terhenyak saat mendengarnya. Baru saja dia berpikir kalo penyiar itu orang lain, tapi saat mendengar panggilan itu, Yuki baru percaya itu Esa. Yuki jadi semakin heran, kalo Esa punya waktu untuk siaran, kenapa dia sama sekali tak ada waktu untuk dirinya, Yuki berpikir keras, lalu sebuah lagu pun mengalun indah dari gelombang radio di kamar Yuki.
menatap indahnya senyuman diwajahmu
membuat ku terdiam dan terpaku
mengerti akan hadirnya cinta terindah
saat kau peluk mesra tubuhku
banyak kata
yang tak mampu kuungkapkan
kepada dirimu
aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku
Ketika mendengar lagu itu, Yuki membayangkan Esa tapi lama-lama tanpa sadar bayangan Esa memudar dan digantikan Stef.
“Gue ini kenapa sih kok malah mikirin si Stef” keluh Yuki pada dirinya sendiri sambil memuku-mukul kepalanya pelan dengan tangannya.
Tiba-tiba saja HP Yuki bordering, sebuah SMS masuk ke inbox-nya. Yuki membacanya sekilas lalu jantungnya berdegup dengan cepat.
*********************************************************
bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar