Sabtu, 22 Oktober 2011

TWIN'S LOVE STORY 2







Sherin (Yuki) baru saja sampai di depan kampuznya, tepatnya di depan fakultas kedokteran. Begitu di parkiran, dia disambut oleh dua sahabatnya, Riana (Chika) dan Noura (Karina). Riana dan Noura adalah sahabat Sherin sejak SMA. Suatu kebetulan mereka bertiga diterima di Universitas dan jurusan yang sama.

           "Akhirnya loe datang juga, Rin, kalo loe telat semenit aja bisa-bisa gendang telinga gue bisa pecah nih gara-gara dia" ucap Riana seraya menunjuk ke arah Noura yang terlihat sibuk merapikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
           "Yeee....kan gue panik menghadapi hari pertama kita. Kayak loe nggak aja"  sahut Noura tanpa melihat Riana.
           "Alaaahh....tapi gue nggak lebay kali kayak loe" balas Riana.
           "Ya ampun guys, malah berantem sih pagi-pagi....gue deg-degan nih...." ucap Sherin
           "Masuk yuk...udah dipanggilin tuh disuruh kumpul" ajak Riana.
           "Yuuukkk..." ucap Sherin sambil menarik tangan Noura yang masih terus sibuk merapikan penampilannya.
           Sherin, Riana dan Noura segera ikut berkumpul diantara barisan-barisan yang dikumpulkan oleh kakak-kakak senior di sebuah lapangan. Disana, mereka diberikan pengarahan dan kemudian dibagi berkelompok, masing-masing kelompok 20 orang dan didampingi oleh satu kakak senior. Suatu kebetulan, Sherin, Riana dan Noura tergabung dalam satu kelompok. Kelompok mereka didampingi oleh seorang kakak senior yang cukup tampan, namanya Eza.
           Eza adalah senior yang terkenal paling ramah. Dia suka membantu dan nggak segan menolong mahasiswa baru yang kesulitan, malah dia sering membela maba yang kadang disuruh ini-itu nggak jelas sama kakak-kakak senior yang lain. Seperti yang terjadi pada Sherin dan Riana ketika disuruh untuk berkumpul, mereka datang terlambat karena mereka baru dari toilet. salah seorang senior yang merasa sok berkuasa segera memanggil mereka.
            "Kalian berdua yang terlambat, ke depan sekarang juga" perintah seorang senior perempuan, Lisa.
            Sherin dan Riana pun maju ke depan dan menjadi tontonan seluruh mahasiswa baru dan senior-senior yang lain. sebenarnya saat itu perut Sherin terasa sakit.
            "Kenapa kalian terlamabat, bukankah alarm berkumpul sudah berbunyi daritadi?" bentak Lisa
            "Maaf Kak, tadi kami dari toilet"  sahut Sherin sambil menahan rasa sakit di perutnya.
            "Cari alasan saja kalian ini...sekarang sebagai hukumannya lari keliling memutari teman-teman kalian 20 kali" perintah Lisa.
            "Tapi Kak....." Riana hendak membantah tapi dicegah oleh Sherin. Sherin langsung menarik lengan Riana dan memberi isyarat agar tak mencari masalah dengan senior. Riana pun terpaksa menurut.
            "Tapi apa? cepat lari sekarang!" perintah Lisa sambil membentak.
            Sherin dan Lisa pun berlari mengelilingi anak-anak mahasiswa baru yang berkumpul. benar-benar menjadi tontonan banyak orang. Noura sebenarnya tak tega melihat kedua sahabatnya diperlakukan seperti itu tapi saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.
             "Awas aja loe Lisa, gue bakal bales loe setelah acara ospek ini selesai" batin Noura.
             Baru beberapa putaran, wajah Sherin sudah mulai memucat karena ia berlari sambil menahan sakit di perutnya. Riana menyuruhnya untuk berhenti tapi Sherin tetap nekat.
              Tiba-tiba ada senior lain yang menghampiri Lisa. Rupanya itu Eza, dia berniat membela anggota kelompok yang didampinginya.
              "Loe nggak bisa hukum mereka seperti ini, Lis. Kalo sampai terjadi sesuatu sama mereka gimana" ujar Eza.
              "Halah...kayak gini ga ada apa-apanya. siapa suruh mereka terlambat" sahut Lisa.
              "Menurut gue alasan mereka wajar kok dan bisa dimaklumi. Kenapa diperpanjang sih?" ucap Eza lagi.
              "Terserah gue dong....gue sie disiplin disini. Loe nggak berhak ikut campur. Memangnya mereka siapa loe sih sampai loe belain mereka?" tanya Lisa nyolot.
              "Mereka emang bukan siapa-siapa gue, tapi mereka mahasiswa baru yang harusnya kita bimbing bukannya dihukum seperti ini. Mereka juga punya hak disini" bela Eza.
              "Udahlah, ini urusan gue" sahut Lisa keras kepala.
              "Oke...gue cuma ngingetin aja. Kalo terjadi sesuatu sama mereka, loe yang harus tanggung jawab" ucap Eza akhirnya.
              "Nggak akan terjadi apa-apa sama mereka. Cuma lari 20 putaran aja kok" sahut Lisa.
              Baru saja Lisa berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara kepanikan dari arah kerumunan mahasiswa baru. Ternyata Sherin yang tak kuat lagi menahan sakitnya pun pingsan. Riana yang panik segera teriak meminta pertolongan.
              "Lihat akibatnya sekarang" ucap Eza yang kemudian berlari menuju arah Sherin dan Riana. Sedangkan Lisa hanya bisa menggigit bibirnya penuh kecemasan
              Eza membawa Sherin ke posko kesehatan. Dia merasa ikut bertanggung jawab karena Sherin adalah anggota kelompok yang didampinginya. Riana ikut serta mendampingi Sherin.
             Setelah beberapa menit, akhirnya Sherin pun sadar. Riana yang sangat cemas pun lega.
             "Gue dimana?" tanya Sherin
             "Loe di posko kesehatan sekarang, loe pingsan tadi di lapangan" jawab Riana.
             "Trus yang bawa gue kesini?" tanya Sherin.
             "Kamu udah sadar?" tanya seseorang yang baru saja muncul.
             "Kak Eza?" ucap Sherin bingung.
             "Iya, Rin. Kak Eza yang tadi bantuin bawa loe kesini" sahut Riana.
             "Gimana keadaan kamu, udah baikan?" tanya Eza.
             "Iya Kak, udah lebih baik" jawab Sherin.
             "Baguslah kalau begitu. Lain kali sebelum berangkat sebaiknya kamu sarapan dulu biar perut kamu ga sakit" ucap Eza sambil tersenyum lembut.
              "Iya Kak" ucap Sherin tersenyum malu-malu.



              Di tempat lain Sheryl (Yuki) dan Satya (Rizky) yang datang tepat pada waktunya segera bergabung diantara mahasiswa-mahasiswa baru. Sheryl dan Satya sama-sama masuk di jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi di Universitas yang sama dengan Sherin. Meskipun Universitas mereka sama tetapi Fakultas mereka berbeda.
             Sheryl tak satu kelompok dengan Satya, beruntung Sheryl mudah untuk bergaul dengan siapa saja. Dia berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Elsa (Nina) dan dua cowok kembar tapi tak serupa, Deka (Aldo) dan Deki (Nakula).
             "Loe dulu dari SMA mana, Sa?" tanya Sheryl.
             "Gue dari SMA 25. Loe sendiri?" tanya Elsa balik.
             "Gue dulu dari SMA 55" jawab Sheryl.
             "Temen loe banyak yang masuk sini, Ryl?" tanya Elsa lagi.
             "Gue sama Satya, sahabat gue, disini. Kalo saudara kembar gue di Fakultas Kedokteran" jawab Sheryl.
             Tiba-tiba saja ada dua cowok yang ikut menimbrung obrolan mereka.
             "Kayaknya tadi ada yang ngomongin masalah kembar nih....." sela seorang cowok jangkung agak kurus
             "Yo'i...tau aja sih kalo kita kembar.." sahut cowok disebelahnya.
             "Woiii...hellooo...siapa juga yang ngomongin kalian berdua" sahut Sheryl.
             "Udahlah, kita berdua tau kok. Kalian pada ngomongin kita berdua kan. kenalin nama gue Deka, yang sebelah gue itu Deki" ujar si cowok jangkung kurus.
             "Bener banget tuh...udah deh ngaku aja..." sahut Deka
             "Idiiih....nih orang berdua sarap kali ya" ucap Sheryl diikuti tawa Elsa.
             "Kayaknya mereka berdua habis salah minum obat deh" ucap Elsa.
             "Yah, beginilah nasib orang ganteng, banyak fitnah dimana-mana" ujar Deki.
             "Hoeeeekkkk...." Sheryl berlagak pengen muntah
             "Kenapa loe, Ryl?" tanya Elsa.
             "Eneg deh gue denger mereka ngomong...ga..ga ..ga kuat..aq ga kuat sama cowok narsis" ucap Sheryl menirukan lagu 7 icons.
             "Huahahahaha....."tawa Elsa.
             "Wah..wah...penghinaan ini, Brother" ucap Deki seraya merangkul saudara kembarnya, Deka.
             "Yo'i Brother...masa' cowok setampan kita dihina...ga terima gue..." ucap Deka sok bergaya sedih.
             "Lebay banget sih jadi cowok...yuk, Sa, samperin sahabat gue, Satya. kebetulan mumpung masih waktu istirahat" ajak Sheryl pergi meninggalkan Deka dan Deki yang masih saja tebar pesona ke cewek-cewek yang lain.
             Sheryl mengajak Elsa mencari Satya. Setelah mencari kemana-mana akhirnya mereka menemukan Satya berada di lorong-lorong kampus sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
             "Satya...." panggil Sheryl.
             Cowok yang dipanggil pun menoleh. Dia melambaikan tangan ke arah sheryl sambil tersenyum sekilas. Entah mengapa Elsa yang disebelah Sheryl merasa terpesona oleh seyuman Satya.
             "Hai Sat, gue cari kemana-mana ga taunya disini. Sama siapa loe?" tanya Sheryl bertanya mengenai orang yang bicara dengan Satya.
             "Kenalin nih temen gue, Adit (Kenneth)" ucap Satya.
             "Ngomong-ngomong soal temen, gue juga punya temen baru nih, namanya Elsa" Sheryl mengenalkan Elsa ke Satya dan temannya, Adit. Mereka saling berkenalan satu sama lain kecuali Sheryl dan Satya yang udah saling kenal dari dulu.
             "Laper nih, perut gue tiba-tiba sakit. Makan yuk mumpung masih istirahat" ajak Sheryl.
             "Sama, gue juga laper gara-gara jemput elo tadi pagi. Bukannya dapet ucapan terima kasih malah diomelin" ujar Satya sambil mengacak-acak rambut Shery yang dikucir kuda.
             "Iiiih....Satya apaan sih, udah gue bilang jangan suka acak-acak rambut gue" seraya merapikan kucirannya.
             Elsa dan Adit tersenyum saja melihat tingkah dua sahabat ini. Tatapan Elsa ke Satya terlihat lain. Sepertinya Elsa tertarik pada Satya sejak pandangan pertama. Sedangkan Adit diam-diam memperhatikan Elsa.
             Mereka berempat pun menuju kantin yang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa baru dan tak sedikit pula kakak-kakak senior yang juga berada disana. Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ada keributan yang terjadi. Sheryl yang penasaran berniat untuk melihat tapi dicegah oleh Satya yang menarik lengan Sheryl.
             "Ngapain sih loe kesana. Bukan urusan kita, Ryl" ujar Satya.
             "Satya bener, Ryl. Kita disini aja, nggak usah ikut-ikutan anak-anak yang lain" ucap Elsa juga.
             "Paling juga msalah yang tadi" ujar Adit.
             "Memangnya tadi ada masalah apa?" tanya Sheryl ingin tau.
             "Kurang tau juga sih, cuma tadi gue sama Satya liat ada junior yang berantem gitu sama kakak senior" jelas Adit.
             "Owwh...ya sudahlah kalau begitu" ucap Sheryl yang kembali duduk dan melanjutkan makannya bersama Satya, Elsa dan Adit.
             Hari pertama ospek Sheryl berjalan lancar-lancar saja hari itu. Sheryl tak menemukan hambatan apapun, bahkan ketika dia dihukum menyanyi pun dia dengan PD nya bernyanyi dengan begitu indah membuat semua yang ada disekelilingnya tterpesona oleh suaranya. Sayangnya, setelah selesai bernyanyi, Sheryl kembali menjadi Sheryl yang serampangan dan tomboy.


              Hari pun berlalu dengan begitu cepat hari itu. Sherin mencoba menelpon Sheryl tapi tak diangkat. Padahal tadi Sheryl sempat smz dia ingin pulang sama-sama, tapi udah waktunya pulang malah ga bisa dihubungi. Sherin menunggu di depan pintu masuk universitas lebih dari 15 menit tapi Sheryl tak kunjung kelihatan. Malah orang lain yang tiba-tiba menghampirinya.
              "Belum pulang?" tanya seseorang.
              "Eh Kak Eza. Belum Kak, masih nunggu saudara saya" jawab Sherin.
              "Saudara kamu juga kuliah di universitas ini?" tanya Eza.
              "Iya kak, saudara kembar saya di Fakultas Ekonomi" jawab Sherin lagi.
              "Kamu kembar?" tanya Eza sekali lagi
              Sherin tersenyum, "Iya"
              Tak lama kemudian akhirnya Sheryl datang bersama Satya.
              "Sorry ya Rin, tadi gue nungguin Satya nih ambil motor ngantri dulu" cerocos Sheryl tak menyadari adanya Eza.
              "Kirain loe ga jadi bareng gue" ujar Sherin. "Oh iya, Ryl, kenalin ini Kak Eza, senior gue yang tadi nolongin gue" ucap Sherin memperkenalkan.
               "Sheryl" ucap Sheryl menyodorkan tangannya dan disambut oleh Eza.
               "Eza" ucap eza.
               "Oh iya, kenalin Kak, ini sahabat aku, Satya" ucap Sheryl memperkenalan kedua laki-laki itu.
               "Ngomong-ngomong, emangnya loe tadi kenapa? pasti tadi pagi loe belum makan ya? pantesan kok perut gue mendadak sakit tadi" cerocos Sheryl
               "Udah ah nggak usah dibahas, nanti aja gue ceritain dirumah" ujar Sherin.
               "Ya udah, pulang yuk...udah sore nih" ajak Sheryl.
               "Kak, kita pulang dulu ya" pamit Sherin
               "Ya hati-hati dijalan" ucap Eza.
               "Sat, gue balik dulu ya....besok pagi kalo gue kesiangan jangan kapok jemput gue ya...hehhehehe" ujar sheryl lalu masuk ke mobil Sherin.
               "Dasar loe...jangan sampe ngaret lagi ya" pesan Satya.


               Diperjalanan pulang, Sherin dan Sheryl sengaja melewati jalan yang agak sepi karena ingin segera sampai di rumah. Namun di tengah jalan, mereka melihat seseorang tergeletak dijalan dan sebuah sepeda motor ninja merah juga tergeletak disampingnya. Wajah orang itu penuh dengan darah. Sheryl berniat menolongnya tapi Sherin sempat ragu.
              Sheryl tanpa pikir panjang langsung turun dari mobil dan menghampiri sosok itu. Wajahnya tak terlihat begitu jelas karena dipenuhi darah.
               "Sher, sini cepetan" teriak Sheryl memanggil Sherin.
               Sherin segera menghampiri Sheryl dengan agak ragu-ragu.
               "Nih orang masih hidup kan?" tanya Sheryl pada Sherin.
               Sherin memegang pergelangan tangan orang itu dan mencari denyut nadinya.
               "Sepertinya memang masih hidup" ujar Sherin.
               "Cepat kita bawa dia ke rumah sakit" ujar Sheryl
               "Tapi Ryl...."
               "Nggak ada tapi-tapian, Rin, kita harus cepat tolong orang ini" ujar Sheryl berusaha memapah orang itu.
                Mau tak mau Sherin pun turut membantu yang dilakukan Sheryl. Mereka berdua  segera membawa orang itu ke rumah sakit. Sherin yang menyetir sedangkan sheryl berada di belakang menjaga orang itu. Di tengah perjalanan ke rumah sakit, terdengar bunyi HP yang asing di telingan Sherin dan Sheryl.
                "Bunyi HP siapa tuh?" tanya Sherin
                "Kayaknya punya nih orang deh" jawab Sheryl berusaha mencari HP yang ada di jaket orang itu.
                "Loe angkat deh, siapa tau itu keluarganya. Kasih tau kalo kita mau ke rumah sakit Bina Harapan" ujar sherin.
                Sheryl melihat ke layar HP orang itu yang disana tertera sebuah nama "my rabbit"
                "Halo" sapa Sheryl
                "Halo, siapa ini?" tanya orang diseberang sana.
                "Gue Sheryl"
                "Loe siapa? kenapa HP cowok gue ada di loe?" tanya orang diseberang sana.
                "Saya orang yang menemukan orang yang punya HP ini, saya menemukan orang ini tergeletak di tengah jalan. Sekarang saya mau membawa orang ini ke rumah sakit Bina Harapan" jelas Sheryl.
                "Oke, gue kesana sekarang"


                 Sesampainya di rumah sakit, orang tersebut segera dibawa ke UGD. Sherin mengajak Sheryl untuk pulang karena memang tugasnya sudah selesai. Tapi Sheryl masih merasa khawatir terhadap orang itu.
                "Ryl, kita harus pulang sekarang. Mama udah nelponin daritadi" ajak Sherin.
                "Tapi gue masih khawatir Rin sama orang itu" ucap Sheryl.
                "Tapi tugas kita untuk nolong orang itu udah selesai. Biar dokter yang menangani dia. Lagipula sebentar lagi saudaranya juga akan datang" ujar Sherin.
                Sheryl berpikir sejenak, lalu menagngguk, " Loe tunggu gue di mobil aja deh. Gue mau nunggu keluarganya sebentar disini 5 menit lagi" ucap Sheryl dan Sherin menyetujuinya.
                Sheryl menunggu dan terus menunggu hingga 5 menit berlalu. Seorang gadis cantik  berambut panjang bersama cowok datang menuju depan pintu ruang ICU.
                "Maaf, apa kamu kenal orang yang ada di dalam?" tanya Sheryl
                "Iya benar, kamu siapa?" tanya anak perempuan itu.
                "Aku Sheryl yang tadi terima telepon kamu. Aku mau mengembalikan HP ini" ujar Sheryl seraya menyerahkan HP orang itu.
                "Ah iya, terima kasih sudah menolongnya" ucap anak perempuan itu.
                "Ya sudah saya permisi dulu" pamit Sheryl.
                Perlahan, Sheryl menjauh dari orang-orang itu. Tapi hatinya masih saja mengkhawatirkan orang yang ada di dalam sana. "Sudah Sheryl...dia bukan siapa-siapa. Sudah ada orang yang menjaganya" bisik hati kecilnya.
               Akhirnya Sherin dan Sheryl pun pulang. Malam itu, kedua saudara kembar ini tak bisa tidur. Sherin terbayang-bayang akan kebaikan Eza, sedangkan Sheryl masih teringat pada orang yang dia tolong tadi.....

************************************************************************
bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar